Jun 20, 2018 Last Updated 11:40 AM, Jun 8, 2018

Prinsip Komunikasi Islam di Media Sosial

Published in Karya
Read 57 times
Rate this item
(0 votes)

Dr. Tresna Wiwitan MSi., Dosen Fakultas llmu Komunikasi Unisba-Komunikasi merupakan bagian kekal dari kehidupan manusia, seperti halnya bernapas, sepanjang manusia hidup, maka manusia perlu Wilbur Schramm menyatakan, "Wecannot not communicate:' Kita tidak bisa untuk tidak berkomunikasi.

Pada era teknologi komunikasi ini, kita dapat menggunakan media untuk berkomunikasi. Pada abad ke-20, media massa menjadi salah satu kekuatan besar untuk memengaruhi audiens.

Namun, saat ini, ketika teknologi komunikasi semakin berkembang, media internet dan media sosial menjadi salah satu kekuatan dalam upaya memengaruhi khalayak.

Harvey (2014) menunjukkan telah terjadi pergeseran paradigma antropologis pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21,yaitu ada perubahan relasi antarmanusia dan perangkat elektronika yang dirancang untuk melayani manusia, dengan kehadiran teknologi komunikasi personal yang mobile.

Realitas yangterjadi saat ini, media sosial dijadikan sebagai "alat" untuk membentuk atau menggiring opini publik.Berita-berita bohong (hoaks), ujaran kebencian yang menjurus SARA, berita provokasi bertebaran di media sosial. Berita-berita tersebut sengaja "ditiupkan" sekelompok orang dalam upaya menggiring opini publik.

El-Nawawy dan Khamis (2013) menunjukkan, kebanyakan konten yang dibuat pengguna disebarluaskan melalui media sosial. lnilah yang membuat media sosial menjadi pembentukan opini publik. Pesan media sosial lepas dari kendali sensor pemerintah dan menyebar dari satu akun ke akun lain tanpa bisa dikendalikan siapa pun.

Ada baiknya ketika kita berkomunikasi di media sosial memperhatikan prinsip komunikasi dalam perspektif Islam.Prinsip komunikasi Islam selaras dengan filosofi kearifan lokal budaya Indonesia karena adanya proses akulturasi budaya antara Islam dan budaya Indonesia.

Rachmat Kriyantono (2014) menjelaskan, kata dasar berkomunikasi dalam Islam disebut al-qaul/qawl (artinya perkataan) dan a/-bayan (artinya menjelaskan), yang artinya sebagai kemampuan berkomunikasi mencakup pemilihan kata-kata yang dapat menjelaskan sesuatu. Inti dari komunikasi yang efektif yaitu komunikasi yang diarahkan untuk mencapai keseimbangan antara aspek vertikal dan horizontal atau hablum minanas dan hablum minallah. Wujud keseimbangan ini adalah adanya komunikasi yang informatif, faktual, edukatif, dan berguna bagi keuntungan bersama.

Ada beberapa prinsip komunikasi Islam yang harus diperhatikan apabila kita berkomunikasi dengan orang lain. Pertama, qaulan sadiddan, yaitu prinsip komunikasi yang mengutamakan kejujuran, mengatakan  kebenaran sesuai fakta, akurasi, obyektif, dan tidak manipulatif yang membohongi khalayak. Kedua, qaulan balighan, yaitu prinsip komunikasi yangtepat lugas (komunikatif), fasih,dan jelas maknanya.

Ketiga, qaulan maysuran, bermakna ucapan yang mudah dicerna, dimengerti khalayak, atau dengan kata lain ketika berkomunikasi menggunakan kata-kata yang menyenangkan

atau menggembirakan orang lain. Keempat, qau/an layyinan, yaitu prinsip komunikasi yang mengedepankan persuasi-solusi dengan kata-kata yang lemah lembut, tidak provokatif. tidak menjatuhkan martabat orang lain.

Kelima, qau/an kariman, yaitu prinsip menjalin relasi yang baik dan membangun tata krama dan etiket-etiket dalam berkomunikasi. Keenam, qau/an ma'rufan, yaitu prinsip menyosialisasikan dan mengajak pada kebaikan. Ketujuh, diskusi atau berdebat dengan cara yang baik,jangan sampai diskusi menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat.

Komunikasi yang kita lakukan pada orang lain merupakan "presentasi diri" kita kepada orang lain. Erving Goffman dalam buku The Presentation of Se/fin Everyday Life (1961) membuat metafora kehidupan sosial sebagai panggung pertunjukan. Artinya, ketika kita berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain di media sosial dengan menggunakan kata-kata yang kurang sopan, memfitnah, merendahkan orang lain, itu merupakan "gambaran diri" atau "konsep diri" kita kepada orang lain. lmpresi atau kesan seperti itulah yang ingin kita tanamkan kepada orang lain.

Mengutip pendapat Antar Venus mengenai nilai-nilai komunikasi (2015), ada beberapa nilai-nilai komunikasi yang harus diperhatikan ketika kita berkomunikasi kepada orang lain.Di antaranya, penghargaan (respect), kerja sama (cooperation) dan kesepahaman (mutual understanding), kesantunan (modesty). (Sumber : Kompas, 31 Maret 2018) 

Last modified on Kamis, 07 Juni 2018 06:56