Nov 24, 2017 Last Updated 9:43 AM, Nov 22, 2017

Dakwah Mengerem Radikalisme

Published in Karya
Read 859 times
Rate this item
(1 Vote)

Bambang S. Ma’arif (Dosen Fak. Dakwah UNISBA) - Islam menganjurkan umatnya untuk berdakwah dengan bijaksana, sopan dan dinamis. Pelaku dakwah disebut dai, yang dituntut untuk ikhlas, bersungguh-sungguh dan melakukannya dengan cermat dan terukur.

Tindakan nekat yang dilakukan oleh sebagian umat Islam tidak bisa dielakkan dari kegiatan dakwah. Dalam artian bukan berarti bahwa dakwah mentolerir terorisme, melainkan lebih pada  bagaimana cara kita melihat suatu permasalahan secara komprehensif. Akibatnya, munculnya gerakan dakwah dengan pemahaman yang bersifat menyempal (splinter) dan kadang underground, yang sulit dideteksi, dan berupaya memusuhi pemerintah yang sah.

Esensi Dakwah

Dakwah merupakan ajakan kepada kebajikan, keadilan, keindahan dan kebermanfaatan. Semua itu bermuara kepada Tuhan Yang Maha Agung.  Dakwah berupaya menyemai perdamaian dan kebajikan serta keadilan. Tujuannya, mengesakan Allah, beribadah dan beramal sosial. Karena kebermanfaatannya, budaya ditolerir sebagai wahana Islamisasi bumi pertiwi.

Islam merupakan ajaran yang penuh dengan kasih sayang, tidak hanya untuk manusia tetapi juga untuk alam raya. Bila dakwah dilakukan dengan cara yang kasar dan tiran,  dakwah Islam akan dijauhi oleh umat Islam sendiri, yang pada gilirannya akan mengucilkan dakwah Islam. Padahal, dakwah semestinya membawa ke kohesivitas sosial. Ia mendamaikan, menyejukkan dan menyemai kasih sayang sesama manusia.

Ancaman Radikalisme

Zaman modern ditandai oleh rasionalisme dan empirisisme, antroposentrisme, dan berlandaskan kepada sains dan teknologi. Abad modern, di samping membawa kebajikan juga telah melahirkan berbagai ketimpangan sosial sehingga megakibatkan ekses bagi kehidupan.

Ada berbagai ketimpangan yang dilahirkan sebagai intrusi dari modernisme sehingga lahirlah kritik terhadap modernisasi.  Pahamnya bercorak rasionalisme, humanisme dan bersandar pada sains dan teknologi. Umat Islam -- karena dipandu oleh ajaran agama yang rahmatan lil-‘alamin -- berupaya untuk bertindak toleran dan adaptif, termasuk terhadap sains dan teknologi.

Di banyak penjuru dunia umat, umat Islam diperlakukan dengan kasar, disakiti dan dirampas hak-haknya. Pengalaman sejarah dan realitas sosial mengajari kepada umat Islam bahwa ia kini sering disia-siakan, disakiti dan dinestapakan. Pada kehidupan modern, umat Islam dinistakan, dilecehkan, dan diabaikan. Namun, umat Islam tetap bersabar dan bertahan dalam keterdesakannya. Namun, sikap defensif itu gagal dipahami oleh orang-orang non-Muslim, sehingga pihak non-Muslim tetap menyerang sehingga melahirkan perlawanan yang setimpal yang sering disebut sebagai terorisme.

Radikalisme dapat dilakukan oleh siapapun. Radikalisme dapat dilakukan oleh orang Kristen, Hindu, Budha dan Yahudi. Bila radikalisme itu dilakukan oleh umat Islam sesungguhnya lebih merupakan suatu  bentuk perlawanan, agar diperlakukan secara adil. Bila hendak menghilangkan gerakan radikalisme dan terorisme maka harus dari hulu, yaitu penegakan keadilan untuk semua umat manusia. Namun nyatanya keadilan global sangat sulit untuk diwujudkan. 

Deradikalisasi melalui Dakwah          

Kaum radikalisme tetap memaknai sikap dan tindakan mereka sebagai bentuk perjuangan yang berupaya untuk meluruskan jalannya sejarah yang terlanjur timpang.  Simbol-simbol kebangkitan Islam dikibarkan secara bijak dan santun tanpa harus merugikan pihak lain. Dakwah sejatinya akan mampu untuk menghindarkan berbagai penyimpangan paham dan tindakan.

Umat Islam perlu menangkal gerakan radikalisme yang dikenal sebagai deradikalisasi, dengan langkah-langkah sebagai berikut. Pertama, meluruskan paham umat Islam. Langkah ini ditempuh melalui berbagai forum-forum pengajian, majelis taklim, majelis dan halaqoh zikir diisi dengan ajaran kebenaran dan penuh kasih sayang dan kelembutan. Oleh karena itu tidak terjadi penyalahgunaan ajaran umat Islam untuk kepentingan radikalisme.

Kedua, berdialog dengan gerakan dakwah yang lain agar tercipta kesamaan persepsi bahwa umat Islam tidak boleh melakukan tindakan kekerasan kecuali jika diserang terlebih dahulu. Ketiga, menyampaikan pesan Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin  kepada berbagai pihak bahwa umat Islam bukan pelaku teror, selama kehidupan mereka dihargai dan dihormati.  (Sumber : Kompas Hal. 35, 28 April 2017)

 

Last modified on Selasa, 09 Mei 2017 07:39