Nov 24, 2017 Last Updated 9:43 AM, Nov 22, 2017

BEDAKAN JIHAD DAN TERORISME

Published in Hikmah
Read 3192 times
Rate this item
(2 votes)

WAKIL SEKJEN MUI, Bandung- Indonesia dinilai memiliki daya tarik tersendiri bagi Islam State of Iraq and Syria (ISIS) karena penduduknya mayoritas beragama Islam.

Bahkan, dengan besarnya jumlah umat muslim di Indonesia, Indonesia pun berpotensi menjadi target pengembangan organisasi radikal ini. Menurut Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Amirsyah, ISIS merupakan gerakan keagamaan yang juga aktif dalam gerakan sosial.

Namun sayang, gerakan ini menyalahgunakan agama Islam. “Maraknya isu bahwa jihad sama dengan terorisme, padahal itu salah. Kita sebagai umat Islam harus bisa membedakan kedua hal itu,” ujarnya dalam acara Radikalisme Dalam Perspektif Islam, di Kampus Universitas Islam Bandung (Unisba), Jalan Tamansari, Kota Bandung, 20 Mei 2015.

Tidah hanya itu, Islam juga dikesankan sebagai sebuah ajaran yang keras. Padahal, Islam sebenarnya mengajarkan hal-hal penuh dengan kelembutan. Dia menegaskan, ajaran Islam bukan ajaran yang fundamental dan radikal.

Diakuinya, ada beberapa paham barat yang memang bertentangan dengan Islam. Hal itulah yang dijadikan ISIS sebagai daya tarik dalam pengembangan organisasi tersebut. Menurutnya, perang dua peradaban antara Islam dan barat dijadikan ISIS sebagai peluang untuk merekrut umat Islam menjadi bagian dari ISIS. “Apalagi, dalam sebuah buku The Clash of Civilization disebutkan bahwa abad 20 ini adalah perang antara dunia barat dan Islam,” bebernya.

Akan tetapi, secara struktur, ISIS memang belum terbentuk di Indonesia. Keberadaannya lebih pada semangat dan wacana berperang melawan barat. Hal inilah yang menjadi kekuatan dan pendorong dalam mengembangkan perlawanan terhadap ideologi barat.

Deputi II Bidang Koordinasi Pollugri Kemenko Polhukan A Agus Sriyono mengatakan, radikalisme dan terorisme di suatu negara pasti selalu ada. Meskipun, di Indonesia, masalah radikalisme dan terorisme sifatnya masih bisa dikendalikan (manageable). “Selama ini, dilihat dari kasus yang ada, mahasiswa dan generasi muda rentan menjadi sasaran empuk para penyebar radikalisme dan terorisme. Sebab, jiwa generasi muda masih jiwa petualang”, terangnya.

Menurutnya, peran lembaga pendidikan terutama perguruan tinggi sangat penting dalam membasmi paham radikalisme dan terorisme. Meskipun menurutnya tidak perlu adanya kurikulum khusus mengenai hal tersebut, namun pemahaman yang utuh tentang suatu ajaran perlu dibahas secara mendalam.

Berdasarkan kajiannya, tambah Agus, munculnya paham radikalisme dan terorisme memang sengaja dirancang dan diciptakan agar pengikutnya memiliki pemahaman yang sama dengan kelompok radikal. (Sumber : Koran Sindo, 21 Mei 2015 oleh Anne Rufaidah)