Jul 28, 2017 Last Updated 9:35 AM, Jul 26, 2017

Inovasi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Kota

Published in Karya
Read 1473 times
Rate this item
(0 votes)

Ernady Syaodih (Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota, FT UNISBA) - Indonesia adalah negara besar, yang dikaruniai kekayaan alam berlimpah. Indonesia berpotensi menjadi negara yang maju dan kuat jika mampu mengelola kekayaan alamnya dengan baik. Pengelolaan kekayaan alam untuk kemajuan bangsa, salah satunya bergantung pada manajemen pembangunan.

Meski pemerintah sudah memiliki manajemen pembangunan yang cukup baik, ada berbagai kelemahan seperti masalah perencanaan, pelaksanaan, kelembagaan, sumberdaya manusia (SDM), sinergitas antar lembaga, peran serta masyarakat/swasta, pengelolaan anggaran, pemanfaatan teknologi informasi, pengawasan, pengendalian pembangunan, dsb. Untuk mengatasi kelemahan tersebut perlu dilakukan inovasi dalam manajemen pembangunan, khususnya pada tahap perencanaan.

Secara teoritis paling tidak ada empat hal pokok dalam perencanaan pembangunan, yaitu mencapai tujuan yang lebih baik di masa yang akan datang, pemanfaatan sumberdaya secara optimal, memperhatikan  keterbatasan (limitations), dan mengupayakan efisiensi dan efektifitas pembangunan.

Pemerintah  sudah menetapkan tujuan  dalam bentuk visi pembangunan, yakni  Indonesia yang maju, mandiri, adil dan makmur di tahun 2025.  Namun,  pemerintah kurang optimal dalam mensosialisasikannya hal tersebut sehingga banyak pihak yang kurang paham.

Sistem perencanaan pembangunan  juga kurang optimal dalam memanfaatkan sumber daya seperti sumber daya alam, sumber daya manusia  dan  teknologi, mensiasati berbagai keterbatasan (limitations)-khususnya dalam mensiasati keterbatasan anggaran, serta  mengupayakan efisiensi dan efektifitas pembangunan.

Kelemahan dalam proses pembangunan dapat diatasi dengan menerapkan sistem manajemen Balanced Scorecard (BSC). Sistem manajemen BSC dapat mengoptimalkan penerjemahan visi ke dalam sasaran-sasaran strategis, indikator-indikator kinerja kunci (IKK), target-target kinerja dan program-program pembangunan.

Sistem manajemen Balanced Scorecard (BSC) memiliki kekuatan dalam analisis perspektif, koherensi dan  cascading. Analisis perspektif BSC sangat lengkap meliputi perspektif pembelajaran dan pertumbuhan (kompetensi SDM, budaya organisasi, teknologi informasi), perspektif proses bisnis internal (pelaksanaan tugas dan fungsi pemerintah), perspektif kepuasan masyarakat dan perspektif efisiensi pembiayaan pembangunan.

Koherensi adalah analisis keterkaitan sebab akibat antarsasaran strategis atau program pembangunan. Dalam sistem manajemen BSC, penetapan sasaran strategis atau program perlu dilakukan analisis sebab akibat terlebih dahulu   agar setiap sasaran strategis/program pembangunan dapat diketahui dampak dan manfaatnya bagi sasaran strategis/program pembangunan lainnya. Analisis koherensi dilakukan atau digambarkan dalam peta strategi.

Cascading  adalah proses penurunan sasaran strategis, indikator kinerja kunci (IKK) dan target pembangunan secara sistematis, berhirarki dan terukur dari tingkat pemerintah pusat, ke tingkat pemerintah provinsi, dilanjutkan ke tingkat pemerintah kabupaten/kota, ke tingkat Organisasi Perangkat Daerah (OPD), ke tingkat bidang dan seksi di setiap OPD.   

Proses koherensi dan cascading sasaran strategis, indikator kinerja kunci (IKK) dan program  pembangunan yang dilakukan secara sistematis, berhirarki dan terukur tersebut akan meningkatkan keterpaduan program/proyek/kegiatan serta meningkatkan produktivitas, efisiensi dan efektifitas pembangunan. (Sumber : Kompas Hal. 35, 18 Maret 2016)