Jan 20, 2019 Last Updated 6:11 AM, Jan 18, 2019
 
 
 
Berita

Berita (560)

KOMINPRO-Sebanyak 23 orang asesor Fakultas Ilmu Komunikasi Unisba mengikuti “Upgrade dan Recognition of Current Competency (RCC)atau Pelatihan dan Perpanjangan Sertifikat Asesor Kompetensi yang diselenggarakan Lembaga Sertifikasi Profesi Unisba (LSPU) di Hotel Luxton Bandung. Acara yang digelar selama tiga hari (12-14/12) ini menghadirkan dua narasumber Master Asesor BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi), yakni Dr. Tini Agustini dan Suryadi,MT.

Dr. Kiki Zakiah,Drs.,M.Si., Ketua LSPU Unisba menjelaskan, Upgrade dan RCC ini diselenggarakan mengingat pentingnya sertifikasi bagi mahasiswa  untuk memberikan jaminan dan perlindungan dalam memasuki dunia kerja baik secara nasional maupun regional. “Hal ini juga sebagai pelaksanaan amanat dari Undang-Undang Kemenristek DIKTI no 12 tahun 2012,” jelas Bu Kiki. 

Disamping itu, lanjutnya, untuk terselenggaranya sertifikasi kompetensi,  perlu perpanjangan sertifikat asesor kompetensi bagi asesor yang telah habis masa berlaku sertifikatnya yakni dengan melalui proses RCC ini. “Sementara itu, pelaksanaan sertifikasi kompetensi bagi seluruh mahasiswa, Unisba perlu menambah asesor kompetensi dengan melakukan pelatihan asesor,” tambahnya.

Senada dengan itu, Wakil Rektor I, Ir. A. Harits Nu’man, MT.,Ph.D.,IPM., yang hadir mewakili Rektor dan membuka acara Upgrade dan RCC ini menyebutkan, saat ini banyak Asesor Unisba yang sudah habis masa berlaku sertifikatnya sehingga perlu diperpanjang kembali. “Ke depan, tidak hanya Fikom yang memiliki Asesor sebanyak ini, tetapi seluruh (10) fakultas yang ada di Unisba juga memiliki asesor yang bersertifikat,” harapnya.

Sementara itu Master Asesor, Dr. Tini Agustini menjelaskan, asesor adalah orang yang melakukan asesmen kepada asesi. Asesi adalah peserta yanag ingin disertifikasi kompentensinya. “Asesor lebih kepada mengumpulkan bukti-bukti dari asesi sehingga di akhir  asesment asesor bisa merekomendasikan kepada Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) apakah yang bersangkutan kompeten atau belum,” terang Dr. Tini yang sejak 2006 menjadi Master Asesor BNSP ini.  

Dr. Tini menjelaskan, ada dua jalur asesmen yang akan dinilai dari seorang asesi, yakni jalur  uji kompetensi dan jalur portofolio.   Pada jalur uji kompetensi, asesi diminta  untuk mendemontrasikan keterampilannya, pengetahuan serta sikapmya. Sedangkan jalur portofolio, asesi dilihat dokumen portofolio-nya setelah itu diberi rekomendasi dari asesor ke LSP.

Sementara itu Suryadi, MT, yang juga Master Asesor,  mengungkapkan, peserta Upgrading harus sungguh-sungguh mengikuti kegiatan ini. Peserta hanya diperbolehkan bolos dua jam saja dari total tiga hari pelaksanaan, ini mengingat semua materi sangat penting untuk mereka ikuti.

“Upgrading ini merefresing untuk sistem yang baru harusnya mereka mengikuti 40 jam namun dilihat mereka sudah melaksanakan proses asesor sebelumnya maka kami lakukan selama 24 jam atau 8 jam dalam 1 hari pertemuan selama tiga hari,” terangnya. Lamanya waktu kegiatan ini dikatakan Suryadi sama dengan pelaksanaan Work Place Assessor (WPA)  atau pelatihan asesor kompetensi.

Materi pertama yang diberikan kepada peserta, meliputi 3 (tiga) unit materi fundamental, yakni (1) mengorganisasikan asesmen, (2) mengembangkan perangkat asesmen, dan (3)  mengasesmen kompetensi.

Dikatkan Suryadi, ada perubahan yang fundamental dari sistem yang baru yang mulai diberlakukan maret 2018 ini. Sebelumnya menggunakan sistem Training Asesment (TA), sekarang menggunakan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) khusus asesor. “Dahulu orientasinya ke unit, untuk membuat perangkat asesmennya, sekarang orientasinya ke skema sertifikasi,” katanya.

Skema adalah pemaketan kompetensi yang harus dilakuan oleh SDM yang akan diases tentang kompetensinya. “Paketnya meliputi 3 unit tadi yakni kesatu merencanakan, mengoranisasikan asesmen, kedua mengembangkan perangkat asesmen dan ketiga mengases kompetensi,” terangnya.

Pada saat memperpanjang sertifikat ini, BNSP melakukan suatu proses seleksi alam. Jika aseseor selama masa tiga tahun (pertama kali masa diberlakukannya sertifikat)  mereka tidak punya potensi, maka masa perpanjangan ini sebagai filter. 

Master Asesor yang sudah bertugas sejak 2005 ini menjelaskan, pada masa perpanjangan ini asesor harus dua kali mengembangkan perangkat asesmen, dua kali mengembangkan perencanaan  dan 6 (enam) kali melaksanakan uji kompetensi (6 kali surat penugasan). “Bukan 6 kali menguji, misal satu kali penugasan 10 orang maka 60 orang. Kemungkinan yang tidak lulus mereka yang baru 1 kali, dan yang tidak memenuhi syarat mereka akan diuji kompetensi lagi,” terangnya.

Jika peserta memenuhi syarat upgrade 24 jam, maka akan di RCC, diperpanjang. Mereka yang diperpanjang adalah yang sudah melaksanakan 6 kali uji kompetensi, kemudian mengikuti  tes lisan atau wawancara sejauh mana mereka mampu memelihara dan memperterhankan kompetensi asesornya. Jika mereka bisa memenuhi syarat/lulus, maka akan bisa lanjut diperpanjang sertifikatnya. Tetapi jika tidak, maka harus diuji ulang seperti asesor baru.

Tim BNSP (Master Asesor) ini akan melakukan semua proses perpanjangan tersebut (termasuk wawancara) kemudian memberikan rekomendasi.  Selanjutnya tim sekretariat BNSP akan melakukan verifikasi apakah rekomendasi itu layak untuk diberikan sertifikatnya atau belum.(Sari)

 

KOMINPRO-Pusat Studi ASEAN LPPM UNISBA bekerjasama dengan Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) gelar Talkshow dengan Tema Islam di ASEAN yang mengusung pesan utama peran pemuda dalam mempromosikan nilai-nilai Islam yang toleran dan moderat di kawasan ASEAN, di Student Center, Kampus Unisba, Jl. Tamansaari No.1 Bandung, Senin (10/12). Talkshow ini menghadirkan 3 (tiga)  pembicara yaitu Prof. Dr. Miftah Faridl (Ketua MUI), Prof. Dr. Azyumardi Azra (tokoh cendekiawan muslim dan pengamat budaya Islam)  dan Dr. Ani Yuningsih M.Si (peneliti gerakan ruhuddien generasi milenial di kawasan Asean melalui media sosial).                         

Alasan dibalik kegiatan ini adalah dengan melihat  komposisi demografi di ASEAN yakni 30% penduduknya adalah pemuda serta lebih dari 50% perempuan, maka ke depan peran pemuda dan perempuan di ASEAN akan menjadi kunci perubahan. Oleh karena itu pemahaman pemuda dan perempuan terhadap Islam yang toleran dan moderat perlu ditumbuhkan agar mereka dapat tumbuh sebagai ambassadors of peace.  Indonesia sangat berkepentingan untuk hal ini. Sebagai natural leader dan jumlah muslim terbesar di ASEAN, Indonesia harus mampu memberi contoh bahwa Islam yang ada di Indonesia merupakan Islam yang toleran dan moderat.

Prof. Dr.Azyumardi Azra mengemukakan bahwa di  kawasan ASEAN, Indonesia-lah yang budaya Islamnya paling toleran dan moderat, karena Islam wasatiyah berkembang di Indonesia yaitu praktik dan kehidupan Islam yang toleran, terbuka, demokratis dan saling menghormati satu sama lain, meski di Indonesia banyak tumbuh ormas Islam yang kuat dengan kekuatan identitasnya masing2 namun berjalan seiring tanpa saling menyakiti, ini terjadi karena pola ajaran Islam sejak pertama kali datang ke Indonesia melalui pendekatan budaya, Islam masuk ke dalam budaya yang ada,  dan baru kemudian secara bertahap menemukan Islam yang murni. Seraya menjelaskan kehidupan dan budaya Islam di negara-negara ASEAN lainnya. Azyumardi menyimpulkan bahwa hanya Indonesia dan bukan negara lain yang mampu menjadi ujung tombak dalam membangun dan mempromosikan Islam yang toleran dan moderat di kawasan ASEAN.

Prof.Dr. Miftah Faridl mengemukakan bahwa generasi muda hendaknya mempelajari nilai-nilai Islam dan ayat-ayat suci Al Qur'an secara komprehensif untuk mengambil makna dan tafsir yang benar tentang nilai toleransi dan moderasi yang ada di dalamnya sehingga mampu mepraktikkan Islam secara damai, serta  sabar dalam menghadapi  perbedaan. Ayat-ayat Al Qur'an tidak dapat dimaknai secara parsial dan dijadikan legitimasi untuk menerapkan sikap yang radikal, kasar dan saling meng "kafir" kan terhadap sesama muslim yang berbeda dalam tafsir dan praktik serta budaya Islamnya.

Pembicara lainnya Dr.Ani Yuningsih memaparkan tentang adanya kecenderungan generasi milenial untuk belajar nilai- nilai Islam secara instant dan parsial melalui media sosial, padahal hasil riset menunjukkan 80 % ajaran Islam di media sosial adalah ajaran yang kaku. Ini perlu di counter dengan muatan dakwah di media sosial yang berisi nilai toleransi dan moderasi, agar generasi muda mendapat pesan dakwah dari berbagai sisi. Di sisi lain  Kegelisahan dan semangat pembelajar  generasi milenial untuk menerapkan nilai Islam secara benar diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan seperti melalui film, bisnis start up, board game, pemuda dalam mitigasi bencana, literasi media dan sebagainya yang memerlukan support dan kolaborasi dengan pemerintah dan pemilik modal yang dapat menjadi mentor generasi muda untuk menjalankan Islam dengan kesalehan sosial.***

Rektor bersama IKA FH Unisba

KOMINPRO-Ikatan Alumni (IKA) Fakultas Hukum Unisba bekerjasama dengan Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa), menggelar Seminar “Sosialisasi Dana Desa untuk Akademisi dan Praktisi” yang diselenggarakan di El Royale Hotel Bandung, Jumat- Minggu (07-10/12).

Rektor Unisba, Prof. Dr. H. Edi Setiadi, S.H., M.H., dalam sambutannya mengungkapkan, sosialisasi ini sangat penting bagi Tri Dharma Perguruan Tinggi terutama dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.

Rektor menilai, dengan keterlibatan IKA FH Unisba dalam seminar ini, bagi Dekan FH Unisba secara administratif, sangat berkepentingan karena melalui seminar ini akan menambah poin sebagai kiprah alumni terhadap almamater.

Rektor yang juga merupakan alumni FH Unisba angkatan 82, mengajak alumni untuk bersama – sama membesarkan Unisba secara khidmat baik diluar maupun didalam Unisba untuk selalu memelihara Unisba sebagai almamaternya.

Rektor berharap, IKA baik di tingkat fakultas maupun universitas untuk selalu berbagi pengetahuan dengan berbagai aktifitas secara fokus sebagai kontribusi alumni terhadap almamaternya.

Sementara itu, Ketua IKA FH Unisba, Dr. Undang Mugopal, SH., M.Hum., mengatakan, sosialisasi ini bukan saja untuk kepentingan IKA tapi kepentingan stakeholder agar kesimpulan dari seminar ini bisa diraih secara komprehensif.

Alumni FH Unisba yang juga merupakan Kepala Biro Hukum dan Ortala Kemendesa ini melanjutkan, ide dari seminar ini muncul dari peraturan presiden No. 12 tahun 2015 yang terdapat tiga amanat bagi Kemendesa untuk membangun desa dan kawasan pedesaan, melakukan pemberdayaan masyarakat desa dan pencetakan pembangunan daerah tertinggal  dan transmigrasi.

Diakuinya, Kemendses perlu bekerjasama dengan berbagai pihak seperti Kementrian, Lembaga dan Akademisi untuk menghadang berbagai kesulitan dalam melaksanakan peraturan presiden tersebut. Salah satunya di bidang akademisi dengan menggandeng IKA FH Unisba melalui terselenggaranya seminar ini.

Harapannya, seminar ini bisa berjalan dengan baik, bermanfaat bagi peserta dan memberikan arah kedepan desa akan seperti apa.

Dalam kesempatan yang sama, Metty Susanti, SH., M.Si. selaku ketua panitia seminar ini yang juga menjabat sebagai Plt. Kepala Biro SDM dan Umum Kemendesa, mengatakan,  dana desa hadir dimanfaatkan pada pembanguna  jalan, desa, jembatan dan lainnya. Namun, menurutnya, saat ini masih banyak desa di Indonesia yang jauh dikatakan maju dan tertinggal. Maka dari itu, tugas dari Kemendes untuk memajukan desa menjadi lebih baik.

Senada dengan Pak Undang, dikatakan dalam pelaksanannya membutuhkan kerjasama dengan stakeholder dibidang akademis dengan menggaet perguruan tinggi untuk  pengimplementasian di bidang pendidikan, riset yang membantu menggali potensi desa dan prioritas penggunaan dana desa melalui pendampingan dan pemberdayaan masyarakat desa selaku subjek pembangunan serta bersinergi dalam  upaya perbaikan mutu penyelenggaraan desa.

Alumni FH Unisba ini menambahkan, jalinan kerjasama dengan perguruan tinggi dalam forum perguruan tinggi untuk desa  sangat membantu. “Semua masukan dari perguruan tinggi sangat penting bagi kami demi kemajuan desa melalui jalinan kerjasama dengan perguruan tinggi Pertides dengan 100 PTN dan PTS di Indonesia termasuk Jawa Barat,” ungkapnya.

Meski Unisba tidak termasuk ke dalam 100 perguruan tinggi tersebut, Bu Metty berharap, kedepannya, dapat terjalin komunikasi intens dengan Unisba dan menjadi mediator antara IKA dan Unisba sehingga Kemendesa bisa bersinergi dan memajukan desa menjadi lebih baik lagi. Selain itu, harapannya, kontribusi pemikiran masukan terkait penggunaan dana desa dan pemanfaatn dana desa bisa ditampung dari aspirasi peserta.

Lebih jauh, diungkapkannya, stakeholder yang terdiri dari masyarakat, perguruan tinggi melalui akademisi dan mahasiswa juga praktisi dapat mengambil peran untuk berkontribusi dalam mengawali penggunaan dan pemanfaatan dana desa yang sudah diberikan pemerintah untuk semata-mata demi kesejahteraan dan pembangunan masyarakat desa.(Eki/Sari)

KOMINPRO Laporan-laporan yang tercipta dari kekuatan data, disampaikan secara baik, namun tak abai pada kecepatan adalah sumber informasi yang layak diperoleh masyarakat Indonesia. Tidak hanya karya jurnalistik, laporan penelitian sekalipun harus ditulis dengan akurat dan relevan. Persoalannya, tidak semua yang relevan dikemas secara menarik. Inilah yang menjadi tantangan bagi para jurnalis.

Demikiam disampaikan Redaktur Investigasi Tirto.id, Fahri Salam dalam Studium Generle (SG) bertema, “Romanum De Vectigium” yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Jurnalistik (KMJ) Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unisba,  di Aula, Kamis (6/12). Kegiatan ini merupakan acara tahunan yang bertujuan untuk memperkenalkan tiga bidang kajian yang ada di Fikom Unisba kepada mahasiswa baru.

Acara ini menghadirkan dua narasumber dari bidang jurnalistik yaitu Redaktur Investigasi Tirto.id Fahri Salam dan jurnalis Vice Indonesia, Arzia Tivany Wargadiredja. Kedua narasumber tersebut dipilih karena dianggap mampu menyajikan berbagai informasi terkini dengan kemasan menarik dan disukai generasi masa kini.

Lebih jauh Fahri menjelaskan, inti dari deep reporting adalah liputan secara mendalam yang menggunakan pendekatan feature.  “Feature merupakan teori yang banyak digunakan tokoh untuk menghasilkan karya dalam medium apapun,” terang Fahri seraya menambahkan, sejak tahun 1920, teori ini tetap bertahan dan dimanfaatkan dengan berbagai penyajian baik itu dekskriptif atau naratif reporting.

Fahri berpendapat, hampir semua buku bagus, bahkan dari dunia akademis sekalipun seperti Steve Jobs yang menggunakan pendekatan feature. “Di Indonesia sendiri ada Metta Darmasaputra yang menceritakan liputan investigasi tentang kasus manipulasi pajak Asian Agri Group melalui Buku Saksi Kunci dengan sudut pandang detektif dan menarik sekali,” terangnya.

Tirto.id yang lahir pada 12 Mei 2016,  dikatakan Fahri,  menjadi salah satu media yang konsisten menghasilkan berita dengan kekuatan data. Melalui laporannya, Tirto.id berupaya untuk menepis anggapan masyarakat bahwa jurnalisme media online adalah jurnalisme yang asal mengundang klik, banyaknya halaman dibuka (page views), lepas dari konteks, dangkal, dan tidak enak dibaca.

Berbeda dengan Tirto.id, Vice Indonesia concern memanfaatkan media youtube untuk membuat indepth reporting. Jurnalis Vice Indonesia, Arzia Tivany Wargadiredja percaya bahwa masyarakat Indonesia pada masa ini, cenderung lebih menikmati suguhan berbentuk audio visual dibandingkan tulisan.

“Saya merasa, di Indonesia lebih mudah menyerap penonton dibandingkan  pembaca. Saya menemukan ini dari jaman kuliah dan mengamati orang-orang di sekitar,” katanya.

Namun, lanjutnya, adanya anggapan bahwa orang Indonesia tidak menyukai video berdurasi panjang kini menjadi sebuah tantangan tersendiri. Untuk mensiasati hal tersebut, Arzia bersama Vice Indonesia mencoba untuk mengambil isu yang dekat dengan masyarakat dan menyajikan dengan cara menarik.

“Kita sekarang punya media online platform-nya banyak. Kita bisa membuat indepth reporting yang isunya dekat dengan masyarakat dan tidak selalu politik. Kalo kita bisa mengemasnya dengan tepat  pasti banyak peminatnya, seperti video kita dengan durasi 30 menit tapi berhasil mengundang banyak penonton,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Penyelenggara Nabilla Anasty Fahzaria mengatakan, pengambilan tema pada kegiatan ini diambil dari bahasa latin yaitu romanum yang artinya  balai penyebaran acta diurna, sementara de vectigium mengandung arti jejak kaki. ”Acta diurna itu merupakan media informasi pertama pada zaman dulu. Kalo ditafsirkan maksud dari tema ini tentang bagaimana media mampu merangkai informasi dari jejak-jejak yang ada menuju sebuah kebenaran,” katanya.

Nabilla menjelaskan alasan dipilihnya kedua narasumber dalam SG tersebut. Menurutnya, Vice selalu memilih tema unik dan nyentrik, serta audio visual yang bagus. Sedangkan Tirto, kata dia,  infographicnya menarik. “Menurut kami kedua media tersebut masuk untuk segmentasi remaja dan bisa memperkankan dunia jurnalistik itu tempat bermain yang seru dan luas cakupannya,” jelasnya.

Tirto.id, kata dia, merupakan portal media online yang menyajikan tulisan dan infografik berita serta analisis berdasarkan fakta dan data. Media tersebut memiliki visi bahwa dalam proses jurnalisme menyajikan tulisan-tulisan yang jernih (clear), mencerahkan (enlighten), berwawasan (insightful), memiliki konteks (contextual), mendalam (indepth), investigatif, faktual serta dapat dipertanggungjawabkan.(Feari/Sari)

 

 

 

KOMINPRO-11 mahasiswa Unisba menerima Beasiswa Baznas Prov. Jabar. Beasiswa secara simbolis diserahkan Ketua Baznas Prov. Jabar, KH. Arif Ramdani, Lc.MA. kepada Rektor Unisba, Prof. Dr. H. Edi Setiadi, SH.MH. di Ruang Rektorat, Senin (10/12). "Beasiswa ini merupakan bantuan dalam rangka mengentaskan keterbelakangan pendidikan dan mencetak kader ilmuwan ulama yang berjiwa 3M, Mujahid, Mujtahid, Mujaddid," kata Rektor.***

KOMINPRO-Sebanyak 3000 lebih mahasiswa baru kembali menjalani test Baca Tulis Al-qur'an (BTAQ) di Aula Unisba (9/12). Hasil test kali ini menentukan mereka untuk bisa mengikuti Pesantren Mahasiswa. Sebelumnya mereka pernah mengikuti placement test BTAQ pada awal masuk Unisba dilanjutkan menjalani mentoring selama 3 bulan. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya Unisba dalam melahirkan alumni sebagai ilmuwan yang ulama dan ulama yang ilmuwan yang memiliki karakter 3M (Mujahid, Mujtahid, Mujaddid).***

 

KOMINPRO-Sampah dan lingkungan, tak bisa dipisahkan. Jika kita menangani sampah dengan benar, maka lingkungan bersih, sehat dan indah pun akan kita dapatkan. Sebaliknya, jika kita sembarangan membuang sampah, akibatnya, selain lingkungan kotor, lalat bertebaran, penyakit datang hingga musibah banjir melanda. Kesadaran dalam mengelola sampah inilah yang perlu ditanamkan kepada masyarakat khususnya masyarakat yang berada di daerah bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

Bertolak dari fenomena tersebut, Unisba membentuk Tim KKN yang disebut dengan Tim KKN Tematik Citarum Harum Pentahelix. Citarum Harum Penta Helix, adalah salah satu program yang digulirkan Unisba dalam membantu pemerintah menangani masalah pencemaran lingkungan khususnya pengembalian fungsi sungai Citarum yang bersih bukan sebagai tempat pembuangan sampah bagi masyarakat. Program ini melibatkan semua stakeholder meliputi pemerintahan, dunia usaha/industri, akademisi (dosen dan mahasiswa), dan masyarakat yang bekerja sama membersihkan sungai Citarum dari sampah dan limbah yang mencemarinya.

Wakil Rektor I Unisba, Ir. A. Harits Nu’man, MT.,Ph.D.,IPM., mengungkapkan, Citarum Harum Pentahelix merupakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilakukan Unisba atas diterimanya dana hibah dari pemerintah melalui Dirjen Belmawa (Kemenristekdikti).  Unisba sebagai salah satu perguruan tinggi yang memperoleh hibah tersebut untuk membenahi sungai Citarum atau desa yang berada di sekitarnya yang berkaitan dengan sungai Citarum. Unisba memilih sektor I, Desa Cibeureum (Cisanti) untuk dibenahi.

Program ini, lanjut Warek I, fokus kepada perubahan mindset masyarakat wilayah sektor I DAS Citarum dengan pendekatan model BCA (Behavior, Culture, Attitude) yang meliputi, (1) Pemilahan sampah organik dan anorganik; (2) Pengolahan sampah organik (takakura dan bata terawang) dan anorganik (kerajinan tangan/aksesoris); (3) Kegiatan education games; dan (4) kegiatan sosialisasi metode sistem manajemen pemasaran produk hasil olahan sampah.

Kegiatan ini berlangsung selama 10 hari mulai dari 21 s.d. 30 November 2018 di Sektor 1 Cisanti Kec. Kertasari Kab. Bandung. Selama KKN, kegiatan yang dilaksanakan yaitu pengelolaan sampah masyarakat dengan pola 3R (Reuse, Reduce  and Recycle), membuat lubang biopori & mega biopori, pelatihan treasure membuang plastik, membuat bata terawang, story telling & menggambar bersama anak–anak mengenai lingkungan sungai sekelilingnya, live the river, penyuluhan kesehatan gigi & mulut, penyuluhan cuci tangan dengan enam langkah dan melakukan games edukasi.

Salah satu kerja nyata yang dihasilkan dari KKN ini yaitu gundukan sampah yang ada di dua RW bisa teratasi dan terkelola dengan baik. Tumpukan sampah tersebut sudah ada sejak puluhan tahun. Selama dua hari, tim dan masyarakat sekitar mengerjakan dan membersihkan gundukan sampah tersebut. Saat ini, tumpukan sampah sudah tidak tampak lagi.

KKN ini ditutup oleh Rektor Unisba, Prof. Dr. H. Edi Setiadi, S.H., M.H., Sabtu (01/12) di Bongkor, Desa Tarumajaya, Kec. Kertasari, Kab. Bandung. Rektor mengatakan, KKN ini merupakan salah satu bakti Unisba kepada masyarakat.

Program KKN ini, lanjut Rektor, membawa kesan yang baik bagi mahasiswa Unisba yang diberikan pendampingan serta dididik disiplin dan kekompakan oleh TNI.  “Walaupun kontribusi yang diberikan Unisba tidak terlalu besar untuk mewujudkan Citarum Harum, tapi KKN ini adalah bagian kepedulian Unisba terhadap kondisi alam  karena alam ini menghidupi kita semua,” ungkap Rektor.

Lebih jauh Warek I Unisba, menjelaskan, alasan Unisba memilih sektor I karena hulu sungai ada di Cisanti, Cibeurem. “Kita akan benahi itu. Yang ingin kita capai adalah terbentuknya kesadaran masyarakat yanag cinta dan peduli lingkungan melalui metode BCA. Target terdekatnya adalah transfer of knowledge tentang budidaya/manajemen sampah kepada masysrakat,” terang Warek I.

Dari progam ini juga diharapkan terbentuk Bank Sampah yang sudah dibedakan tempatnya yaitu Bank Sampah Organik dan Bank Sampah Anorganik di masing-masing RT/RW. Adanya Kompos,  MOL (Mikro Organisme Lokal), dan kerajinan tangan seperti tas, dompet, taplak meja dari sampah anorganik (cangkang kopi, gelas aqua bekas, plastik bekas), serta terbentuknya sebuah cerita anak yang akan dibukukan melalui website dengan tema, “The Light River” atau Cahaya Sungai Citarum Harum.

Lebih jauh Warek I menjelaskan, program KKN tematik terpadu dijadikan sebagai model sarana pembelajaran dengan metode BCA berbasis masyarakat untuk meningkatkan kepedulian mahasiswa. KKN ini juga mengembangkan dan menumbuhkembangkan jiwa kepedulian terhadap lingkungan hidup yang bersih kepada masyarakat di kawasan sungai Citarum secara berkelanjutan. Selain itu untuk membuat inovasi program KKN tematik sebagai bahan pembelajaran mahasiswa dengan metode BCA serta membuat Klinik Sampah yang berbasis masyarakat dengan melakukan 1000 tangan membuang sampah pada tempatnya. 

Ketua Pelaksana Hibah Tematik Citarum Harum, Dr. Dini Dewi Heniarti,SH.,MH., mengungkapkan, hal yang paling mendasar yang harus ditangani adalah masalah pengelolaan sampah dan limbah ternak yang dibuang masyarakat ke  sungai Citarum. “Namun saat ini kita fokus kepada penanganan sampah dulu karena sesuai anggaran yang kita terima. Mudah-mudahan lain kali kita mendapat hibah lagi untuk menangani masalah limbah ternak ini, karena menangani limbah dari 10.000 hewan ternak bukan hal yang mudah,” terangnya.

Senada dengan Warek I, Dr. Dini menyebutkan, kegiatan yang kini dilakukan Tim Unisba adalah observasi lapangan dan Gerakan Pungut Sampah (GPS). Tim Unisba yang terdiri dari dosen dan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu ini juga memberikan edukasi kepada masyarakat tentang prilaku mengelola sampah, komposting bata terawanag, ecobrick, pembuatan bata terawang, dan trashion (membuat kerajinan dari sampah yang bernilai seni serta memiliki nilai ekonomi).

“Tim kami dari Tarbiyah misalnya memberikan pendekatan kepada masyarakat tettang pemahaman perlunya lingkungan bersih dengan pendekatan agama, sedangkan dari Psikologi, Kedokteran, memberikan edukasi kepada anak-anak melalui story telling, tim dari fakultas lain pun memiliki peran masing-masing,” terang Dosen Fakultas Hukum Unisba yang juga Ketua Asosiasi Profesor Doktor Hukum Indonesia (APDHI)  ini.

Tim Unisba, diberi waktu satu bulan untuk membenahi Desa Cibeureum ini. Karenanya semua yang terlibat bekerja keras untuk menyelesaikan program ini. “Alhamdulillah hari kedua bekerja, kami sudah bisa mendatangkan alat berat untuk membersihkan sampah yang berton-ton di daerah tersebut,” terangnya.

Diakui Ketua Tim, untuk mewujudkan program ini tidak mudah. Pasalnya, ada juga masyarakat yang apriori terhadap program Unisba ini. “Mereka mungkin jengah dengan program sebelumnya dari Tim perguruan tinggi lain yang menurut mereka tidak ada bekasnya,” terang Ketua Tim.

Namun, lanjutnya, Tim Unisba tidak bosan untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat agar semua bisa bekerja sama sehingga Citarum Harum dapat terwujud.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penanaman pohon yang dilakukan oleh Rektor, Warek 1 dan Ketua Pelaksana Hibah Tematik Citarum Harum, Dr. Dini Dewi Heniarti,SH.,MH. Jenis pohon yang ditanam yaitu pohon manglid yang ditanam di area Bongkor. Penanaman pohon ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan untuk menyukseskan program Citarum Harum.

Selain itu, tim juga memberikan penghargaan kepada para pendamping berprestasi yang terdiri dari Letkol Inf Choirul Anam (Dansektor 1 Pembibitan) sebagai Pendamping Terbaik,  Apep Setiawan (Ketua RW 11 Desa Cibeureum) sebagai Pendamping Teraktif, Ujang Suryana sebagai Pahlawan Sampah, Rian Amukti, S.SI., M.SC. (Dosen T. Pertambangan Unisba) sebagai Dosen Pendamping Terbaik dan Robi & M. Rajib sebagai Pembuat Gambar dan Cerita Terunik.

Sementara itu, Komandan Sektor (Dansektor) 1, Kolonel nf Inget Barus, mengungkapkan, disiplin ilmu yang didapat mahasiswa di bangku kuliah dapat dipraktekan dilapangan khusunya pada program KKN ini yang memiliki dampak positif. “Kegiatan sosialisasi maupun disiplin ilmu yang disampaikan, khususnya penanganan sampah yang ada di Desa Cibeureum sektor 1 itu nyata,” ungkapnya.

Menurutnya, selama keberadaan mahasiswa di Desa Cibeureum tidak ada hal – hal negatif dan masalah yang dihadapi. “Semaunya berjalan dengan baik dan bisa menjaga sopan santun,” terangnya.

Senada dengan Dansektor 1, Dansektor 1 Pembibitan, Letkol Inf Choirul Anam mengapresiasi kegiatan KKN ini karena sangat membantu berjalannya program Citarum Harum. Pada saat pelaksaan KKN ini, diakuinya, diajarkan juga cara mengelola sampah yang baik oleh ahli yang didatangkan oleh tim.

Lebih jauh, menurutnya, program KKN ini meninggalkan bekas yang baik dan berharap tidak terbatas KKN saja tapi kapan pun mahasiswa Unisba bisa bersama-sama untuk terus menyukseskan program Citarum Harum.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua RW 11 Desa Cibeureum, Apep Setiawan, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas terlaksananya KKN ini yang sangat membantu warganya dalam menjaga lingkungan di desanya. Beliau pun berharap program ini bisa berkesinambungan untuk menjaga lingkungan dan tidak hanya sekali terlaksana tapi berkelanjutan sehingga bisa memberikan motivasi bagi masyarakat desanya untuk mengelola lingkungan sebagai sumber penghidupan.

Selama pelaksanaa KKN ini banyak memberikan kesan dan pesan bagi mahasiswa yang terlibat. Seperti yang diungkapkan oleh perwakilan mahasiswa yaitu  Nisa Shofia dari prodi Teknik Industri Angkatan 2014 dan Reza Nur Muhamad Sidik dari Psikologi angkatan 2017. Keduanya antusias dalam melaksanakan program KKN ini.

Reza berpesan agar apa yang telah dilakukan bisa bermanfaat sebanyak mungkin bagi masyarakat Desa Cibeureum, serta program ini bisa dilanjutkan dan dikelola dengan baik oleh yang berwenang. Sedangkan Nisa berpesan banyak pembelajaran yang didapat selama melaksanakan KKN ini, bagaimana cara untuk bersosialisasi dengan masyarakat sekitar untuk selalu melihat sudut pandang yang baru dalam mengambil keputusan tanpa harus saling menyakiti.(Eki/Sari)

 

 

 

 

KOMINPRO-Universitas Islam Bandung (Unisba) membentuk Satuan Tugas (Satgas) untuk mendukung efektivitas peraturan Kawasan Bebas Asap Rokok (KBAR) di lingkungan kampus. Sebagaimana diketahui Unisba telah mengeluarkan Peraturan Rektor No. 187/L.03/SK/Rek/X/2018 tentang Kawasan Bebas Asap Rokok di Lingkungan Unisba yang ditandatangani Rektor, Prof. Dr. H. Edi Setiadi,SH.,MH., dan ditetapkan pada tanggal 31 Oktober 2018 lalu. Dengan adanya peraturan ini diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan/kematian yang disebabkan oleh asap rokok dan mewujudkan kualitas udara yang sehat dan bersih dari asap rokok.

Tujuan lain dari dikeluarkannya peraturan ini adalah untuk mewujudkan generasi muda yang sehat dan produktif, mendukung implementasi Kawasan Tanpa Asap Rokok (KTR) di Kota Bandung, mewujudkan  kampus berwawasan lingkungan (eco campus) di Unisba, dan mewujudkan nilai-nilai Islam di lingkungan kampus Unisba. Untuk menegakkan peraturan ini, Rektor membentuk Satuan Tugas (Satgas) KBAR secara khusus. Satgas ini juga akan mensosialisasikan peraturan KBAR setidaknya dalam kurun waktu dua bulan terhitung sejak peraturan ditetapkan.

Dalam Peraturan Rektor ini juga disebutkan sanksi bagi mereka yang melanggar aturan, mulai dari sanksi ringan, sedang, hingga sanksi berat. Sanksi ringan diberikan kepada mereka yang terbukti melanggar peraturan sebanyak 1 (satu) kali. Sanksi ini berupa teguran lisan, membuat pernyataan tidak akan melanggar peraturan KBAR, dan dilakukan pencatatan oleh Satgas KBAR.

Sanksi sedang diberikan kepada mereka (masyarakat kampus Unisba) yang melanggar aturan sebanyak dua sampai tiga kali. Sanksi ini terdiri dari sanksi ringan (teguran lisan, membuat pernyataan tidak akan melanggar peraturan KBAR, dan dilakukan pencatatan oleh Satgas KBAR), dan bagi mahasiswa akan diberikan sanksi akademik, sedangkan bagi pegawai (dosen & tendik) akan diberi sanksi kepegawaian sesuai yang berlaku.

Sementara itu, sanksi berat akan diberikan kepada mereka yang terbukti melanggar KBAR lebih dari 3 (tiga) kali.  Bagi mahasiswa, sanksi ini berupa sanksi akademik (pelanggaran berat) sesuai dengan peraturan akademik dan pedoman kemahasiswaan yang berlaku. Bagi pegawai, diberikan sanksi kepegawaian (pelanggaran berat) sesuai dengan peraturan kepegawaian yang berlaku.(Sari)

 

 

 

 

 

 

 

Berita Duka

انّا للہ و انّا الیہ راجعون

Telah berpulang ke Rahmatullah

H. M. Nu’man Sastradimadja

(Mantan Wakil Rektor Unisba)

Di RS Borromeus Bandung

Pada hari Rabu, 05 Desember 2018 pukul 09:00 WIB.

Civitas Akademika Unisba mendoakan, semoga almarhum

mendapat maghfirah dan tempat terbaik di sisi Allah SWT. 

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan. Aamiin.

 

KOMINPRO - Di era sekarang membuat sebuah kebijakan pro lingkungan sudah menjadi sebuah tuntutan. Tidak dapat dipungkiri, dampak pemanasan global terhadap kehidupan manusia semakin nyata dirasakan seperti perubahan iklim, kekeringan, kebakaran hutan, dan meningkatnya resiko penyakit. Di sisi lain, disadari atau tidak, banyak hal yang kita lakukan justru menjadi pencetus munculnya pemanasan global dan awal kerusakan lingkungan. Mulai dari mengolah makanan, menggunakan kendaraan dan alat transportasi, memakai peralatan listrik, hingga aktivitas pertanian, dan aktivitas lain yang menjadi penyumbang jejak karbon.

Melihat kurangnya kesadaran masyarakat terhadap fenomena tersebut, Pusat Penembangan Teknologi dan Lingkungan Hidup (P2TLH) menggelar Studium Generale bertema “Green and Halal Product” di Aula Fakultas Kedokteran, Sabtu (1/11). Dalam kegiatan tersebut dihadirkan tiga pembicara yakni Wakil Direktur LPPOM MUI Jawa Barat, Ir. Hj Ferika Aryanti MT., Kepala Sub Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup Kementerian Perindustrian RI, Dr. Andriati Cahyaningsih S.Si., M.Si, dan Owner “Semesta Batik” Ciwaringin Cirebon, Farhan Jazuli.

Wakil Direktur LPPOM MUI Jawa Barat mengatakan, banyak aktivitas manusia yang ditengarai menghasilkan jejak karbon dan memicu pemanasan global. Namun, dia berpendapat bahwa perubahan perilaku yang berkiblat pada gaya hidup hijau (green lifestyle) dipercaya mampu meminimalisir dampak buruknya terhadap lingkungan. 

“Mengingat lingkungan dalam kondisi yang semakin memprihatinkan, pilihlah produk yang mencantumkan label ecofriendly atau recycling symbol pada kemasannya. Karena produk dengan bahan non toxic tidak mengandung bahan yang dapat merusak lingkungan,” katanya.

Dalam kesempatan itu dia juga mengatakan, selain membuat olahan produk ramah lingkungan masyarakat tetap harus mengutamakan kehalalannya. Menurutnya, hampir semua produk halal diproses secara ramah lingkungan tapi tidak semua produk yang dikategorikan green itu halal.

“Bahan dasar kertas sangat mudah terurai dan ramah lingkungan. Tapi hati hati dalam papper Industry bisa saja sebuah perusahaan menggunakan bioteknologi enzimatis, ini berkaitan dengan titik kritis kehalalan,” jelasnya.

Sementara itu, Dr. Andriati Cahyaningsih S.Si., M.Si, mengatakan saat ini dunia industri dikelilingi oleh banyak pihak yang tidak bertanggung jawab terhadap kondisi lingkungan. Faktor pesaingan bisnis membuat para pengusaha tidak merasa takut dan berdosa jika hasil produksinya menghasilkan limbah yang bisa menjadi racun bagi lingkungan sekitar.

Dalam menyelesaikan persoalan tersebut, saat ini Kementerian Perindustrian gencar melakukan pembinaan untuk mengembangkan industri yang sudah ada menuju industri hijau. Dia mengatakan, diperlukan industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan. Menurutnya hal tersebut akan mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup sehingga dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

 “Terus terang indutri kita sedang terpuruk. Maka dengan ini kami berupaya memberikan penghargaan kepada perushaan-perusahaan yang sudah menerapkan konsep industri hijau,” ungkap Bu Andriati. Penghargaan ini, kata dia, dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran dan sosialisasi juga akan pentingnya industri hijau.

Lebih lanjut dia menambahkan, ada tujuh karakteristik yang menjadi standar indusri hijau yakni (1) Meminimalisir Limbah, (2) Menggunakan bahan baku alternative, (3) Konsumsi Material yang Efesien, (4) Intensitas Energi Rendah, (5) Intensitas Air Rendah, (6) Sumber Daya Manusia yang Kompeten, dan (7) Teknologi Karbon yang Rendah.

Dalam kesempatan tersebut, peserta yang hadir juga mendapatkan pengetahuan baru mengenai tata cara pembuatan batik menggunakan pewarna alami. Owner “Semesta Batik” Ciwaringin Cirebon, Farhan Jazuli tak segan membagikan rahasianya dalam menghasilkan produk batik yang berkonsep green dan halal dengan menggunakan pewarna yang berasal dari akar, kulit kayu, bunga, dan kulit buah. (Feari/Sari)