Mar 22, 2017 Last Updated 12:00 AM, Mar 20, 2017

Mensinergikan Tri Pusat Pendidikan

Published in Karya
Read 251 times
Rate this item
(0 votes)

Imam Pamungkas., S.Pd.I., M.Ag. (Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Unisba)  Istilah Tri Pusat Pendidikan dipopulerkan oleh Bapak Pendidikan Nasional, yaitu Ki Hajar Dewantara. Tri Pusat Pendidikan merupakan tiga sarana utama pendukung dalam pendidikan, khususnya terhadap anak. Sarana tersebut meliputi rumah (keluarga), sekolah (guru), dan masyarakat (lingkungan). Kita ketahui bahwa pendidikan yang berkembang di rumah (keluarga) termasuk pada pendidikan informal. Pendidikan yang berkembang di sekolah termasuk pada pendidikan formal.

Ketiga sarana pendidikan  tersebut haruslah sejalan dan senantiasa beriringan dalam melaksanakan proses pendidikan. Dengan kata lain, visi dan misi ketiganya harus sama. Kalau pun tidak sama, setidaknya dapat diselaraskan dan disinergiskan. Sehingga satu sama lain dapat saling mengawasi, mengontrol, dan mengevaluasi kegiatan masing-masing. Dengan adanya kesinergisan, maka komunikasi yang terjalin pun tentunya lancar.

Dari ketiga unsur tadi, tentunya yang mudah dilakukan dalam proses komunikasi adalah rumah (keluarga) dengan sekolah (guru). Terlebih lagi pada saat sekarang, sudah banyak media dan sarana yang memfasilitasi hubungan/komunikasi antara guru dan orang tua, sehingga dapat terjalin dengan mudah. Namun, untuk komunikasi dengan masyarakat dan lingkungan anak, tentunya tidak semudah komunikasi dengan pihak sekolah. Orang tua harus mengetahui detil tentang pergaulan anak di luar sekolah dan rumah.

Untuk itu, dalam membentengi lingkungan anak, maka peran dan tanggungjawab orang tua serta guru sangat diperlukan.

Orang tua

Orangtua dikatakan sebagai penanggungjawab kodrati dikarenakan mereka secara langsung “dititipi” oleh Allah Swt untuk melahirkan, mengurus, merawat, membesarkan, dan mendidiknya. Yang akan dimintai pertanggungjawaban pertama kalinya mengenai anak, baik di dunia apalagi di akhirat adalah orang tua.

 Dalam sebuah hadits disebutkan: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut." (HR. Bukhari)

Dengan kata lain, mau tidak mau, suka atau tidak, orang tua harus siap mengemban amanat dan tanggungjawab dalam mendidik dan membesarkan anak. Dalam salah satu hadits, Rasulullah Saw bersabda bahwa: “Setiap anak Adam (keturunan Adam) dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Anak merupakan jaminan dan investasi terbesar bagi kedua orang tua, khususnya kelak di akhirat nanti. Seorang anak dapat memasukkan kedua orang tuanya ke surga-Nya, selama anaknya menjadi anak yang sholeh yang selalu mendoakan orang tuanya. Rasulullah Saw bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendo’akannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Guru

Setelah orang tua yang mendidik anak di rumah, ada pihak lain lagi yang berperan dan bertanggungjawab terhadap pendidikan anak di luar rumah, yaitu guru.

Guru merupakan pendidik yang bertugas untuk menjadi orang tua ketika berada di lingkungan sekolah. Pada dasarnya fungsi dan peran guru terhadap anak di sekolah sama dengan orang tua di rumah. Yang membedakannya adalah kalau sekolah dibatasi oleh kurikulum yang harus sesuai dengan visi dan misi sekolah atau pun dengan pemerintah.

Adanya komunikasi yang dilakukan guru kepada orang tua tersebut tentunya menjadikan tugas guru tersebut menjadi ringan dan mudah. Hal ini karena segala sesuatunya sudah terpantau dan segala permasalahan yang muncul pun akan mudah dicarikan solusi. Bahkan, bisa jadi tindakan pencegahan pun dapat dilakukan manakala komunikasi kedua arah tersebut berjalan dengan baik dan lancar.

Akhirnya lingkungan masyarakat atau tempat dimana anak banyak bermain menjadi penentu berhasil atau tidaknya orang tua dan guru dalam menanamkan kebaikan yang bersumber dari ajaran Islam. Jangan sampai doktrin kebaikan dari rumah dan sekolah dikalahkan oleh doktrin lingkungan yang tak terbendung, yang dapat mengakibatkan terjerumusnya anak pada perilaku yang buruk. (Sumber : Kompas Hal. 34, 10 Februari 2017)

 

Last modified on Jumat, 10 Februari 2017 03:09
More in this category: Dakwah Pemberdayaan »