Phone (022) 420 3368 ext. 109 ||

Follow Us

  /  Karya   /  Kampus dan Masyarakat Bersinergi untuk Lingkungan

Kampus dan Masyarakat Bersinergi untuk Lingkungan

 

Rabiatul Adwiyah(Dosen FEB UNISBA)-Lingkungan harus selalu dijaga kebersihaannya,jika tidak dijaga akan menyebabkan suasana lingkungan yang tidak kondusif, seperti polusi, bau sampah dan akhirnya akan berujung pada bencana alam yang disebabkan karena ketidakpedulian dan tidak cinta terhadap lingkungan. Cinta lingkungan dan menjaga kebersihan lingkungan bisa dimulai dari Mahasiswa, mahasiswa sebagai agent of change dapat melakukan berbagai kegiatan untuk mendukung terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat dimasyarakat. Salah satu upaya dalam menumbuhkan rasa peduli lingkungan di kalangan civitas akademika adalah dengan melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM), Mahasiswa harus dilibatkan dalam kegiatan PKM Dosen, agar mahasiswa dapat melakukan transfer of knowledge mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan di masyarakat.

Pada era digital ini, tidak dapat dipungkiri bahwa masih jarang dijumpa aksi ataupun tindakan nyata terutama dari kalangan mahasiswa untuk menyelesaikan masalah lingkungan.  Salah satu program PKM yang diikutsertakan mahasiswa adalah kegiatan pemberdayaan ibu-ibu pedagang kaki lima di bantaran sungai cikapundung Kota Bandung, yang dilakukan oleh Dosen UNISBA. Kegiatan ini bertujuan untuk  meningkatkan kesadaran serta kepedulian masyarakat khususnya civitas akademika untuk lebih menjaga lingkungan sekitar supaya bebas sampah.

Kegiatan pemberdayaan ibu-ibu pedagang kaki lima di bantaran sungai cikapundung tersebut dilakukan karena melihat kondisi lingkungan pada daerah bantaran sungai cikapundung yang sangat jorok dan tidak sehat sebagai tempat tinggal masyarakat. Menurut data dari Dinas Kebersihan Lingkungan Hidup (KLH) Kota Bandung Tahun 2018, Jumlah sampah di Kota Bandung mencapai 1500 Ton/hari dari berbagai jenis sampah. Komposisi jenis sampah antara lain: Pemukiman 983,40 ton/hari, Pasar 281,55 ton/hari, Jalan 82,80 ton/hari, Daerah Komersil 89,85 ton/hari, Institusi 42,15 ton/hari dan sampah Industri 20,25 ton/hari.

Berdasarkan data tersebut, diperlukan suatu sistem pemanfaatan sampah, terutama sampah Anorganik yang kreatif untuk meningkatkan nilai ekonomis sampah. Kenyataannya, masih sedikit wirausaha yang menjalankan aktivitas usaha berbasis lingkungan. Salah satu cara pembentukan mindset kreatif dapat dilakukan melalui pelatihan-pelatihan pembuatan aneka produk kreatif kepada masyarakat khususnya ibu-ibu pedagang kaki lima bantaran sungai cikapundung Bandung sebagai sasaran utama agar sejak dini ditanamkan jiwa  kewirausahaan disertai dengan jiwa cinta lingkungan dengan memanfaatkan potensi sampah. Dalam pelatihan ini dilakukan pengembangan wirausaha yang kreatif dan inovatif. Selain itu, meningkatkan pengetahuan dan kepedulian ibu-ibu pedagang kaki lima bantaran sunga cikapundung Bandung, terutama di Kota Bandung untuk menjaga kebersihan lingkungannya sendiri.

 Salah satu daerah yang terdapat banyak sampah adalah daerah Bantara Sungai Cikapundung Yang berada di tengah-tengah Kota Bandung. Tentu hal ini, sangat mengetuk hati dan jiwa tiga orang Dosen UNISBA yang sangat peduli terhadap lingkungan. Dosen-dosen UNISBA yang melakukan kegiatan PKM ini antara lain: Dr. Alhamuddin, Rabiatul Adwiyah dan Fahmi Fatwa R.S. Dosen-dosen tersebut melihat sebuah permasalahan yang sangat kompleks pada penanganan sampah di Kota Bandung, khususnya di Bantaran Sungai Cikapundung. Untuk memumbuhkkan jiwa kepedulian kepada mahasiswa, Dosen-dosen tersebut mengajak mahasiswa-mahasiswa Unisba untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan PKM tersebut. Salah satu mahasiswanya adalah Nisa Sofia dari Fakultas Teknik Unisba.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dengan acara wawancara, pelatihan dan demonstrasi. Kegiatan ini dilaksanakan di Kantor Kelurahan RW 03 SUMUR Braga Cikapundung, Kota Bandung. Kegiatan di mulai dengan melakukan survei lapangan untuk tahap penyusunan rencana kerja. Kegiatan survei ini dilakukan guna untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada di Kelurahan Braga Bantaran Sungai Cikapundung yang dapat dicarikan solusinya dengan kegiatan masyarakat melalui PKM DIKTIS Kemenag. Kegiatan survey tersebut menghasilkan kesepakatan hasil diskusi dengan Ketua RT dan Ketua RW 03 Braga Cikapundung, ibu-ibu pedang kaki lima dan beberapa perangkat desa yaitu pembuatan produk kreatif dan inovatif dari hasil daur ulang sampah an organik untuk menanggulangani sampah, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penjualan produk hasil daur ulangnya. Produk-produk yang dihasilkan dari pelatihan ini antara lain: Tas, Dompet dari cangkang Kopi, serta piring dari Koran bekas.

Dampak setelah mengikuti kegiatan pembutan produk daur ulang an organik menjadi produk ramah lingkungan ini, sebagian besar sangat menguntungkan yaitu sebanyak 67,35%, cukup menguntungkan sebanyak 20,41%. Hal ini karena sebagian besar peserta dari ibu-ibu pedagang kaki lima yang benar-benar rajin akan merasakan dampak dari penghasilan yang mereka terima sebagai pembuat produk daur ulang tersebut sehingga dapat meningkatkan taraf hidupnya, namun sebaliknya karena mereka yang tidak rajin dan tidak mau serius, maka akan mendapatkan upah kecil sehingga tidak berdampak pada penambahan penghasilannya.

Pemberdayaan melalui penguatan peran ibu-ibu pedagang kaki lima miskin secara aktif dengan membuat produk yang kreatif dan inovatif melalui daur ulang produk an organik, peningkatan pengetahuan dan keterampilan diharapkan sebagai sarana penguatan ekonomi sosial dengan lebih berdaya guna merupakan langkah yang perlu dikedepankan dalam pengembangan model pemberdayaan ibu-ibu pedagang kaki lima  miskin sebagai upaya peningkatan pendapatan Rumah Tangga miskin serta meningkatkan kepedulian masyarakat untuk mencintai lingkungan dan mengurangi limbah an organik.

Diharapkan agar kegiatan pengabdian masyarakat dapat dilakukan dengan tema yang terintegrasi dengan peningkatan ekonomi masyarakat dan pengolahan sampah yang berbasis masyarakat. Sehingga program yang dilakukan dapat saling bersinergi antara satu sama lainnya untuk kemandirian ekonomi ibu-ibu pedagang kaki lima di bantaran sungai cikapundung.***