Phone (022) 420 3368 ext. 109 ||

Follow Us

  /  Berita   /  Pemimpin yang Baik, Mencintai dan Dicintai Rakyat

Pemimpin yang Baik, Mencintai dan Dicintai Rakyat

 

Prof. Dr. KH. Miftah Faridl bersama Ketua dan Sekretaris LSIPK Unisba

KOMINPRO-“Sebaik-baiknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu cintai dan mereka pun mencintamu, kamu menghormati mereka dan merekapun menghormati kamu. Pun sejelek-jeleknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu benci dan mereka pun benci kepada kamu. Kamu melaknat mereka dan mereka pun melaknatmu”(HR Muslim).

Memilih pemimpin, tidaklah mudah. Hal ini terkait fungsi dan keterampilan seseorang dalam memimpin. Pemimpin yang baik adalah  pemimpin betulan bukan pemimpin kebetulan. Pemimpin betulan, adalah pemimpin yang memenuhi ketentuan-ketentuan yang diajarkan oleh Islam. Sedangkan pemimpin kebetulan adalah orang yang kebetulan menjadi pemimpin,  tanpa dilandasi keterampilan dalam memimpin dan tidak tahu aturan. Seorang pemimpin, harus berpihak pada rakyat dan umat karena pemimpin datang dari umat dan memimpin untuk umat.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Badan Pengurus Yayasan Unisba, yang juga Ketua MUI Kota Bandung, Prof. Dr. KH. Miftah Faridl dalam pengajian umum (bulanan) bertema, “Figur Pemimpin yang Dicintai Umatnya” di Masjid Al Asy’Ari Unisba, Rabu (16/01). Pengajian ini dihadiri sivitas akademika dan pegawai Unisba serta masyarakat Tamansari.

Rasulullah SAW,  mengamanatkan kepada umat Islam harus mempunyai pemimpin dalam setiap aktifitasnya, “Seperti yang diungkapkan dalam hadis, Rasuluullah SAW bersabda, tiga orang saja dalam perjalanan jauh, angkatlah seorang diantaranya menjadi pemimpin,” terang Prof. Miftah. 

Setiap diri kita adalah pemimpin bagi diri masing-masing. Pemimpin yang baik salah satunya menjadi pemimpin rumah tangga yang baik.. Prof. Miftah mengingatkan, kepemimpinan adalah hal yang penting sekaligus bisa menimbulkan  konflik. “Yang paling dasar menyebabkan umat Islam pecah itu adalah menyangkut imamah atau kepemimpinan,” katanya.

Al Quran mengajarkan kepada umat Islam bahwa konsep kepemimpinan adalah kekuasaan yang berada di genggaman Allah SWT seperti tercantum dalam Q.S. Al Imran ayat 26.  “Allah SWT yang memberikan jabatan dan kedudukan kepada orang yang dikehendaki-Nya dan Allah SWT pula yang mencabutnya sesuai kehendak-Nya. Keyakinan kita pada hakikatnya,  yang menetapkan itu Allah SWT. Allah SWT yang Maha Kuasa yang menjadikan seseorang menjadi pemimpin dan Allah SWT membuat aturannya. Kepemimpinan itu pemberian dari Allah SWT,” jelasnya.

Menjadi pemimpin hendaknya tidak membuat seseorang menjadi sombong. Sebaliknya, tidak menjadi pemimpin jangan menjadi minder karena kemuliaan bukan ada pada jabatan dan kedudukan. Prof. Miftah mengatakan, banyak orang yang mempunyai kedudukan tapi tidak mempunyai kemuliaan. Dan tidak sedikit orang yang tidak mempunyai jabatan dan kedudukan tapi mempunyai kemuliaan. Jabatan merupakan keputusan dan pemberian dari Allah SWT, maka harus selalu bersyukur pada-Nya.

Seorang pemimpin juga harus adil dan jujur. Kedua sikap ini merupakan akhlak mulia bagi seorang pemimpin. Wujud syukur menjadi seorang pemimpin yang diberikan oleh Allah SWT yaitu apa pun harus disyukuri dan melaksanakan apa yang menjadi amanat. Jabatan dan kedudukan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabakan dan disadari untuk menjaganya. Prof. Miftah mengingatkan, jabatan sebagai amanah akan melahirkan penyesalan, kesedihan dan kesengsaraan kecuali mengambilnya dengan cara yang baik dan melaksanakan tugas dengan baik.

“Jabatan dan kedudukan merupakan media amar ma’ruf nahi munkar. Kalau memang jabatan itu membuat kita jauh dari Allah SWT lebih baik tidak punya jabatan. Surga tidak ditebus dengan jabatan tapi dari kesolehan,” tegasnya.

 Agama di suatu masyarakat tergantung dari agama dan keyakinan pemimpinnya. Jika pemimpinnya soleh, ada harapan masyarakatnya untuk ikut menjadi soleh. Seorang pemimpin, kata Prof. Miftah, harus memiliki empat sifat Rasulullah SAW yaitu siddiq, amanah, tabligh dan fathonah. Selain itu pemimpin juga harus tepat janji, jangan menjadi pendendam dan harus menjadi pemaaf.

“Harus diartikan bahwa orang Islam itu harus punya pemimpin supaya tidak menyalahi aturan dan tidak menyalahi Al-Quran. Harus menyiapkan orang menjadi pemimpin yang memiliki persyaratan akhlak, kemauan dan kecintaan pada ayat Al-Quran,” ujarnya.

Tantangan saat ini tidak hanya melarang masyarakat untuk memilih pemimpin yang tidak memenuhi persyaratan tapi harus bisa melahirkan pemimpin yang memenuhi persyaratan. Pemimpin pun wajib dipatuhi kecuali yang mengajak kepada kemaksiatan dan kejahatan.

Dalam memilih pemimpin, beliau berpesan untuk memilihnya menurut kesadaran batin. Walaupun adanya perbedaan, keikhlasan harus selalu dimiliki karena yang terbaik merupakan tanggung jawab dihadapan Allah. “Jangan juga memilih melalui jalur suap karena ancamannya neraka,” pungkasnya.

Rektor Unisba

Sementara itu, Rektor Unisba, Prof. Dr. H. Edi Setiadi, S.H., M.H. mengatakan, kegiatan pengajian merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Lembaga Studi Islam dan Pengembangan Kepribadian (LSIPK) Unisba dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT serta mempererat tali silaturahmi.

Terkait tema yang diangkat yakni mengenai kepemimpinan adalah sesuai dengan kondisi Indonesia yang sebentar lagi akan menghadapi Pemilu 2019. “Sebentar lagi kita memilih pemimpin, kita harus segera menentukan sikap pemimpin seperti apa yang akan kita pilih. Kita semua pemimpin bukan hanya sendiri tapi keluarga. Pengajian ini membahas lebih dari pemimpin kepada diri sendiri tapi arti yang  lebih luas. Menyampaikan apa yang ada diajaran agama kita agar tidak ada salah sangka ,” ungkapnya.

Rektor berharap, melalui pengajian ini baik civitas akademika Unisba maupun warga Tamansari yang hadir bisa meng-istiqomah-kan aturan dan patokan Agama Islam selamanya terutama yang bersumber dari Al Quran. (Eki/Sari)