Jan 20, 2019 Last Updated 6:11 AM, Jan 18, 2019
 
 
 
Berita

Berita (560)

 

Dekan Fakultas Psikologi Unisba, Dr. Dewi Sartika, Dra., M.Si (ketiga dari kiri) didampingi dosen Fakultas Psikologi,Stephani Raihana H., S.PSI, M. PSI (paling kanan) memberikan penghargaan kepada mahasiswa berprestasi dalam prosesi Milad Fikom Unisba ke-45, di Aula Unisba, Kamis (2/08).

KOMINPRO-Dalam rentang usianya yang ke-45 tahun, Fakultas Psikologi Unisba telah tumbuh menjadi fakultas yang matang dan menorehkan banyak pretasi. Namun, siapa sangka di balik itu semua terdapat perjuangan berat yang dilalui oleh para pendiri Fakultas Psikologi Unisba dan belum diketahui secara pasti kebenarannya oleh sebagian orang, khususnya masyarakat Unisba.

Hal tersebut disampaikan Rektor Unisba, Prof. Dr. H. Edi Setiadi. SH., MH saat memberikan sambutan dalam peringatan Milad Psikologi Unisba ke-45 di Aula Utama Unisba, Kamis (2/08). Selain diisi Orasi Ilmiah, acara ini juga menjadi ajang pemberian penghargaan kepada mahasiswa berprestasi baik dalam bidang akademik maupun olahraga.

“Berbicara mengenai visi dan misi Unisba, saya rasa semakin ke sini orang-orang semakin lupa. Maka untuk menjaga  agar sejarah tidak terputus, perlu adanya upaya yang dilakukan, misalnya dengan membuat buku khusus yang membahas tentang sejarah Fakultas,” ujarnya. Acara ini, lanjut Rektor, dapat menjadi momentum yang tepat bagi para dosen untuk membuat sebuah buku mengenai sejarah Fakultas Psikologi Unisba.

Dalam dokumen resmi Unisba,  Fakultas Psikologi resmi berdiri pada tahun 1972. Namun, mengingat sarana dan prasarana pada saat itu belum memadai, mahasiswa Psikologi Unisba di sebar ke berbagai Fakultas Unisba maupun Universitas lain. Pada tanggal 1 April 1973 Fakultas Psikologi Unsiba akhirnya resmi ditetapkan melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada saat untuk program sarjana muda. Dikisahkan Rektor, untuk izin mendirikan Fakultas kala itu harus setengah-setengah (D3) dan tidak bisa langsung (S1). Tahun 1973 Fakultas Psikologi menerima mahasiswa pertama dengan jumlah 15 orang. Kemudian, dari 15 ini mengikuti ujian sarjana muda negara dan yang lulus sebanyak 10 orang.

Salah satu upaya dalam memelihara, menjaga dan merawat Fakultas, kata Rektor, adalah dengan cara tidak melupakan sejarah. Moment ini juga bisa dimanfaatkan semua fakultas agar tidak kehilangan arah perjuangan Unisba secara keseluruhan dan arah perjuangan fakultas masing-masing.

“Harus kita akui, semakin ke sini pewarisan nilai-niali sejarah semakin kabur. Saya menerima informasi 90% karena waktu itu masih ada pendiri Unisba. Ke depan, mungkin informasi yang diterima generasi selanjutnya akan semakin berkurang jika tidak ada dokumen pasti,” katanya. Dia menambahkan, untuk membuat sejarah dosen bisa memulai dengan melacak dengan mewawancara senior, alumni, orang tua, atau sesepuh Unisba.

Sementara itu, Sekretaris Badan Yayasan, Dr. H. Irfan Safrudin, M. Ag. mengatakan salah satu tantangan yang harus dihadapi Fakultas Psikologi Unisba yakni bukan hanya memaparkan teori tetapi juga membangun teori berlandaskan Islam. Menurutnya, untuk menjawab tantangan tersebut Dosen Psikologi Unisba harus memiliki kualifikasi tinggi dan minimal bergelar doktor.

“Saya rasa dosen bergelar doktor itu hukumnya fardhu ain, terutama dosen Psikologi.  Hal ini sangat berpengaruh dengan bagaimana cara dosen bisa lebih memimpin, dan melakukan dialog,  karena dalam konteks penelitian atau kritik yang berkaitan terhadap ontologi, aksiologi dan epistimologi berada dalam nilai strata yang tinggi,” jelasnya.

Ketua Milad sekaligus dosen Psikologi Unisba, Muhammad Ilmi H.,  Drs. M.Psi, mengatakan, rangkaian kegiatan Milad tahun ini mengusung tema  “Save Our Family For Better Indonesia”. Pada peringatan Milad tahun ini, diselenggarakan beberapa rangkaian kegiatan, yaitu We care (Konseling Gratis bersama Dosen dan alumni Psikologi Unisba), pembagian sembako kepada Tata Laksana dan Panti Jompo, Talkshow Ayah Hebat yang diikuti para ayah yang ada di lingkungan Unisba, Seminar bertajuk Menjadi Orang Tua Hebat Bagi Generasi Alfa, Kompetisi Ilmiah antar mahasiswa, Temu Kangen bersama 600 Alumni Psikologi Unisba, dan Orasi Ilmiah “Psikologi Islam Sebagai Suatu Pendekatan untuk Memahami Tingkah Laku Manusia”.

Dia juga bersyukur karena rangkaian kegiatan milad ini dapat berjalan dengan lancar dan mengundang antusias peserta dari berbagai kalangan. ”Alhamdulillah untuk kegiatan We Care sendiri, kita berhasil menangani 100 orang dalam sebulan yang ditangani oleh 80 konselor. Mungkin ini juga bisa menjadi pertimbangan bagi Universitas untuk membangun lembaga konseling bagi mahasiswa,” tuturnya. Feari/Sari

 

 

 

KOMINPRO – Kebijakan Kemenristekdikti untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam jurnal atau prosiding internasional yang terindeks scopus, thomson, web of science, dll, direspon oleh Unisba dengan  menggelar simposium internasional 1st Science and Technology Research Symposium (SiRes) dan 1st Social and Humaniora Research Symposium (SoRes) pada 22-23 Oktober 2018 mendatang. Kedua kegiatan itu berada di bawah payung 1st Bandung Annual International Conference (BAIC) yang terindeks Scopus.

Tujuan dari penyelenggaraan kegiatan ilmiah BAIC ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada akademisi dan praktisi di Indonesia, negara-negara ASEAN dan di dunia untuk mendiskusikan dan berbagai isu-isu kontemporer terkait manajemen pengelolaan alam dan ilmu sosial. Menurut Ketua LPPM Unisba, Prof. Dr. Atie Rachmiatie, M.Si, konferensi ini bermaksud untuk memberikan ruang bagi publikasi hasil riset berkualitas tinggi dari semua bidang.  Area riset yang masuk dalam SiRes adalah Teknik Industri, Teknik Pertambangan, Perencanaan Wilayah dan Kota, Kesehatan, Statistik, Matematika dan Farmasi sedangkan bidang riset yang masuk dalam area SoRes adalah Komunikasi, Psikologi, Manajemen, Akuntansi, Ekonomi, Hukum, Pendidikan Islam, Pendidikan Anak Usia Dini, Komunikasi dan Penyiaran Islam, ekonomi syariah dan bidang lain yang terkait.

Pembicara kunci (keynote speakers) dalam kegiatan ini adalah apl. Prof. Dr.-Ing Thomas Weith dari University of Potsdam, Jerman, Dr. Eng Muhammad Aziz dari Tokyo Institute of Technology, Jepang dan Prof. Dr. Sutawanir Darwis dari Universitas Islam Bandung. Kegiatan ini akan dibagi menjadi dua kegiatan besar, yaitu  plenary session yang menghadirkan ketiga pembicara dalam satu sesi serta parallel session yang membagi para pemakalah ke dalam ruang-ruang presentasi dan diskusi, sesuai dengan tema tulisan dari para peserta.

Waktu penyelenggaraan konferensi Senin dan Selasa, 22-23 Oktober 2018, dimana hari pertama kegiatan diisi dengan coaching clinic bagi para pemakalah sehingga mereka bisa memperbaiki tulisan dan materi presentasi sebelum ditampilkan/didiskusikan dengan akademisi/praktisi lain yang hadir dalam acara tersebut. Pada hari kedua, setelah mendengarkan paparan dari para keynote speakers, para peserta akan mempresentasikan hasil riset mereka dan mendiskusikannya. 

Tempat SiRes & SoRes diselenggarakan di Grand Tjokro Hotel yang berlokasi di Jalan Cihampelas, Bandung. Bagi para akademisi dan praktisi yang berkeinginan untuk bergabung dalam kegiatan ini, agar memperhatikan tanggal-tanggal penting berikut. Penyerahan abstrak paling akhir adalah 17 Agustus 2018 secara online melalui website yang disediakan khusus. Untuk mendaftar Science and Technology Research Symposium (SiRes), alamatnya http://sires.unisba.ac.id/?page_id=7 sedangkan untuk bidang sosial dan humaniora (SoRes) bisa mendaftar ke: http://sores.unisba.ac.id/?page_id=7

Untuk pengumuman penerimaan abstrak oleh panitia akan dilakukan pada 31 Agustus 2018. Selain itu, pembayaran untuk keikutsertaan dalam konferensi ini selambatnya 14 September 2018. dan penyerahan full paper (makalah lengkap) adalah 14 November 2018. “Sekitar dua atau tiga bulan setelah kegiatan, makalah yang dinyatakan memenuhi syarat akan dipublikasikan di prosiding internasional terindeks Scopus,” kata Prof Atie. 

Target dari hasil konferensi internasional ini lebih dari 100 artikel bisa terindeks scopus, sehingga ranking Indonesia dalam publikasi ilmiah terus meningkat. (Sumber : www.bandungnewsphoto.com/)

 

Ibu-ibu 3iKB berfoto bersama Rektor Unisba Prof.Dr. H. Edi Setiadi, SH.MH. sesaat sebelum berangkat tadabur alam

KOMINPRO-Banyak cara yang dilakukan untuk mempererat tali silaturahim, selain pertemuan rutin dalam arisan, silaturahim juga dilakukan sambil tadabur alam. Inilah yang dilakukan Ikatan Ibu-Ibu  Keluarga Besar Unisba atau yang lebih dikenal dengan 3iKB Unisba. Para dosen, karyawati, dan istri dosen/karyawan ini melakukan kegiatan tadabur alam untuk mempererat tali silaturahim. Mereka mengunjungi salah satu obyek wisata terkemuka di Lembang, Minggu (29/7).

Ketua 3iKB, istri Rektor Unisba, Ibu Hj. Iis Sumiarsih Edi Setiadi, mengungkapkan, silaturahim ini bertujuan untuk mempererat silaturahim di antara ibu-ibu Unisba juga sebagai penutup arisan periode sebelumnya sekaligus pembukaan arisan baru. “Alhamdulillah kali ini kita bisa silaturahim di tempat yang berbeda, semoga hal ini bisa lebih merekatkan hubungan silaturahim dan kerja sama di antara ibu-ibu Unisba. Selain itu, kita bisa menikmati kebersamaan ini dengan lebih gembira,” ujar Bu Hj. Iis.

Secara rutin satu bulan sekali, 3iKB menyelenggarakan pertemuan berisi tausiah dan arisan. Narasumber tausiah berasal dari berbagai fakultas yang ada di Unisba. 3iKB juga aktif menyelenggarakan kegiatan Seminar dan melakukan kegiatan bakti sosial seperti penyerahan beasiswa untuk anak karyawan, penyerahan dana bantuan (uang kadeudeuh) untuk Satpam dan petugas kebersihan yang bekerja di Unisba, dan lain-lain.

Sementara itu, Sie. Humas 3iKB Unisba, Dr. Kiki Zakiah,Dra.,M.Si. berharap, anggota arisan 3iKB akan meningkat jumlahnya. “Kami menghimbau ibu-ibu dosen, karyawan/Tendik, serta para istri dosen/karyawan untuk menjadi anggota aktif dalam kegiatan kami karena ini adalah untuk kebaikan kita bersama,” paparnya.

Arisan periode baru akan dimulai pada bulan Agustus 2018 ini. Bagi para ibu yang berminat dapat menghubungi pengurus yang ditunjuk dan sudah ada di masing-masing fakultas/unit kerja. (sari)

 

Dosen Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”  Yogyakarta, Dr. Ir. Barlian Barlian Dwinagara. M.T, saat menyampaikan materi dalam seminar bertema “Peran Komunikasi dan Jalinan Kerjasama dalam dan Luar Negeri untuk Pendidikan Perkembangan Indonesia yang Berkualitas”, yang dilaksanakan di Aula Utama Unisba, Jum'at (27/07).

KOMINPRO-Setelah melewati era mekanisasi dan otomasi, dunia industri kini telah memasuki era revolusi 4.0 atau lebih dikenal dengan era digitalisasi. Seiring dengan berkembang ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat,  Perguruan Tinggi dituntut untuk menghasilkan lulusan yang bekualitas dan memiliki daya saing tinggi. Karena jika tidak, berbagai lulusan dari Universitas harus siap tertinggal dan tergantikan keberadaannya oleh mesin atau teknologi.

“Di era digitalisasi ini, ada tugas terhadap sistem pendidikan yang menjadi tanggung jawab kita. Saat ini semua perkembangan mengarah ke digitalisasi. Mungkin ke depan berbagai industri akan meminimalisir SDM dan  lebih mengandalkan jaringan dan internet yang lebih kuat,” demikian disampaikan Wakil Rektor (Warek) I Unisba, Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D saat memberikan sambutan dalam acara Workshop dan Temu Nasional yang digelar Forum Komunikasi Program Studi Teknik Pertambangan Indonesia, di Student Center Unisba, (27/07). Pertemuan tersebut diselenggarakan dalam rangka merumuskan standarisasi mata kuliah “Permodelan dan Estimasi Sumber Daya dan Cadangan Material & Batu Bara”. Kegiatan ini dihadiri 41 Prodi Pertambangan se-Indonesia.

Lebih lanjut Warek I mengatakan, berdasarkan hasil penelitian Forum Eknomi Dunia ada beberapa soft skill yang wajib dimiliki oleh para lulusan Universitas dalam menghadi era digitalisasi saat ini, yakni problem solving, kreativitas dan inovasi, communinacation skill, leadership, serta kemampuan emosional dan adaptilitas yang baik. “Mudah-mudahan dalam workshop mata kuliah ini, bisa menghasilkan formula yang lebih merespon ke era disrupsi sehingga lulusan kita nanti akan memiliki kemampuan tersebut,” ujarnya.

Warek I menyatakan dukungannya pada kegiatan ini dan berharap, para peserta yang hadir mampu menghasilkan formula yang tepat bagi perencanaan mata kuliah di program studi Teknik Pertambanga

Setelah workshop berakhir,  kegiatan dilanjutkan dengan seminar bertema  “Peran Komunikasi dan Jalinan Kerjasama dalam dan Luar Negeri untuk Pendidikan Perkembangan Indonesia yang Berkualitas”, yang dilaksanakan di Aula Utama Unisba. Narasumber dalam seminar ini antara lain dosen  ITB, Dr. Eng., Ganda M. Simangunsong, S.T., M.T. dan dosen Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”  Yogyakarta, Dr. Ir. Barlian Barlian Dwinagara. M.T . (Feari/Sari)

 
 
 

KOMINPRO-Halal merupakan sebuah konsep aturan prinsip agama Islam, yang digunakan untuk menyatakan bahwa sesuatu hal diperbolehkan, diijinkan atau dilarang untuk dikonsumsi  atau digunakan oleh Muslim dengan dasar dari Al-Qur’an, Hadist, atau Ijtihad (kesepakatan ulama). Sebuah pertanyaan, bagaimana dengan konsumen non-muslim, apakah dapat menggunakan atau mengkonsumsi produk halal?. Bagi kita selaku umat muslim, substansi halal adalah aman, sehat, dan tidak merugikan. Jika melihat hal tersebut, maka kita mendapatkan bahwa halal ini merupakan sebuah cara pandang yang sesungguhnya sangat universal dan dapat diterima oleh siapa saja. Dengan demikian, halal dapat dijadikan sebagai cara hidup bagi semua orang, tidak kecuali mereka yang non-muslim. Hal tersebut karena  secara prinsip konsumen baik muslim dan non-muslim  akan berupaya mencari produk yang mengedepankan kualitas, aman, sehat dan memberikan keuntungan. Dalam perkembangannya, halal telah menjadi lifestyle, trend global sekaligus peluang bisnis yang menjanjikan di kalangan masyarakat Indonesia.

Kehalalan suatu produk menjadi kebutuhan yang wajib bagi umat muslim, baik itu makanan, obat-obatan maupun barang-barang konsumsi lainnya. Seiring besarnya kuantitas umat muslim di Indonesia yang jumlahnya mencapai 88,20%, maka dengan sendirinya pasar Indonesia merupakan pasar konsumen muslim yang sangat dominan. Oleh karena itu, jaminan akan produk halal menjadi suatu yang penting untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah. Sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) bahwa Negara berkewajiban melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk mewujudkan kesejahteraan umum.

Halal lifestylebahkan tak hanya diadopsi oleh umat muslim, tetapi telah menjadi tren masyarakat dunia. Mulai dari produk pangan, mode, kosmetik, obat-obatan, keuangan, hingga pariwisata halal diburu oleh berbagai kalangan. Bagaimana dengan Indonesia? dengan mayoritas penduduk Indonesia yang Muslim, menjadikan halal sebagai gaya hidup terus berkembang. Karenanya tidak heran jika jumlah produk halal dari tahun ke tahun terus meningkat. Begitu juga dengan jumlah sertifikat halal yang dikeluarkan oleh LPPOM MUI, lembaga sertifikasi halal di Indonesia.

Jumlah setifikat halal yang sudah diterbitkan LPPOM MUI dari tahun 2010 sampai dengan 2015 adalah sebanyak 35.962 sertifikat dengan jumlah produk mencapai 309.115 produk dari 33.905 perusahaan. Di mana setiap tahun terjadi peningkatan dari jumlah sertifikat yang dikeluarkan, jumlah produk, dan jumlah perusahaan yang mendapatkan sertifikat. Di Indonesia sendiri label halal pada suatu produk makanan merupakan sumber informasi yang paling mudah terlihat oleh konsumen sehingga konsumen tidak merasa kuatir dengan kehalalan produk yang akan dikonsumsi. Meski antusiasme masyarakat terhadap produk halal meningkat, kesadaran masyarakat akan produk halal belum meluas. Penyebabnya, kurangnya infrastruktur yang menunjang Indonesia dalam menggemborkan prodouk halal. Jika Indonesia ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan berinvestasi dalam mengembangkan produk halal, maka harus mengetahui perilaku Muslim sebagai konsumen produk halal. sejauh mana Muslim Indonesia peduli dengan produk halal memang belum diketahui secara pasti, namun dengan mempelajari apa saja yang diinginkan untuk produk halal dari sisi persepsi konsumen sangat diperlukan. Sehingga tercapailah kebutuhan Konsumsi masyarakat Indoensia yang halal dan terhindar dari segala kemudharatan.

Dalam rangka mengedukasi halal sebagai gaya hidup prodi Hukum ekonomi Syari’ah Fakultas syariah Unisba mengadakan seminar ini dalam rangka mengedukasi halal kepada masyarakat, serta pengenalan halal ke lembaga-lembaga pendidikan, komunitas, hingga perusahaan sekala besar, menengah maupun kecil. Sedangkan informasi halal dilakukan melalui berbagai saluran media cetak, media online, jejaring sosial. Sehingga dengan edukasi yang difokuskan padahalal lifestyleini mendorong pengembangan ekonomi syariah semakin meningkat, dan membuat Indonesia bisa mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain yang mengembangkan industri halal.***


TEMA KEGIATAN:

“HALAL LIFE STYLE DAN KEBERLANGSUNGAN EKONOMI SYARIAHDI INDONESIA”

BENTUK KEGIATAN:

Bentuk Kegiatan ‘Seminar Nasional Syari'ah (SiNaS) UNISBA 2018’:

1. Seminar Nasional

Tema : “HALAL LIFE STYLE DAN KEBERLANGSUNGAN EKONOMI SYARIAHDI INDONESIA”

Pembicara :

  • Deden Firman Hendarsyah

(Dirut Penelitian, Pengembangan, Pengaturan, dan Perizinan Perbankan Syari’ah Otoritas Jasa Keuangan)

  • Indri Rindani

Owner Indra Indri Albis Group

  • Dr. H. M. Abdurrahman, M.A

Majelis Ulama Indonesia Pusat/ Guru Besar Fakultas Syari’ah UNISBA

2.    Workshop “Pelatihan Penulisan Kualitatif dan Kuantitatif “

Pembicara :

  • Nurul Huda, S.E., M.Si

Pakar Ekonomi Syari’ah/ Dosen/ Peneliti

  • Luqyan Tamanni

Senior Lecturer/ Peneliti/ Head of Islamic Economics dan Dirut BATASA STEI TAZKIA

3. Call for Paper

Tema : “HALAL LIFE STYLE DAN KEBERLANGSUNGAN EKONOMI SYARIAHDI INDONESIA”

BIAYA PENDAFTARAN:

SEMINAR                                                FREE

WORKSHOP                                          Rp. 500.000,-

CALL FOR PAPER                                  Rp. 400.000,-

ALL IN                                                     Rp. 800.000,-

ALL IN (INTERNAL UNISBA)                 Rp. 600.000,-

REKENING PEMBAYARAN: BANK SYARI'AH MANDIRI 

  1. REK: 7111571257 - A/N. INTAN MANGGALA

KOMINPRO-Para Dokter hendaknya  lebih mengedepankan masalah etik dalam menghadapi berbagai persoalan. Jalur hukum merupakan solusi terakhir untuk menyelesaikan konflik dalam kehidupan bermasyarakat.

“Apabila terjadi sengketa antara praktek kedokteran dengan pasien, selesaikan dengan etik terlebih dahulu karena masalah patut dan tidak patutnya perbuatan sebenarnya bisa diputuskan terlebih dahulu oleh dewan etik. Hukum adalah solusi terakhir untuk menyelesaikan konflik dalam kehidupan bermasyarakat,” demikian disampaikan Rektor Unisba, Prof.Dr.H.Edi Setiadi,SH.,MH. saat menyampaikan sambutan dalam acara Annual Meeting yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Unisba bekerjasamma dengan Forum Kedokteran Islam Indonesia (FOKI), di Hotel Haris Ciumbuleuit, Bandung, Rabu (25/7). Acara ini berlangsung selama tiga hari (25-27 Juli). Pertemuan rutin tahunan FOKI kali ini diikuti 77 delegasi dari 22 Perguruan Tinggi di Indonesia dan dua orang delegasi dari Malaysia.

Tindakan kedokteran merupakan suatu tindakan yang penuh risiko yang memang tidak diprediksi sebelumnya atau karena tindakan yang salah dari dokter. Dengan demikian, kata Rektor, apabila terjadi perbenturan kepentingan antara keduanya maka aspek kode etik dan aspek hukum akan tersangkut di dalamnya. “Apabila tidak ada penyelesaian secara damai maka akan terjadi tuntutan pertanggungjawaban dan ganti kerugian apabila pasien/masyarakat tidak menerima kegagalan yang dilakukan tenaga medis dalam memberikan pelayanan kesehatan/asuhan,” terangnya.

Rektor Unisba yang juga ahli hukum pidana ini mengungkapkan, pengaduan/tuntutan masyarakat terhadap dokter/tenaga medis yang dituduh melakukan malpraktek/unprofessional conduct diperlukan suau penanganan yang adil dan hati-hati mengingat dapat saja yang terjadi dalam pelayanan kesehatan tersebut  bukan malpraktik atau unprofessional conduct  akan tetapi  hanya merupakan kekeliruan padahal tuntutan yang dilakukan adalah tuntutan pidana. “Kehati-hatian ini perlu mengingat keterbatasan hukum pidana dalam menangani gejolak yang terjadi di dalam masyarakat,” katanya.

Rektor menilai, fenomena yang terjadi saat ini, banyak menunjukkan adanya kecenderungan dokter dan pasien untuk menyelesaikan sengketa ke ranah hukum, padahal sekiranya keduabelah pihak bersikap arif, permasalahan yang timbul mungkin masih bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan.

Terkait dengan hal tersebut, maka Unisba merasa perlu menghasilkan dokter-dokter yang mampu melaksanakan tugasnya dengan baik dan tidak melanggar etik. Karenanya, lanjut Rektor, menciptakan lulusan yang berakhlakul kharimah merupakan salah satu tujuan utama berdirinya Fakultas Kedoteran berlabel Islam. Namun, pada prakteknya tidak semua dokter yang memiliki latar belakang dari Universitas Islam, dapat mengimplementasikan hal tersebut sehingga perlu adanya evaluasi dan reorientasi kurikulum yang sudah ada.

Rektor berpendapat, selain bergantung pada kurikulum, Fakultas perlu menanamkan nilai-nilai keislaman pada mahasiswa dalam berbagai pertemuan, baik itu di dalam atau pun di luar kelas.

“Jangan hanya cukup mengatakan sudah diajarkan di kurikulum. Tapi harus ada penekanan yang lebih lagi. Jika Unisba berhasil menghasilkan lulusan yang berakhlaqul kharimah misalnya, semoga saja hal itu bisa ditularkan ke  Univeritas lain, minimal sesama anggota FOKI”, ujarnya.

Rektor menerangkan, terdapat beberapa aspek yang perlu ditekankan kepada mahasiswa untuk menghadapi dunia kedokteran yang semakin maju. Pertama Tauhid, semakin maju pengetahuan terkadang menyebabkan manusia lupa dengan sang pencipta sehingga. Kemudian, ibadah, menurutnya melaksanakan praktek kedokteran harus dilandasi dengan niat ibadah agar pekerjaan tersebut membawa kemaslahatan bagi umat.

“Jika kita meniatkan pekerjaan dengan ibadah maka akan ada dua manfaat yang kita peroleh yaitu nilai ibadah dan kemanusiaan. Ini yang harus ditekankan kepada para lulusan dan mahasiswa bahwa profesi dokter akan bersinggungan dengan Habluminallah dan Habluminanas,” pungkasnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Unisba, Prof.Dr. Ieva B. Akbar, dr., AIF mengatakan,  pertemuan ini merupakan momentum yang tepat bagi seluruh anggota FOKI untuk saling bertukar pikiran dalam menyempurnakan kurikulum syariah Islam. Dia menuturkan, pesan yang sampaikan rektor akan dijadikan masukan dalam pertemuan tersebut.

Prof. Ieva mengungkapkan, sebetulnya setiap Fakultas Kedokteran yang berbasis Islam memang sudah memiliki kurikulum syariah. “Kita juga sudah menyiapkan mahasiswa untuk bisa bekerja di Rumah Sakit Syariah, tapi mungkin masih ada kekurangan yang harus dibenahi,” ucapnya.

Terkait hal tersebut, pertemuan FOKI kali ini akan membahas mengenai Academic Help System yang dimotori oleh Islamic Help Center. Melalui program tersebut Fakultas Kedokteran akan menjalin kerja sama dengan Rumah Sakit Pendidikan berbasis Islam dalam bidang pelayanan kesehatan.

“Dalam bidang pelayanan kesehatan kita akan sesuai dengan program pemerintah. Untuk dokter umum akan berada di level primer, spesialis untuk level sekunder, dan untuk subspesiali berada pada level tersier,” katanya. Menurutnya, jika Islamic Help Center berjalan baik maka Islam akan lebih eksis dan dikenal sebagai agama rahmatan lilalamin pada tingkat global.

Memasuki era revolusi industri 4.0 dengan berbagai perubahan/disruption menjadi tantangan sekaligus peluang yang harus dihadapi perguruan tinggi, khususnya FK Unisba. “Karenanya, mari kita bersama bahu membahu bersinergi untuk kepentingan umat khususnya dalam bidang pendidikan dan pelayanan kesehatan,” terang Prof. Ieva.

Dekan FK Unisba pun mengingatkan, dalam menyatukan kebersamaan ini perlu dilandasi syariat Islam yang jelas kebenarannya. Hal itu, lanjutnya,  merupakan realisasi kepatuhan kita kepada sang pencipta Allah SWT.

Sesuai dengan tema pada FOKI annual meeting 2018 : “Strengthening The Collaboration on Medical Education and Health Sciences Research for Sustainable Development”, pertemuan FOKI ini merupakan penguatan Kolaborasi di bidang pendidikan dan penelitian kesehatan dengan teknologi sains. “Semoga pertemuan ini menjadi potensi dalam meningkatkan syariat Islam sebagai agama rahmatan lil alamiin”, kata Prof. Ieva. (Feari/Sari)

 

KOMINPRO-Dalam rangka memeriahkan milad ke 60, Unisba menggelar pertandingan Bulu Tangkis yang diikuti oleh civitas akademika Unisba. Pertandingan ini diselenggarakan di GOR Argo Suci Bandung mulai 18 Juli s.d. September 2018.

Dibuka oleh Rektor Unisba, Prof. Dr. H. Edi Setiadi, S.H., M.H pada Rabu (18/07) yang ditandai dengan melakukan serve dari salah satu ujung lapangan ke bagian yang lain. Dalam sambutannya, Pak Rektor mengatakan, kegiatan ini merupakan kegiatan yang rutin diselenggarakan setiap tahun.

Dikatakan Pak Rektor, pertandingan bulu tangkis ini selalu diikuti oleh banyak peserta baik dosen maupun tenaga kependidikan Unisba. Rektor mengajak para peserta untuk mengikuti pertandingan ini dengan riang gembira.

Pak Rektor berharap, pertandingan bulu tangkis ini menjadi salah satu cara untuk mempertahankan eksistensi lembaga dan dapat memberikan manfaat.

Sementara itu, Koordinator Bidang Kegiatan Olah Raga Milad ke 60 Unisba, Iyan Bachtiar, S.T., M.T., mengungkapkan, peserta pada pertandingan ini terdiri dari beberapa kelompok umur.

Harapannya, kegiatan ini dapat berlangsung tepat waktu sebelum prosesi Milad berlangsung yang rencananya akan dilaksanakan bulan November 2018. Melalui pertandingan ini, tambahnya, dapat mempererat silaturahmi civitas akademika Unisba dan seluruh rangkaian kegiatan Milad ke 60 Unisba dapat berjalan dengan baik.

Cabang olahraga lainnya yang juga sudah mulai dipertandingkan adalah Futsal antar karyawan/dosen serta mahasiswa. Sementara itu Fun Bike dan Gerak Jalan akan dilaksanakan pada bulan Oktober mendatang. (Eki/Sari)

 

 

Jajaran Pimpinan dan Dekan F. Kedokteran Unisba bersama Walikota Cimahi dan jajarannya

KOMINPRO-Dalam rangka mewujudkan visi Fakultas Kedokteran Unisba yakni menghasilkan dokter layanan primer yang kompeten, professional , dan berakhlaqul karimah, Unisba mengadakan pertemuan dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi untuk menjalin kerja sama atau Memorandun of Understanding (MoU), Kamis, (19/7), di Gedung Wali Kota Cimahi. MoU ini dilakukan antara Rektor Unisba Prof Dr. H. Edi Setiadi. SH., MH., dengan Wali Kota Cimahi, Ir. H. Ajay Muhammad Priatna, MM untuk mencanangkan kerja sama dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibabat.

Berdiri sejak tahun 2004, Fakultas Kedokteran Unisba kini menjadi salah satu fakultas terbaik dan paling banyak diminati calon mahasiswa baru Unisba. Dibutuhkan perjuangan panjang dan usaha yang keras  untuk dapat menyabet tittle “Mahasiswa Kedokteran Unisba”. Ketatnya persaingan yang terjadi juga berdampak pada semakin meningkatnya kualitas mahasiswa maupun pengembangan Fakultas Kedokteran Unisba.

Dalam kesempatan tersebut Prof Edi menyampaikan, kerja sama ini merupakan momentum yang baik bagi Unisba seiring dengan adanya keinginan untuk meningkatkan akreditasi Fakultas Kedokteran.  “Saat ini Fakultas Kedokteran belum berkreditasi A karena memang  belum memenuhi syarat, yaitu memilki Rumah Sakit secara mandiri. Tapi sebelum itu terwujud, tidak ada salahnya kami menjalankan berbagai rencana yang akan membawa Fakultas ini berjalan ke arah lebih baik,” ujarnya.

Lewat pertemuan ini, Prof Edi berharap RSUD Cibabat dapat menjadi salah satu ladang ilmu dan ibadah bagi mahasiswa kedokteran yang akan melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. Beliau juga mengapresiasi atas respon yang diberikan Pemkot Cimahi menyambut kerja sama tersebut. “Terima kasih atas kebijaksanaan Bapak Wali beserta jajarannya. Insya Allah  anak-anak kami dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat berdasarkan nilai-nilai islam,” tuturnya.

Sementara itu, Wali Kota Cimahi, Ir. H. Ajay Muhammad Priatna, MM berharap kerja sama ini dapat memberikan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat kota Cimahi dan RSUD Cibabat. Dia mengatakan, saat ini pihaknya sedang berupaya meningkatkan pelayanan dalam bidang kesehatan.

“Setahun ke belakang, Rumah Sakit Cibabat cukup banyak mendapatkan keluhan dari masyarakat khususnya pasien. Namun, makin ke sini Alhamdulillah pelayanannya sudah semakin baik, semoga dengan adanya kerja sama ini akan memberikan dampak yang lebih positif,” ujarnya.

Lebih lanjut Wali Kota Cimahi menjelaskan, pihaknya membuka pintu lebar jika kedepannya Unisba ingin menjalin kerja sama di bidang lain. Menurutnya, Cimahi merupakan kota yang padat penduduk dan tidak memiliki sumber daya alam sehingga diperlukan SDM berkualitas untuk dapat memajukannya. “Cimahi ini termasuk kota padat penduduk. Luasnya 40 km2 tetapi jumlah penduduknya 600 ribu jiwa jadi yang paling bisa dikelola itu SDMnya. Jika kerja sama ini bisa meningkatkan kualitas SDM kedua belah pihak maka tidak menutup kemungkinan kerja sama berlanjut dalam bidang yang lain,” terangnya. (Feari/Sari)

Wakil Dekan 1 Fakultas Ilmu Komunikasi Unisba, Dr. Ani Yuningsih, Dra., M.Si, menyampsikan orasi ilmiah “Pergeseran Tuntutan Profesi Serta Tantangan Dunia Pendidikan Komunikasi Di Era Disrupsi Dan Abundance”,  pada Prosesi Milad Fikom Unisba ke-35, di Aula Utama Unisba, Senin (16/07).

KOMINPRO-Dunia bisnis, industri dan profesi, kini mengalami perubahan yang signifikan bahkan cukup radikal. Perubahan tersebut menyebabkan terjadinya pergeseran kebutuhan atas kompetensi serta kualifikasi lulusan sebuah perguruan tinggi, sebagai tenaga kerja yang akan masuk ke dunia profesi. Pergeseran ini ditandai dengan adanya perkembangan bisnis berbasis online, perkembangan jurnalisme warga (citizen journalism) yang menggeser peran jurnalis konvensional, perkembangan public relations dan publisitas online yang menggeser posisi public relations konvensional,  serta lahirnya generasi milennial dengan tuntutan akses dan jenis layanan yang lebih cepat dan mudah.

Demikan disampaikan Wakil Dekan I sekaligus dosen Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unisba, Dr. Ani Yuningsih, Dra., M.Si. dalam orasi ilmiah bertema “Pergeseran Tuntutan Profesi Serta Tantangan Dunia Pendidikan Komunikasi Di Era Disrupsi Dan Abundance”,  di Aula Utama Unisba, Senin (16/07). Pada peringatan Milad Fikom Unisba ke-35, dia menyampaikan  kebutuhan dan tuntutan profesi di berbagai bidang, khususnya profesi komunikasi mengalami pergeseran yang signifikan sebagai dampak disrupsi.

“Fenomena disrupsi awalnya hanya terasa pada kehidupan ekonomi dan bisnis, namun kini melanda hampir semua bidang kehidupan, seperti budaya, pariwisata, politik dan pemerintahan, termasuk bidang komunikasi dan tentunya juga pendidikan komunikasi,” tuturnya.

Jika diartikan dalam kehidupan sehari-hari, disrupsi adalah proses terjadinya perubahan fundamental atau mendasar. Disrupsi ini mulai berkembang dan disadari keberadaannya ketika terjadi perubahan pada pola bisnis berbasis online atau daring, terutama kemunculan aneka transportasi daring dengan berbagai dampaknya. “Perkembangan transportasi daring ini sangat cepat, sementara regulasi dan kebijakan pemerintah untuk mengatur dan mengawasinya belum disiapkan, sehingga regulasi seakan terseok-seok mengikuti dan membenahi pesatnya pemanfaatan teknologi informasi ini,” katanya.

Menjalarnya fenomena disrupsi ini ke berbagai bidang, melahirkan era disrupsi yang tidak bisa lagi dihindari. Menurut Dr Ani, para pelaku bisnis tidak bisa mengeluh dan menyalahkan keadaan, tidak bisa terlena dalam perasaan menjadi korban karena perkembangan ilmu dan teknologi dengan berbagai dampak yang dihasilkan adalah sebuah keniscayaan.

“Untuk bisa tetap beradaptasi dan keluar sebagai pemenang, Kini para pelaku bisnis harus kreatif, peka terhadap cepatnya perubahan dan terjadinya pergeseran, bahkan harus dengan cepat dan sigap merumuskan strategi bertahan, dan tetap keluar sebagai pemenang,” jelasnya

Lebih lanjut dia mengatakan, lulusan perguruan tinggi sebagai generasi milenial, harus mempersiapkan mental untuk menghadapi era disrupsi ini dengan memiliki lulusan yang memiliki etos kerja, sikap solutif dan terbuka, juga berfikir kreatif out of the box untuk menghadapi berbagai tantangan. Dia berpendapat, civitas akademika perguruan tinggi dapat mengembangkan model dan metode pembelajaran kreatif, yang berorientasi pada problem solving, dalam menyiapkan lulusan yang akan memasuki dunia kerja.

“Di era disrupsi terjadi pergeseran peran guru dan dosen pada proses pembelajaran, semula sebagai sumber pengetahuan dan pusat pembelajaran, kini sebagai fasilitator, mediator dan motivator,” pungkasnya. Pengelola perguruan tinggi kini dituntut berani berinvestasi di teknologi mutakhir, dan berani membangun pola manajemen dan sistem kepemimpinan baru berbasis daring yang lebih transparant, terintegrasi dan akuntabel. (Feari/Sari)