Dec 10, 2018 Last Updated 11:58 AM, Dec 10, 2018
 
 
 

Melawan Tuberkulosis dengan "TOSS TB"

Published in Karya
Read 578 times
Rate this item
(0 votes)

dr. Yudi Feriandi, & drg. Siska Nia lrasanti MM/Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung-"TOSS TB" yang merupakan merupakan akronim dari 'Temukan Tuberkulosis dan Obati Sampai Sembuh" adalah jargon yang dipopulerkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Menggunakan simbol berupa dua telapak tangan yang saling ber­ temu, jargon ini menggambarkan betapa pentingnya komitmen dan kerja sama antar­ seluruh komponen bangsa untuk melawan penyakit tuberkulosis (TB).

Sedemikian cepatnya penularanTBtentu saja diakibatkan oleh berbagai faktor. Secara sederhana dapat kita bagi menjadi 3 hal mendasar, yaitu unsur manusia (host), unsur agent (bakteri Mycobacterium tuberculosis) dan unsur lingkungan (environment).

Pada unsur manusia, ada beberapa hal yang perlu digalakkan bersama, yaitu etika batuk, penggunaan masker, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta kesediaan menjadi penggerak masyarakat dan keluarga untuk hidup sehat, baik berperan sebagai kader kesehatan maupun sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO) di keluarga yang me­ mastikan bahwa penderita TB meminum obatnya secara rutin dan tuntas.

Komponen bakteri merupakan hal yang terus diupayakan untuk dieradikasi bahkan dieliminasi   dari   muka   bumi.   lmunisasi BCG yang berguna untuk mencegah ber­ kembangnya TB yang parah atau berat masih beIum mencapai target di beberapa wilayah. Selain   itu,  perilaku   meminum   obat sebagian penderita TB yang tidak patuh dan tuntas memungkinkan bakteri M tuberculosis ini menjadi resisten atau tahan terhadap berbagai obat TB sehingga disebut MDR-TB (Multi Drug Resistant). Bahkan, saat ini, telah berkembang kuman yangmemiliki resistensi terhadap semua obat TB lini pertama atau terapi standar, yaitu kuman TB XDR (Extreme Drug Resistant). Pengobatan pasien dengan TB MDR dan XDR ini memakan biaya ratusan juta rupiah per orangnya dan rentan untuk menularkan kuman berbahaya pada manusia lainnya. Salah satu penyebabnya adalah pengobatan yang tidak rutin dan tuntas. Padahal, pengobatan TB secara cuma­ cuma diberikan oleh pemerintah. Penelitian salah satu kelompok dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Islam  Bandung (FK Unisba) di salah satu desa di Wilayah Kabupaten Bandung menemukan bahwa dalam satu desa kecil pun sudah ditemukan lebih dari 50 kasus TB baru hanya dalam kurun waktu 3 bulan dengan 2 di antaranya adalah penderitaTB MDR.

Kedua unsur di atas, baik manusia mau­ pun mikrooorganisme M tuberculosis juga dipengaruhi lingkungan. Apabila dalam satu rumah terdapat penderita TB, sekeluarga memiliki kerentanan tinggi untuk terkena TB juga. Hal ini diakibatkan, selain perilaku etika batuk yang buruk, tidak digunakannya masker serta perbedaan status kekebalan tubuh, juga dipengaruhi oleh adanya kuman TB dalam rumah. Kuman TB menyebar melalui droplet atau cairan tubuh/dahakyang dikeluarkan oleh seseorang penderita TB yang batuk. Kuman tersebut berada di dalam rumah dan terhirup oleh anggota keluarga lainnya.

Salah satu upaya untuk mencegah penularan TB di dalam rumah selain dengan perilaku batuk, masker, dan PHBS adalah dengan memenuhi standar rumah sehat khususnya terkait kepadatan hunian, pencahayaan, dan ventilasi.

Sedemikian kompleksnya permasalahan riil di lapangan terkait pencegahan dan penanganan TB membuat Kementerian Kesehatan   RI   kembali   menempatkan TB sebagai satu  dari tiga permasalahan kesehatan utama dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) 2018. Pada Rakerkesnas tersebut, FK Unisba diundang oleh Kemenkes RI dan dihadiri oleh Wakil Dekan I, Prof Dr Tony S Djajakusumah dr SpKK (K). Hasil pertemuan Rakerkesnas tersebut   ditindaklanjuti   oleh   pertemuan teleconference Asosiasi lnstitusi Pendidikan Indonesia (AIPKI) Wilayah 3, yaitu setiap FK saling berbagi dan merumuskan langkah tindak lanjut khususnya dalam bidang penelitian dan pengabdian masyarakat dalam membantu pemerintah untuk me­ lawan TB di Indonesia.

Merespons komitmen TOSS TB yang digaungkan Kemenkes RI dan arahan Rakerkesnas 2018, FK Unisba dengan visinya untuk mencetak dokter di pelayanan primer yang kompeten dan per-akhlakul karimah senantiasa berupaya mengintegrasikan tiga komponen Tridharma Perguruan Tinggi agar saling menunjang satu sama lainnya. Pengembangan Laboratorium Penelitian di Fakultas dan RS Pendidikan Utama RSUD Al lhsan ProvinsiJawa Barat saat ini dalam tahap pengembangan dan pembangunan infra­ struktur. Pada aspek pendidikan, di tingkat sarjana kedokteran terdapat mata kuliah sistem respirasi dengan salah satu topik bahasan adalah tuberculosis, yang diberikan dalam bentuk tutorial, keterampilan klinis anamnesis, pemeriksaan fisik, penunjang, radiologi,   dan   lab   farmakologi    untuk pengobatan TB.

Selain itu, pada aspek kesehatan masyarakat, dilaksanakan mata kuliah Community and Health Oriented Program (CHOP) 4 yang mewajibkan mahasiswa dalam kelompok kecil menyelenggarakan kegiatan edukasi kesehatan bagi masyarakat dengan salah satu topiknya adalah TB. Pada tahap Pendidikan Profesi Dokter (P3D), dokter muda di bagian llmu Kesehatan Masyarakat melakukan kajian komprehensif di layanan primer melalui home visit rumah penderita TB, penelitian lapangan dengan metode rapid survey WHO, hingga pelatihan kader dan advokasi stakeholder terkait TB. Saat ini tengah dijajaki kerja sama dengan RS Paru Dr. H.A. Rotinsulu untuk rotasi khusus pulmonologi untuk  memperkuat  lulusan FK Unisba dengan kompetensi kedokteran paru sehingga lulusan FK Unisba dapat lebih berkontribusi terhadap penyelesaian permasalan kesehatan di Indonesia khusus­ nya dalam penanganan Tuberkulosis sesuai semangat jargon 'TOSS TB''. (Sumber : Kompas, 13 April 2018) 

 

Agenda

No events