May 24, 2018 Last Updated 3:14 AM, May 25, 2018

Keteladanan dan Kepalsuan dalam Komunikasi Politik

Published in Karya
Read 203 times
Rate this item
(0 votes)

M.E. Fuady, S.Sos M.Si. (Dosen Fakultas llmu Komunikasi Unisba)-APA yang akan kita lakukan saat menghadapi pilihan yang sangat sulit? Semua opsi tidak enak untuk dipilih. dan tentu ada konsekuensi serta risiko yang harus ditanggung dari keputusan yang diambil. Masih untung bila di antara berbagai alternatif tersebut ada sebuah pilihan yang manis. Namun, bagaimana bila semuanya pahit?

Bagaimana bila seperti buah simalakama,bila kita makan ibu mati,tidak dimakan bapak mati. Dalam ilmu politik dan studi komunikasi politik, dilema moral kerap terjadi. Pada masa lalu,dilema serupa menerpa Amien Rais.

Pada akhir masa masih jabatannya sebagai

presiden,BJHabibiebersama parapimpinan Golkar dan Poros Tengah melakukan pertemuan untuk menentukan calon presiden (capres) yang akan berhadapan dengan capres dari PDl-Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Mereka mendesak Amien yang telah menduduki jabatan sebagai Ketua MPR untuk maju. Sebuah tawaran yang sangat manis. Namun,Amien menolak. Pasalnya, jauh -jauh hari,Amien selalu mengampanyekan KH Abdurrahman Wahid (Gus Our) sebagai capres.

"Highpolitics"

Amien Rais ingin merealisasikan gagasannya tentang high politics, bukan low politics. Politik kualitas-tinggiversus politik kualitas-rendah. High po/iticsditerjemahkan sebagaisebuahsikap politik adiluhung, politik luhur dan politik berdimensi moraletis. Politik dengan landasan kejujuran dan kepercayaan. Sementara itu, /ow politics adalah tindakan yang dilakukan untuk mendapatkan dan mempertahankan  kekuasaan.

Namun, mewujudkan politik adiluhung sulit. Pengalaman membuktikan,tujuan bersama dalam politikdapat diperoleh karena transaksi yang lebih menguntungkan dibandingkan aspek kejujuran dan kepercayaan.

Jadi, bagaimana mau berlandaskan kejujur­ an dan kepercayaan bila politisi memiliki kepentingan dan cara yang berbeda. ldeologi dan tujuan partai masing-masing berbeda. Yang menyatukan mereka hanyalah kepentingan. Setelah kepentingan itu tercapai atau berubah, bubarlah kebersamaan itu.

Dalam      sebuah     negara    modern    dan demokratis, partai politik memang merupakan sebuah instrumen penting dalam menyuarakan aspirasi rakyat. Rakyat merupakan faktor yang harus diikutsertakan dalam proses politik dan partai politik berkembang menjadi penghubung antara rakyat dan pemerintah (Budiardjo, 1993: 160-161). Tetapi, adakah jami nan partai akan menjadi penghubung? Pengalaman menunjukkan bahwa partai seringmencederai suara masyarakat, bahkan konstituennya. Bagi masyarakat yang sering "disakiti" oleh partai, penyaluran aneka ragam aspirasi melalui partai hanya isapan jempol.

Menurut Kant, sebenarnya para pendusta mempunyai   keistimewaan        karena      adanya konformitas untukitu.Mereka berhasilmelakukan dusta sepanjang itu dibenarkan oleh orang lain, "Kepalsuan bagi mereka yang berhasil melakukannya adalah satu keuntungan atas diri mereka yangditipu. Para pendusta sukses menipu kita, tidak hanya tentang isi pernyataan tetapi juga tentang kepercayaan-kepercayaan mereka sendiri dan niat dalam diri mereka. Mereka merahasiakan niatnya dari kita,bahkandi dalam kasusyangpaling sederhana dalam suatu situasi yang kompleks, pendusta tidak menyukaikenyataan.Orang-orang yang menyukai kenyataan mungkin memiliki banyak rahasia,termasuk niat-niat mereka sendiri". Bagi penganut  paham moral, apa yang dilakukan pendusta sebagai "kegagalan" untuk menghormati kebenaran adalah suatu kegagalan di dalam menghormati dirinya sebagai suatu makhlukberakal.

Memetik pelajaran berharga dari kasus, hendaknya bagi politisi, faktor moral menjadi keutamaan. Kepalsuan dan kebohongan justru akan menoreh memori hitam sepanjang zaman. Kejujuran dan kebenaran dapat menjadi solusi standar untuk menghindarkan diri dari dilema­ dilema moral.

Selain itu, ada jejak langkah di dunia politik yang digelutinya.Mereka yangjujur akan dikenang sebagai politisiyang memberi pendidikan politik sebagai contoh yang patut diteladani oleh politisi di masa kini dan akan datang. Mengutip istilah dari Novel Ali (1999),itu akan menjadi keteladanan demokrasi. (Sumber : Kompas,  02 Maret 2018)

 

Last modified on Jumat, 02 Maret 2018 09:34