Jan 20, 2019 Last Updated 6:11 AM, Jan 18, 2019
 
 
 
Berita

Berita (560)

Ketua Pengurus Dapen Unisba, H. Affandi Iss, S.E., M.M, seusai melakukan sesi wawancara di Kantor Dana Pensiun Yayasan Unisba, Jalan Tamansari No.26, Bandung.

KOMINPRO-Cemas menjelang masa pensiun, tentu merupakan hal  yang wajar. Bagaimana tidak, di usia yang sudah tidak produktif, seseorang harus siap menanggung beban berat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa memiliki penghasilan tetap. Menghadapi persoalan tersebut, Dana Pensiun (Dapen) Unisba hadir dan menawarkan program yang diharapkan mampu menjadi solusi bagi karyawan.

Ketua Pengurus Dapen Unisba, H. Affandi Iss, S.E., M.M. mengatakan filosofi berdirinya Dapen Unisba tak lain adalah untuk melahirkan perasaan tenang dan nyaman bagi karyawan. Dia mengatakan, setiap orang memiliki kebutuhan rasa aman yang harus dipenuhi oleh perusahaan. Berangkat dari latar belakang tersebut, Dapen Unisba berupaya menjamin setiap karyawan dengan memberikan penghasilan pasti di masa pensiun.

“Tidak dapat dipungkiri, semakin tua usia seseoang akan membuat keahlian yang dimilikinya menurun dan itu merupakan ancaman. Dengan adanya Dapen, kita ingin menjamin seseorang yang sudah tidak produktif bisa memiliki penghasilan pasti nantinya. Meskipun jumlahnya kecil tapi dalam kondisi apapun ada,” ujarnya.

Namun, rendahnya penghasilan Dapen yang diperoleh peserta setiap bulan rupanya melahirkan persoalan baru. Adanya aturan yang melarang peserta untuk mengambil Dapen sekaligus, dianggap beberapa pihak merugikan bagi karyawan yang membutuhkan dana lebih untuk membuka usaha atau memenuhi kepentingan lain. Menanggapi hal tersebut Pak Affandi menilai alasan tersebut kurang tepat karena dirasa tidak sejalan dengan visi Dapen untuk menjamin masa pensiun seseorang.

“Banyak aspirasi dari peserta yang kadang-kadang kalau pensiun itu ingin buka usaha, ingin renovasi rumah, membangun rumah atau kebutuhan mendadak lainnya. Problemnya  sebetulnya itu hak mereka, cuma mirisnya apakah siap mengelola uang yang diterima dan tidak seberapa untuk menjamin kesinambungan hidup selama masa pensiun,” pungkasnya.

Pak Affandi menambahkan, berdasarkan data penelitian yang pernah dia baca, sangat sedikit orang yang dapat memanfaatkan dana pensiun untuk usaha. Dia menuturkan, hanya  15% orang yang berhasil merintis bisnis dan 60%  di antaranya memiliki usaha sebelum pensiun. Hal tersebut menunjukan bahwa resiko untuk membuka usaha di usia tua lebih besar.

Meski begitu, dia mengatakan pihaknya terus berusaha untuk menampung aspirasi yang diberikan para peserta. Peraturan Dana Pensiun yang disahkan oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan), rutin direview maksimum dua tahun sekali untuk selanjutnya dievaluasi jika terdapat kekurangan. “POJK yang terakhir disahkan Januari 2017. Dalam peraturan tersebut ada aturan tentang pengambilan dapen yang disusun berdasarkan pertimbangan dari aspirasi peserta,” ujarnya.

Berdasarkan peraturan terakhir, peserta yang mendapatkan manfaat pensiun di bawah Rp. 1.600.000 bisa diambil sekaligus. Sementara bagi peserta yang manfaatnya di atas itu diberikan peluang untuk mengambil 20% dan sisanya wajib bulanan.  Namun, dia mengatakan bagi peserta yang berniat mengambil manfaat dapen sekaligus akan dikenakan kewajiban pajak final .

“Kalo manfaat pensiun itu sekaligus maka akan muncul kewajiban pajak final. Tentu itu keuntungan bagi Negara. Potongan pajak itu ada dua tarif, jika manfaat pensiun di bawah 50 juta akan bebas pajak walaupun diambil sekaligus. Tapi kalo penghasilan di atas 50 juta, misalnya 150 juta maka 50 jutanya bebas, sementara sisanya dikenakan beban 5%,” jelasnya.

Lebih lanjut  dia menambahkan, kelebihan yang tidak diperoleh peserta yang mengambil manfaat sekaligus adalah Tunjangan Hari Raya (THR) yang diberikan setiap tahun dan coverage BPJS bagi satu kepala keluarga. Sebagaimana umumnya, manfaat pensiun sendiri diberikan kepada peserta sampai yang bersangkutan meninggal dunia.  Jika peserta meninggal dunia, maka manfaat pensiun akan jatuh kepada duda hingga dia menikah lagi atau meninggal dunia yang kemudian diteruskan kepada anak kandung.

“Dapen Unisba dapat dinikmati oleh anak sampai usia 21 tahun jika sekolah atau belum menikah. Bahkan kalau masih sekolah bisa sampai usia 25. Kemudian berbeda dengan PNS,  jika dana pensiun masih tersisa maka uang itu akan diserahkan meskipun umurnya sudah 30 tahun,” tegasnya. Dia menambahkan, peserta yang memilki anak difabel akan mendapatkan pengecualian khusus yaitu dapat menikmati manfaat pensiun seumur hidup.

Menurut catatan, Dapen Unisba yang dikelola oleh pengurus hingga akhir Otober 2018 saat ini kurang lebih berjumlah 67 miliar. Hal ini mengalami peningkatan dari jumlah yang aset yang terdata di tahun 2017 yaitu Rp. 65.248.806.231. Pengembangan Dapen Unisba sendiri diinvestasikan dalam bisnis perbankan dan pasar modal di property. Dia mengatakan, tugas utama dari pengurus Dapen bukan mengelola masalah administratif melainkan bagaimana mengelola dana agar tetap stabil.

“Ini memang masih belum banyak diketahui publik, seolah-olah Dapen hanya bertugas masalah administratif. Padahal  tugas utama yang paling substantive justru mengelola dana itu supaya tidak idol. Saking tidak boleh idolnya, dana itu tidak diperkenankan untuk dipinjamkan kepada siapapun, baik pengurus, peserta termasuk pendiri karena aturannya dilindungi oleh Undang-Undang,” ujarnya.

Pak Affandi merupakan generasi ketiga dari kepengurusan Dapen Unisba. Beliau dipercaya menjabat sebagai ketua sejak 2006 hingga saat ini. Ketika disinggung mengenai aturan masa periode kepengurusan Ketua Dapen, beliau mengatakan hal tersebut merupakan otoritas dari pendiri.

“Saya bukan orang pertama duduk di dapen.  Dulu memang ada aturan sebanyak-banyaknya seseorang menjabat sebagai ketua selama dua periode, tapi aturan ini sekarang diubah sehingga yang tercantum menerangkan bahwa ketua  hanya diangkat untuk jabatan 4 tahun dan dapat diangkat untuk periode berikutnya sesuai di PDP (Peraturan Dana Pensiun) dasarnya,” katanya.(Feari/Sari)

 

 

 

 

 

Berita Duka

 

انّا للہ و انّا الیہ راجعون

Telah berpulang ke Rahmatullah

Dicky Jatnika

(Alumni Fikom Unisba 1998)

Pada hari Senin, 29 Oktober 2018 

Sebagai salah satu korban musibah jatuhnya pesawat Lion Air JT 610

Civitas Akademika Unisba mendoakan, semoga almarhum

mendapat maghfirah dan tempat terbaik di sisi Allah SWT

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan. Aamiin.

 

Disabilitas, Butuh Perhatian

 

Pimpinan Unisba bersama  H. Siswadi,  Ketua Dewan Pertimbangan PPDI & Ketua DNIKS serta Pimpinan Instansi terkait lainnya

KOMINPRO-Hak-hak penyandang disabilitas di Indonesia perlu menjadi perhatian bersama baik oleh pemerintah maupun masyarakat Indonesia agar terciptanya pembangunan  dan peningkatan kualitas hidup melalui pengukuran periodik Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Plus bagi Penyandang Disabilitas Indonesia. Implementasinya, dengan memprioritaskan pada bidang keagamaan, pendidikan, pekerjaan & kewirausahaan dan kesehatan.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Pertimbangan PPDI (Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia) & Ketua Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), H. Siswadi sebagai Keynote Speaker dalam kegiatan Forum Gruop Discussion (FGD) Akselerasi Implementasi UU Republik Indonesia No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas (Menuju Kesamaan Hak Hidup Bagi Disabilitas) dalam Rangka Milad ke–60 Unisba di Gedung Rektorat Unisba, Rabu (24/10). FGD ini diikuti oleh perwakilan dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, Perhimpunan Penyandang Disablitas Perda Bekasi, Ketua DPD PPDI Jabar, Warek III UIN Sunan Gunung Djati, Disnakertrans Jabar, Pemuda Persis, DPKD Kota Bandung, Pikiran Rakyat, PPDI Kota Bandung.

Dikatakan Pak Siswadi,  kerjasama antara PPDI Jawa Barat dan Unisba dapat memunculkan variabel keagamaan bagi penyandang disabilitas. “Kalau di forum ini bisa merumuskan IPM disabilitas maka kita bisa klaim IPM disabilitas pertama di dunia. Saya kira di Unisba ini tempatnya, ada pakarnya, ada statistiknya dan lain-lain. IPM-nya plus keagamaan, ” katanya.

Dalam pengimplementasiannya, lanjut Pak Siswadi, perlu adanya keterlibatan ormas disabilitas dalam perencanaan, monitoring & evaluasi kegiatan/program dan koordinasi di lapangan juga pendanaan adanya kemauan politik untuk prioritas Alokasi APBN & APBD bagi Disabilitas. Hal tersebut bisa dilihat percontohan program yang telah dilaksanakan di Kota Bekasi melalui Program Pemenuhan Hak & Martabat Penyandang Disabilitas Kota Bekasi yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan Penyandang Disabilitas di Kota Bekasi melalui pengembangan IPPD (Indeks Pembangunan Penyandang Disabilitas).

Akselerasi Implementasi dapat dilakukan dengan cara pembentukan lembaga advokasi & asistensi pemenuhan hak penyandang disabilitas Indonesia, pembentukan  jaringan kepada Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Propinsi Jawa Barat, penyusunan modal konsep akselerasi implementasi pemenuhan hak penyandang disabilitas Indonesia, penyiapan & penyediaan tenaga terampil relawan untuk penyandang disabilitas, pembuatan peraturan daerah (Perda) berpedoman pada UU No. 8 tahun 2016 dan akses sumber dana.

Sementara itu, Wakil Rektor I Unisba, Ir. A. Harits Nu'man, M.T., Ph.D., IPM., dalam sambutannya, mengatakan, FGD ini merupakan bukti tanggung jawab Unisba dalam penyelenggaraan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang dikaitkan dengan kegiatan Milad ke-60 Unisba. “Seperti pendahulu, kami menghimbau bahwa kepedulian terhadap masyarakat dan juga produk-produk hukum yang ada di Indonesia perlu dikritisi dan didukung. Ini merupakan upaya dukungan yang diberikan Unisba sebagai institusi pendidikan yang berlandaskan nilai Islam,” katanya.

Melalui FGD ini diharapkan dapat memberikan satu sumbangsih pemikitan yang  mampu mengakselerasi dan mengimplementasikan terkait dengan UU RI no 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Menurut Warek I, hassil FGD ini bisa menciptakan pergeseran paradigma terkait dengan persamaan hak para penyandang disabilitas menjadi satu kesetaraan dalam implementasi dengan tidak adanya lagi perbedaan dan perlakuan yang berbeda dan saling support untuk menjalankan amanah UU tersebut.

Unisba tidak hanya melakukan kerjasama saja dengan PPDI Jawa Barat, akan tetapi produk dari kerjasama ini juga dipertanggungjawabkan kepada pemerintah dari program yang dihasilkan Unisba melalui kerjasama ini.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua PPDI Jawa Barat, Norman Yulian, mengungkapkan, FGD ini merupakan bagian dari realisasi MoU antara PPID Jabar dan Unisba yang dilaksanakan beberapa waktu lalu. Pemilihan tema pada FDG ini melalui beberapa proses diskusi antara pengurus PPDI dan Unisba mengenai kendala disabilitas dalam mengalami perampasan maupun hambatan.  “Setelah beberapa kali diskusi akhirnya membahas akselerasi dan implementaasi payung hukum UU No. 8 tahun 2016. Sampai hari ini  pergerakannya masih harus di dorong lagi agar kami bisa merasakan hadirnya UU tersebut,” ujarnya.

Hadirnya UU No. 8 tahun 2016, diharapkan dapat diimplementasikan bagi penyandang disabilitas di Indonesia khususnya di Jawa Barat. Selain itu, dapat lebih memaksimalkan lagi untuk mensosialisasiakn dan pergerakan untuk kemajuan disabilitas di tanah air khususnya di Jawa Barat.(Eki/Sari)

 

 

 

 

Ketua Guru Besar Universitas Halu Oleo, Prof. Dr. Sahidin, M.Si saat menyampaikan materi dalam acara Sosialisasi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2019 di Aula Unisba, Senin (24/2). 

KOMINPRO - Seiring semakin berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Peguruan tinggi dituntut untuk dapat mempersiapkan dan menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkulitas. Sebagai salah satu Universitas terkemuka di Indonesia, Unisba memiliki misi untuk melaksanakan penelitian yang menghasilkan pemikiran dan teori-teori baru bagi kemaslahatan umat.

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyalurkan ide dan kreativitas yang didanai Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenrisetdikti). Namun, sayangnya tidak banyak mahasiswa Unisba yang aware tentang adanya kegiatan tersebut.

“Dua tahun ke belakang makalah yang berhasil tembus hanya satu yaitu dari Fakultas Teknik. Tahun 2017 meningkat menjadi tiga dan Alhamdulillah tahun sekarang ada lima, satu dari Fakultas Syariah dan empat dari Fakultas Hukum,” ujarnya. Warek III menargetkan terdapat minimal sembilan makalah yang tembus dalam program PKM 2019.

Terkait hal tersebut, Kemahasiswaan Unisba melakukan sosialisasi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional  (PIMNAS) 2019 di Aula Unisba, Senin (24/2). Warek III Unisba, H. Asep Ramdan Hidayat, Drs., M.Si mengatakan meskipun setiap tahun mahasiswa yang berpartisipasi dalam program PKM mengalami peningkatan tapi jumlah tersebut dinilai belum cukup banyak.

Ketua Guru Besar Universitas Halu Oleo, Prof. Dr. Sahidin, M.Si yang didaulat menjadi pembicara mengatakan, kreativitas menjadi kunci utama agar makalah yang diajukan dapat lolos dalam program PKM. Menurutnya gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya menjadi salah satu alasan reviewer meloloskan makalah tersebut.

“Kreativitas itu penting karena di dalamnya terdapat ide orisinil yang hasilnya bermanfaat bagi orang lain.  Ide kreatif bisa diperoleh dengan cara mengamati berita up to date, kebutuhan masyarakat saat ini, rekonstruksi sejarah, dan pemikiran futuristik,” jelasnya.

Selain itu, Prof Sahidin mengatakan 80% makalah yang masuk rata-rata tidak lolos seleksi karena tidak memenuhi syarat dalam format penulisan. Tahun ini dari sekitar 37.000 makalah yang masuk, tercatat hanya 4.000 yang lolos seleksi tahap pertama.

Untuk menghindari terjadinya hal tersebut , dia menyarankan pihak Kemahasiswaan Universitas membentuk reviewer internal yang bisa memberikan masukan kepada peserta yang mengikuti program PKM.

 “Untuk dapat lolos PIMNAS tahapannya cukup panjang. Kalo idenya bagus tapi gagal hanya karena formatnya tidak sesuai sayang sekali. Tapi dengan adanya review internal  yang mengkoreksi diharapkan makalah yang diajukan ke pusat sudah sesuai,” ujarnya.

Sementara itu, pembicara kedua Dosen Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Ro’fah Setyowati, S.H., N.H., Ph.D mengatakan partisipasi mahasiswa dalam mengikuti Pimnas merupakan salah satu bentuk ibadah. Menurutnya mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan mampu meningkatkan kesadaran manusia sebagai makhluk.

“Intinya saya ingin mengajak adik-adik untuk mengikuti kompetisi Pimnas. Ini sesuatu yang harus dilakulan untuk melihat diri kita dan bagaimana kita bisa menjadi rahmat bagi alam semesta,” ujarnya. (Feari/Sari)

 

Ketua Badan Penjaminan Mutu (BPM) Unisba, Dr. Nan Rahminawati, M.Pd, (tengah) didampingi  Wakil Rektor II, Dr. Hj. Atih Rohaeti Dariah,SE.,M.Si (kiri), dan Kepala Bagian SDM dan Umum  Aam Abdul Muflih, SE  (kanan) menyampaikan presentasi dalam Sosialisasi Indeks Tenaga Kerja Kependidikan (IKTK) dan Indeks Kepuasan Kerja (IKK), di Aula Unisba, Rabu (17/10). 
 

 

KOMINPRO-Tenaga Kependidikan (tendik) merupakan salah satu komponen penting dalam suatu sistem penyelenggaraan pendidikan di Perguruan Tinggi (PT). Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, dibutuhkan sosok tendik yang  professional dalam melaksanakan fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis tersebut.

Demikian disampaikan Ketua Badan Penjaminan Mutu (BPM) Unisba, Dr. Nan Rahminawati, M.Pd, saat menyampaikan presentasi dalam Sosialisasi Indeks Tenaga Kerja Kependidikan (IKTK)  dan Indeks Kepuasan Kerja (IKK), di Aula Unisba, Rabu (17/10). Acara ini diselenggarakan dalam rangka mengevaluasi kinerja tendik selama satu tahun ke belakang berdasarkan hasil penilaian IKK tahun 2017.

Menurutnya pelaksanaan tugas utama tendik perlu dievaluasi melalui proses penilaian yang terstruktur dan dilaporkan secara periodik. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menjamin pelaksanaan tugas Tendik berjalan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.

“Selain digunakan untuk menilai keberhasilan individu dan perguruan tinggi, IKTK  juga dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan sistem imbalan dan kebijakan-kebijakan yang mendukung peningkatan mutu dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi,” ujarnya.

Lebih lanjut Dr. Nan menjelaskan, secara khusus penilaian IKTK bertujuan untuk meningkatkan beberapa aspek diantaranya (1) Meningkatkan profesionalisme Tenaga Kependidikan dalam melaksanakan tugas-tugasnya, (2) meningkatkan proses dan hasil pelayanan pendidikan, (3) menilai akuntabilitas kinerja Tenaga Kependidikan, (4) meningkatkan efektivitas sistem penghargaan dan kebijakan-kebijakan peningkatan mutu Tenaga Kependidikan, dan (5) meningkatkan atmosfer kerja di lingkungan Unisba.

Penilaian IKTK Unisba, rencananya akan dilaksanakan setiap tahun yang hasilnya diwujudkan dalam bentuk laporan dan dirilis setelah tahun akademik berakhir. Ketua BPM ini menjelaskan, pelaksana tugas penilaian akan dilakukan oleh Bagian Kepegawaian yang kemudian berkoordinasi BPM dan unit bagian maupun fakultas terkait.

Unsur penilaian IKTK akan dibagi ke dalam empat kategori yaitu kompetensi (pendidikan tertinggi, kepangkatan atau golongan keterampilan komputer/sertikat kompetensi), perilaku kerja (perilaku kerja dan kehadiran tepat waktu), pencapaian sasaran kerja, dan kepuasan, mahasiswa atau Indeks Prestasi Layanan (IPP) administrasi/rekan kerja (IKK unsur rekan kerja). (Feari/Sari)

 

 

 

 

 

KOMINPRO - Selamat kepada mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Salsabila Putri Pertiwi yang berhasil meraih juara 3  dalam ajang Lomba Essay Nasional di Universitas Indonesia dengan tema “Mother of Gaia”, Kamis (18/10). Dalam ajang tersebut Salsabila mengangkat topik mengenai bahaya limbah plastik. Dia berhasil menyisihkan tujuh peserta lain yang terdiri dari berbagai Universitas di Indonesia.  (Feari)

Ustad Adi Hidayat, Lc, MA. saat menyampaikan Tausiyah di Aula Unisba, Jumat (11/10)

KOMINPRO-Sungguh orang-orang beriman itu ikhwah. Mereka adalah bersaudara, mereka adalah pelaku ukhuwah. Jika ada seseorang yang mengaku beriman tetapi dalam kehidupan sosialnya sering berselisih dan saling mencela maka hal tersebut menggambarkan ada yang salah dengan keimannya. 

Demikian disampaikan Ustadz Adi Hidayat, Lc., M.A ketika memberikan tausyiah dalam acara Tabligh Akbar Milad Unisba ke-60, di Aula Unisba, Jum’at (11/10). Dia mengatakan kalimat pertama yang disandingkan dengan ukhuwah adalah iman.

Dikatakan Ustad Adi, dasar ajaran ukhuwah bersumber dari surah Al Hujurat ayat 10 yang berbunyi Innama al-mu’minuuna ikhwatun fa-ashlihu baina akhawaikum wa at-taqullaha la’allakum turhamuun. Artinya sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat).

Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk memperkuat ukhuwah sebagaimana tercantum dalam surah Ali Imran ayat ke-103. “Jikalau kita ingin mempererat ukhuwah dan menjaga agar tidak pecah, berpegang teguhlah pada Hablullah. Semua ulama tafsir sepakat Hablullah yang dimaksud ada dua utamanya, pertama Al-Jama’ah dan kedua Al-Qur’an,” ujarnya di hadapan 4000 lebih jamaah yang memadati lapangan parkir kampus biru Unisba.

Pa Ustad pun menegaskan, setiap aktivitas manusia pasti akan mempengaruhi perubahan zaman. Dalam menjalani hidup, berbuat baik tentu merupakan kewajiban bagi umat manusia. Namun, berbuat baik saja tidak cukup jika tidak disertai dengan keimanan yang kuat terhadap Allah Swt.

Langkah awal yang dapat ditempuh oleh civitas akademika dalam membangun ukhuwah yaitu dengan membangun visi yang sama untuk bersatu. Kemudian menghadirkan nilai kemuliaan untuk memperkuat kampus.  Ketika visi yang disuarakan kompak, kata Pa Ustad, secara tidak langsung aktivitas yang diturunkan akan sejalan.

“Kalau semua visinya ingin bersatu maka seluruh elemen dalam tubuh kita akan mendorong untuk menghasilkan yang terbaik, begitupun sebaliknya. Jika isi dari visi otak kita terpecah belah maka nanti masuk ke tangan akan menghasilkan tulisan yang memecah belah, masuk ke mulut keluar kata-kata keluar yang tidak tepat,” jelasnya.

Selain itu, untuk mencapai ukhuwuah kata dia , harus diringi dengan kemauan mempraktekkan isi Al-Quran dalam tatanan kehidupan. Dalam ayatnya Al-Qur’an menjamin seseorang yang mengamalkan akan memilki nilai ikatan ukhuwah yang kuat dan sulit dipisahkan dalam kehidupan. Hal ini terbukti dari sejarah yang mengisahkan turunnya Al-Qur’an di tengah umat jahiliyah.

Al-qur’an turun di tengah umat jahiliyah bukan tanpa alasan, tapi untuk menunjukkan pesan pada generasi selanjutnya begitu dahsyatnya Al-Quran jika dipraktekan dalam kehidupan. Dengan kekuasaanya, Allah mengeluarkan umat jahiliyah dari sifat keterpurukan yang bahkan mengalahkan bangsa Romawi yang sudah maju dan Persia yang sudah unggul.

Al-Qur’an turun membawa pesan kehidupan, isinya bukan bacaan biasa, ada pedoman-pedoman yang harus dipraktekkan dalam kehidupan. “Tidak peduli Anda pelajar, dosen, pengusaha, birokrat, diplomat isinya ada di situ semua. Begitu dipraktekkan pencela jadi pencinta, Pemukul jadi perangkul, pencaci jadi pendakwah semua lembut dan berubah dari jahiliah menjadi Khairul Ummah,” ujarnya.(Feari/Sari)

 

Rektor Unisba menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersama salah satu PTS di bawah naungan  LL Dikti Wil. IV Jabar dan Banten.

KOMINPRO-Sebagai salah satu perguruan tinggi unggul di Jawa Barat dan Banten, Universitas Islam Bandung (Unisba) kembali diberi sebuah kehormatan untuk  membina 11 perguruan tinggi swasta di bawah naungan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) Wil IV. Kerjasama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU), di Aula Kampus Pasca Sarjana Unisba, Jalan Purnawarman, Bandung, Kamis (18/10).

MoU ini merupakan lanjutan dari MoU sebelumnya dilakukan bersama 21 PTS yang dilaksanakan beberapa waktu lalu. Ke-11 PTS tersebut yaitu Universitas Bina Bangsa Serang, Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon, STIA Sebelas April Sumedang, STIE Prima Graha, STIKep PPNI Jawa Barat, STIKES Bakti Tunas Husada Tasikmalaya, Akademi Kebodanan YPSDMI, Akademi Perekam Medis dan Informatika Kesehatan (APIKES) Bandung, Universitas Komputer Indonesia, Universitas Buana Perjuanagn Karawang dan IKIP Siliwangi.

Rektor Unisba, Prof. Dr. H. Edi Setiadi, S.H., M.H. dalam sambutannya mengungkapkan, MoU ini merupakan implimentasi dan kebersamaan antar PTS sebagai mitra. “Kita tidak menganggap sebagai saingan tetapi sebagai mitra, status kemitraan saja kita saling membina. Kalau status perguruan tinggi hanya status formal saja,” ungkapnya.

Akreditasi A yang diraih Unisba menjadikan perguruan tinggi ini diberi tugas oleh LL-Dikti Wil. IV Jabar dan Banten untuk membina beberapa PTS di bawah naungannya. “Kita diberi amanat LL-Dikti Wil. IV kita tdak bisa menolak. Kita saling bantu membantu,” kata Rektor.

Kerjasama yang dijalin melalui MoU ini dibidang Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tujuannya,  agar terciptanya semangat bermitra. Hal konkrit yang bisa dilakukan dengan kerjasama ini meliputi join research, pengabdian kepada masyarakat, pertukaran dosen dan pinjam-meminjam dosen untuk mendirikan prodi.

Sementara itu, Rektor Universitas Bina Bangsa Serang Dr. H. Furtasan Ali Yusuf, S.E., S.Kom., MM. sebagai perwakilan PTS yang hadir, mengungkapkan rasa bahagianya atas penerimaan Unisba kepada PTS yang hadir. “Kami bahagia tidak mmbayangkan formasi lengkap seperti ini. Kami merasa agak surprise seluruh pimpinan Unisba turut hadir,” ujarnya.

Dikatakannya, alasan dipilihnya Unisba sebagai tindak lanjut rapat kerja yang dilaksanakan beberapa waktu lalu karena Unisba meruapakan salah satu PTS tertua di Indonesia dan prestasi Unisba yang prestisius yang unggul dari sisi akreditasi.

Menurutnya, walaupun konteksnya kemitraan, PTS tetap mau banyak belajar kepada Unisba. “Kita temukan tempat di Unisba ini. Kami sangat belia dan berharap banyak.
Tidak hanya kertas MoU yang telah ditandatangani ini disimpan dilaci begitu saja, kami tidak ingin seperti itu,” ungkapnya.(Eki/Sari

 

 

 

 

Fajar Awalia Yulianto, dr., M.Epid, Kepala UPT Pelayanan Kesehatan Unisba

KONINPRO-UPT Poliklinik Unisba adalah salah satu fasilitas yang ada di kampus Universitas Islam Bandung. Klinik ini dapat dimanfaatkan oleh staff, dosen, keluarga staff dan dosen, mahasiswa, dan masyarakat sekitar. Namun sejauh ini pengguna terbesar Klinik Unisba adalah sivitas akademika perguruan tinggi ini.

Rekap pengunjung secara rutin dilakukan Kepala UPT Poliklinik Unisba, dr. Fajar Awalia Yulianto yang kemudian dilaporkan ke Puskesmas. Dari hasil rekap yang dilakukan dr Fajar, dapat dilihat pemanfaatan klinik  paling banyak oleh civitas Unisba yaitu oleh staff, dosen dan keluarga, sedangkan oleh mahasiswa hanya sekitar 30% sampai 40%. Dan yang paling sedikit adalah oleh masyarakat. Dalam satu hari pasien yang datang ke klinik bisa mencapai 40 orang per shift nya.

“Karena minat masyarakat kepada klinik sangat kecil, rencananya klinik akan melakukan promosi di dalam dan di luar unit untuk menarik minat masyarakat”, ujar dr Fajar.

Klinik Unisba termasuk kedalam Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) BPJS, namun saat ini perizinannya sedang diurus untuk perpanjangan. “Sebelumnya, Poliklinik Unisba sudah bekerja sama dengan BPJS, sekarang sedang perpanjangan pengurusan perizinan dan karena ada Permenkes yang harus dipenuhi jadi sekarang agak tersendat untuk perizinan, namun meski begitu kita masih menerima BPJS,” jelasnya. Bagi masyarakat yang akan menggunakan Poliklinik Unisba (pindah FTKP) dapat melakukannya secara online atau menghubungi bagian kepegawaian, membawa KTP dan Kartu Keluarga.

Untuk dapat bersaing dengan klinik lain, Poliklinik Unisba berencana membangun gedung empat lantai. Namun, kata dr. Fajar, sangat disayangkan karena sulit untuk mendapatkan perizinannya. “Klinik kita kan tidak kelihatan dari jalan. Awalnya ingin membangun ulang, namun karena susah perizinannya jadi kita memutuskan untuk memperbaiki dan mengembangkan fasilitas kesehatan yang ada sekarang,” tambahnya.

Pengembangan fasilitas dimulai dengan tambahan ruangan yang rencananya akan dimulai bulan Oktober ini, selain itu akan dirombak juga interior yang sudah ada. Melihat masyarakat sekitar Tamansari masih kurang memanfaatkan klinik Unisba, Unisba berencana membangun klinik Unisba di daerah komplek Unisba dengan fasilitas yang lebih lengkap, selain klinik kesehatan akan ada fasilitas daycare, fitness, dan apotek terpisah.

Disinggung pelayanan dari paramedis dan dokter yang terkesan kurang ramah, dr. Fajar memberi alasan, klinik Unisba sekarang berada dibawah Yayasan, maka ada peraturan baru dimana karyawan atau dosen Unisba yang tadinya bisa meminta obat tanpa prosedur, kali ini Yayasan meminta agar pemberian obat harus melalui prosedur yang benar. “Ada beberapa karyawan yang dulu konsultasi dengan dokter hanya melalui telepon kemudian diberi obat, sekarang tidak bisa seperti itu lagi, karena dalam prosedur itu dokter tidak bisa mendiagnosis dari jauh,” terangnya.

Dari hasil analisis yang ada, lanjut dr. Fajar, pelayanan Klinik Unisba bisa disebut kurang efisien, karenanya UPT Unisba akan meningkatkan pelayanan dengan memperbaiki prosedur. dr Fajar juga menjamin dokter yang baru sekarang memiliki skill yang lebih baik. 

Dalam memperingati milad Unisba ke 60, dr Fajar ingin memberikan kejutan untuk Unisba diantaranya perubahan nama UPT Poliklinik Unisba yang masih dirahasiakan. Selain itu, saat ini sedang dibangun klinik di kampus Unisba yang berada di Ciburial. Klinik tersebut dibangun khusus untuk pelayanan kesehatan mahasiswa dan civitas akademika yang berkegiatan disana.

Kepala UPT Polikliniki Unisba ini pun mengungkapkan syukurnya atas dukungan dari berbagai pihak untuk perkembangan UPT Poliklinik Unisba. “Kita ada untuk civitas, tujuannya  untuk kebaikan, peraturan yang diberlakukan pun untuk kebaikan bukan untuk kemunduran, saya tidak mau klinik Unisba meninggalkan kesan buruk, pokoknya tunggu saja..klinik Unisba akan memberikan yang terbaik dalam segala hal,” ujar dr Fajar. (Yasmin/Sari)

KOMINPRO-Kunjungan Rektor bersama pimpinan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Cirebon ke Unisba dalam rangka studi banding bidang akademik , bidang keuangan, kemahasiswaan, kesektariatan, penelitian dan bidang kehumasan. Rombongan diterima oleh Rektor bersama pimpinan Unisba di Gedung Rektorat Unisba, kamis (18/10). Kunjungan ini dilaksanakan setelah dilaksanakannya penandatangan MoU antara Unisba dan 11 PTS swasta di bawah naungan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) Wil IV. Jabar dan Banteh, salah satunya Untag Cirebon.***