Unisba

International Office | Karir | Login Sisfo

Muhammad Yunus., SHI., M.E.Sy (Dosen Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah di Fakultas Syariah Unisba) – Selama berabad-abad umat manusia hidup dalam ketentraman di bawah kepemimpinan Islam. Andaikan semua tetap berjalan pada jalurnya niscaya umat manusia akan mengalami hal yang sangat berbeda seperti yang di alami saat ini penuh dengan gejolak, bencana, ketidakpercayaan terhadap pemimpin dll. Niscaya dunia ini akan indah serta menyenangkan hati setiap manusia. Namun takdir berkehendak lain, dan kemunduran itu bermula dari diri umat Islam sendiri. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Amir Syakib Arsalan dalam kitabnya yang berjudul “Kenapa Umat Islam terbelakang sedangkan umat yang lainnya maju”?. Itu semua terjadi karena umat Islam sudah tidak memperaktekkan ajaran Islam yang termuat dalam Al-Qur’an dan Hadis. Padahal itu adalah pedoman kita agar hidup bahagia dunia akhirat.  Nabi Saw bersabda: “Aku tinggalkan bagimu dua perkara, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu kitab Allah dan sunnah Rasul.

Pemimpin yang berhasil membawa manusia dalam ketentraman adalah mereka yang dilahirkan di zaman Rasulullah SAW dari sisi identitas keimanan, akidah, perjuangan nyata, moral, pendidikan, keagungan jiwa, kesucian diri, kesempurnaan aspek kemanusiaan dan keadilan. Mereka adalah generasi yang ditempa oleh Rasulullah saw  secara sempurna.  Maka tidak berlebihan jika dikatakan mereka adalah penjelmaan paling sempurna dari “agama” dan “dunia” sekaligus. Mereka adalah para imam sholat, para jaksa dan hakim yang memutuskan secara adil dan jujur, panglima perang yang piawai mengatur siasat, para pejabat negara yang mengatur administrasi negara, penegak hukum Allah sekaligus. Agama dan politik terhimpun dalam diri amirul mu’minin.

Konsep kepemimpinan Islam mencakup banyak unsur yang sangat pelik dan luas, kurang lebih dapat diintisarikan menjadi dua unsur pokok, yaitu jihad dan ijtihad. Dua ungkapan yang tampak amat sederhana namun pada hakikatnya mencakup pengertian yang luas dan mengandung makna teramat  dalam.

 

JIHAD

Pengertian jihad adalah mengerahkan segala upaya dan potensi dalam perjuangan meraih tujuan besar. Tujuan terbesar dalam hidup seorang muslim adalah taat pada perintah Allah dan meraih ridha Allah serta tunduk pada ketentuan Allah. Menggapai cita-cita besar itu menuntut perjuanagn panjang dan melelahkan melawan rintangan. Rintangan-rintangan dalam melaksanakan perintah Allah itu dalam Al-qur’an disebut fitnah.

Allah berfirman dalam Al-quran surat Ali-imran (3);83

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”.

Kemudian dalam Al-Qur’an surat  Al-Hajj:18

“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki”.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa tujuan jihad yang diwajibkan atas seorang muslim adalah menerapkan syariat yang diajarkan Rasulullah saw sebab tidak ada di alam semesta ini hukum dan perintah melainkan hukum dan perintah Allah yang hakiki. Perintah jihad ini berlaku hingga akhir zaman. Wujud nyata dari jihad ini tidak hanya terbatas pada peperangan di medan perang saja meskipun memang berada di level tertinggi dengan tujuan agar tidak terdapat dua kekuatan yang saling bertentangan Allah berfiman dalam QS. Al-Baqarah:193.

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim

Tetapi juga selain peperangan di medan perang juga wujud nyata dari jihad saat ini adalah berperang melawan kemungkaran yang dilakukan oleh orang muslim itu sendiri mereka tahu tapi pura-pura tidak tahu, mereka mampu untuk melawan tetapi tidak melawan karena rasa takut. Dunia seakan berubah drastis karena orang-orang muslim sendiri perlahan meninggalkan Al-quran yang menjadi pedoman hidupnya. Anak-anak muda yang merupakan generasi penerus dirusak otaknya oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dari mulai narkoba yang bisa mematikan sel otak juga dengan serangan-serangan Syiah, Ahmadiyah, bahkan ISIS.

Dalam melaksanakan perintah jihad, seorang muslim wajib memahami Islam yang diperjuangkannya itu secara memadai dan memahami pula hakikat  kekufuran dan kejahiliyahan yang akan diperangi sehingga tidak terkecoh hanya dengan simbol-simbol dan aspek lahir. Umar bin al-Khatab rs berkata: “Sesungguhnya Islam itu akan dirusak sedikit demi sedikit oleh orang-orang yang dibesarkan dalam masyarakat Islam akan tetapi ia tidak memahami jahiliyyah”.

Hal itu bukan berarti mengharuskan setiap orang muslim untuk memahami kekufuran dan jahiliyyah secara terperinci, hanya saja bagi pemimpin negeri muslim dan pemegang kendali kepemimpinan diwajibkan memiliki pengetahuan di atas pengetahuan rata-rata umat muslim pada umumnya.

Selain itu kita juga harus mempersiapkan senjata dalam memerangi kekufuran itu dengan mengerahkan seluruh jiwa raga dengan segenap kemampuan yang ada, sehingga sehingga segala sesuatunya bisa berjalan dengan baik.

 

IJTIHAD

Terminologi Ijtihad dalam konteks ini adalah bahwa seorang pemegang amanat untuk menjadi pemimpin umat Islam wajib memiliki kemampuan menjawab berbagai problematika dalam kehidupan umat, memberikan kepastian hukum bagi persoalan-persoalan yang tidak ditemukan dalam hukum yang berlaku. Di samping itu ia mesti memiliki pengetahuan tentang spiritualitas, aspek kejiwaan dan hikmah Islam serta memiliki kemampuan untuk merumuskan hukum baik secara pribadi maupun kelembagaan sebagai solusi masalah umat. Juga memiliki “kecerdasan intelektual”, semangat untuk bekerja, dapat memanfaatkan potensi dan kekayaan alam untuk kemaslahatan Islam, bukan untuk tujuan palsu dan memenuhi tuntutan hawa nafsu.

Mari kita lihat sejenak bagaimana kondisi pemimpin kita mulai dari tingkat yang terkecil sampai tingkat yang paling besar apakah sudah mencerminkan dua unsur jihad (sungguh-sungguh dalam menjalankan perintah Allah) dan ijtihad (Kecerdasan Intelektual).

Dengan adanya  dua unsur ini “jihad” dan “ijtihad “ dalam kepemimpinan Islam, diharapkan menjadi acuan bagi setiap pemimpin bangsa Indonesia untuk menjalankan amanah yang telah Allah berikan sehingga tercipta negara yang adil, makmur, sejahtera serta berkah. Amin.



Tinggalkan Balasan

Translate »