Unisba

International Office Karir | Sisfo | Halo Alumni !

KOMINPRO – Di tengah kasus Covid-19 yang masih relatif tinggi, berbagai lapisan masyarakat Indonesia terus berupaya membantu pemerintah dalam menangani pandemi tersebut. Salah satunya adalah para dosen yang tergabung dalam tim peneliti Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Bandung (Unisba)

Melihat ketersediaan Alat  Pelindung  Diri (APD) yang tak sebanding dengan jumlah pasien yang terinfeksi Covid-19,  tim dosen FK Unisba melalui penelitiannya, menginisiasi pengembangan   sebuah   instalasi   berupa   partisi   ruang  aman untuk   pengambilan   spesimen   pemeriksaan Covid-19  yaitu serial KOPIDÞrotection. Prototipe KOPIDÞrotection sendiri terdiri dari tiga desain serial yaitu KOPID§hield, KOPID3@se, dan KOPIDμobile.

Kehadiran serial KOPIDÞrotection rupanya menarik perhatian Rumah Sakit Umum (RSU) Pindad untuk meminjam dan melakukan uji coba pada salah satu prototype yang dimiliki Unisba yaitu KOPIDμobile. Serial ketiga dari  KOPIDÞrotection ini merupakan unit anjungan dengan sistem tekanan positif untuk proteksi tenaga medis dalam melakukan prosedur pengambilan spesimen swab yang aman dari resiko transmisi agen infeksius termasuk COVID-19, yang dipergunakan di tempat-tempat umum dan mudah dipindahkan sesuai kebutuhan.

Kepala RSU Pindad, Bagus Anindito, dr., Sp.PD, mengatakan peminjaman KOPIDμobile dilakukan untuk menunjang kegiatan pelayanan rumah sakit dan kegiatan BUMN Indonesia yang bekerja sama dengan Pemerintah Jawa Barat pada tanggal 14 Agustus sampai dengan 21 Agustus 2020. Sebelum digunakan, sebanyak enam orang analis ikut melakukan uji coba penggunaan KOPIDμobile di dampingi  tim peneliti Unisba di RSU Pindad, Rabu (12/08).

Dr. Bagus mengungkapkan, dalam melakukan proses swab test, diperlukan perlindungan yang tinggi terhadap tenaga medis agar mereka dapat bekerja secara optimal dan aman. Namun menurutnya, penggunaan APD level 3 dalam waktu yang lama seringkali menimbulkan rasa tidak nyaman bagi penggunanya karena membuat kondisi badan terasa panas.

“Kita ingin tahu dan menguji coba apakah pada prakteknya penggunaan KOPIDμobile ini lebih nyaman bagi petugas dan benar-benar aman digunakan karena saat ini memang kami belum memiliki PCR. Tapi kami sudah ada rencana untuk  bekerja sama dengan pihak provinsi agar ke depan RSU Pindad dapat melaksanakan pemeriksaan mobile PCR di mobil. Jadi nanti kita bisa menggunakannnya di rumah sakit, atau  melakukan on site pemeriksanaan di tempat lain,” ujarnya.

Dr. Bagus, menjelaskan, dalam menangani Covid-19 pemerintah perlu memperbanyak testing karena penegakan diagnosis Covid didapatkan melalui pemeriksaan PCR. Beliau berharap, adanya  KOPIDμobile ini dapat mempermudah dan semakin banyak menjaring kemungkinan orang tanpa gejala yamg terinfeksi COVID-19.

“Kesulitan dalam melakukan testing terjadi salah satunya akrena orang takut ke rumah sakit. Maka jika orang  takut ke rumah sakit, sebaiknya pihak kesehatan yang harus mendekati masyarakat. Tujuannya agar pemeriksana semakin banyak dilakukan begitupun dengan tracing. Semoga ke depan KOPIDμobile ini bisa bnanyak diproduksi dan dikembangkan dengan tujuan bisa menjaring orang lebih banyak lagi, ujarnya. (Feari)



Tinggalkan Balasan

Translate »