May 25, 2017 Last Updated 9:39 PM, May 25, 2017

Meluruskan Kekeliruan Terhadap Makna Kemuliaan Wanita

Published in Hikmah
Read 2740 times
Rate this item
(1 Vote)

Dr. Nan Rahminawati, Dra., M.Pd. (Ketua Badan Penjaminan Mutu (BPM) Unisba - Dosen Fakultas Tarbiyah) - Wanita, menjadi bahan perbincangan yang  menarik untuk digali lebih jauh. Telah menjadi anggapan yang demikian lama dan disepakati oleh sebagian besar manusia di dunia, andaikata memperbincangkan tentang wanita adalah identik dengan membicarakan sejumlah kekurangan dan kelemahan. Wanita telah sedemikian rupa dinilai dan diperlakukan, hanya sebagai obyek dari sejumlah pelampiasan dan alat untuk memenuhi segenap hasrat, yang secara umum kesemuanya itu dilakukan oleh kaum lelaki. Sebenarnya hal ini tidak akan terjadi, andaikata ummat manusia mampu membaca Al-Quran secara benar. Kemudian, secara bersungguh-sungguh mengamalkan pula Al-Quran di dalam kehidupan dunia ini. Untuk dapat menjadi wanita yang terbebaskan dari poin-poin yang salah, Al-Quran mengajarkan kepada manusia melalui empat kerangka: Pertama, kemampuan spiritualistik yang mendudukkan manusia ke dalam pola pengabdian; di sini yang dilihat adalah tingkat penghambaan yang dapat dilakukan berdasarkan kepada kondisi yang dimiliki. Kedua, kedudukan dan peranan sosial yang dapat dilakukan; terkait kemampuan dalam mewujudkan atau mengupayakan struktur dan tantangan yang bersifat kemasyarakatan. Ketiga, kreativitas dan aktivitas dalam dimensi berkarakter khas;  dimaksudkan sebagai cara untuk menunjukkan adanya kesamaan tujuan. Keempat, perbedaan yang terjadi adalah hanya sebuah cara untuk memberikan suatu kesempatan yang seluas-luasnya; sebab pada hakekatnya, di dunia ini tidak ada yang memiliki kesamaan mutlak,  yang ada hanyalah kemiripan belaka. Dari keempat hal ini, paling tidak, diharapkan seluruh ummat manusia tidak memberikan pemahaman dan penilaian yang salah terhadap Islam: yakni dengan memposisikan kaum wanita sebagai mahluk lemah dan berada pada posisi kelas dua. Bahkan sebaliknya, Islam telah memuliakan para wanita.

KEMULIAAN WANITA DALAM ISLAM

Muslimah memiliki karakter yang dibentuk dari paling tidak oleh dua kemuliaan berikut: (1) Aspek jasmaniah dan (2) nilai keagamaan yang dianut. Kedua hal ini yang kemudian menjadikan muslimah  sangat berbeda dengan wanita-wanita non muslim. Melalui aspek jasmaniah, melahirkan suatu penampilan fisik yang mencerminkan nilai syariah; mulai dari penetapan jilbab sebagai cara berbusana, tidak bertabaruj dalam pergaulan, tidak berkomunikasi bebas dengan seorang lelaki kecuali apabila telah menjadi suaminya, hingga ke tata cara yang lebih prinsipil dan monumental, misalnya cara berumahtangga, mendidik anak, dan bermasyarakat. Sedangkan pada segi nilai keagamaan, dicirikan pada tatacara beribadah kepada Allah SWT, tingkat ketaqwaan yang dapat diraih, hingga menjadi tauladan bagi manusia-manusia lain di dalam kehidupan di dunia.
Berdasarkan karakter yang dimiliki para muslimah, maka diperoleh sejumlah kemuliaan sebagai berikut.

1. Selaku Perhiasan Dunia

Kehadiran wanita mempunyai peran dan pengaruh tersendiri di dalam kehidupan dunia. Akibat dari struktur jasmaniah, pola perilaku yang dimiliki dan kemampuan memperoleh segala sesuatu, mereka hadir memberi suasana tersendiri dan memiliki kelebihan tersendiri. Karenanya kemudian Islam memberikan posisi kepada muslimah, bahwa dirinya adalah perhiasan dunia (mataun dunya). Terkait  dengan wanita sebagai perhiasaan dunia, hendaknya memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut :

a. Sebuah tantangan dalam kehidupan

Melalui posisi wanita sebagai perhiasan dunia, maka timbullah konsekuensi logis bahwa hal tersebut merupakan sebuah tantangan dalam kehidupan. Betapa tidak, selaku perhiasan dunia, muslimah dituntut untuk membuktikan sekaligus untuk mempertahankannya. Sehingga,  kehidupan dunia sejalan dengan kehendak Allah SWT, dan sesuai dengan karakteristik suci yang dimiliki pribadi-pribadi taat kepada-Nya semata. Muslimah diminta untuk benar-benar mewujudkan, bagaimana bentuk dan penjabaran dari kehidupan yang harus dijalani. Baik yang bersifat langsung ataupun tidak langsung, dalam pelbagai aspek kehidupan. Kadang-kadang hal tersebut, membuat mereka merasa sangat berat dan ingin meninggalkannya. Padahal untuk dapat melaksanakan hal tersebut, Allah SWT telah menyediakan beragam fasilitas dan cara, agar dapat dengan mudah dan bermanfaat dalam mencapainya.

b. Posisi di persimpangan jalan

Tidaklah ringan memikul suatu kehormatan. Apalagi dikaitkan dengan dimensi keagamaan, ketuhanan, dan kemuliaan hidup. Demikianlah yang dialami oleh muslimah dalam kedudukannya selaku perhiasan dunia. Sementara di sisi lain, selain adanya pengaruh eksternal yang demikian deras menggoda, ternyata dorongan-dorongan yang bersifat internal sering muncul. Akibatnya, muslimah sering berada di persimpangan jalan. Belum lagi jumlah wanita yang tidak ingin diberikan penghormatan selaku perhiasan dunia, sangatlah banyak dan terlihat enak kehidupannya dari pada muslimah yang senantiasa berupaya untuk mewujudkannya sebutan perhiasan dunia.
Dalam hal ini, paling tidak ada beberapa aspek yang dapat dijadikan penyebab. Pertama, antara wanita dengan keindahan kehidupan dunia tidak dapat dipisahkan;  sementara kehidupan dunia adalah permainan, kesenangan yang memperdayakan, dan senda gurau belaka. Kedua, manusia mudah dipengaruhi oleh posisi mayoritas, sehingga dalam kehidupan nyata yang tengah dialami, ukuran jumlah akan membuatnya berpaling dari hakikat dan tergeser ke dalam hal-hal yang bersifat sementara dan menyesatkan.

c.  Ketaqwaan sebagai indikasi

Taqwa adalah sebuah nilai puncak bagi suatu tujuan, ukuran, dan kerangka kehidupan manusia di dalam Islam. Dengan demikian maka akan membuat sangat sedikit orang yang dapat mencapainya. Inilah pula yang dijadikan indikasi, bagi setiap muslimah di dalam kedudukannya selaku perhiasan dunia.
Ketaqwaan ini merupakan sekumpulan sikap dan perilaku yang terbentuk secara holistik, juga didasarkan kepada nilai dan tingkat keimanan dengan secara bersinambung diuji berulang kali, bahkan dapat dijadikan sebagai tolok ukur mengenai kualitas kehidupan yang diraihnya. Maka melalui definisi taqwa, yaitu menjalankan semua perintah-Nya, akan tampak jelas di dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Karenanya, setiap muslimah akan mudah dilacak dan diamati, sejauh mana ia telah berfungsi selaku perhiasan dunia

2. Kesempatan melakukan amal bagi kehidupan

Sangat banyak dan sulit untuk dapat disebutkan secara persis, berapa dan bagaimana sumbangan yang dapat diberikan oleh muslimah bagi kehidupan. Tidaklah belebihan andaikata harus disebutkan, bahwa tidak ada artinya kehidupan ini tanpa kehadiran para muslimah. Secara umum bentuk-bentuk sumbangan yang dapat diberikan oleh kaum muslimah, terbagi menjadi paling tidak 4 (empat) klasifikasi, yaitu:

a. Pendamping seorang suami

Haruslah dapat dibedakan antara suami dengan lelaki. Lelaki masih bersifat umum dan dibatasi oleh sejumkah ketentuan antara halal-haram. Sedangkan suami adalah sosok manusia yang telah memiliki kemampuan melaksanakan amanah dari Allah SWT untuk dapat menjadi figur yang dapat mengokohkan eksistensi kelembagaan rumah tangga. Dikarenakan posisi semacam itu, suami akan berhadapan dengan sejumlah tanggung jawab dan konsekuensi. Betapa besar dan berat resiko yang akan dihadapinya kelak. Untuk itu tidak pelak lagi, muslim membutuhkan bantuan yang paling tidak dapat menyelami lautan permasalahan yang didihadapinya. Sosok yang dapat berbuat seperti itu, hanya akan dapat ditemukan pada figur seorang muslimah yang menjadi istrinya. Ialah yang begitu sangat dekat dan hampir senantiasa bersama-sama. Belum lagi ia adalah pribadi yang dapat mengetahui tentang hal ihwal suaminya.
Dengan demikian, keberadaan muslimah dan perhatian yang diberikan kepada suaminya, merupakan sejumlah sumbangan yang secara minimal membuat suami merasa tidak sendirian mengahadapi sejumlah tanggung jawab dan konsekuensi sebagai kepala keluarga. Belum lagi andaikata muslimah sebagai istrinya, turut mengambil alih sebagian dari apa yang diterima suaminya sebagai tugas kehidupan. Sehingga sangat wajar andaikata kemudian sering disebutkan, bahwa muslimah sebagai seorang istri adalah sosok yang berdiri di belakang layar terkait kemampuan dan keberhasilan suami, dalam menanggulangi segenap tugas yang dipikul pada pundaknya.
Lebih jauh, sumbangan-sumbangan yang dapat diberikan muslimah kepada suaminya adalah sebagai berikut : Pertama, membantu mewujudkan keutuhan diri selaku seorang lelaki dan kepala keluarga. Kedua, menemukan pemuasan terhadap pelbagai hasrat dan kebutuhan, yang harus dipenuhi sebagai manusia karena berjenis kelamin lelaki. Ketiga, memperoleh jaminan tentang kelangsungan hidup dan masa depan melalui keturunan yang lahir. Keempat, menunjang dalam menduduki posisi-posisi tertentu di masysrakat dan atau pemerintahan.

b. Perawat anak-anak

Tidak dapat disangkal lagi oleh siapa pun, andaikata dari pernikahan dan kehidupan berumahtangga, lahir anak-anak sebagai keturunan yang syah dan suci. Maka sosok yang yang paling awal merasakan, merawat, membesarkan, mendidik, dan berkorban adalah ibu atau istri dari ayah kandung bagi anak-anak tersebut.
Kehadiran anak-anak dan keberadaan mereka di antara sepasang suami-istri dan rumahtangganya, demikian berarti dan tak ternilai harganya. Mereka bagaikan intan atau mutiara, yang senantiasa disimpan secara ektra hati-hati dan senantiasa dilindungi, diawasi, dirawat dan menjadi kebanggaan yang tiada habis-habisnya. Tentunya menumbuhkan sejumlah konsekuensi dan tanggung jawab. Untuk itu, anak-anak harus memperoleh perhatian dan kasih sayang, supaya mereka terus tumbuh secara baik sejalan dengan harapan orang tuanya, sesuai dengan kedudukan dan peranan yang diterima dalam keluarganya.
Dalam melaksanakan berbagai tugas dalam merawat anak-anak, muslimah kembali tampil secara utuh. Betapa besar andil yang diberikan dalam perawatan anak, yang sebagian di antaranya adalah: Pertama, mengandung dengan masa yang panjang, beban yang kian memberat, pelbagai kesulitan yang ditemui, dan berada pada saat-saat kritis dalam kehidupan. Kedua, menyusui, merawat, mengasuh, mendidik pada waktu yang sangat lama. Ketiga, melepaskan anak-anak untuk bersama-sama suami atau istrinya.

c. Penghangat rumah tangga

Sebuah keluarga inti terdiri atas seorang suami, istri, dan anak. Dalam hidup berumah tangga, tentu terdapat sejumlah tugas yang harus dilaksanakan oleh anggota yang hidup dalam keluarga tersebut. Untuk itu, muslimah selaku seorang istri dituntut untuk banyak berada di dalam rumah, dikarenakan beberapa pertimbangan: Pertama, kehidupan rumah tangga yang eksistensinya sangat tampak dalam rumah tinggal, paling tidak membuat ada seseorang yang banyak berada di dalamnya, sebagai petunjuk yang menggambarkan keberadaan rumah tangga tersebut. Kedua, buah berumah tangga yang antara lain menuntut fasilitas perawatan yaitu satu dan atau lebih seorang anak, mesti didampingi sosok pribadi yang paling dekat dengan mereka yaitu ibu kandungnya. Ketiga, wakil keluarga yang paling cocok dan pantas bagi aktivitas interaksi, dalam kondisi tanpa ikatan yang ketat, sehingga dapat mendukung suasana kekeluargaan yang semarak, karena dilakukannya di rumah tinggal sebagai tempat yang representatif.
Melihat posisi-posisi sebagaimana telah disebutkan di awal, demikian besar sumbangan yang kelak diberikan oleh muslimah selaku seorang istri, andaikata ia lebih banyak waktu dan perhatian kerumahtanggaan dalam pengertian fisik ialah rumah tinggal. Sehingga suasana keluarga akan senantiasa hidup, dinamis, dan hangat. Jadi,  akan sangat janggal, jika kehidupan rumahtangga atau keluarga yang tidak memiliki istri dengan mempunyai banyak perhatian terhadap urusan-urusan yang tumbuh di dalamnya.

d. Pengokoh ummat

Apabila seorang muslimah atau muslim telah melakukan pernikahan dan berumah tangga, maka ia sebenarnya bukan saja memenuhi kebutuhan normal yang dimiliki. Juga telah melaksanakan hal-hal yang secara tidak langsung mengokohkan eksistensi ummat. Sebab, ia telah mampu menghindari sebagian ekses dari kehidupan tanpa menikah dan berumah tangga. Akibat dari seorang muslim terutama muslimah, yang menjadi pilar rumah tangga, ia telah mempersempit peluang tumbuhnya kemaksiatan dan pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah SWT. Apabila terjadi perzinaan misalnya, maka sendi-sendi kemasyarakatan akan luruh dan bangunan ummat Islam akan menjadi porak poranda.
Apabila muslimah telah mengikhlaskan diri menjadi seorang istri, dan kemudian menjadi ibu dari anak-anak kandungnya. Sebenarnya ia telah menciptakan struktur dan konstruksi ummat Islam yang kian kokoh, dengan paling tidak menambatkan pengikat dengan tali yang sangat kuat dan suci serta menggandakan jumlah unsur individu dalam ruang cakupan ummat Islam.

KISAH  WANITA DALAM AL-QURAN

Muslimah memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan para wanita non muslim. Pemuliaan terhadap muslimah oleh Islam, tidak terbatas pada konsep-konsep didasarkan kepada fungsi dan peranan, melalui pelbagai aktivitas dan konsekuensi yang diterima, tetapi lebih jauh lagi yaitu melalui medium yang lebih sakral ialah kitab suci al-Quran, sebagai kumpulan wahyu Allah SWT.
 Hal ini menunjukkan bahwa secara langsung Allah SWT memberikan sikap memuliaan ini kepada muslimah, dengan menyatukan dimensi kekuasaan dan kesucian. Suatu hal yang sangat luar biasa dan tidak ada tolok ukur sebagai bandingannya. Tidak mungkin ditemukan pada konsep kehidupan atau ajaran keagamaan tertentu, selain hanya pada agama Islam sebagai agama satu-satunya di sisi Allah SWT dan yang diridlai-Nya. Hal ini diharapkan dapat menjadi pemicu kesadaran dan perangsang peningkatan aktivitas, yang ditujukan sebagai ungkapan rasa terimakasih dan pemeliharaan diri seorang muslimah. Baik bagi kepentingan dirinya sendiri, suami, keluarga inti, keluarga besar, masyarakat, bangsa, negara dan agamanya.
Paling tidak ada tiga cara kitab suci mengungkapkan perihal muslimah, dengan memanfaatkannya dalam istilah untuk sebutan surat, judul dari surat dan penyebutan nama dari muslimah. Pertama, penggunaan sebutan ibu atau ummu (meneguhkan status bagi muslimah), bagi surat yang merupakan inti dari kitab suci yaitu surat al-Fatihah: disebutkan sebagai Ummul Kitab. Mengisyaratkan bahwa muslimah sebagai ibu akan merupakan inti atau pokok atau sumber dalam pelbagai posisi. Kedua, sebutan sebagai status dari jenis kelamin wanita, yaitu an-Nisaa dalam sebuah judul surat yang berisikan perihal kehidupan pernikahan, keluarga, masyarakat dan negara. Merupakan suatu isyarat, bahwa selaku makhluk Allah SWT yang berjenis kelamin, muslimah memegang peranan penting dalam kehidupan pernikahan hingga ke masalah kenegaraan. Ketiga, memakai nama seorang muslimah, yakni Maryam, baik untuk sebuah judul surat maupun sosok pribadi teladan. Menggambarkan bahwa selain tuntutan Islam kepada muslimah adalah benar, juga telah menunjukkan bukti sebagai katalisator dan perbandingan. Keempat, diterapkan perihal muslimah dalam suatu kondisi, ialah Mumthahanah, artinya adalah wanita-wanita yang diuji, dalam sebuah surat pada al-Quran. Menunjukkan kepada kehidupan, bahwa selaku muslimah ternyata mengundang resiko, tetapi mereka mampu menghadapinya secara baik dan kemudian tampil sebagai sosok-sosok pribadi yang cocok dengan sebutan bagi dirinya.
 Al-Quran sebagai kitab suci dan petunjuk bagi ummat manusia, tentunya menjadi tolok ukur bagi segenap aspek yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Satu di antara sejumlah cakupan pembahasan di dalam al-Quran, yaitu aspek sejarah yang melingkupi masa lalu, masa kini dan masa depan. Memberikan perhatian khusus kepada muslimah.  Sejarah sebagai bagian dari kandungan al-Quran, antara lain berisikan beragam kisah perjalanan kehidupan ummat manusia. Beberapa di antaranya adalah kisah-kisah tentang muslimah, dengan karakter yang berlainan antara satu muslimah terhadap lainnya. Hidup berdasarkan zaman, tempat dan tokoh manusia yang berperan sangat besar pada saat itu.
 Al-Quran mencantumkan kisah tentang muslimah dalam beberapa sosok figur. Pertama, penampilan sosok muslimah yang senantiasa memelihara diri, tetapi melalui karunia Allah SWT ia kemudian hamil dan melahirkan seorang putera. Muslimah itu bernama Maryam dan anaknya bernama Isa  A.S. yang menjadi cerminan perihal perjuangan muslimah, yang senantiasa menghambakan diri kepada-Nya. Kedua, kisah seorang ibu, sebagai muslimah yang dekat kepada Allah SWT dengan senantiasa dibimbing oleh-Nya. Sehingga anaknya selamat dari upaya pembunuhan, hingga kemudian mampu menghancurkan kesombongan seorang raja besar dan kuat, yaitu Firaun penguasa Mesir saat itu. Muslimah yang dimaksudkan adalah ibu Nabi Musa A.S., yang senantiasa diberi tuntutan dari Allah SWT. Ketiga, perihal perubahan keyakinan pada saat-saat memiliki kekuasaan dan kejayaan yang tinggi, tetapi kemudian menjadi tunduk, patuh, dan taat kepada Allah SWT. Penggambaran sosok muslimah yang sangat menyadari, tentang kebenaran hakiki yang datangnya dari Allah SWT. Muslimah itu adalah Ratu Bilqis, yang kemudian menjadi istri dari Nabi Sulaiman A.S. Keempat, perbandingan tentang sejumlah karakter dari seorang istri, yang dikaitkan dengan ketaatan kepada Allah SWT dan suami. Menampilkan sosok muslimah istri dari Firaun, sebagai gambaran tentang sikap dan perilaku seorang istri sholehah, bersuamikan yang bukan saja ingkar kepada Allah SWT, tetapi juga menyatakan dirinya adalah seorang tuhan. Dengan istri-istri nabi Luth A.S. dan nabi Nuh A.S., yang merupakan pencerminan sikap dari istri-istri yang tidak sejalan dengan suami-suami yang begitu berserah diri dan patuh kepada Allah SWT.

MELURUSKAN PELBAGAI KEKELIRUAN

Sebenarnya segala apa yang telah menjadi ketetapan di dalam agama Islam, melalui wahyu-wahyu dari Allah SWT dan Sunnatur Rasulullah, bukanlah sebagai permasalahan melainkan berupa sejumlah karunia. Islam adalah salah satu agama yang dianut, bukan saja bersadarkan perjanjian sebelum dilahirkan, tetapi juga dengan mempertimbangkan hasil olah nalar, olah jiwa, dan keteladanan pemeluk-pemeluknya, sehingga tidak pantas setiap ketentuan di dalam Islam, dianggap sebagai permasalahan atau sesuatu yang akan menjadi beban penderitaan.
Andaikata ada yang menganggap beberapa ketentuan dari Allah

Last modified on Jumat, 30 Januari 2015 02:17