Apr 20, 2018 Last Updated 9:44 AM, Apr 20, 2018

"Awareness" Label Halal dalam Keputusan Pembelian

Published in Karya
Read 69 times
Rate this item
(0 votes)

Dr. Ima Amaliah, S.E., M.Si. (Ketua Prodi Ilmu Ekonomi Unisba)-DARI beberapa studi dan pengamatan yang dilakukan penulis, diperoleh kesimpulan bahwa keputusan pembelian untuk produk makanan cepat saji maupun produk kemasan di kalangan muda lebih didominasi faktor tren dan cita rasa ketimbang label halal dan izin produksi. Sangat jarang kalangan muda menggunakan label halal sebagai faktor utama dalam membuat keputusan pembelian.

Label halal menempati urutan terakhir setelah faktor harga, lokasi,variasi rasa,tren, dan prestise. Temuan inisungguh menyentak hati dan mengusik, apakah benar kondisi ini hanya terjadi di kalangan muda atau kita melakukan hal yangsama?

Terkadangkitasangatsibukmemperbincangkan berita yang sedang viral di media sosial. Seperti proses produksi dari produkyangseringdikonsumsi, yang di dalamnya melibatkan bahan-bahan yang tidak halal atau produk impor yangsedangtren tapi tidak ada logo halalnya, produk-produk yang masih diperbincangkan kehalalannya ,serta masih banyak isu terkait lainnya.

Pertanyaannya, apakah tanggapan yang sedemikian responsif terhadap suatu pemberitaan terefleksi juga pada tindakan kita pada saat memutuskan melakukan pembelian suatu produk? Pernahkan kita menghabiskan waktu  sedikit lebih lama untuk menelisik logo halal, kandungan gizi, ingredient, tanggal  kedaluwarsa, dan  lain sebagainya sebelum memutuskan melakukan pembelian atas suatu produk?

Label halal dan izin produksi

Islam adalah agama yangsangat komprehensif, dimana Islam tidak hanya membahas ibadah tetapi juga muamalah, serta keduanya tidak saling terpisah.

Al Quran memberikan koridor yang pasti bahwa makan dan minum harus memenuhi dua unsur,yaitu halal dan baik.

Halalnya  produk  itu  sendiri   harus  dilihat dari  dua  aspek, yaitu  halal jenisnya  dan  halal prosesnya. Jika salah satu aspek tidak ada, haram status dari produk yang bersangkutan. Di sisi lain, Islam juga menyerukan manusia harus makan dan minum sesuatu yang baik. Kata baik dalam hal ini mengandung makna bergizi, tidak  mengandung zat-zat   berbahaya   yang  akan   memengaruhi kesehatan  jangka         pendek    maupun   jangka panjang, lengkap dan berimbang,alami,dan tidak berlebihan.

Dengan demikian, halal dan baik adalah paket komplet yang telah Allah tetapkan kepada manusia pada saat akan mengonsumsi makanan maupun minuman. Acuan halal dan baik itu sendiri bukanlah berdasarkan persepsi pribadi atau individu, tetapi harus mengikuti standar dari lembaga yang memiliki kewenangan untuk mengeluarkan  ijin  produksi  dan sertifikat  halal yaitu Dinas Kesehatan,BPOM,dan MUI.

Menumbuh kan kesadaran

Penyadaran pentingnya halal dan baik dalam kegiatan konsumsi setiap hari bukanlah pekerjaan mudah.

Pendidikan agama yang baik dari keluarga sering kali terkalahkan oleh pendapat teman atau informasi yang beredar di media sosial. Filter diri seolah rapuh dengan gempuran berita yang beredar di media sosial. Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan agar kita punya benteng kesadaran bahwa segala sesuatu yang dikonsumsi harus memenuhi dua syarat yaitu halal dan baik?

Saatnya kita harus kembali memosisikan keluarga sebagai benteng nilai-nilai dalam memfilter segala hal yang beredar di luar. Orangtua harus menjadi contoh ideal untuk anak-anak dan berperan aktif dalam mendidik, memberikan pemahaman yang baik dan benar, serta memberikan contoh dalam membuat kriteria keputusan konsumsi.

Terkadang  orangtua   menyerahkan   peran penting tersebut pada institusi sekolah, terlebih yang menyekolahkan putra dan putrinya di sekolah agama. Padahal, seorang anak akan lebih mudah meniru dibandingkan mendengarkan ceramah.

Penjelasan yang tidak menggurui  akan lebih mudah diterima oleh anak dibandingkan memberikan perintah. Selain keluarga, pihak yang sangat penting perannya adalah negara, dalam hal ini adalah instansi berwenang yaitu Dinas Kesehatan,BPOM, dan MUI.

Ketiga lembaga ini harus bersikap pro aktif dan jemput bola, mengingat ada banyak produk UMKM yangtidak berlabel dan berizin,padahal produknya beredar.

Keterbatasan pengetahuan pelaku usaha tentang prosedur  pengurusan  izin  produksi dan label halal yang membuat produk bagus tidak memiliki izin usaha dan sertifikat halal. Oleh karena itu, sinergi antara keluarga sebagai pendidik pertama, lembaga pendidikan, dan pemerintah merupakan kunci untuk menjamin keterlindungan nilai-nilai agama dalam diri setiap individu.(Sumber : Kompas Hal. 13, 23 Maret 2018)