Unisba

International Office | Karir | Login Sisfo

Dr. Ima Amaliah (Dosen Prodi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisba) – Inflasi merupakan persoalan yang selalu hangat untuk diperbincangkan, terlebih saat harga-harga kebutuhan pokok masyarakat semakin tidak bersahabat dengan kantong masyarakat. Pemicunya beraneka ragam, mulai dari pencabutan BBM bersubsidi, perubahan cuaca yang sangat ekstrim, banjir di sentra produksi, peningkatan harga gas elpiji 12 kg yang berakhir dengan kelangkaan gas elpiji 3 kg serta penurunan nilai tukar rupiah atas dollar. Pemerintah sudah berusaha keluar dari situasi ini, tetapi nampaknya perekonomian belum juga menunjukkan perbaikan. Mungkinkah inflasi dapat diobati?

 

Inflasi dan Faktor Penyebabnya

Inflasi adalah suatu kecenderungan meningkatnya tingkat harga umum yang terjadi secara terus menerus. Jadi jika yang meningkat hanya harga satu komoditas saja serta meningkat hanya sesaat maka fenomena tersebut belum dapat dikatakan inflasi. Sumber penyebab inflasi berasal dari sisi permintaan, penawaran serta masalah struktural. Penyebab inflasi dari sisi penawaran yaitu karena  gagal panen, naiknya harga bahan baku, serta naiknya harga bahan bakar dan listrik. Kenaikan biaya produksi inilah yang memicu naiknya harga barang jadi. Adapun penyebab inflasi struktural adalah terlalu panjang dan gemuknya birokrasi yang harus dilalui dalam pengurusan perijinan. Efeknya terjadilah ekonomi biaya tinggi (high cost economic) yang berimbas pada tingginya biaya yang harus dikeluarkan produsen. Akhirnya, produsen membebankan harga output yang lebih tinggi. Sementara inflasi dari sisi permintaan terjadi karena meningkatnya permintaan atas barang-barang namun tidak diikuti dengan pasokan barang yang memadai. Kelebihan permintaan inilah yang memicu harga-harga menjadi lebih mahal dibandingkan sebelumnya.

Pada umumnya, inflasi sisi permintaan terkait erat dengan perilaku masyarakat dalam berkonsumsi yang secara langsung dipengaruhi oleh faktor internal (komposisi keluarga, pendapatan, selera dan kecenderungan mengkonsumsi) dan faktor ekstrenal (lingkungan tempat tinggal, kebijakan pemerintah, tingkat harga, budaya masyarakat serta kemajuan teknologi) dari seorang individu. Filter dari perilaku konsumsi seorang individu terkait erat dengan nilai-nilai agama serta perilaku etis seorang individu di dalam melakukan kegiatan konsumsinya. Agama dapat menjadi benteng bagi seorang individu agar tidak terjebak dalam perilaku konsumsi yang berlebihan, tindakan menghalalkan segala cara  serta tindakan mengeksploitasi alam secara berlebihan.

 

 

Bagaimana Islam Mengatur Perilaku Konsumsi?

Motif dasar manusia dalam beraktivitas adalah untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan hidupnya. Kebutuhan manusia dalam pandangan Abraham Maslow terdiri atas beberapa tingkatan (hierarki) yang tersusun dari kebutuhan yang paling rendah yaitu kebutuhan fisiologis (kebutuhan makanan, minuman, pakaian, seks dan lainnya) hingga kebutuhan tertinggi (kebutuhan akan kekuasaan). Menurut Maslow, pemenuhan kebutuhan tersebut harus dilakukan secara berjenjang. Dalam hal ini, Maslow menempatkan kebutuhan materiil sebagai kebutuhan utama manusia di dalam kehidupannya.

Sementara itu, Imam Al-Ghazali (seorang sufi) memandang kebutuhan dasar manusia adalah apa yang tersurat dalam Maqashid Syariah (tujuan-tujuan syariah) yaitu terpenuhinya lima perkara yaitu kebuhan beragama (Al-dien), kebutuhan jiwa (nafs), kebutuhan akal (aql), kebutuhan keturunan (nasb) dan kebutuhan harta benda (maal). Dalam hal ini, Imam Al-Ghazali menempatkan agama sebagai kebutuhan yang paling mendasar dan utama bagi manusia. Setelah kebutuhan agama, maka kebutuhan-kebutuhan lainnya akan mengikuti. Kebutuhan materiil dalam pandangan Imam Al-Ghazali berada dalam urutan terakhir. Artinya kebutuhan materiil bukan merupakan tujuan utama dari hidup manusia tetapi hanyalah sebagai alat (mean) untuk mencapai tujuan yang sesungguhnya dari manusia yaitu beribadah kepada Tuhannya.

Oleh karena itu, dalam pemenuhan kebutuhan materiil, Islam memberikan tuntunan untuk dapat membedakan antara konsep kebutuhan (need) dan keinginan (want). Dasar dari kebutuhan adalah manfaat, sehingga jika kebutuhan dipenuhi oleh manusia maka akan memberikan kebaikan bagi manusia itu sendiri. Sementara itu, dasar dari keinginan adalah hawa nafsu, sehingga jika keinginan diperturutkan maka akan membawa kerugian bagi manusia. Penyamaan konsep kebutuhan dan keinginan inilah yang menjadi pangkal munculnya persoalan-persoalan dalam ekonomi seperti kelangkaan maupun inflasi. Penyamaan konsep kebutuhan dan keinginan membuat manusia tidak dapat membedakan mana barang-barang yang benar-benar dibutuhkan dan mana barang yang hanya untuk memenuhi keinginannya. Efeknya manusia tidak akan pernah puas hanya dengan memiliki  satu telfon genggam, satu tas bermerek, satu rumah mewah, satu kendaraan dan masih banyak keinginan lain untuk memuaskan hasratnya. Akhirnya, banyak individu yang terjebak dalam perilaku konsumtif yang berujung pada eksploitasi sumber daya secara berlebihan, pengrusakan alam serta pencemaran lingkungan.

Islam telah memberikan tatanan yang komprehensif bagi manusia di dalam melakukan kegiatan konsumsinya dengan mendasarkan pada lima prinsip yaitu prinsip keadilan (Q.S Al-Baqarah ayat 173), prinsip kebersihan, prinsip kesederhanaan (Q.S Al-A’raaf ayat 31), prinsip kemurahan hati (Q.S Al-Maidah ayat 96) serta prinsip moralitas. Kelima prinsip tersebut menjadi dasar bagi setiap individu di dalam melakukan kegiatan konsumsinya.  Kegiatan konsumsi harus dengan pertimbangan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tetapi juga kebutuhan generasi yang akan datang. Selain itu, seorang individu harus mempertimbangkan kehalalan dan kebaikan atas barang yang dikonsumsinya. Halal dalam proses maupun cara mendapatkannya serta baik atas bahan-bahan yang digunakannya sehingga tidak membahayakan jiwa maupun raga bagi yang mengkonsumsinya.

            Dengan demikian, agar manusia terhindar dari berbagai persoalan ekonomi maupun sosial maka hendaknya manusia tidak hanya menjadikan agama sebagai aktivitas ritual semata. Agama harus menjadi bagian integral dalam segala aspek kehidupan manusia.



Tinggalkan Balasan

Translate »