Phone (022) 420 3368 ext. 109 ||

Follow Us

  /  Karya   /  Pencatatan Keuangan Personal Bagi Perempuan Dalam Syariat Islam

Pencatatan Keuangan Personal Bagi Perempuan Dalam Syariat Islam

Ifa Hanifia Senjiati (dosen mata kuliah Akuntansi Bank Syariah di Fakultas Syariah UNISBA) – Pencatatan keuangan adalah kegiatan mencatat atau menuliskan proses keuangan individu atau organisasi dalam menghasilkan, membelanjakan, dan menginvestasikan uang. pencatatan keuangan personal belum banyak dilakukan oleh setiap individu manusia baik itu berdasarkan jenis kelamin maupun pekerjaan. Begitu pula dengan kaum perempuan baik yang sudah menikah atau masih single. Kegiatan pencatatan keuangan ini dianggap sebagai suatu pekerjaan yang tidak penting khususnya bagi kaum perempuan. Padahal pencatatan keuangan ini diperintahkan oleh Agama Islam dalam QS. Al-Baqarah ayat 282. Ayat tersebut merupakan ayat terpanjang dalam Al-Quran. Arti dari ayat tersebut adalah  ” Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. …….. dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. ……….”.

 

Ayat di atas menjelaskan beberapa poin penting berkenaan dengan pencatatan atau penulisan keuangan yaitu (1) Perintah Allah SWT dalam menuliskan muamalah secara tidak tunai (hutang), (2) Profesionalisme seorang penulis, dan (3) Tidak merasa “jemu” untuk menuliskan keuangan (hutang) baik nominalnya sedikit atau banyak.

 

Allah memerintahkan untuk menuliskan keuangan yang tidak tunai (hutang). Bukan berarti kegiatan yang tidak tunai tidak ditulis karena dalam penggalan ayat selanjutnya untuk muamalah yang tunai dan tidak menuliskannya maka tidak ada dosa baginya. Namun demikian, sebaiknya baik itu muamalah secara tunai atau tidak tunai hendaklah menuliskannya. Poin yang kedua adalah kriteria seorang penulis (baik untuk pencatatan keuangan personal atau organisasi). Artinya seorang penulis harus memiliki sifat amanah, adil, jujur, serta tidak boleh ada sesuatu yang ditambah atau dikurangi dari transaksi keuangan. Poin ketiga adalah suatu peringatan bagi manusia agar tidak bosan unuk mencatatkan transaksi keuangan yang tidak tunai walaupun nominalnya sedikit atau banyak. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pencatatan keuangan harus konsisten atau istiqomah.

 

Al-Quran sangat jelas mengatur tentang pencatatan keuangan ini. Allah SWT sangat mengetahui akibat dari kelalaian pencatatan keuangan yang dapat mengakibatkan hal yang buruk di kemudian hari. Beberapa contoh dalam sebuah keluarga, perempuan memiliki tanggungjawab dalam menjaga harta suaminya sehingga istri sering dijadikan sebagai manajer keuangan di dalam rumah. Apabila istri yang baik, maka akan dilakukan pencatatan keuangan atas dana yang diperoleh dari suami baik itu penggunaan uang secara tunai atau tidak tunai. Catatan adalah sebagai bentuk pertanggungjawaban istri kepada suami. Mayoritas istri apabila meminta uang kepada suami maka tidak sedikit suami yang menanyakan enggunaan uang tersebut. Apabila perempuan sudah terbiasa menuliskan atau mencatat semua transaksi keuangan baik sedikit nominalnya atau banyak dan konsisten mengumpulkan bukti transaksi seperti faktur pembelian, atau kwitansi dan bukti transaksi keuangan lainnya maka seorang perempuan dapat mempertanggungjawabkan keuangan yang dikelola kepada suaminya dengan menunjukkan buku catatan dan bukti transaksinya.

 

Pencatatan keuangan memerlukan konsistensi atau istiqomah dalam melakukannya. Kebanyakan pencatatan dilakukan di awal bulan saja dan setelah itu karena perempuan mengalami banyak kesibukan maka pencatatan keuangan menjadi terlupakan. Oleh karena itu, cara mencatat keuangan secara konsisten adalah pertama, meningkatkan kesadaran perempuan unuk mencatat keuangan dengan mengikuti komunitas yang sama baik dalam suatu grup media sosial atau dalam pengajian dan bentuk perkumpulan lainnya yang bisa memberikan peningkatan pengetahuan perempuan tentang keuangan.

 

Kedua adalah perempuan modern saat ini dipastikan mengenal gadget/smartphone sehingga dapat mengunduh aplikasi pengelolaan keuangan di app store dan salah satu aplikasi tersebut adalah aplikasi manajemen keuangan, apabila perempuan tersebut tidak memiliki gadget dan smartphone maka bukan menjadi masalah dalam hal tidak melakukan pencatatan. Cara lain untuk melakukan pencatatan adalah dengan menyedia note book yang kecil dan pensil atau ballpoint yang ditempel di note tersebut yang bisa dibawa kemana pun. Kemudian untuk bukti transaksi dapat dikumpulkan dalam sebuah amplop dan disimpan per bulan.

 

Ketiga adalah waktu pencatatan keuangan dapat dilakukan pada waktu malam hari setelah sholat isya atau waktu shubuh sebelum melakukan sholat shubuh. Pemanfaatan waktu sholat untuk mencatat transaksi keuangan merupakan hal yang tepat karena sebagai umat muslim memiliki kewajiban unuk melakukan sholat dan di wkatu tersebu keleluasaan waktu ebih banyak dibandingkan dengan waktu sholat lainnya seperti sholat dzuhur, ashar dan magrib. Misalnya, ketika perempuan selesai melaksanakan qiyamul lail kemudian melakukan pencatatan dengan mengingat kegiatan dalam satu hari yang telah dilalui dengan mengumpulkan bon/faktur/kwitansi pembelian atau pembelanjaan. Dengan demikian, seorang perempuan akn mengetahui kondisi keuangan hariannya. Apabila pencatatan dilakukan setelah qiyamul lail maka untuk saldo awal hari berikutnya sudah diketahui dan berlaku pencatatan keuangannya setelah sholat shubuh. Dengan demikian seorang perempuan bukan hanya melaksanakan kehidupan duniawi tapi tetap melaksanan kegiatan ukhrowi.

 

Kegiatan pencatatan keuangan ini dapat dilakukan oleh perempuan yang sudah menikah atau belum menikah. Alasan perempuan melakukan pencatatan adalah karena perempuan memiliki sifat teliti dan ulet dalam mengerjakan sesuatu dibanding dengan pria sehingga pencatatan keuangan biasanya dilakukan oleh perempuan dan tidak mentup kemungkinan laki-laki pun melakukan hal demikian. Keuntungan bagi perempuan yang sudah membiasakan diri mencatat keuangan dari gadis seperti dimulai saat SMA atau kuliah adalah dapat mengontrol keuangan pribadi mereka dan dapat mempertanggungjawabkan keuangan kepada orang tua sehingga dapat menghindari kegiatan yang menghabiskan uang.

 

Diharapkan permpuan di Indonesia “melek” keuangan dan cerdas dalam pengelolaan keuangan. Ibu merupakan perempuan yang hidup dalam sebuah keluarga, apabila keluarga memiliki ibu demikian maka kumpulan keluarga kecil ini akan menjadi pionir perubah karakter keuangan bangsa yang saat ini ditemukan banyak sekali korupsi di Indonesia.