May 25, 2017 Last Updated 9:39 PM, May 25, 2017

Rumah Sakit Syariah – Meraih Kesehatan Islami

Published in Karya
Read 98 times
Rate this item
(0 votes)

Yudi Feriandi, dr. (Sekretaris Tim Penyusunan Kurikulum IIMC Fakultas Kedokteran Unisba) - Istilah bank syariah, pegadaian syariah, dan sertifikasi halal tentu sudah familier dan gunakan sehari-hari mencerminkan makin kuatnya pemahaman dan keinginan umat Islam untuk mengatur seluruh sendi kehidupannya dengan bingkai keislaman. Sejak tahun 2016, terdapat satu kemajuan penerapan syariat Islam di Indonesia dengan munculnya pelayanan kesehatan syariah.

 Kita pahami bahwa kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang fundamental bagi produktifitas seseorang. Jumlah muslim yang sangat besar di Indonesia memerlukan hadirnya sistem pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kaidah Islam untuk membantu penyembuhan, pemeliharaan kesehatan, sekaligus mampu menjadi sarana peningkatan keimanan seorang Muslim yang menjalani pengobatan dan pelayanan kesehatan.

Saat ini, di Indonesia terdapat lebih dari 100 rumah sakit  Islam yang berupaya mengusung pelayanan kesehatan Islami di rumah sakit melalui penyelenggaraan sertifikasi rumah sakit syariah. Penerapan sertifikasi RS syariah tersebut merupakan diferensiasi dan keunggulan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di negeri mayoritas muslim ini.

Pengertian RS Islam menurut  asosiasi rumah sakit Islam Majelis Syuro Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) adalah rumah sakit yang seluruh aktifitasnya berdasar pada prinsip Maqashid al-Syariah al-Islamiyah (tujuan syariah Islam). Sertifikasi RS Syariah berfungsi untuk meningkatkan kualitas  pelayanan, sarana   dakwah Islam di rumah sakit, memberikan  jaminan bahwa operasional RS dilaksanakan sesuai syariah, baik untuk pengelolaan manajemen maupun pelayanan pasien, serta sebagai pedoman bagi pendiri (pemilik) dan pengelola rumah sakit dalam pengelolaan sesuai prinsip syariah.

Beberapa contoh implementasi syariah di antaranya kewajiban rumah sakit untuk mengikuti dan merujuk fatwa Majelis Ulama Indonesia terkait dengan masalah hukum Islam kontemporer bidang kedokteran (al-masa’il al-fiqhiyah al-waqi’iyah al-thibbiyah), ketersediaan panduan tata cara ibadah yang wajib dilakukan pasien (antara lain bersuci dan shalat bagi yang sakit), kewajiban menggunakan obat-obatan, makanan, minuman, kosmetika, dan barang gunaan halal yang  telah mendapat sertifikat Halal,  mendapat persetujuan Dewan Pengawas Syariah bila menggunakan obat yang tidak mengandung unsur yang haram,  serta dalam kondisi terpaksa (darurat) penggunaan obat yang mengandung unsur haram wajib melakukan prosedur informed consent/persetujuan pasien.

Implementasi RS Syariah tersebut tentu memerlukan suplai tenaga kesehatan yang memahami kaidah Islam dalam pelayanan kesehatan.  Diperlukan link and match antara RS syariah dan perguruan tinggi kesehatan, khususnya perguruan tinggi Islam untuk mendidik tenaga kesehatan dengan kapasitas pelayanan kesehatan syariah.

 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba) sebagai FK berada di bawah naungan perguruan tinggi Islam, berupaya mendidik dan melahirkan tenaga dokter yang mampu memenuhi kebutuhan RS Syariah.

Penyiapan tenaga kesehatan RS Syariah di FK Unisba ditempuh melalui penguatan kurikulum ke-Islam-an dalam pendidikan dokter. Pada tahap sarjana kedokteran, terdapat mata kuliah Pendidikan Agama Islam di seluruh semester (PAI 1-7), yang mengajarkan secara utuh dasar-dasar kesilaman (akidah, syariah, akhlak, muamalah, tarikh/sejarah) dan ilmu keislaman terapan (etika dokter muslim, tantangan perkembangan dunia kedokteran dan kaitannya dengan aspek syariah, serta penggalian nilai-nilai islam pada aspek kesehatan dan tubuh manusia).

Selain PAI, ditunjang pula dengan integrasi pembelajaran etik dan medikolegal pada modul Bioetik dan Humaniora (BHP) setiap semester. Salah satu ciri khas dan keunggulan kurikulum keislaman FK Unisba yaitu IIMC (Islamic Insert in Medical Curriculum) yang merupakan integrasi pembelajaran ke-Islam-an dalam materi tutorial kasus penyakit. Sebagai penguat kurikulum, diselenggarakan dua jenis pesantren mahasiswa, yaitu pesantren mahasiswa baru dan pesantren calon sarjana.

Pada tahap profesi dokter, diselenggarakan pesantren calon dokter yang berfokus pada akuisisi skill keislaman dan attitude/akhlak. Sejak tahun 2016, seiring dengan lahirnya konsep RS syariah, FK Unisba merespon dengan disusunnya modul stase syariah. Selain rotasi klinis di rumah sakit pendidikan, mahasiswa tahap profesi (dokter muda) akan menjalani rotasi syariah yang dilaksanakan di RS Syariah. Pada modul ini, mahasiswa akan dihadapkan pada konsep nyata pelayanan kesehatan islami

Perpaduan kurikulum di kedua tahap pendidikan tersebut diharapkan meningatkan pemahaman mahasiswa kedokteran tentang maqasid al-syariah serta sekaligus sebagai media pembentukan karakter dokter muslim untuk menjawab keterbutuhan pelayanan islami di RS Syariah. (Sumber : Kompas Hal. 35,  13 April 2017)