Phone (022) 420 3368 ext. 109 ||

Follow Us

  /  Berita   /  Pentingnya Etika Komunikasi dalam Bisnis Online

Pentingnya Etika Komunikasi dalam Bisnis Online

KOMINPRO – Meningkatnya jumlah pengguna internet di Indonesia selama wabah pandemi Covid-19 membuat pertumbuhan bisnis online kian melonjak. Hal ini terjadi karena adanya perubahan perilaku konsumen yang mulai beralih dan semakin terbiasa melakukan transaksi melalui online. Tak heran jika kini banyak orang yang mulai memanfaatkan peluang tersebut untukmulai berbisnis online di era new normal.

Melihat besarnya peluang tersebut, Universitas Islam Bandung (Unisba) menyelenggarakan webinar pengabdian kepada masyarakat (PKM) dengan tema “Keterampilan Menggunakan Media Sosial Dalam Konteks Komunikasi Bisnis Online,” Selasa (21/07). Program ini digagas oleh empat dosen Fakultas Ilmu Komunikasi yakni Prof. Dr. Neni Yulianita, Dra., M.Si., Dr. Tresna Wiwitan, Dra., M.Si., Dr. Rita Gani, S.Sos., M.Si., dan Erik Setawan, S.Sos., M.I.Kom.

Dalam program PKM ini, Unisba menggandeng Pesantren Baitul Hidayah dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) sebagai peserta. Kegiatan ini diikuti oleh 10 peserta ustadz dari Pesantren Baitul Hidayah, 10 anggota UKM HIPMI Unisba dan 40 peserta dari umum secara online. Pada webinar ini, para peserta diberikan materi  yang berbeda dari masing-masing dosen. Selain itu, Unisba juga mengundang Mawwadi Lubby, Strategic Lead of Partner Engagemen Grab West Java untuk menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut.

Ketua Peneliti PKM, Prof. Neni mengatakan, sebelum merintis usaha yang berbasis internet, seseorang harus paham tentang etika komunikasi dalam bisnis online. Menurutnya, hal ini sangat penting karena dalam berbisnis melalui online, pembeli dan penjual tidak bisa berinteraksi secara langsung. Sehingga sebagai penjual, seseorang harus mampu memberikan service yang baik untuk meyakinkan konsumen atas kualitas dan keaslian produk yang dijual. Mengingat tak jarang ada sebagian pebisnis online yang sengaja mengabaikan aspek tersebut demi meraup keuntungan semata.

“Seringkali apa yang ditampilkan online shop berbeda dengan produk aslinya atau tidak sesuai dengan harapan. Bagi mereka yang ingin memulai bisnis online harus diperhatikan karena ini berkaitan dengan etika dan kepercayaan dari masyarakat. Perlu diingat bahwa menekankan kejujuran akan berdampak panjang pada bisnis yang kita jalankan,” ujarnya.

Dalam melakukan transaksi online, Prof. Neni mengingatkan, seorang penjual juga harus menunjukan etika yang baik seperti bersikap ramah, membalas pertanyaan dan menyapa pembeli dengan sopan, dan tidak menjaga kerahasiaan data pembeli. Beliau menerangkan,  konsumen dalam bisnis online memiliki latar belakang yang heterogen sehingga perlu pendekatan yang berbeda-beda. Sebagai pebisnis online, etika sangat diperlukan agar dia memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara dunia virtual (Digital Citizenship).

Prof. Neni juga membagikan tips etika komunikasi di media sosial yang dapat diimplementasikan seseorang jika ingin memulai bisnis online. Pertama, memikirkan dengan matang pesan yang akan disampaikan melalui media sosial agar tidak menimbulkan konflik. Kedua, membaca pesan yang akan diposting berulang kali untuk memastikan apakah pesan tersebut sudah mewakili karakter atau kepribadian dari produk yang dipasarkan. Kemudian, mengungkapkan kata-kata bijak yang tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

“Jangan menjelekan produk orang lain. Hindari pikiran dan perkataan yang negatif. Kemudian ketika memposting karya orang lain jangan lupa untuk menuliskan sumbernya,” pungkasnya.

Sementara itu, Mawwadi Lubby mengatakan, di tengah persaingan ketat dalam bisnis e-commerce, seseorang harus memiliki niat usaha yang jelas agar bisnis yang dirancang dapat berjalan dengan mulus. Menurutnya, usaha akan bertahan jika memiliki nilai solutif atas permasalahan yang ada.

“Analisa dulu masalah apa yang akan kita selesaikan dengan berusaha dan berdagang. Esensi bisnis adalah menemukan solusi atas suatu permasalahan. Setelah itu perbanyak silaturahmi, semakin banyak bersilaturahmi akan memperbesar peluang produk kita dikenal orang lain. Kemudian, manfaatkan marketplace yang ada agar segementasi pelanggan semakin luas,”jelasnya.

Mawwadi menjelaskan, ada tiga langkah yang harus dilalui seseorang dalam memulai usaha antara lain merancang bisnis model untuk meminimalisir resiko, mengumpulkan modal, dan memulai eksekusi. Selain itu, seorang pengusaha juga harus mampu menonjolkan produk dan jasa yang dipasarkan bila dibandingkan dengan produk sejenis.

“Agar produk bisa mendapatkan persepsi yang baik dari konsumen maka kita harus melakukan berbagai langkah di antaranya membuat manfaat produk lebih jelas, megupdate atribut produk, meningkatkan citra produk, mempertimbangkan harga, dan memperhatikan pesaing. Selain itu kita juga bisa memberikan layanan after salses service  agar mereka tidak ragu untuk datang kembali,”terangnya.

Adapun Ustadz Zakaria Septian, yang menjadi peserta, mengaku banyak mendapatkan pengetahuan dan wawasan baru mengenai strategi dan etika berbisnis online. Dia berharap, ilmu dan wawasan yang diterima bisa diamalkan kembali kepada santri-santri yang ada di Pesantren Baitul Hidayah. Ustadz Zakaria mengatakan, Pesantren Baitul Hidayah merupakan salah satu lembaga yang tidak hanya mengutamakan pendidikan tapi juga skill sehingga tema webinar ini dapat diterapkan oleh para santri yang ingin berbisnis ke depannya.

“Salah satu bentuk dari visi kita Pesantren Baitul Hidayah yaitu bisa kuat secara sistem dan mandiri secara SDM. Sehingga harapannya jika materi ini bisa diaplikasikan dengan baik, ketika santri keluar dia tidak hanya sekadar aktif atau pandai mengaji tapi juga punya skill untuk berbisnis. Semoga menjadi keberkahan bagi Baitul Hidayah,” terangnya. (Feari)

Translate »