May 25, 2017 Last Updated 9:39 PM, May 25, 2017

Integrasi Akidah dan Syariah dalam Kehidupan Bermasyarakat

Published in Karya
Read 60 times
Rate this item
(0 votes)

Muhammad Yunus, SHI, M.E.Sy. (Dosen Fakultas Syariah Unisba) - Mahmud Syaltut menjelaskan dalam kitabnya Islam Aqidah Wa Al-Syariah bahwa inti ajaran Islam ada dua yaitu aqidah dan syariah.

Pertama,  aqidah berasal dari kata ‘aqada- ya’qidu-‘ yang artinya ikatan. Maksudnya adalah ikatan yang kuat (mistaqan ghalidhan) antara seorang hamba dengan Allah SWT meyakini bahwa tidak ada sesembahan yang patut untuk disembah melainkan Allah SWT, meyakini bahwa Allah yang menciptakan seluruh jagad raya ini beserta isinya. Oleh karena itu, muncullah istilah aqidah al-islamiyyah, yaitu meyakini dengan hati bahwa Islam adalah agama yang hanif (lurus) menuhankan pada Tuhan Yang Esa yaitu Allah Rabbul ‘Izzati.

Ruang lingkup pembahasan pada aspek Aqidah terangkum dalam rukun Iman yaitu Iman kepada Allah, iman kepada para malaikat, iman kepada kitab-kitabnya Allah, iman kepada rasul-rasul-Nya, iman kepada hari kiamat, iman kepada qadha dan qadhar-Nya Allah.

Penanaman aqidah (keimanan) yang kuat dalam diri seseorang akan melahirkan pribadi super yaitu sopan, santun, lembut tutur katanya, empati, simpati, dan lain-lain.

Begitu dahsyatnya dimensi iman apabila tertanam kokoh dalam diri seseorang, akan melahirkan buah yang manis yaitu akhlaqul karimah. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda dari abu hurairah, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat maka janganlah dia menyakiti tetangganya, dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat hendaklah dia memuliakan tamunya, dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam”.(HR, Shohih Bukhori, jilid 5 hal 2273)

Menarik sekali hadis ini diawali dengan “barang siapa yang beriman kepada Allah” dan “hari kiamat” dihubungkan dengan aspek kehidupan bermasyarakat yaitu memuliakan tetangga, memuliakan tamu,  dan berkata yang baik. Hal ini menunjukkan bahwa ada korelasi yang kuat antara aspek aqidah (iman) dengan tingkah laku (behavior).

Semakin besar keimanan seseorang kepada Allah dan hari kiamat, maka akan berbanding lurus dengan tingkah lakunya sehingga terjaga lisannya dari menyakiti orang lain, terjaga tangannya dari menzalimi orang lain.

Lantas bagaimana kabar iman kita? Apakah membekas dan terbukti dengan lisan dan kedua tangan kita dari menyakiti orang lain.

 Rasul bersabda dalam kitab Daar al-Manstur Juz 3 hal. 116, “ Dikatakan kepada Rasul seseungguhnya si fulan malam hari dia melaksanakan shalat siang hari berpuasa akan tetapi dia menyakiti tetangganya dengan lisannya, Rasul berkata tidak ada sedikitpun kebaikan pada orang tersebut dia ahli neraka.”

Firman Allah swt dalam surat al-ankabut ayat 45, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ini menunjukkan keindahan dan kesempurnaan agama Islam bahwa Islam tidak mengajarkan kekerasan. Justru Islam mengajarkan kelembutan dan kasih sayang, Islam bukanlah Teroris, Islam tidak mengajarkan sikap anarkis.

Jika seseorang mengaku beriman dengan lisan dan hatinya, tetapi tidak diikuti dengan amal perbuatannya, ini disebut dengan munafik amali atau fasiq. Penyakit inilah yang mewabah dikalangan masyarakat Muslim, mengaku beriman kepada Allah, iman kepada hari kiamat tetapi tidak dibuktikan dengan amal perbuatannya seperti tidak mau melaksanakan shalat, puasa dan lain-lain. Kondisi iman seperti ini mendapatkan ancaman dari Allah yaitu mereka akan lupa terhadap diri mereka sendiri, tidak tahu tujuan hidupnya untuk apa, sedang berada di mana dan hendak ke mana, mereka bagaikan orang amnesia lupa terhadap dirinya sendiri.

Hal ini termaktub dalam surat al-hasyar ayat 19, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”.

Dapat disimpulkan bahwa penanaman akidah (iman) yang kokoh dalam diri seseorang akan berbanding lurus dengan tingkah laku (behavior), begitu juga halnya dengan syariah memiliki korelasi yang kuat dengan tingkah laku (behavior) seseorang. Semakin baik shalatnya maka akan berbanding lurus dengan tingkah laku atau akhlak al-karimah, artinya hasil dari akidah dan syariah adalah akhlak al-karimah. (Sumber : Kompas Hal. 35, 05 Mei 2017)