Feb 19, 2018 Last Updated 12:00 AM, Feb 17, 2018
Berita

Berita (360)

HUMAS-Lulusan Universitas Islam Bandung (Unisba) diharapkan tidak melupakan tujuan kuliah di Unisba. Pimpinan Unisba berharap lulusannya dapat menjadi intelektual yang ulama dan ulama yang intelek.

“Sesungguhnya Unisba sangat berharap sekali lulusannya menjadi intelektual yang ulama dan ulama yang intelek. Dari rahim Unisba inilah lahir para pejuang, pemikir dan pembaharu, dengan Al-Quran dan sunah yang menjadi pijakannya karena dua sumber hidup inilah yang bisa menerangi jalan untuk sampai pada tujuan yang dicita-citakan,” kata Rektor Unisba Edi Setiadi.

Sebanyak 852 orang sarjana, magister, dan doktor akan dilantik Rektor Universitas Islam Bandung Edi Setiadi, di Aula Utama, Sabtu (17/2/2018). Pelantikan Sarjana dilakukan dua sesi. Pukul 07.30 – 11.00 WIB dilantik lulusan fakultas syariah, dakwah, tarbiah dan keguruan, hukum, psikologi, teknik, kedokteran, dan pascasarjana. Sementara itu, siang hari,  pukul 13.00 – 15.30 WIB dilangsungkan pelantikan lulusan fakultas MIPA, ilmu komunikasi, serta fakultas ekonomi dan bisnis

Edi Setiadi mengemukakan,  saat ini Unisba telah meraih akreditasi A, tetapi pencapaian itu tidak menjadikan Unisba berpuas diri. “Kami akan menjaga kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi sekaligus menjaga keunggulan kompetitif para lulusan. Pada tahun ini kami fokus meningkatkan akreditasi prodi yang masih B menjadi A, seperti prodi-prodi yang ada di pascasarjana dan fakultas dirosah islamiah”, ungkap Rekor.

Kepada alumnus Unisba, ia berpesan sebagai generasi milenial yang merupakan sarjana zaman now diharapkan mendapat lebih banyak kesempatan dalam menimba dan mencari ilmu dibandingkan dengan yang kuliah di zaman old  yang serbakekurangan dalam hal fasilitas dan keterbatasan akses teknologi.  “Oleh karena itu saudara harus bisa memanfaatkan kelebihan ini guna kemaslahatan diri sendiri, dan masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh jangan sampai digunakan untuk hal-hal yang melanggar hukum,” ujarnya

Lulusan terbaik

Pada wisuda kali ini, di antara 852 lulusan terdapat 127 orang yang memperoleh predikat cum laude. Di samping itu, terdapat lulusan terbaik di antaranya yaitu IPK tertinggi Program Doktor (S3) diraih oleh Ade Mahmud, SH., MH. dari prodi ilmu hukum dengan IPK 3,98. Zen Alby dari prodi magister pendidikan islam (3,93). Dari program profesi dokter (P3D) diraih oleh Dea Guntur Rahayu dengan (3,63). Dari program sarjana diraih oleh Rany Ramdany Putri dari prodi akuntasi (3,99).

Lulusan tercepat Tiara Lidia Kani dari prodi pendidikan agama islam dalam waktu 3 tahun 4 bulan 22 hari, sedangkan lulusan termuda adalah Zakkiyah Aritasari dari prodi akuntansi lulus dalam usia 19 tahun 8 bulan 19 hari. ***

(Terbit di Pikiran Rakyat, Sabtu 17 Februari 2018)

 

 

 

                   

HUMAS-Indonesia darurat insinyur. Jumlah insinyur yang knowledge-nya terisi dengan pengetahuan dasar yang baik semakin berkurang. Sebagai contoh, pada tahun 2016 Indonesia memiliki 8,1 juta tenaga konstruksi (insinyur), sementara di tahun 2018 jumlahnya menjadi 7,7 juta orang. Ini berarti mengalami penurunan hingga 400 ribu orang. Sedangkan dari jumlah 7,7 juta tersebut, insinyur yang memiliki sertifikasi hanya sekitar 500 ribu orang saja.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Balai PTK (Penerapan Teknologi Konstruksi) Kementerian PUPR, Cakra Nagara, ST.,MT., ME. saat menjadi Keynote Speech dalam Sosialisasi dan Pendampingan Jarak Jauh Bidang Konstruksi (SBIMA Konstruksi), Program Percepatan Insinyur serta Penandatanganan Naskah Kesepakatan antara Unisba dengan HIPTASI (Himpunan Profesi Tenaga Konstruksi Indonesia) yang digelar Fakultas Teknik Unisba di Aula Unisba, Selasa (13/2). Hadir dalam acara ini Ketua HIPTASI, Ir. Sindu Utomo dan Ketua Umum BKTI PII, yang diwakili Ir. Prihadi Waluyo,MM.,IPM. Acara dibuka Rektor Unisba, Prof.Dr. H. Edi Setiadi,SH.,MH.

 Hal ini pula yang melatarbelakangi Fakultas Teknik Unisba untuk membuka Program Profesi Insinyur (PPI). “Dengan adanya percepatan Profesi Insinyur, diharapkan ada peningkatan jumlah insinyur professional, khususnya IPM (Insinyur Profesional Madya) dan IPU (Insinyur Profesional Utama),” jelas Dekan Fakultas Teknik Unisba, Dr. Nugraha, Ir., MM.,IPM.

Sebagaimana diketahui, Unisba merupakan salah satu dari 40 PTN/PTS se-Indonesia yang diberi mandat oleh Kemristekdikti untuk penyelenggaraan Program Profesi Insinyur (PPI). “Saat ini di Unisba masih sedikit insinyur yang memiliki sertifikasi. Jumlah ini harus ditingkatkan karena sebagai salah satu syarat untuk pendirian PS-PPI,” tambah Dekan.

Untuk memperoleh gelar IPM, seorang Insinyur, harus mengabdi dalam bidangnya sekurang-kurangnya dua tahun. Selanjutnya dia harus mengisi dokumen FAIP (Formulir Aplikasi Insinyur Profesional) dan mengikuti wawancara.

Bagi mahasiswa tingkat akhir (calon alumni), mereka akan mendapatkan sertifikat, dan sertifikat tersebut bisa disertakan ke dalam Surat Keterangan Pendampingan Ijasah (SKPI). SKPI ini merupakan dokumen tambahan yang menyatakan kemampuan kerja, penguasaan pengetahuan, dan sikap moral seorang lulusan yang lebih mudah dimengerti oleh pihak pengguna. 

Sementara itu, kerja sama dengan HIPTASI dimaksudkan sebagai upaya bersama untuk memanfaatkan sumber daya yang ada dan menyinergikan fungsi Unisba-HIPTASI agar saling mendukung dan saling membantu dalam menyelenggarakan pelatihan dan sertifikasi. MoU ini juga bertujuan untuk memberika pelatihan kerja dan sertifikasi uji kompetensi kepada pekerja dan calon tenaga kerja sesuai dengan kualifikasi dan klasifikasi yang dibutuhkan di bidang jasa konstruksi.(sari)

 

Sehubungan dengan psikotest yang telah dilaksanakan Calon Pegawai Tetap Yayasan Unisba, dengan ini kami umumkan hasil Seleksi Tahap 1.  Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Wassalaamu’alaikum wr.wb.

Download :

Sehubungan dengan psikotest yang telah dilaksanakan Calon Dosen Tetap Yayasan Unisba, dengan ini kami umumkan hasil Seleksi Tahap 1. Bagi Calon Dosen Tetap Yayasan Unisba yang lulus Seleksi Tahap 1 harap mengumpulkan makalah sesuai tema terlampir (tiga rangkap) melalui Bagian Kepegawaian Unisba, maksimal hari Selasa tanggal 20 Februari 2018. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Wassalaamu’alaikum wr.wb.

Download :

HUMAS-Semangat Indonesia harus kembali digaungkan dikalangan mahasiswa, agar kebhinekaan lahir dari jiwa-jiwa mahasiswa. Karena dengan Kebhinekaan maka spirit Indonesia pun akan kembali tercipta.

Demikian disampaikan Rektor Universitas Islam Bandung Prof Edi Setiadi. S.H, M.H. saat membuka Road Shows Seminar Motivasi,  "Spirit Of Indonesia" di Aula Unisba, Selasa (13/2). Seminar ini terselenggara atas kerja sama Unisba dan Kami Indonesia.

Kegiatan ini diawali oleh Keynote speaker dari Ketua MPR-RI, Dr. (H.C.) H. Zulkifli Hasan, SE.,MM. dan dilanjutkan dengan diskusi panel yang diisi oleh Ketua KPK periode 2011-2015 Dr. Abraham Samad, S.H., M.H., Anggota DPD/MPR RI, Oni Suwarman, A.Md, Dosen Fakultas Dakwah Unisba Dr, Hj, Kurniati Syam, Dra, M.Si, dan Akademisi serta motivator.

Rektor sangat mengapresiasi kegiatan seminar "Spirit Of Indonesia" sebagai upaya dalam membangun semangat mahasiswa khususnya mahasiswa Unisba dalam membangun Indonesia dengan semangat dan jiwa kepemudaannya.
"Berbicara Kebhinekaan membawa spirit Indonesia, dan spirit Kebhinekaan harus digaungkan kembali oleh mahasiswa, seperti intoleransi dan yang lain sebagainya," kata Rektor.
Oleh karena itu, lanjut Rektor, Universitas Islam Bandung yang merupakan Perguruan Tinggi Islam pertama di Jawa Barat sangat membuka diri sebagai kampus yang mampu memberikan karya nyata bagi umat dan bangsa. “Hal tersebut juga tertuang dalam hymne Unisba yang berbunyi, “… gelaran bukan tujuanmu tapi qurbanmu”, itu  yang harus terus diperjuangkan”, tambah Rektor.
Oleh karena itu, Unisba membuka diri sebagai kampus yang sangat menekankan penalaran, minat bakat, menampung semua aktivitas yang menunjang akademik, dan membuka wawasan belajar yang tidak hanya kaku dibangku kelas.

Rektor yakin, dengan adanya kegiatan dari Kami Indonesia yang bekerjasama dengan Unisba dapat menambah softskill mahasiswa di bidang kajian, pergerakan dan karya nyata bagi umat dan bangsa.

"Saya kira acara ini menambah softskill bagi mahasiswa di luar bidang keilmuannya," pungkas Rektor.***

 

 

Kunjungan Pimpinan Universitas Islam Riau ke Unisba dalam rangka studi banding Statuta dan Rencana Induk Pengembangan (RIP) di R. Rapat Rektor, Rabu (14/02). Rombongan diterima jajaran pimpinan Unisba dan Yayasan.

HUMAS-Penandatangan MoU antara Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) (UPDM) tentang Pelaksanaan Pendidikan, Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Pengembangan Kelembagaan di R. Rapat Rektor Unisba, Selasa (13/02). MoU ditandatangani oleh Rektor Unisba, Prof. Dr. H. Edi Setiadi, S.H., M., dan Rektor  UPDM, Prof. Dr. Rudy Harjanto, M.Sn.***

Pimpinan Unisba bersama mantan WR I dan WR II Unisba periode sebelumnya

HUMAS- Pergantian Pimpinan dalam sebuah institusi/lembaga merupakan hal biasa. Satu per satu pimpinan datang silih berganti dengan type dan gaya memimpin yang berbeda. Namun, tujuan mereka sama, yakni demi memajukan Unisba.

“Pimpinan Unisba saat ini adalah melanjutkan pimpinan sebelumnya. Ini merupakan kepemimpinan yang berkesinambungan,” kata Rektor, Prof.Dr. H. Edi Setiadi,SH.,MH., saat menyampaikan sambutan dalam Pisah Sambut Wakil Rektor (Warek) I dan II di Kinderdorf SOS, Lembang, Sabtu (10/2).

Rektor mengingatkan, sebagai universitas unggul, Unisba memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan prestasi yang telah dicapainya. “Mempertahankan jauh lebih sulit daripada saat kita meraihnya,” tandas Rektor.

Sivitas akademika Unisba, lanjut Rektor, hendaknya tidak menilai kesejahteraan hanya dari bentuk nilai nominal uang. Kesejahteraan bisa berbentuk peningkatan keterampilan/skill atau wawasan misalnya melalui kursus atau pelatihan-pelatihan yang diikuti. Kesejahteraan, lanjut Rektor, akan linier atau berbanding lulus dengan kinerja seseorang.

Hal senada juga disampaikan wakil Ketua Yayasan Unisba, Drs. Ramlan Sasmita,M.Pd.I. “Kesejahteraan, tidak hanya dalam bentuk uang tetapi banyak yang kita dapatkan dalam bentuk lain seperti yang Pak Rektor katakana,” katanya. Yang penting, kata Pak Ramlan, bisakah kita menyeimbangkan antara kenyataan objektif dengan keinginan kita. 

Sebagai orang paling senior di Unisba, Pak Ramlan yang mulai meniti karier di Fakultas Tarbiyah Unisba pada tahun 1967 mengungkapkan, Unisba mengalami pasang surut sebelum besar seperti sekarang ini. Kemajuan yang dicapai Unisba tentunya merupakan hasil para pimpinan terdahulu Unisba beserta jajarannya yang telah sama-sama berjuang. Pak Ramlan mengakui, Unisba masih memiliki kekurangan-kekurangan seiring dengan bertambahnya jumlah mahasiswa. Namun untuk meminimalisir kekurangan tersebut, Unisba selalu berupaya melakukan perbaikan. Masalah parkir, misalnya,  kini Unisba sedang membangun gedung Dekanat yang akan memiliki tiga basement parkir. “Semoga itu menjadi solusi nanti,” katanya.

Sementara itu, mantan Warek I, Dr. Ir. Rakhmat Ceha, M.Eng.,IPU., mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada para Kepala Bagian yang telah membantunya selama melaksanakan tugas sebagai Warek I di Unisba. Selama kepemimpinannya bersama Rektor sebelumnya, Unisba meraih berbagai prestasi . Ia berharap, Unisba terus meningkatkan kualitasnya baik dalam hal akademis maupun kesejahteraan. “Publikasi karya ilmiah sudah banyak peningkatan, namun begitu semoga ke depan menjadi lebih banyak lagi mahasiswa Unisba yang berpartisipasi dalam SNaPP, juga saya berharap para dosen bisa banyak yang berkarya dan melakukan publikasi jurnal internasional,” katanya.

Dr. Efik Yusdiansyah, SH.,MH., sebagai mantan Warek II, juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah bekerjasama dengan dirinya saat menjabat selaku Warek II. “Saya mohon maaf jika ada yang tersinggung atau tidak enak dengan sikap saya. Namun apa yang saya lakukan bukan semata-mata dari diri pribadi tetapi atas nama jabatan saya selaku Warek II saat itu,” katanya. Ia pun berharap Unisba, ke depan semakin maju. (Sari/Fuad)

Wakil Ketua KPK RI, Saut Situmorang, Drs., M.M., dan Dekan F. Hukum Unisba, Prof. Dr. Nandang Sambas, S.H., M.H. menjadi narasumber dalam Kuliah Umum "Peran Mahasiswa dalam Pemberantasan Korupsi" kepada Mahasiswa Unisba di Aula Unisba, Kamis (08/02).

Salah satu peserta Lomba LKTI saat memaparkan tulisan ilmiahnya

HUMAS-Kompetisi Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa merupakan salah satu sarana melatih mahasiswa untuk kreatif dan jujur dalam menulis. Di era digital seperti sekarang ini, sangat mudah melakukan copy-pasti (menjiplak), namun seiring dengan hal itu, akan mudah pula diketahui siapa yang melakukan penjiplakan (plagiat) dari karya orang lain. Rektor berharap, mahasiswa Unisba jujur dalam membuat karya tulis.

“Menjiplak/plagiasi dalam karya tulis merupakan kejahatan terberat dalam dunia akademis, oleh karenanya pantas diberi hukuman berat,” kata Rektor Unisba, Prof.Dr. H. Edi Setiadi,SH.,MH. saat membuka Kompetisi Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Tingkat Universitas Islam Bandung PKM AI-GT-P-K-M 2018 yang diselenggarakan di Aula Unisba, Rabu (7/02).  Rektor mengaku senang dengan peningkatan jumlah peserta yang mengikuti kompetisi ini. “Adanya kompetisi semacam ini merupakan ciri aktifitas akademik yang bagus,” tambah Rektor.

Sebagaimana disebutkan Wakil Rektor (Warek) III, Drs., H. Asep Ramdhan Hidayat, Drs.,M.Si. Kompetisi Karya Tulis Ilmiah digelar Unisba secara rutin setahun sekali. Kali ini jumlah peserta meningkat hampir 50%. Jika kompetisi yang sama pada tahun lalu hanya diikuti 150 orang peserta (52 kelompok), sedangkan kali ini jumlahnya mencapai 347 mahasiswa atau sekitar 132 kelompok. Dari jumlah tersebut 127 peserta berhasil upload untuk ikut serta dalam ajang hibah Kemenristek Dikti.

“Kami juga mengembangkan tema karya tulis ini dari Artikel Ilmiah-Gagasan Tertulis atau AI-GT ditambah dengan PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat),” kata Warek III.. Beliau menjelaskan, PKM yang dimaksud meliputi artikel, prakarsa, pengabdian kepada masyarakat, entrepreneur, dan pendidikan lingkungan hidup.

Namun demikian, Warek III menyayangkan masih minimnya jumlah dosen pembimbing dalam pembuatan karya ilmiah ini. Ia mencontohkan, tahun ini saja, dengan jumlah peserta 127 kelompok, hanya ada 45 dosen pembimbing. Idealnya, kata Warek III, 1 orang dosen membimbing  2 kelompok (masing-masing kelompok berjumlah 3-4 orang mahasiswa).

Para pemenang Kompetisi Karya Ilmiah ini akan memperoleh sertifikat penghargaan dan uang pembinaan. Juara I mendapatkan uang sebesar Rp. 3 juta, Juara II Rp. 2,5 juta, dan Juara III sebesar Rp, 2 juta. Rencananya akan diberikan pula hadiah untuk mereka Juara Harapan I, II dan III.(sari)