Dec 10, 2018 Last Updated 11:58 AM, Dec 10, 2018
 
 
 
Berita

Berita (543)

KOMINPRO Laporan-laporan yang tercipta dari kekuatan data, disampaikan secara baik, namun tak abai pada kecepatan adalah sumber informasi yang layak diperoleh masyarakat Indonesia. Tidak hanya karya jurnalistik, laporan penelitian sekalipun harus ditulis dengan akurat dan relevan. Persoalannya, tidak semua yang relevan dikemas secara menarik. Inilah yang menjadi tantangan bagi para jurnalis.

Demikiam disampaikan Redaktur Investigasi Tirto.id, Fahri Salam dalam Studium Generle (SG) bertema, “Romanum De Vectigium” yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Jurnalistik (KMJ) Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unisba,  di Aula, Kamis (6/12). Kegiatan ini merupakan acara tahunan yang bertujuan untuk memperkenalkan tiga bidang kajian yang ada di Fikom Unisba kepada mahasiswa baru.

Acara ini menghadirkan dua narasumber dari bidang jurnalistik yaitu Redaktur Investigasi Tirto.id Fahri Salam dan jurnalis Vice Indonesia, Arzia Tivany Wargadiredja. Kedua narasumber tersebut dipilih karena dianggap mampu menyajikan berbagai informasi terkini dengan kemasan menarik dan disukai generasi masa kini.

Lebih jauh Fahri menjelaskan, inti dari deep reporting adalah liputan secara mendalam yang menggunakan pendekatan feature.  “Feature merupakan teori yang banyak digunakan tokoh untuk menghasilkan karya dalam medium apapun,” terang Fahri seraya menambahkan, sejak tahun 1920, teori ini tetap bertahan dan dimanfaatkan dengan berbagai penyajian baik itu dekskriptif atau naratif reporting.

Fahri berpendapat, hampir semua buku bagus, bahkan dari dunia akademis sekalipun seperti Steve Jobs yang menggunakan pendekatan feature. “Di Indonesia sendiri ada Metta Darmasaputra yang menceritakan liputan investigasi tentang kasus manipulasi pajak Asian Agri Group melalui Buku Saksi Kunci dengan sudut pandang detektif dan menarik sekali,” terangnya.

Tirto.id yang lahir pada 12 Mei 2016,  dikatakan Fahri,  menjadi salah satu media yang konsisten menghasilkan berita dengan kekuatan data. Melalui laporannya, Tirto.id berupaya untuk menepis anggapan masyarakat bahwa jurnalisme media online adalah jurnalisme yang asal mengundang klik, banyaknya halaman dibuka (page views), lepas dari konteks, dangkal, dan tidak enak dibaca.

Berbeda dengan Tirto.id, Vice Indonesia concern memanfaatkan media youtube untuk membuat indepth reporting. Jurnalis Vice Indonesia, Arzia Tivany Wargadiredja percaya bahwa masyarakat Indonesia pada masa ini, cenderung lebih menikmati suguhan berbentuk audio visual dibandingkan tulisan.

“Saya merasa, di Indonesia lebih mudah menyerap penonton dibandingkan  pembaca. Saya menemukan ini dari jaman kuliah dan mengamati orang-orang di sekitar,” katanya.

Namun, lanjutnya, adanya anggapan bahwa orang Indonesia tidak menyukai video berdurasi panjang kini menjadi sebuah tantangan tersendiri. Untuk mensiasati hal tersebut, Arzia bersama Vice Indonesia mencoba untuk mengambil isu yang dekat dengan masyarakat dan menyajikan dengan cara menarik.

“Kita sekarang punya media online platform-nya banyak. Kita bisa membuat indepth reporting yang isunya dekat dengan masyarakat dan tidak selalu politik. Kalo kita bisa mengemasnya dengan tepat  pasti banyak peminatnya, seperti video kita dengan durasi 30 menit tapi berhasil mengundang banyak penonton,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Penyelenggara Nabilla Anasty Fahzaria mengatakan, pengambilan tema pada kegiatan ini diambil dari bahasa latin yaitu romanum yang artinya  balai penyebaran acta diurna, sementara de vectigium mengandung arti jejak kaki. ”Acta diurna itu merupakan media informasi pertama pada zaman dulu. Kalo ditafsirkan maksud dari tema ini tentang bagaimana media mampu merangkai informasi dari jejak-jejak yang ada menuju sebuah kebenaran,” katanya.

Nabilla menjelaskan alasan dipilihnya kedua narasumber dalam SG tersebut. Menurutnya, Vice selalu memilih tema unik dan nyentrik, serta audio visual yang bagus. Sedangkan Tirto, kata dia,  infographicnya menarik. “Menurut kami kedua media tersebut masuk untuk segmentasi remaja dan bisa memperkankan dunia jurnalistik itu tempat bermain yang seru dan luas cakupannya,” jelasnya.

Tirto.id, kata dia, merupakan portal media online yang menyajikan tulisan dan infografik berita serta analisis berdasarkan fakta dan data. Media tersebut memiliki visi bahwa dalam proses jurnalisme menyajikan tulisan-tulisan yang jernih (clear), mencerahkan (enlighten), berwawasan (insightful), memiliki konteks (contextual), mendalam (indepth), investigatif, faktual serta dapat dipertanggungjawabkan.(Feari/Sari)

 

 

 

KOMINPRO-11 mahasiswa Unisba menerima Beasiswa Baznas Prov. Jabar. Beasiswa secara simbolis diserahkan Ketua Baznas Prov. Jabar, KH. Arif Ramdani, Lc.MA. kepada Rektor Unisba, Prof. Dr. H. Edi Setiadi, SH.MH. di Ruang Rektorat, Senin (10/12). "Beasiswa ini merupakan bantuan dalam rangka mengentaskan keterbelakangan pendidikan dan mencetak kader ilmuwan ulama yang berjiwa 3M, Mujahid, Mujtahid, Mujaddid," kata Rektor.***

KOMINPRO-Sebanyak 3000 lebih mahasiswa baru kembali menjalani test Baca Tulis Al-qur'an (BTAQ) di Aula Unisba (9/12). Hasil test kali ini menentukan mereka untuk bisa mengikuti Pesantren Mahasiswa. Sebelumnya mereka pernah mengikuti placement test BTAQ pada awal masuk Unisba dilanjutkan menjalani mentoring selama 3 bulan. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya Unisba dalam melahirkan alumni sebagai ilmuwan yang ulama dan ulama yang ilmuwan yang memiliki karakter 3M (Mujahid, Mujtahid, Mujaddid).***

 

KOMINPRO-Sampah dan lingkungan, tak bisa dipisahkan. Jika kita menangani sampah dengan benar, maka lingkungan bersih, sehat dan indah pun akan kita dapatkan. Sebaliknya, jika kita sembarangan membuang sampah, akibatnya, selain lingkungan kotor, lalat bertebaran, penyakit datang hingga musibah banjir melanda. Kesadaran dalam mengelola sampah inilah yang perlu ditanamkan kepada masyarakat khususnya masyarakat yang berada di daerah bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

Bertolak dari fenomena tersebut, Unisba membentuk Tim KKN yang disebut dengan Tim KKN Tematik Citarum Harum Pentahelix. Citarum Harum Penta Helix, adalah salah satu program yang digulirkan Unisba dalam membantu pemerintah menangani masalah pencemaran lingkungan khususnya pengembalian fungsi sungai Citarum yang bersih bukan sebagai tempat pembuangan sampah bagi masyarakat. Program ini melibatkan semua stakeholder meliputi pemerintahan, dunia usaha/industri, akademisi (dosen dan mahasiswa), dan masyarakat yang bekerja sama membersihkan sungai Citarum dari sampah dan limbah yang mencemarinya.

Wakil Rektor I Unisba, Ir. A. Harits Nu’man, MT.,Ph.D.,IPM., mengungkapkan, Citarum Harum Pentahelix merupakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilakukan Unisba atas diterimanya dana hibah dari pemerintah melalui Dirjen Belmawa (Kemenristekdikti).  Unisba sebagai salah satu perguruan tinggi yang memperoleh hibah tersebut untuk membenahi sungai Citarum atau desa yang berada di sekitarnya yang berkaitan dengan sungai Citarum. Unisba memilih sektor I, Desa Cibeureum (Cisanti) untuk dibenahi.

Program ini, lanjut Warek I, fokus kepada perubahan mindset masyarakat wilayah sektor I DAS Citarum dengan pendekatan model BCA (Behavior, Culture, Attitude) yang meliputi, (1) Pemilahan sampah organik dan anorganik; (2) Pengolahan sampah organik (takakura dan bata terawang) dan anorganik (kerajinan tangan/aksesoris); (3) Kegiatan education games; dan (4) kegiatan sosialisasi metode sistem manajemen pemasaran produk hasil olahan sampah.

Kegiatan ini berlangsung selama 10 hari mulai dari 21 s.d. 30 November 2018 di Sektor 1 Cisanti Kec. Kertasari Kab. Bandung. Selama KKN, kegiatan yang dilaksanakan yaitu pengelolaan sampah masyarakat dengan pola 3R (Reuse, Reduce  and Recycle), membuat lubang biopori & mega biopori, pelatihan treasure membuang plastik, membuat bata terawang, story telling & menggambar bersama anak–anak mengenai lingkungan sungai sekelilingnya, live the river, penyuluhan kesehatan gigi & mulut, penyuluhan cuci tangan dengan enam langkah dan melakukan games edukasi.

Salah satu kerja nyata yang dihasilkan dari KKN ini yaitu gundukan sampah yang ada di dua RW bisa teratasi dan terkelola dengan baik. Tumpukan sampah tersebut sudah ada sejak puluhan tahun. Selama dua hari, tim dan masyarakat sekitar mengerjakan dan membersihkan gundukan sampah tersebut. Saat ini, tumpukan sampah sudah tidak tampak lagi.

KKN ini ditutup oleh Rektor Unisba, Prof. Dr. H. Edi Setiadi, S.H., M.H., Sabtu (01/12) di Bongkor, Desa Tarumajaya, Kec. Kertasari, Kab. Bandung. Rektor mengatakan, KKN ini merupakan salah satu bakti Unisba kepada masyarakat.

Program KKN ini, lanjut Rektor, membawa kesan yang baik bagi mahasiswa Unisba yang diberikan pendampingan serta dididik disiplin dan kekompakan oleh TNI.  “Walaupun kontribusi yang diberikan Unisba tidak terlalu besar untuk mewujudkan Citarum Harum, tapi KKN ini adalah bagian kepedulian Unisba terhadap kondisi alam  karena alam ini menghidupi kita semua,” ungkap Rektor.

Lebih jauh Warek I Unisba, menjelaskan, alasan Unisba memilih sektor I karena hulu sungai ada di Cisanti, Cibeurem. “Kita akan benahi itu. Yang ingin kita capai adalah terbentuknya kesadaran masyarakat yanag cinta dan peduli lingkungan melalui metode BCA. Target terdekatnya adalah transfer of knowledge tentang budidaya/manajemen sampah kepada masysrakat,” terang Warek I.

Dari progam ini juga diharapkan terbentuk Bank Sampah yang sudah dibedakan tempatnya yaitu Bank Sampah Organik dan Bank Sampah Anorganik di masing-masing RT/RW. Adanya Kompos,  MOL (Mikro Organisme Lokal), dan kerajinan tangan seperti tas, dompet, taplak meja dari sampah anorganik (cangkang kopi, gelas aqua bekas, plastik bekas), serta terbentuknya sebuah cerita anak yang akan dibukukan melalui website dengan tema, “The Light River” atau Cahaya Sungai Citarum Harum.

Lebih jauh Warek I menjelaskan, program KKN tematik terpadu dijadikan sebagai model sarana pembelajaran dengan metode BCA berbasis masyarakat untuk meningkatkan kepedulian mahasiswa. KKN ini juga mengembangkan dan menumbuhkembangkan jiwa kepedulian terhadap lingkungan hidup yang bersih kepada masyarakat di kawasan sungai Citarum secara berkelanjutan. Selain itu untuk membuat inovasi program KKN tematik sebagai bahan pembelajaran mahasiswa dengan metode BCA serta membuat Klinik Sampah yang berbasis masyarakat dengan melakukan 1000 tangan membuang sampah pada tempatnya. 

Ketua Pelaksana Hibah Tematik Citarum Harum, Dr. Dini Dewi Heniarti,SH.,MH., mengungkapkan, hal yang paling mendasar yang harus ditangani adalah masalah pengelolaan sampah dan limbah ternak yang dibuang masyarakat ke  sungai Citarum. “Namun saat ini kita fokus kepada penanganan sampah dulu karena sesuai anggaran yang kita terima. Mudah-mudahan lain kali kita mendapat hibah lagi untuk menangani masalah limbah ternak ini, karena menangani limbah dari 10.000 hewan ternak bukan hal yang mudah,” terangnya.

Senada dengan Warek I, Dr. Dini menyebutkan, kegiatan yang kini dilakukan Tim Unisba adalah observasi lapangan dan Gerakan Pungut Sampah (GPS). Tim Unisba yang terdiri dari dosen dan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu ini juga memberikan edukasi kepada masyarakat tentang prilaku mengelola sampah, komposting bata terawanag, ecobrick, pembuatan bata terawang, dan trashion (membuat kerajinan dari sampah yang bernilai seni serta memiliki nilai ekonomi).

“Tim kami dari Tarbiyah misalnya memberikan pendekatan kepada masyarakat tettang pemahaman perlunya lingkungan bersih dengan pendekatan agama, sedangkan dari Psikologi, Kedokteran, memberikan edukasi kepada anak-anak melalui story telling, tim dari fakultas lain pun memiliki peran masing-masing,” terang Dosen Fakultas Hukum Unisba yang juga Ketua Asosiasi Profesor Doktor Hukum Indonesia (APDHI)  ini.

Tim Unisba, diberi waktu satu bulan untuk membenahi Desa Cibeureum ini. Karenanya semua yang terlibat bekerja keras untuk menyelesaikan program ini. “Alhamdulillah hari kedua bekerja, kami sudah bisa mendatangkan alat berat untuk membersihkan sampah yang berton-ton di daerah tersebut,” terangnya.

Diakui Ketua Tim, untuk mewujudkan program ini tidak mudah. Pasalnya, ada juga masyarakat yang apriori terhadap program Unisba ini. “Mereka mungkin jengah dengan program sebelumnya dari Tim perguruan tinggi lain yang menurut mereka tidak ada bekasnya,” terang Ketua Tim.

Namun, lanjutnya, Tim Unisba tidak bosan untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat agar semua bisa bekerja sama sehingga Citarum Harum dapat terwujud.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penanaman pohon yang dilakukan oleh Rektor, Warek 1 dan Ketua Pelaksana Hibah Tematik Citarum Harum, Dr. Dini Dewi Heniarti,SH.,MH. Jenis pohon yang ditanam yaitu pohon manglid yang ditanam di area Bongkor. Penanaman pohon ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan untuk menyukseskan program Citarum Harum.

Selain itu, tim juga memberikan penghargaan kepada para pendamping berprestasi yang terdiri dari Letkol Inf Choirul Anam (Dansektor 1 Pembibitan) sebagai Pendamping Terbaik,  Apep Setiawan (Ketua RW 11 Desa Cibeureum) sebagai Pendamping Teraktif, Ujang Suryana sebagai Pahlawan Sampah, Rian Amukti, S.SI., M.SC. (Dosen T. Pertambangan Unisba) sebagai Dosen Pendamping Terbaik dan Robi & M. Rajib sebagai Pembuat Gambar dan Cerita Terunik.

Sementara itu, Komandan Sektor (Dansektor) 1, Kolonel nf Inget Barus, mengungkapkan, disiplin ilmu yang didapat mahasiswa di bangku kuliah dapat dipraktekan dilapangan khusunya pada program KKN ini yang memiliki dampak positif. “Kegiatan sosialisasi maupun disiplin ilmu yang disampaikan, khususnya penanganan sampah yang ada di Desa Cibeureum sektor 1 itu nyata,” ungkapnya.

Menurutnya, selama keberadaan mahasiswa di Desa Cibeureum tidak ada hal – hal negatif dan masalah yang dihadapi. “Semaunya berjalan dengan baik dan bisa menjaga sopan santun,” terangnya.

Senada dengan Dansektor 1, Dansektor 1 Pembibitan, Letkol Inf Choirul Anam mengapresiasi kegiatan KKN ini karena sangat membantu berjalannya program Citarum Harum. Pada saat pelaksaan KKN ini, diakuinya, diajarkan juga cara mengelola sampah yang baik oleh ahli yang didatangkan oleh tim.

Lebih jauh, menurutnya, program KKN ini meninggalkan bekas yang baik dan berharap tidak terbatas KKN saja tapi kapan pun mahasiswa Unisba bisa bersama-sama untuk terus menyukseskan program Citarum Harum.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua RW 11 Desa Cibeureum, Apep Setiawan, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas terlaksananya KKN ini yang sangat membantu warganya dalam menjaga lingkungan di desanya. Beliau pun berharap program ini bisa berkesinambungan untuk menjaga lingkungan dan tidak hanya sekali terlaksana tapi berkelanjutan sehingga bisa memberikan motivasi bagi masyarakat desanya untuk mengelola lingkungan sebagai sumber penghidupan.

Selama pelaksanaa KKN ini banyak memberikan kesan dan pesan bagi mahasiswa yang terlibat. Seperti yang diungkapkan oleh perwakilan mahasiswa yaitu  Nisa Shofia dari prodi Teknik Industri Angkatan 2014 dan Reza Nur Muhamad Sidik dari Psikologi angkatan 2017. Keduanya antusias dalam melaksanakan program KKN ini.

Reza berpesan agar apa yang telah dilakukan bisa bermanfaat sebanyak mungkin bagi masyarakat Desa Cibeureum, serta program ini bisa dilanjutkan dan dikelola dengan baik oleh yang berwenang. Sedangkan Nisa berpesan banyak pembelajaran yang didapat selama melaksanakan KKN ini, bagaimana cara untuk bersosialisasi dengan masyarakat sekitar untuk selalu melihat sudut pandang yang baru dalam mengambil keputusan tanpa harus saling menyakiti.(Eki/Sari)

 

 

 

 

KOMINPRO-Universitas Islam Bandung (Unisba) membentuk Satuan Tugas (Satgas) untuk mendukung efektivitas peraturan Kawasan Bebas Asap Rokok (KBAR) di lingkungan kampus. Sebagaimana diketahui Unisba telah mengeluarkan Peraturan Rektor No. 187/L.03/SK/Rek/X/2018 tentang Kawasan Bebas Asap Rokok di Lingkungan Unisba yang ditandatangani Rektor, Prof. Dr. H. Edi Setiadi,SH.,MH., dan ditetapkan pada tanggal 31 Oktober 2018 lalu. Dengan adanya peraturan ini diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan/kematian yang disebabkan oleh asap rokok dan mewujudkan kualitas udara yang sehat dan bersih dari asap rokok.

Tujuan lain dari dikeluarkannya peraturan ini adalah untuk mewujudkan generasi muda yang sehat dan produktif, mendukung implementasi Kawasan Tanpa Asap Rokok (KTR) di Kota Bandung, mewujudkan  kampus berwawasan lingkungan (eco campus) di Unisba, dan mewujudkan nilai-nilai Islam di lingkungan kampus Unisba. Untuk menegakkan peraturan ini, Rektor membentuk Satuan Tugas (Satgas) KBAR secara khusus. Satgas ini juga akan mensosialisasikan peraturan KBAR setidaknya dalam kurun waktu dua bulan terhitung sejak peraturan ditetapkan.

Dalam Peraturan Rektor ini juga disebutkan sanksi bagi mereka yang melanggar aturan, mulai dari sanksi ringan, sedang, hingga sanksi berat. Sanksi ringan diberikan kepada mereka yang terbukti melanggar peraturan sebanyak 1 (satu) kali. Sanksi ini berupa teguran lisan, membuat pernyataan tidak akan melanggar peraturan KBAR, dan dilakukan pencatatan oleh Satgas KBAR.

Sanksi sedang diberikan kepada mereka (masyarakat kampus Unisba) yang melanggar aturan sebanyak dua sampai tiga kali. Sanksi ini terdiri dari sanksi ringan (teguran lisan, membuat pernyataan tidak akan melanggar peraturan KBAR, dan dilakukan pencatatan oleh Satgas KBAR), dan bagi mahasiswa akan diberikan sanksi akademik, sedangkan bagi pegawai (dosen & tendik) akan diberi sanksi kepegawaian sesuai yang berlaku.

Sementara itu, sanksi berat akan diberikan kepada mereka yang terbukti melanggar KBAR lebih dari 3 (tiga) kali.  Bagi mahasiswa, sanksi ini berupa sanksi akademik (pelanggaran berat) sesuai dengan peraturan akademik dan pedoman kemahasiswaan yang berlaku. Bagi pegawai, diberikan sanksi kepegawaian (pelanggaran berat) sesuai dengan peraturan kepegawaian yang berlaku.(Sari)

 

 

 

 

 

 

 

Berita Duka

انّا للہ و انّا الیہ راجعون

Telah berpulang ke Rahmatullah

H. M. Nu’man Sastradimadja

(Mantan Wakil Rektor Unisba)

Di RS Borromeus Bandung

Pada hari Rabu, 05 Desember 2018 pukul 09:00 WIB.

Civitas Akademika Unisba mendoakan, semoga almarhum

mendapat maghfirah dan tempat terbaik di sisi Allah SWT. 

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan. Aamiin.

 

KOMINPRO - Di era sekarang membuat sebuah kebijakan pro lingkungan sudah menjadi sebuah tuntutan. Tidak dapat dipungkiri, dampak pemanasan global terhadap kehidupan manusia semakin nyata dirasakan seperti perubahan iklim, kekeringan, kebakaran hutan, dan meningkatnya resiko penyakit. Di sisi lain, disadari atau tidak, banyak hal yang kita lakukan justru menjadi pencetus munculnya pemanasan global dan awal kerusakan lingkungan. Mulai dari mengolah makanan, menggunakan kendaraan dan alat transportasi, memakai peralatan listrik, hingga aktivitas pertanian, dan aktivitas lain yang menjadi penyumbang jejak karbon.

Melihat kurangnya kesadaran masyarakat terhadap fenomena tersebut, Pusat Penembangan Teknologi dan Lingkungan Hidup (P2TLH) menggelar Studium Generale bertema “Green and Halal Product” di Aula Fakultas Kedokteran, Sabtu (1/11). Dalam kegiatan tersebut dihadirkan tiga pembicara yakni Wakil Direktur LPPOM MUI Jawa Barat, Ir. Hj Ferika Aryanti MT., Kepala Sub Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup Kementerian Perindustrian RI, Dr. Andriati Cahyaningsih S.Si., M.Si, dan Owner “Semesta Batik” Ciwaringin Cirebon, Farhan Jazuli.

Wakil Direktur LPPOM MUI Jawa Barat mengatakan, banyak aktivitas manusia yang ditengarai menghasilkan jejak karbon dan memicu pemanasan global. Namun, dia berpendapat bahwa perubahan perilaku yang berkiblat pada gaya hidup hijau (green lifestyle) dipercaya mampu meminimalisir dampak buruknya terhadap lingkungan. 

“Mengingat lingkungan dalam kondisi yang semakin memprihatinkan, pilihlah produk yang mencantumkan label ecofriendly atau recycling symbol pada kemasannya. Karena produk dengan bahan non toxic tidak mengandung bahan yang dapat merusak lingkungan,” katanya.

Dalam kesempatan itu dia juga mengatakan, selain membuat olahan produk ramah lingkungan masyarakat tetap harus mengutamakan kehalalannya. Menurutnya, hampir semua produk halal diproses secara ramah lingkungan tapi tidak semua produk yang dikategorikan green itu halal.

“Bahan dasar kertas sangat mudah terurai dan ramah lingkungan. Tapi hati hati dalam papper Industry bisa saja sebuah perusahaan menggunakan bioteknologi enzimatis, ini berkaitan dengan titik kritis kehalalan,” jelasnya.

Sementara itu, Dr. Andriati Cahyaningsih S.Si., M.Si, mengatakan saat ini dunia industri dikelilingi oleh banyak pihak yang tidak bertanggung jawab terhadap kondisi lingkungan. Faktor pesaingan bisnis membuat para pengusaha tidak merasa takut dan berdosa jika hasil produksinya menghasilkan limbah yang bisa menjadi racun bagi lingkungan sekitar.

Dalam menyelesaikan persoalan tersebut, saat ini Kementerian Perindustrian gencar melakukan pembinaan untuk mengembangkan industri yang sudah ada menuju industri hijau. Dia mengatakan, diperlukan industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan. Menurutnya hal tersebut akan mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup sehingga dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

 “Terus terang indutri kita sedang terpuruk. Maka dengan ini kami berupaya memberikan penghargaan kepada perushaan-perusahaan yang sudah menerapkan konsep industri hijau,” ungkap Bu Andriati. Penghargaan ini, kata dia, dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran dan sosialisasi juga akan pentingnya industri hijau.

Lebih lanjut dia menambahkan, ada tujuh karakteristik yang menjadi standar indusri hijau yakni (1) Meminimalisir Limbah, (2) Menggunakan bahan baku alternative, (3) Konsumsi Material yang Efesien, (4) Intensitas Energi Rendah, (5) Intensitas Air Rendah, (6) Sumber Daya Manusia yang Kompeten, dan (7) Teknologi Karbon yang Rendah.

Dalam kesempatan tersebut, peserta yang hadir juga mendapatkan pengetahuan baru mengenai tata cara pembuatan batik menggunakan pewarna alami. Owner “Semesta Batik” Ciwaringin Cirebon, Farhan Jazuli tak segan membagikan rahasianya dalam menghasilkan produk batik yang berkonsep green dan halal dengan menggunakan pewarna yang berasal dari akar, kulit kayu, bunga, dan kulit buah. (Feari/Sari)

 

 

KOMINPRO - Memiliki keahlian public speaking yang baik, merupakan sebuah keharusan bagi para pekerja di era ini. Karena apapun cita-cita dan profesi seseorang tidak akan terlepas dari kegiatan public speaking baik itu memberikan informasi, mempengaruhi atau menghibur.

Demikian diungkapkan Reporter Fokus Indosiar Wanda Utari, saat berbagi pengalaman dalam acara “Sharing Session SCTV Goes To Campus 2018 (SGTC)”, di Student Center Unisba, Senin (3/12). Wanita yang pernah mengikuti ajang Abang None Jakarta tahun 2012 ini membagikan beberapa tips kepada peserta yang hadir tentang hal apa saja yang harus dilakukan oleh public speakers.

“Penampilan bukan hal pertama tetapi tidak bisa di nomor duakan  oleh seorang public speakers saat berbicara di depan umum,” kata Wanda. Jadi, kata dia, mau tidak mau harus diperhatikan karena penampilan adalah first Impression. Ketika orang lain merasa nyaman melihat kita maka proses komunkasi akan lebih mudah dilakukan.

Dalam membangun presentasi yang efektif, public speakres harus percaya diri dalam menyampaikan materi. Untuk mengatasi rasa nervous yang biasa mucul saat menyampaikan materi, kata Wanda, seseorang bisa mensiasatinya dengan menggunakan pointer.

Wanda menilai, Nervous adalah sesuatu yang wajar. “Bahkan ada orang bilang kalo kita sudah tidak merasakan perasaan gugup berarti sombong. Membuat pointer dalam bentuk notes bisa jadi solusi, tu bukan sesuatu hal yang memalukan,” jelasnya. Jika langkah-langkah tersebut belum membantu, kata dia,  kita harus banyak berlatih agar terbiasa dan menjadi ahli dalam bidang public speaking.

Sementara itu, presenter Liputan 6 SCTV, David Rizal menyampaikan suka dukanya saat dia menjadi seorang reporter. Dia becerita kepada peserta yang hadir bahwa perjuangannya untuk dapat menduduki posisi news anchor tidak dilaluinya dengan mudah. Bahkan, tak jarang dia diutus untuk melakukan peliputan seorang diri baik untuk membuat berita maupun mengambil gambar.

“Zaman sekarang kalo kalian mau jadi reporter tidak bisa mengambil gambar susah. Saya penah seorang diri meliput bencana Topan Haiyan di Filipina dan Gempa di Nepal seorang diri sebagai video journalist dan reporter sekaligus. Belum lagi kita harus pandai berbahasa Inggris untuk melakukan interview dengan orang asing” ujarnya.

Namun, diakuinya, pengalamannya selama bertugas sebagai reporter liputan 6 SCTV memberikan banyak kesan mendalam yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kesetiannya terhadap bidang jurnalistik selama kurang lebih tujuh tahun, berhasil mengantarkannya keliling Indonesia bahkan mancanegara. “Sebutkan kota besar di Indonesia, kayanya hampir semua sudah saya jelajahi. Kalo luar negeri mungkin gak banyak seperti di Indonesia, tapi itu saja sudah Alhamdulillah hitung-hitung jalan-jalan gratis,” ucapnya. (Feari/Sari)

 

Pimpinan BRIS Cabang Kantor Citarum, Putut Sudjatmoko (kiri) menyerahkan beasiswa secara simbolis kepada Izus Salam (kanan), mahasiswa Fakultas Dakwah dan disaksikan oleh Rektor Unisba. Prof. Dr. H. Edi. Setiadi, SH., MH., di Ruang Rektorat, Jalan Tamansari No.20 , Bandung, Rabu (28/11).

KOMINPRO- Dalam rangka memberikan kontribusi terhadap dunia pendidikan di Indonesia, Bank Rakyat Indonesia (BRI) Syariah memberikan beasiswa kepada sepuluh mahasiswa Unisba yang terpilih mewakili setiap Fakultas. Beasiswa yang diberikan sebesar Rp. 500.000,00 per bulan (per orang) selama satu tahun. Penyerahan beasiswa secara simbolis diberikan oleh Pimpinan Cabang Kantor Citarum, Putut Sudjatmoko kepada Izus Salam, mahasiswa Fakultas Dakwah di Ruang Rektorat, Jalan Tamansari No.20 , Bandung, Rabu (28/11).

Pak Putut mengatakan, Unisba menjadi titik balik bagi  BRI Syariah untuk bergerak di dunia pendidikan. “Alhamdulilah dengan Unisba, kami sudah masuk kerja sama periode kedua artinya lebih dari lima tahun.  Unisba merupakan salah satu tonggak sejarah bagi perjalanan BRI Syariah karena pernah menjadi contoh Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) saat menjalin kerja sama dengan kami,” katanya.

Dia berharap beasiswa yang diberikan dapat menjadi pemicu bagi mahasiswa untuk lebih produktif dan memanfaatkanya bagi dunia pendidikan. Pada kesempatan itu, dia juga berpesan, sebagai generasi milenial yang akan menjadi penentu masa depan bangsa, para penerima beasiswa bisa menjadi pionir bagi rekan sejawatnya untuk memanfaatkan teknologi sebaik-baiknya.

“Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang perbankan, kami terus berusaha untuk memperbaiki diri baik itu dari segi sistem maupun pelayanan.  Hal kecil yang bisa teman-teman lakukan yaitu mengedukasi mahasiswa lain terkait masalah pembayaran kuliah menggunakan transaksi online,” jelasnya. Selain memudahkan mahasiswa kata dia, transaksi online juga tidak memakan waktu sehingga mahasiswa bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk kegiatan lain yang bermanfaat.

Sementara itu,  Rektor Unisba. Prof. Dr. H. Edi. Setiadi, SH., MH., mengucapkan terima kasih kepada BRI Syariah atas perhatiannya terhadap dunia pendidikan. Dia berharap kerja sama yang terjalin selama ini bisa memberikan kemanfaatan bagi dua belah pihak.

“Sebagai salah satu bakti kami terhadap program negara yaitu mencerdaskan anak bangsa, kami memiliki kewajiban untuk menjalankan roda pendidikan dengan baik. Dengan ini BRIS sebagai korporasi juga turut berkontribusi mendukung program ini. Semoga kedepannya kerja sama ini bisa diperluas dalam bentuk lain seperti kegiatan PKM atau penelitian mahasiswa maupun dosen,” ujarnya.

Rektor berpesan kepada penerima beasiswa untuk dapat memegang amanah dan tidak mempergunakan dana bantuan untuk kepentingan pribadi. Dia berharap, beasiswa yang diberikan dapat memotivasi mereka untuk lebih bertanggung jawab dan semangat dalam menorehkan prestasi di lingkungan akademik. (Feari/Sari)

KOMINPRO-Penandatangan MoU antara Universitas Islam Bandung (Unisba) dengan International Women University (IWU) di Gedung Rektorat Unisba, Rabu (28/11). Penandatangan dilakukan oleh Rektor Unisba, Prof. Dr. H. Edi Setiadi, S.H., M.H. dan Rektor UWI, Dr. Hj. Dewi Indriani Jusup, S.E., M.Si. Kerjasama yang dijalin di bidang Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi bidang pendidikan, pengembangan kelembagaan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.***

 

Agenda

No events