Nov 17, 2018 Last Updated 1:53 AM, Nov 17, 2018
 
 
 

Unisba Tak Takut Kehilangan Mahasiswa

Published in Berita
Read 556 times
Rate this item
(0 votes)

KOMINPRO-Terkuaknya kasus perjokian pada Penenerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Unisba gelombang II beberapa waktu lalu, membuat seleksi ujian saringan masuk gelombang III Unisba semakin ketat. Delapan peserta di Fakultas Kedokteran dipastikan gagal karena terbukti pernah menggunakan jasa joki pada gelombang sebelumnya.

“Saya berpegang teguh pada pepatah sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tidak akan percaya. Mahasiswa yang menggunakan joki akan kami black list karena ujian itu integritas dan kejujuran. Saya tidak takut kehilangan mahasiswa yang tidak jujur,” kata Rektor Unisba, Prof. Dr. H. Edi Setiadi, SH. M.H, saat menggelar jumpa pers di Gedung Rektorat, Jalan Tamansari No. 20, Minggu (12/8).

Rektor mengatakan, profesi seorang dokter sangat erat kaitannya dengan kode etik. Menurutnya orang yang tidak berpegang  teguh pada kode etik akan kehilangan kepercayaan masyarakat. Meskipun manusia bisa berubah, dia mengungkapkan hal tersebut tidak berlaku untuk kasus kejahatan akademik semacam ini. “Calon mahasiswa Unisba berani melakukan kejahatan seperti itu, maka dengan tegas saya katakana lebih baik kita memotong sekarang daripada mengamputasi nanti,” tegasnya.

Seleksi ujian saringan masuk gelombang III  Unisba tahun ini diikuti oleh 3.280 orang. Peserta paling banyak di Fakultas Kedokteran dengan jumlah 628 orang, Ilmu Komunikasi sebanyak 536 orang, dan Ilmu Psikologi sebanyak 342 orang. Seleksi gelombang III ini dilaksanakan selama dua hari, Sabtu dan Minggu (11-12 Agustus 2018). Hari pertama untuk tes psikotest dan hari kedua untuk tes potensi akademik

Belajar dari pengalaman seleksi pada gelombang II yang menemukan 25 joki ujian, kini pelaksanaan ujian dijaga lebih ketat. Ditemui di tempat yang sama, Wakil Rektor (Warek) I Unisba, Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPM. menjelaskan, pada seleksi gelombang III ini pihaknya memberlakukan proses screening pada peserta ujian sebelum memasuki ruangan.

“Peserta kami himbau untuk datang mengikuti ujian pukul delapan. Namun, ujian sendiri baru bisa dimulai satu jam atau 45 menit kemudian karena akan ada proses screening untuk memastikan peserta yang hadir tidak berbuat curang atau menggunakan jasa joki,” jelasnya. Selain harus membawa kartu peserta ujian, para pesrta juga diwajibkan menunjukkan kartu identitas asli berupa KTP, SIM, Kartu Keluarga, atau kartu pelajar.

Untuk mengantisipasi masalah perjokian, Warek I mengatakan, ujian seleksi masuk Fakultas Kedokteran dipusatkan di satu gedung saja. Selain itu, pada tes psikotest berlangsung setiap ruang ujian dijaga oleh tiga orang pengawas yang terdiri dari dua orang psikolog dan seorang petugas satuan keamanan dalam (kamdal).(Feari/Sari)

Last modified on Selasa, 14 Agustus 2018 02:20

Agenda

No events