Print this page

“Nilai” dan “ Inovasi Disrupsi” Menyiapkan Sistem Keruangan Di Era Global

Published in Karya
Read 716 times
Rate this item
(1 Vote)

Dr. Ina Helena, Ir., M.T., (Ketua Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Unisba)-Kehidupan manusia di muka bumi ini pasti membutuhkan ruang, sedangkan ruang itu sifatnya tetap sementara pertumbuhan penduduk terus bertambah. Oleh karena itu, ruang yang bersifat tetap tersebut membutuhkan pengetahuan dan keahlian yang tidak sekedar menyediakan ruang, tetapi juga memahami karakteristik keruangan itu sendiri sehingga manusia yang hidup dapat nyaman dan aman di dalam ruang. Dengan demikian, selama ada, selama itu manusia membutuhkan pengetahuan dan ilmu mengenai sistem ruang.

Sifatnya yang terbatas, maka menjadikan ruang sebagai komoditas untuk mendapatkan berbagai keuntungan.  Untuk itu, peran perencana dan pengendali kebijakan harus mampu menjadikan ruang yang “berkeadilan” pada penghuninya. Untuk mencapai upaya “keadilan” di dalam ruang, membutuhkan sikap yang penuh spirit “keadilan” dalam pengelolaan ruang tersebut.

Tidak cukup sebatas pengetahuan,  tetapi juga akhlak yang dapat menjadi fondasi untuk penguatan spirit tersebut. Akhlak yang mampu mencapai semua ini membutuhkan pendidikan yang mengedepankan agama sebagai basis pendidikannya karena melalui pendalaman agama maka spirit dan nilai akhlak akan terarah pada sesuatu yang benar. Dengan demikian,  pilihan pendidikan harus pada pilihan pendidikan yang mampu menguatkan spirit dan nilai akhlak tersebut.

Saat ini tidak dapat dimungkiri  bahwa efek globalisasi  membuat manusia “menyatu” sehingga batas-batas ruang antar wilayah bahkan negara tidak tampak. Sebagai akibatnya, manusia kehilangan “akar” tempat asal manusia itu berada. Padahal ruang tempat asal mereka adalah  habitat awal mereka dalam membentuk jati diri bangsa, yang tahan terhadap tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Era globalisasi memberikan tantangan baru dalam mengantisipasi sistem keruangan yang terjadi, bukan persoalan “menyatu”-nya, tetapi efek “hilangnya sebuah nilai” di dalam ruang. Nilai -nilai tersebut antara lain nilai guyub,nilai berbagi di dalam ruang, dan nilai-nilai lokal lainnya.

Nilai-nilai lokal tersebut merupakan suatu nilai kearifan lokal yang tersimpan dalam khazanah budaya asli Indonesia. Itulah “nilai” penting dalam membentuk jati diri bangsa Indonesia. Indonesia memiliki kekayaan akan nilai-nilai kearifan lokal yang tersimpan dalam sistem ruangnya sehingga eksplorasi pengetahuan ruang lokal Indonesia merupakan tantangan yang dapat mengantisipasi problematika ruang yang diakibatkan oleh pengaruh globalisasi.

Nilai-nilai ruang tidak hanya digali dalam perspektif kearifan lokal, tetapi juga reflektif dari nilai-nilai Islam. Pendekatan yang dilakukan  tidak hanya menggunakan logika rasional, tetapi juga mereflektifkan nilai-nilai Islam dalam merekonstruksi pengetahuan baru tentang sistem nilai suatu ruang. Dengan demikian, kemampuan nalar dan nilai-nilai Islam menjadi modal dasar dalam mengantisipasi persoalan ruang yang kini terjadi.

Era Global juga menuntut pengaturan ruang yang tidak hanya berkutat pada paradigma lama seperti pengaturan yang bersifat instrumentalis,  tetapi harus memasukkan pemikiran teknologi dan inovasi disrupsi. Untuk mengantisipasi ini, perlu melihat kejelian dalam membangun sistem ruang terutama ruang-ruang di daerah perdesaan dan pedalaman dengan menggunakan inovasi-inovasi teknologi agar  dapat begerak beriringan dengan wilayah-wilayah perkotaan  yang lebih maju.

Dengan demikian, pembangunan suatu ruang tidak hanya menitikberatkan pada “nilai”, tetapi juga mengintegrasikan antara “nilai”  , “Islam “ dengan “teknologi inovasi”. Diharapkan melalui integrasi tersebut dapat menciptakan ruang yang penuh makna dan berkeadilan bagi penghuninya. (Sumber : Kompas, 16 Maret 2018)