May 25, 2017 Last Updated 9:39 PM, May 25, 2017

Dakwah Pemberdayaan

Published in Karya
Read 344 times
Rate this item
(0 votes)

 

Bambang S. Ma'arif, M.Si. (Dosen Fak. Dakwah Unisba) - Realitas Sosiologis abad ke-21 menunjukkan bahwa gerakan masyarakat muslim yang terjadi selama ini, terutama di Indonesia, diyakini sebagai dampak dari dakwah Islam yang telah dilakukan oleh para aktivis dakwah di seantero Nusantara, baik di masa lalu maupun masa kini. Runtutan hari menjadi satu kesatuan ruang, waktu dan kesadaran.  

Dakwah Islam merupakan tugas yang membawa masyarakat lepas dari kegelapan zaman,  dari hidup yang tiada tersinar ruhaninya oleh nur Ilahi. Dakwah  dapat ditemukan di berbagai masjid, majlis taklim, madrasah  dan pesantren di berbagai pulau di Indonesia. 

Dakwah dimulai dengan mengajarkan agama Islam, memahami secara terpadu dan mengaplikasikannya dengan baik.  Bidang dakwah membutuhkan para pejuang Islam yang tangguh. Sekiranya mereka bukan para mujtahid (pemikir dan peneliti) maka paling tidak mereka menjadi mujahid (pejuang). Dengan semangat berjuang umat Islam bersatu padu dalam mengamalkan nilai Islam dengan damai.

Berdakwah merupakan investasi untuk masa depan. Apa yang kita tanamkan kini untuk para peserta didik  dan atau jamaah akan berbuah menjadi gerakan sosial yang penuh makna dan simbol-simbol keagamaan.  

Gerakan Islam yang muncul sejak November 2016 hingga kini di Jakarta, dan Indonesia secara lebih luas,  diyakini sebagai dampak dari dakwah yang dilakukan pada berbagai level.

Islam kuat karena berakar pada  gerakan akar rumput. Secara keseluruhan gerakan Islam tidak sepenuhnya terencana, namun ia lebih mengikuti fitrahnya sehingga umat Islam tidak akan tinggal diam jika agamanya dilecehken dan dinistakan. Umat Islam berunjuk rasa dalam damai, yang dikemas dalam ‘dzikir bersama’. Gerakan damai itu mengalir dengan sendirinya dalam interaksi sosial yang dinamis.

Dakwah merupakan kenyataan yang tidak bisa dimungkari. Lambat laun masyarakat dan bangsa Indonesia makin rindu akan dakwah yang damai dan toleran. Kita sadar bahwa Muslim di Indonesia rendah indeks pembangunan manusia (IPM) Muslim di Indonesia rendah dibidang pendidikan, ekonomi dan kesehatan. Oleh karena itu, respons dakwah di Indonsia fokus pada masalah tersebut.

Dakwah tidak tinggal diam untuk turut mengentaskan masyarakat di Jawa Barat, khususnya dari keterbelakangan dan ketertinggalan.  Dakwah berkiprah untuk mengejar semua ketertinggalan itu. Dakwah kini  membina sumber daya insaninya, sehingga lahirlah gerakan dakwah pemberdayaan.

Dakwah pemberdayaan adalah suatu trend gerakan pada dakwah melalui strategi, pendekatan dan teknik yang berupaya membina ustadz (muballigh)-nya agar mampu mandiri dan memandirikan. Melalui berbagai pelatihan para ustadz dibekali dengan berbagai materi dan skill sehingga ia memiliki kemampuan di atas rata-rata pada altar indeks pembangunan masyarakat Jawa Barat.

Para ustadz  pemberdayaan itu kemudian menjadi agen pemberdaya dan penyebar inovasi pada masyarakat. Sadar akan kondisi itu maka Fakultas Dakwah UNISBA berupaya mengimplementasikan konsep Ustadz Pemberdayaan.

Bekerjasama dengan MUI kota Bandung dan PLN Divre Prov. Jawa Barat, Fakultas Dakwah mengambil peran ini secara serius. Adapun narasumber dari PLN adalah ustadz (ust) Syukron (al-hafidz) dan Ust. Eri Lubis di mana keduanya telah mengkonfirmasi  program ini.

Tim dosen Fakultas  Dakwah, dengan koordinator Ust. Dr. H.M. Rachmat Effendi, M.Ag telah melangkah dalam implementasi konsep ‘Ustadz Pemberdayaan’ melalui pengabdian kepada masyarakat - yang awalnya  dibiayai oleh Kemenristek Dikti -  dan tengah berkiprah pada budidaya Cidole (kelinci, domba dan lele).

Konsep Ustadz Pemberdayaan ini telah diapresiasi oleh masyarakat  luas di sebuah desa di  Kecamatan Cikalong Wetan sebagai pilot project. Buahnya adalah dakwah tidak semata berhenti pada ceramah, pengajian, dan khutbah, tetapi berlanjut dengan amal usaha yang menghasilkan nilai ekonomi, dan termakmurkan.  (Sumber : Kompas Hal. 33, 17 Februari 2017)

 

 

More in this category: Islam Agama yang Moderat »