Jun 20, 2018 Last Updated 11:40 AM, Jun 8, 2018

Dakwah Memberdayakan Masyarakat

Published in Karya
Read 248 times
Rate this item
(0 votes)

Dr. Bambang S. Ma’arif, M.Si. (Dosen Fak. Dakwah Unisba)-Realitas Sosiologis abad ke-21 menunjukkan bahwa dakwah Islam telah dilakukan setiap saat, baik secara langsung maupun bermedia. Perjalanan dakwah  diyakini sebagai dampak dari dakwah Islam yang telah dilakukan oleh para aktivis dakwah di seantero Nusantara.

Bila dakwah hendak dipandang efektif, dia perlu mengambil peran dan fungsinya dalam kehidupan masyarakat. Dimulai dengan mengajarkan nilai-nilai universal Islam, memahaminya secara terpadu, dan mengaplikasikannya pada berbagai tataran kehidupan sosial dengan baik. Nilai Islam dijabarkan agar sesuai dengan kondisi zaman, tanpa harus kehilangan jati dirinya.

Dunia dakwah membutuhkan para pejuang Islam yang tangguh, yang mampu membaca tanda-tanda zaman dan gejolaknya.  Mereka adalah para mujahid (pejuang) yang melakukan ijtihad mujtahid (pemikir dan peneliti) guna melahirkan tajdid (pembaharuan) pada  Islam.  Islam berdinamika, tetapi tidak akan dapat meninggalkan akar-akar pemahamannya.

Semangat berjuang umat Islam bersatu padu dalam mengamalkan nilai Islam dengan damai. Berdakwah merupakan investasi untuk masa depan.  

        Gerakan Islam yang muncul di Jakarta sejak Nopember 2016 hingga kini, akan sangat berimbas  di seluruh penjuru Indonesia. Kebangkitan Islam di berbagai levelnya   diyakini sebagai dampak dari dakwah yang dilakukan pada berbagai bentuk dan ranahnya. Islam kuat karena berakar pada  gerakan akar rumput.

 Secara keseluruhan gerakan Islam tidak sepenuhnya terencana, tapi ia tetap mengikuti fitrahnya, sehingga umat Islam tidak akan tinggal diam jika agamanya dilecehken dan dinistakan. Islam merupakan gerakan yang orisinal mengikuti ajarannya yang autentik. Umat Islam berunjuk rasa dalam damai, yang dikemas dalam ”dzikir bersama”. Gerakan damai itu mengalir dengan sendirinya dalam interaksi sosial yang dinamis.  Kaum Muslimin  hakikatnya cinta damai.

         Namun, pada sisi lain, kita khawatir akan terjadinya disrupsi sosial yang dapat mereduksi nilai-nilai Islam yang mendalam dan promotif. Dakwah merupakan kenyataan yang tidak bisa dielakkan, namun gerakan disrupsi menjadikan Islam terdistorsi. Meski demikian, tidak semua umat Islam membiarkan adanya disrupsi yang mendistorsikan praktik keagamaan Islam. Akan muncul mujahid dakwah yang senantiasa memberdayakan masyarakat melalui berbagai gerakan Islam yang menjadikan mereka makin  rindu akan dakwah yang damai dan toleran.

       Kita sadar bahwa Muslim di Indonesia rendah indeks pembangunan manusia (IPM) dibidang pendidikan, ekonomi dan kesehatan. Karenanya, respon  dakwah di Indonesia konsen atas problem masayarakat itu. Dakwah tidak tinggal berhenti untuk turut mengentaskan masyarakat dari keterbelakangan, ketertinggalan dan kebodohan di Jawa Barat.  Dakwah berkiprah untuk mengejar semua ketertinggalan itu. Gerakan dakwah membina sumber daya insaninya, sehingga lahirlah gerakan “dakwah pemberdayaan”.

        “Dakwah Pemberdayaan” adalah suatu tren gerakan pada dakwah melalui strategi, pendekatan, dan teknik yang berupaya membina ustadz (muballigh) agar mampu mandiri dan memandirikan. Melalui berbagai pelatihan, para ustadz dibekali dengan berbagai materi tsaqafah dan skill, sehingga ia memiliki kemampuan di atas rerata pada manusia yang berdaya guna di Jawa Barat.

 Para ustadz  pemberdayaan itu kemudian menjadi agen pemberdaya dan menyebarluaskan inovasinya. Sadar akan kondisi itu, Fakultas Dakwah Unisba mengambil peran secara serius untuk  mengimplementasikan konsep “dakwah pemberdayaan” bekerjasama dengan MUI kota Bandung.

         Fakultas  Dakwah Unisba mengkaji ajaran Islam yang dipadukan dengan manajemen dan disiplin ilmu modern lainnya.  “Dakwah Pemberdayaan” merupakan sebentuk pengabdian kepada masyarakat yang bermula dari skim hibah  Kemenristek Dikti  dan untuk menata wakaf di berbagai pesantren agar memiliki status hukum yang jelas.

 Buahnya adalah dakwah melampaui batas-batas ceramah, pengajian dan khotbah, tetapi berlanjut dengan amal usaha yang menghasilkan nilai ekonomi, dan menjadikan masyarakat   tercerahkan dan termakmurkan. (Sumber : Kompas, Hal 34, 09 Februari 2018)

Last modified on Selasa, 20 Februari 2018 07:52
More in this category: Kampus dan Etika Berprofesi »