Unisba

International Office | Karir | Login Sisfo

Dr. Hj. Erhamwilda, M.Pd (Ketua Prodi PG-PAUD UNISBA) – Bagaimana biasanya sikap anda jika anak anda yang berusia sekitar 2-3 tahun menunjukkan perilaku membantah, berontak, “mengamuk” atau berguling-guling ketika maunya tidak diikuti ? Inilah beberapa contoh perilaku tantrum. Apakah anda membiarkannya sampai diam dengan sendirinya ? Menuruti saja apa maunya ? Panik ? Marah atau bahkan mencubitnya supaya diam atau patuh pada anda ? Anda mengancamnya ? atau anda membujuk dengan menjanjikan sesuatu yang disukai anak, meskipun nantinya belum tentu anda penuhi ? Atau anda bisa tetap tenang dan sabar mendengarkan anak ?

Pada kenyataannya setiap orang tua/wali dan atau pengasuh mempunyai gaya sendiri dalam menghadapi perilaku anak yang tidak dikehendakinya, namun yang perlu dipertanyakan lebih lanjut adalah seberapa efektif sikap orang tua bisa membentuk atau mengubah perilaku anak sesuai yang diharapkan. Sangat sering kita temukan orang tua kewalahan, kebingungan atau kecewa dan malu dengan perilaku anaknya, Jika kita perhatikan di pusat-pusat perbelanjaan, pasar, di playgroup dan PAUD, warung atau tempat berkumpul anak-anak atau di sekeliling kita, akan ada saja anak yang menunjukkan perilaku tantrum yang tidak dikehendaki. Biasanya semakin sering anak menunjukkan perilaku tantrum, akan semakin sulit  mengubahnya, jika tidak ada upaya khusus untuk itu.

Apa yang seharus bisa dilakukan ?

1. Pahami perilaku Tantrum

Tantrum mulai terlihat sekitar usia 18-24 tahun dan berlanjut hingga awal masa lima tahun. Tantrum membantu anak anda menghadapi perasaan frustasi, dan tantrum menunjukkan betapa marahnya anak (Carol Cooper, ect, 2009).

Adanya perilaku tantrum merupakan kesempatan bagi orang tua untuk membantu perkembangan emosi anak. Orang tua perlu yakin bahwa perilaku anak bisa diubah dan dibentuk, asalkan orang tua mau mengendalikan perilakunya sendiri sebagai orang tua. Ketika orang tua tetap tenang di tengah luapan emosi marah dan frustasi anak, orang tua sudah mengajarkan pada anak bahwa perasaan-perasaan marah tersebut adalah biasa dan bisa dikendalikan. Sebaliknya jika orang tua atau pengasuh terlanjur marah-marah, tanpa sadar telah mengajarkan pada anak bagaimana meluapkan emosi dalam menghadapi situasi yang tidak dikehendaki.

Pada dasarnya setiap orang adalah unik, sehingga setiap anak juga adalah unik termasuk dalam mengekspresikan emosi kecewa atau marahnya. Setiap anak secara genetik sudah mempunyai nada dasar emosi yang disebut dengan temperament. Perkembangan emosi anak ditentukan oleh interaksi sosial yang dibangun dengan orang tua dan orang-orang di lingkungan di mana anak tinggal dan dibesarkan. Salah seorang ahli perkembangan anak yaitu Kagan menyatakan bahwa: anak-anak mewarisi sifat fisiologis yang membuat mereka memiliki suatu jenis temperamen.  Selanjutnya melalui  pengalaman mereka belajar untuk mengubah tempramen mereka hingga tingkat tertentu.

John W. Santrock (2008) menyatakan emosi terkait dengan  berganti-gantinya respon orang tua/orang lain pada anak. Selain itu hubungan sosial anak dengan orang-orang di lingkungannya akan memperkaya perkembangan emosi.

 

2. Strategi Menghadapi Anak Tantrum

Menurut (Carol Cooper, ect, 2009), ketika anak menunjukkan perilaku tantrum, tetaplah tenang, dan tetap berada di dekatnya agar anak merasa aman. Hindari berdiskusi dengan anak ketika emosinya masih meledak-ledak, karena anak tidak akan mampu menangkap apapun yang anda katakana ketika tantrumnya berlangsung.

Orang tua atau pendidik anak jangan menyerah pada tantrum anak dengan bonus camilan, karena ini hanya solusi jangka pendek, dan pada jangka panjang tanpa disadari oleh orang tua anak belajar bahwa tantrumnya berhasil sehingga dipastikan orang tua akan menghadapi lebih banyak lagi tantrum.

Jika orang tua atau pendidik anak kasar dan marah saat anak menunjukkan perilaku tantrum, maka anak akan belajar bahwa perasaannya tidak bisa dikendalikan secara aman, dan anak akan bingung pada perasaannya sendiri.

 

3. Berupaya Membentuk perilaku baik

Mengacu pada penjelasan Hurlock (1992) terdapat empat pokok utama dalam membentuk perilaku bermoral, yaitu:(1) memfasilitasi anak untuk memahami apa yang diharapkan kelompok sosial sesuai hukum, kebiasaan, dan peraturan; (2) mengembangkan hati nurani/super ego/”cahaya dari dalam” atau polisi internal sebagai kendali perilaku individu. Untuk ini anak harus belajar yang benar dan yang salah, dan menggunakan hati nuraninya sebagai pengendali perilaku. (3) anak belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa malu bila perilakunya tidak sesuai dengan harapan kelompok. Untuk itu anak harus: (a) menerima standar tertentu mengenai benar dan salah, (b) menerima kewajiban mengatur perilaku, (c) merasa bertanggung jawab atas setiap penyelewengan dari standar tersebut, (d) harus memiliki kemampuan mengkritik diri yang cukup besar.

Pada usia dini memberikan pujian dan perhatian merupakan fondasi kuat untuk melahirkan perilaku yang baik. Kebiasaan  orang tua-pengasuh dalam memberikan perhatian dan memuji perilaku yang positif anak akan membentuk perilaku yang baik ketika anak mencapai usia 3 tahun. Orang tua perlu menunjukkan rasa senang ketika anak berperilaku baik.  Orang tua-pendidik dapat merespon dengan pelukan, kata-kata pujian, supaya anak mempertahankan perilakunya. Pendidik juga dapat menggunakan nada suara yang hangat dan penuh kasih sayang, menatap matanya, dan bersungguh-sungguh dengan pujian yang diberikan.



Tinggalkan Balasan

Translate »