May 25, 2017 Last Updated 9:39 PM, May 25, 2017

Harta Tidak Berwujud dan Kesenjangan Informasi

Published in Karya
Read 201 times
Rate this item
(0 votes)

Kania Nurcholisah, SE.MSi.Ak.CA (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisba) - Dewasa ini, terjadi pergeseran terkait keberadaan harta suatu perusahaan. Teknologi mengubah berbagai aspek kehidupan tidak hanya menyangkut gaya hidup, tetapi juga cara berkomunikasi, transportasi maupun bisnis.

Pada bisnis modern saat ini, teknologi banyak membantu perusahaan dalam melakukan proses pelayanan kepada konsumen melalui berbagai aplikasi. Selain itu,  pada sektor perbankan, nasabah sangat terbantu dalam melakukan transaksi bisnis tanpa harus melakukan kontak fisik dengan teller. Perbankan saat ini berlomba memberikan pelayanan ekstra kepada customers sehingga bermunculan aplikasi  baru dan cepat dalam upaya menarik nasabah sebanyak-banyaknya.

Sumbangsih teknologi lainnya dapat kita lihat dalam hal pemasaran. Berbagai teknik pemasaran daring berhasil membantu memperluas dan mempermudah penjualan produk serta meningkatkan harga jual, misalnya melalui dropshipping (pengiriman barang langsung). Namun, kemajuan teknologi dengan berbagai  aplikasinya tidak mungkin terwujud tanpa peran sumber daya manusia.  Dengan kata lain, peran sumber daya manusia merupakan kunci keberhasilan suatu organisasi bisnis.

Di sinilah arti penting sumber daya manusia sebagai pencipta inovasi, gagasan, serta ide dalam melahirkan struktur serta membentuk kemitraan yang luas sehingga tidak hanya solid secara internal, tetapi juga memiliki link secara eksternal. Tidak dapat dipungkiri faktor hubungan yang baik dengan pihak eksternal, misalnya pemerintah, supplier, bahkan konsumen, merupakan hal penting dalam mata rantai bisnis. Kuncinya, jika suatu organisasi bisnis mampu menciptakan hubungan yang baik maka dengan mudah melakukan  bechmarking atau meningkatkan value.

Teknologi, sumber daya manusia serta kemitraan yang luas merupakan unsur-unsur harta tidak berwujud. Kedudukan harta tidak berwujud dapat memengaruhi terjadinya pergeseran yang terkait dengan investasi. Suatu perusahaan tidak mungkin mampu menciptakan value apabila hanya memiliki  harta yang bersifat fisik. Struktur investasi di beberapa negara telah mengalami pergeseran, yakni dari harta berwujud ke harta tidak berwujud.

Akibatnya,  investasi saat ini tidak lagi dalam bentuk fisik bangunan dan berbagai fasilitas lainnya, tetapi pengetahuan, sistem produksi, piranti lunak komputer dan lainnya.  Secara kalkulatif hampir 67-85 persen harta perusahaan merupakan investasi dalam bentuk harta tidak berwujud (Bhasin, 2012).

Tantangan akuntan

Keberadaan harta tidak berwujud serta peran pentingnya merupakan suatu tantangan tersendiri di kalangan profesi akuntan. Bagaimana tidak, tantangannya adalah bagaimana para akuntan melaporkan aset dalam bentuk harta tak berwujud.

Tak heran jika profesi akuntan sering menggambarkan harta tidak berwujud sebagai the lost of  relevance of  financial reporting to external stakeholders (Abeysekera, 2008:3). Menurut Moore dan Graig (2008) dalam terminologi akuntansi keuangan harta tidak berwujud dikenal sebagai “non financial assets”.  Sementara Yeh et.al (2012:2) memberi istilah harta tidak berwujud sebagai hidden value yang merupakan karakteristik harta tidak berwujud. “Nilai yang tersembunyi” ini akan berimplikasi munculnya hidden information dalam bentuk kesenjangan informasi (Abeysekera, 2008:3).

Kesenjangan informasi merupakan suatu kondisi munculnya perbedaan persepsi antara pengguna dan yang menyajikan informasi (Salehi & Rostami, 2013). Hal ini terjadi ketika “different people knows different thing” sehingga memicu munculnya situasi ekonomi yang timpang.

Mengenai pelaporan, pengukuran, dan penyajian harta tidak berwujud diatur pada PSAK No.19 dan menyajikan karakteristik utama dari harta tidak berwujud yakni dapat diidentifikasi (identifiability). Pada situasi seperti ini kemungkinan besar entitas akan memperoleh manfaat ekonomis masa depan. Selain itu biaya perolehan harta tersebut dapat diukur secara andal dan tidak mempunyai wujud fisik. Yang perlu dicatat di sini adalah organisasi bisnis yang intencity harta tidak berwujudnya  tinggi memiliki karakter kesenjangan informasi yang tinggi.

Namun, pada dasarnya tidak semua harta tidak berwujud dapat diidentifikasi sehingga saat meningkatkan transparansi serta mengurangi kesenjangan informasi  diperlukan pengungkapan lebih luas. Hal ini dilakukan untuk mengurangi gap antara sifat data yang tersaji dengan apa yang dibutuhkan pengguna laporan keuangan.

Dengan demikian, peran akuntansi mampu menyajikan informasi keuangan yang real value. Selain itu, menyediakan penilaian terhadap modal intangible yang dapat membantu stakeholders untuk memprediksi kekuatan tidak berwujud, yang pada akhirnya meningkatkan reputasi perusahaan. (Sumber : Kompas Hal. 34, 07 April 2017)

             

 

 

Last modified on Selasa, 09 Mei 2017 02:35