Jul 28, 2017 Last Updated 9:35 AM, Jul 26, 2017

Bijak Bermedia Sosial

Published in Karya
Read 394 times
Rate this item
(1 Vote)

Rita Gani, M.Si (Dosen Fikom Unsiba) - Media sosial berbasis internet sebagai media baru dalam kehidupan dianggap lebih efektif membangun komunikasi dan interaksi di masyarakat. Melalui media sosial, masyarakat dibanjiri oleh beragam informasi yang bisa diakses dengan cepat, murah, dan mudah.

Istilah “miskin pulsa tapi kaya kuota” menunjukkan peralihan fungsi media yang signigfikan karena bersaran kuota merupakan modal untuk bisa mengakses beragam informasi di internet. Kondisi ini sesuai dengan temuan APJII tahun 2016 yang menjelaskan penetrasi pengguna internet di Indonesia menunjukkan hasil yang semakin signifikan dengan aktivitas komunikasi masyarakat.

Tercatat ada sekitar 132,7 juta jiwa masyarakat Indonesia yang menggunakan internet. Data ini di hitung dari jumlah total penduduk Indonesia pada tahun 2016 sebanyak 256,2 juta orang, dengan perbandingan 52,5 persen laki-laki dan 47,5 persen pengguna perempuan. Data tesebut menjelaskan bahwa saat ini internet sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Kondisi tersebut juga merubah kebiasaan masyarakat dalam menggunakan media, baik secara pribadi, kelompok, maupun lingkungan organisasi. Pada umumnya kita lebih senang menonton berita di Youtube dibandingkan menonton di televise; lebih sering “googling” dari pada mencari dan membaca dari buku aslinya; dan sebagainya.

Dari beragam aktivitas tersebut, media sosial menjadi pilihan favorit. Berdasarkan survei kecil yang penulis lakukan di kelas-kelas yang diampu, rata-rata jumlah akun terkecil yang dimiliki oleh mahasiswa adalah 5 akun, bahkan 40 persen di antaranya memiliki 10 akun atau lebih. Ini sejalan dengan survey APJII 2016 yang menempatkan media sosial sebagai posisi tertinggi perilaku pengguna internet di Indonesia, yakni sebesar 97,4 persen (129,2 juta jiwa).

Presentasi yang tinggi ini disebabkan banyak faktor di media sosial. Williamson (2010:3) menjelaskan, “Media sosial sebagai media yang didesain untuk menyebarkan pesan melalui interaksi sosial, dan dibuat dengan teknik publikasi yang sangat mudah di akses dan berskala besar.”

Kekuatan media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter dan Whatsapp, sebagai media penyebar informasi ditunjang dengan berbagai hal menarik yang menyebabkan setiap orang merasa nyaman memilikinya.

Viralkan yang baik

Bila sebelumnya kita menggunakan media sosial sekedar untuk update status, berbagi informasi sederhana, atau menjalin kembali silaturahim, belakangan ini media sosial seakan bertambah fungsinya sebagai media penyampaian opini yang cenderung mengandung beragam kepentingan. Bahkan, untuk “memviralkan” hasutan, kebencian dan sebagainya. Dalam satu tahun terakhir, media sosial juga  menjadi sarana penyebaran berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya demi tujuan tertentu, lebih popular dengan istilah hoaks.

Mengacu pada kegiatan jurnalistik dasar, harusnya sebuah informasi yang didapatkan akan melewati proses pengolahan sebelum disiarkan. Dalam proses pengolahan ini juga dilakukan cek dan ricek kebenaran informasi detail penunjang berita sehingga berita yang nantinya akan disiarkan tersebut bisa dipertanggungjawabkan.  Bila hal ini dilakukan, tentulah isi berita-berita yang viral di laman media sosial bisa dipercaya dan tidak menjadi hoaks.

Sejatinya, media sosial menjadi sarana untuk menambah nilai-nilai positif yang akan menunjang berbagai kegiatan sehari-hari, baik dalam skala pribadi maupun dalam kehidupan sosial. Karena itu, diperlukan sikap  bijak dan cerdas dalam menggunakan media sosial.

Kita perlu mengingatkan diri sendiri bahwa apa pun jenis media sosial, meskipun digunakan secara pribadi, tetap merupakan area publik yang bisa diakses siapa saja. Mari memviralkan yang baik di media sosial, dan tidak menjadikan media sosial sebagai tempat untuk melampiaskan berbagai urusan pribadi (baik dalam konteks positif apalagi negatif), karena apa yang kita statuskan atau apload di media sosial sangat menunjukkan bagaimana kualitas diri kita sendiri. So, thingking before your posting.  (Sumber : Kompas Hal. 34, 31 Maret 2017)