Unisba

International Office | Karir | Login Sisfo

Diar Herawati, M.Si., Apt ( Dosen Farmasi Analisis, Prodi Farmasi FMIPA UNISBA) – 

Dalam kehidupan masyarakat yang semakin modern, kebutuhan akan obat maupun suplemen berkualitas dan memenuhi standar estetika menjadi sebuah kebutuhan tidak terelakkan. Sediaan farmasi baik obat maupun suplemen tidak saja dituntut memiliki khasiat yang maksimal, tetapi juga harus indah dan nyaman untuk penggunanya. Salah satu sediaan farmasi yang menjadi alternatif untuk memenuhi standar kualitas dan kenyamanan pengguna adalah sediaan kapsul. Masyarakat saat ini mengenal kapsul dalam bentuk soft capsule maupun hard capsule dengan berbagai bentuk dan warna warni yang menarik. Soft capsule dan hard capsule ini ada yang berdiameter mikrometer hingga sentimeter. Belum lagi bentuknya yang bundar, oval, pipih, maupun berbentuk karakter kartun misalnya pada kapsul suplemen untuk anak-anak. Warna warni kapsul pun semakin variatif dan menarik. Warna pun bahkan menjadi identitas dari suatu produk obat maupun suplemen.

Dengan berbagai variasi kapsul yang ada di atas, hal ini menunjukkan bahwa kapsul sebagai teknologi penghantaran obat sangat populer di masyarakat. Selongsong kapsul dibuat untuk melindungi bahan aktif baik obat ataupun vitamin di dalamnya dari berbagai gangguan luar seperti udara maupun cahaya. Selain itu selongsong kapsul berfungsi juga menutup rasa atau aroma yang kurang enak dari senyawa aktif di dalamnya, dengan begitu pengguna kapsul dapat menelan obatnya tanpa khawatir rasa atau bau yang kurang enak.

Salah satu bahan kapsul yang paling populer adalah gelatin. Teknologi kapsul gelatin dipilih oleh para produsen farmasi karena unggul dalam ketersediaan hayatinya, selain lebih mudah dimodifikasi dari sisi biofarmasetiknya. Bahan baku gelatin adalah kulit dan tulang dari hewan mamalia seperti sapi dan babi. Secara garis besar sumber gelatin untuk pembuatan kapsul dibagi atas gelatin tipe A yang berasal dari kulit babi dengan pH (tingkat keasaman) 7,5-9,0 dan gelatin tipe B yang berasal dari kulit dan tulang sapi dengan pH 4,8- 5,0. Saat ini gelatin tipe A lebih unggul secara teknologi. Selain itu produksi gelatin tipe A lebih cepat dari produksi gelatin tipe B serta bahan baku gelatin tipe A jauh lebih melimpah dari bahan baku gelatin tipe B.

Fakta bahwa keunggulan gelatin A yang bersumber dari babi ini menjadi sebuah permasalahan dalam industri produk farmasi halal. Hak mayoritas konsumen obat dan suplemen di Indonesia yang beragama Islam, membuat para produsen farmasi mulai melirik alternatif teknologi kapsul yang halal. Sertifikasi kapsul gelatin halal pun menjadi salah satu nilai tambah produk untuk meraih kepercayaan konsumen muslim. Sesungguhnya pekerjaan rumah para ahli farmasi adalah mencari teknologi untuk meningkatkan kualitas farmasetik kapsul tipe B, selain melirik alternatif bahan pembuat kapsul selain gelatin.

Alternatif lain bahan kapsul yang pertama adalah HPMC (Hidroxypropylmetylcellulose), yang lebih stabil secara farmasetik, kadar airnya rendah tetapi memiliki kekurangan tampilan fisik yang kurang jernih dan harganya mahal. HPMC kurang menguntungkan untuk industri farmasi. Alternatif bahan kapsul kedua adalah karagenan, bahan bakunya melimpah di Indonesia karena berasal dari rumput laut. Tetapi bahan karagenan saat ini kurang stabil dan tampilan fisiknya kurang menarik sehingga belum diproduksi secara massal. Alternatif bahan kapsul yang ketiga adalah PVA (Poly Vinyl Alkohol). Bahan ini diduga memiliki kualiatas farmasetik sebaik gelatin walupun masih banyak kekurangannya sehingga teknologi pengolahannya masih diteliti sampai saat ini.

Kontribusi Unisba

Pekerjaan rumah besar untuk kalangan akademisi dan industri farmasi adalah mencari bahan kapsul yang halal, dari apapun bahannya baik dari gelatin maupun selain gelatin. Salah satu kampus farmasi yang memiliki concern khusus pada kajian produk farmasi halal adalah Program Studi Farmasi UNISBA (Universitas Islam Bandung). Farmasi UNISBA menjadikan teknologi kapsul halal sebagai salah satu kajian dalam penelitiannya. Sesungguhnya masih banyak PR dalam penelitian produk farmasi halal seperti teknologi vaksin halal, pemanfaatan alkohol dan isu-isu bahan baku obat lainnya.

Untuk mengkaji lebih mendalam mengenai permasalahan dalam produk farmasi halal,  Farmasi Unisba akan menyelenggarakan konferensi internasional dengan tema“Pharmaceutical Halal Issue In ASEAN Economic Community” yang diselenggarakan 8-9 Juni 2015 di salah satu bangunan heritage kota Bandung, yaitu Grand Preanger Hotel, Jalan Asia Afrika, Bandung. Konferensi ini melibatkan pembicara baik dari kalangan akademisi, produsen farmasi, ikatan profesi, maupun pembuat kebijakan regulasi halal dari Indonesia dan Negara ASEAN lainnya seperti; Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam. Selain itu acara ini akan menghadirkan Keynote Speaker Bapak Gubernur Jawa Barat, Dr (H.C) Ahmad Heryawan. Untuk pendaftaran dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi Sekretariat Panitia Konferensi Internasional, Program Studi Farmasi UNISBA, Jalan Rangga Gading No 8, Kawasan Dago, Bandung. Telepon (022) 4203368 ext 408, SMS an. Wulan 0823-1995-0064, atau melalui imel dan twitter ; icpharmacy@unisba.ac.id; @ICpharmacy2015.



Tinggalkan Balasan

Translate »