Aug 16, 2018 Last Updated 3:41 AM, Aug 16, 2018
Berita

Berita (470)

Prof. Dr. M Abdurrahman,MA. ketika memberikan ceramah dalam Pengajian Umum Rutin (bulanan) yang diselenggarakan Lembaga Studi Islam dan Pengembangan Kepribadian (LSIPK) Unisba, di Masjid Al-Asy’Ari Unisba, Rabu (15/8)

KOMINPRO-Dalam agama Islam, bulan Dzulhijjah dinilai sebagai salah satu bulan yang penuh berkah. Pada bulan ini terdapat beberapa amalan utama yang dianjurkan untuk dijalankan seperti menunaikan ibadah haji, melaksanakan puasa arafah, dan berqurban.  Bulan Dzulhijjah juga menjadi momen yang tepat bagi umat Islam untuk mengingat kembali keteladanan Nabi yang mendapat gelar Uswah Hasanah yaitu Nabi Ibrahim As.

Demikian disampaikan Prof. Dr. M Abdurrahman,MA. ketika memberikan ceramah dalam Pengajian Umum Rutin (bulanan) yang diselenggarakan Lembaga Studi Islam dan Pengembangan Kepribadian (LSIPK) Unisba, di Masjid Al-Asy’Ari Unisba, Rabu (15/8). Tema yang dibahas dalam pengajian kali ini, “Uswah Hasanah Nabi Ibrahim As”. Beliau mengatakan, dari sekian banyak Rasul terdapat dua orang yang secara eksplisit mendapat gelar Uswah Hasanah yaitu Nabi Ibrahim AS beserta kaumnya dan Nabi Muhammad Saw.

“Nabi Ibrahim adalah moyang Muhammad Saw. melalui Nabi Ismail As. Pembangunan Kabah Musyarrafah merupakan karya Nabi Ibrahim As. yang masih terpelihara hingga saat ini dan wajib kita jaga,” ujarnya. Keteladanan nabi Ibrahim tercemin melalui kesetiaanya menjaga kota Mekkah sebagaimana tercantum dalam surah Ibrahim ayat ke 35 sampai 40.

Dalam doanya, Nabi Ibrahim memohon kepada Allah agar Mekkah dijadikan negeri yang aman dan penduduknya dijauhkan dari berhala. Meskipun Nabi Ibrahim berbeda keyakinan dengan ayahnya, Beliau dikenal sebagai pribadi yang santun dan tidak pernah berhenti mendoakan kedua orang tuanya.  Pada waktu itu pula untuk pertama kalinya ibadah haji dijalankan dan tidak pernah dihapus sampai Muhammad Rasullullah Saw.

“Uswah hasanah kedua Rasul Allah tersebut sangat banyak,  seperti shalat dan pelaksanaan haji dengan thawaf dan sa’i di Masjidil Haram. Bahkan haji merupakan bagian dari rukun Islam,”jelasnya.

Namun, meskipun haji sudah menjadi ketetapan syari’at Allah beliau menghimbau kepada jama’ah yang hadir untuk tidak memaksakannya jika belum mampu, baik dari segi fisik maupun finansial. Di samping itu dia mengatakan ada baiknya jika ibadah haji hanya dilaksanakan satu kali saja untuk menjaga keutamaannya.

“Ada orang yang beribadah haji satu tahun sekali, saya katakana kalo bisa janganlah. Haji cukup satu kali saja asal istihaah. Jika memang alasannya karena rindu Baitullah, kita bisa melaksanakan umroh selang 5 tahun setelah haji,” jelasnya. (Feari/Sari)

 

Ketua Pelaksana Seminar Penelitian Sivitas Akademika Mahasiswa (SPeSIA) Unisba 2018, Dadi Ahmadi, S.Sos., M.Ikom memberikan hadiah penghargaan kepada mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Mahessa Aby yang terpilih sebagai pemakalah terbaik (best of the best) dalam acara SPeSIA di Aula Utama Unisba, (14/08). Mahessa berhasil menyisihkan 9 pesaing lain yang terpilih mewakili masing-masing Fakultas di Unisba.

KOMINPRO-Mahesa Abby dari Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) terpilih sebagai Best Of The Best/Pemakalah terbaik dari sepuluh pemakalah lainnya (para pemakalah terbaik dari masing-masing fakultas) yang ada di Unisba. Para pemakalah terbaik ini dinilai dari artikel ilmiah dan presentasi. Mahesa Abby sukses mempresentasikan makalah, “Negosiasi KBRI Sofia dalam Upaya Meningkatkan Kerjasama Bilateral antara Indonesia dengan Bulgaria (Studi Kasus Mengenai Kerjasama Bilateral di Bidang Sosial Budaya oleh KBRI Sofia, Bulgaria).

Sebagaimana diketahui, SPeSIA Unisba 2018 kali ini diikuti 1214 mahasiswa (calon sarjana) yang mempresentasikan masing-masing artikel ilmiahnya. Artikel ilmiah yang dipresentasikan ini berasal dari Fakultas Syariah sebanyak 115 buah, Dakwah/KPI (10), Tarbiyah & Keguruan (47), Hukum (82), Psikologi (128), MIPA (153), Teknik (127), Ekonomi dan Bisnis (186), dan Fakultas Ilmu Komunikasi (178), Fakultas Kedokteran sebanyak 183 artikel. Para juri memilih 1 (satu) pemakalah terbaik dari masing-maasing fakultas. Dari sepuluh pemakalah terbaik, dipilih satu (1) orang sebagai Best of the Best, pada tahun ini diraih pemakalah dari Fikom, Mahesa Abby. Dia memperoleh nilai tertinggi (459,00). Para pemenang memperoleh penghargaan berupa sertifikat dan uang pembinaan masing-masing sebesar Rp. 1.500.000,00. Sebagai Best of The Best, Mahesa memperoleh hadiah sebesar Rp. 2.000.000,00.

Adapun sepuluh pemakalah terbaik lainnya adalah Siti Kulsum Fatimah dari Fakultas Syariah, Rizky Zaidan Muharram (Dakwah/KPI), Yanti Sumiati (Tarbiyah), Kirana Yasyifa Kamila (Hukum), Achmad Firmansyah Setiawan (Psikologi), Achmad Irfan Rifqiansyah (MIPA), Aldi Gustian Muhari (Teknik), Dena Rosdiana (Ekonomi & Bisnis), Mahesa Abby (Ilmu Komunikasi), dan R. Adhika Putra Sudarmadi dari Fakultas Kedokteran.(Sari)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wakil Rektor  (Warek) I Unisba, Ir. A. Harits Nu’man, MT., Ph. D. IPM memberikan cindera mata kepada  salah seorang Guru Besar Fakultas Teknik Unisba, Prof.Dr. Ir.  HR. Febri Hirnawan yang menjadi keynote speaker dalam Seminar Penelitian Sivitas Akademika Mahasiswa (SPeSIA) Unisba 2018 di Aula Utama Unisba, Senin (13/08).

 

Salah seorang mahasiswa saat melakukan presentasi karya tulis ilmiah  dalam acara  Seminar Penelitian Sivitas Akademika Mahasiswa (SPeSIA) Unisba 2018, di ruangan kelas Unisba, Jalan Tamansari No. 1, Senin (13/08). Seperti tahun sebelumnya, dalam SPeSIA kali ini akan dipilih 10 pemakalah terbaik yang akan diberikan apresiasi secara finansial sebesar 1.500.000 untuk masing-masing pemakalah.

 KOMINPRO- Sebanyak 1214 buah artikel ilmiah/tugas akhir (skripsi) mahasiswa dipublikasikan dalam Seminar Penelitian Sivitas Akademika Mahasiswa (SPeSIA) Unisba 2018. Kegiatan yang bertema, “Tantangan Pengembangan Sumber Daya Manusia di Era Revolusi Industri 4.0” ini berlangsung selama dua hari (13-14) Agustus 2018. Selain mencegah terjadinya plagiarisme, SPeSIA ini juga dilakukan untuk untuk meningkatkan sitasi dalam hal publikasi ilmiah sivitas akademika Unisba guna mendukung SINTA Ristekdikti. Pembukaan SPeSIA dilakukan Wakil Rektor (Warek) I, Ir. A. Harits Nu’man, MT.,Phd. Di Aula Unisba, Senin (13/8). Narasumber yang bertindak selaku keynote speaker, salah seorang Guru Besar Fakultas Teknik Unisba, Prof.Dr. Ir.  HR. Febri Hirnawan.

Dari 1214 buah artikel ilmiah yang dipublikasikan berasal dari Fakultas Syariah sebanyak 115 buah, Dakwah/KPI (10), Tarbiyah & Keguruan (47), Hukum (82), Psikologi (128), MIPA (153), Teknik (127), Ekonomi dan Bisnis (186), dan Fakultas Ilmu Komunikasi (178), Fakultas Kedokteran sebanyak 183 artikel. Sejak digelar SPeSIA tiga tahun lalu, hingga saat ini Unisba sudah mempublikasikan 6.148 artikel online yang terindeks google scholar. Upaya inilah yang mengantarkan Unisba memperoleh peringkat ke-30 dari  4.446 PT yang ada di Indonesia versi Sinta (RISTEKDIKTI) per-tangal 12-08-2018 dengan perolehan score 361 dengan dosen sebanyak 339 yang sudah diverivikasi dan yang menghasilkan dokumen scopus sebanyak 79, sitasi scopus 183. Dokumen scholar sebanyak 5,633 dan yang tersitasi 10,384.

“Salah satu kontribusi SPeSIA adalah menghasilkan sitasi atau kutipan makalah online, yang dipublikasikan oleh Scopus,” terang Ketua Panitia SPeSIA, Dadi Ahmadi, S.Sos., M.Ikom.

Terkait dengan tema SPeSIA, tantangan SDM di era revolusi industri 4.0, Wakil Rektor  (Warek) I Unisba, Ir. A. Harits Nu’man, MT., Ph. D. IPM. mengatakan,  dalam kegiatan  akademik perlu melakukan upaya untuk meningkatkan kualitas. “Sebagai sarjana yang dilahirkan oleh Universitas Islam Bandung yang memiliki karakter 3M, Mujahid, Mujtahid dan Mujadid. Menjadi pejuang, pemimpin dan pembaharu, sebetulnya sudah mencerminkan lulusan Unisba siap menghadapi revolusi industry 4.0,” katanya.

Ada dua kata kunci dalam revolusi industri, yang pertama tantangan di era teknologi digital dan kedua tantanga era  disrupsi. Warek I menilai, para mahasiswa sudah siap menghadapi tantangan di era teknologi. Hal ini, katanya, karena mahasiswa termasuk generasi milineal, yang sudah terbiasa menggunakan gadget, akses internet,  dan menggunakan jasa online baik jasa mengantar atau menjemputnya. “Tetapi perubahan  inilah yang harus kita sikapi, itu semua menggunakan digitalisasi. Sementara di era disrupsi, siapkah kita merubah dari yang lama menjadi berbau teknologi. Jadi disrupsi akan merubah, anda tidak akan menggunakan komunikasi biasa. Komunikasi bisa dilakukan secara jarak jauh dan sebagainya,” terangnya.

SPeSIA ini, lanjut Warek I, akan berpengaruh  signifikan terhadap kinerja intistusisi. Mahasiswa sebagai generasi milenial juga akan belajar bagaima menghadapi persaingan dengan lulusan perguruan tinggi lain. “Harapannya SPeSIA menjadi pembuka. Seminar nasional ini menjadi kesempatan anda untuk menjual konsep. Sebagai seorang pejuang yang sudah belajar di sini kurang lebih 4 tahun, anda mengikuti pesantren mahasiswa, dan pesantren sarjana kemudian dibekali ilmu pengetahuan sesuai dengan kompetensinya di prodi masing-masing.

Jumlah peserta SPeSIA terus meningkat dari tahun-ke tahun. Namun, Warek I berharap, peningkatan kuantitas ini disertai juga dengan peningkatan kualitas agar penelitian yang dilakukan mahasiswa lebih bermakna.

“Di SPeSIA ini ada cek plagiasi. Masalah ini sangat penting karena sebagai mahasiswa yang berkecimpung di dunia pendidikan hal tersebut dapat dikategorikan sebagai suatu kejahatan akademik dan jangan sampai anda melakukan plagiasi karena anda akan menjadi seorang sarjana,” tegas Warek I.

Seperti tahun sebelumnya, dalam SPeSIA kali ini akan dipilih 10 pemakalah terbaik yang akan diberikan apresiasi secara finansial sebesar 1.500.000 untuk masing-masing pemakalah. Kemudian dari yang terbaik akan dipilih lagi satu yang terbaik dari seluruh peserta dan mendapatkan hadiah sebesar Rp 2.000.000.

Warek I berharap, SPeSIA ini menjadi ajang mempersiapkan para lulusan menghadapi era revolusi industry 4.0. Beliau mengingatkan, dalam forum ekonomi dunia disebutkan, paling tidak ada 10 skill yang harus dimiliki para lulusan di tahun 2020, yakni (1) skill sebagai problem solving menjadi kata kunci, (2) Critical thinking, (3) creative dan innovative, (4). Skill tentang leadership, (5) Team working, (6) Emotional intelligence, (7) Decession making, (8) Customer service action, (9) Kemampuan berkomunikasi, dan (10) Fleksibilty dan adaptibity.

“Itu yang perlu dipersiapkan oleh kita sendiri. Semoga SPeSIA ini bisa memberikan tambahan pengalaman dan wawasan dalam menghadapi dan mempertahankan karya ilmiah saudara-saudara semua,” pungkas Warek I. (Feari/Sari)

 

 

KOMINPRO-Terkuaknya kasus perjokian pada Penenerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Unisba gelombang II beberapa waktu lalu, membuat seleksi ujian saringan masuk gelombang III Unisba semakin ketat. Delapan peserta di Fakultas Kedokteran dipastikan gagal karena terbukti pernah menggunakan jasa joki pada gelombang sebelumnya.

“Saya berpegang teguh pada pepatah sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tidak akan percaya. Mahasiswa yang menggunakan joki akan kami black list karena ujian itu integritas dan kejujuran. Saya tidak takut kehilangan mahasiswa yang tidak jujur,” kata Rektor Unisba, Prof. Dr. H. Edi Setiadi, SH. M.H, saat menggelar jumpa pers di Gedung Rektorat, Jalan Tamansari No. 20, Minggu (12/8).

Rektor mengatakan, profesi seorang dokter sangat erat kaitannya dengan kode etik. Menurutnya orang yang tidak berpegang  teguh pada kode etik akan kehilangan kepercayaan masyarakat. Meskipun manusia bisa berubah, dia mengungkapkan hal tersebut tidak berlaku untuk kasus kejahatan akademik semacam ini. “Calon mahasiswa Unisba berani melakukan kejahatan seperti itu, maka dengan tegas saya katakana lebih baik kita memotong sekarang daripada mengamputasi nanti,” tegasnya.

Seleksi ujian saringan masuk gelombang III  Unisba tahun ini diikuti oleh 3.280 orang. Peserta paling banyak di Fakultas Kedokteran dengan jumlah 628 orang, Ilmu Komunikasi sebanyak 536 orang, dan Ilmu Psikologi sebanyak 342 orang. Seleksi gelombang III ini dilaksanakan selama dua hari, Sabtu dan Minggu (11-12 Agustus 2018). Hari pertama untuk tes psikotest dan hari kedua untuk tes potensi akademik

Belajar dari pengalaman seleksi pada gelombang II yang menemukan 25 joki ujian, kini pelaksanaan ujian dijaga lebih ketat. Ditemui di tempat yang sama, Wakil Rektor (Warek) I Unisba, Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPM. menjelaskan, pada seleksi gelombang III ini pihaknya memberlakukan proses screening pada peserta ujian sebelum memasuki ruangan.

“Peserta kami himbau untuk datang mengikuti ujian pukul delapan. Namun, ujian sendiri baru bisa dimulai satu jam atau 45 menit kemudian karena akan ada proses screening untuk memastikan peserta yang hadir tidak berbuat curang atau menggunakan jasa joki,” jelasnya. Selain harus membawa kartu peserta ujian, para pesrta juga diwajibkan menunjukkan kartu identitas asli berupa KTP, SIM, Kartu Keluarga, atau kartu pelajar.

Untuk mengantisipasi masalah perjokian, Warek I mengatakan, ujian seleksi masuk Fakultas Kedokteran dipusatkan di satu gedung saja. Selain itu, pada tes psikotest berlangsung setiap ruang ujian dijaga oleh tiga orang pengawas yang terdiri dari dua orang psikolog dan seorang petugas satuan keamanan dalam (kamdal).(Feari/Sari)

KOMINPRO-Untuk memperkaya informasi tentang Perguruan Tinggi Unggul, SMA Edu Global, Dago, mengundang Unisba untuk memberikan presentasi di hadapan orang tua siswa, Sabtu (11/8). Mereka menyimak dengan penuh perhatian dan sesekali menyampaikan pertanyaan.***

Dirut RSI. Sultan Agung, Dr. H. Masyhudi AM, M.Kes saat memberikan materi dalam  seminar Nasional Kefarmasian Islam ke-7 bertema "Sinergi Apoteker Dengan Profesi Kesehatan Lain Terkait Interprofessional Collaboration Berlandaskan Prinsip-prinsip Islam", di Aula Unisba, Kamis, (9/08).

KOMINPRO-Seorang pekerja kesehatan tidak cukup hanya menjadi professional tetapi juga ia harus Interprofessional.  Seorang interprofessional adalah seseorang  yang harus bisa bekerja sama dengan lintas profesi maupun rekan sejawat.

“Rumah sakit itu lingkungan yang padat profesi dan padat masalah. Semua aktivitas tidak terlepas dari peran apoteker, dokter, perawat, dan pasien. Ada kegiatan profesi dan interprofesi. Semua mempunyai hak memberikan yang terbaik bagi kesembuhan pasien tapi pada akhirnya dokter yang memutuskan,” kata Dr. H. Masyhudi AM, M.Kes. dalam seminar Nasional Kefarmasian Islam ke-7 bertema "Sinergi Apoteker Dengan Profesi Kesehatan Lain Terkait Interprofessional Collaboration Berlandaskan Prinsip-prinsip Islam", di Aula Unisba, Kamis, (9/08). Seminar ini diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Farmasi Fakultas MIPA Prodi Farmasi Unisba.

Dirut RSI. Sultan Agung itu mengungkapkan, terdapat depalan elemen yang dapat diaplikasikan untuk menjadi seorang interprofesional collaboration (IPC) yakni (1) Tanggung jawab; (2) akuntabel (terukur); (3) koordinasi; (4) komunikasi; (5) kerja sama; (6) asertif; (7) otonomi, (8) percaya dan respect. Menurutnya penerapan IPC  di rumah sakit syariah akan meningkatkan kualitas rumah sakit. “Penerapan IPC  di rumah sakit syariah akan meningkatkan kualitas rumah sakit. IPC juga menjamin masing-masing profesi bisa bekerja secara mandiri, kolaboratif dan delegatif.” ujarnya.

Seminar ini merupakan program tahunan yang rutin diselenggarakan dan dihadiri mahasiswa Farmasi dari berbagai Universitas di Indonesia. Terhitung 142 peserta turut berpartisipasi dalam seminar tersebut. Adapun narasumber yang didaulat menjadi pembicara diantaranya, Dr. H. Masyhudi AM, M.Kes (Dirut RSI Sultan Agung), Ir. Hj. Ferika Aryanti, M.T, (Wakil Direktur LPPOM MUI Jawa Barat), Dr. Suwendar., M.Si, Apt (Praktisi apoteker), Dr. Dony Septriana R., MBA, M.HKes. (Praktisi dokter), Irma Nur Amalia., S.Kep., Ners.,M.Kep. (Praktisi perawat), Andhita Nurul Khasanah., S.Psi., M.Psi, Psikolog. (Praktisi psikolog).

Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana, Fathan Said Ramadhan, menyampaikan, acara ini digelar guna memberikan inspirasi dan motivasi kepada mahasiswa farmasi sebelum terjun dan memberikan kemanfaatan untuk masyarakat. Menurutnya, fenomena dalam dunia kesehatan saat ini menunjukkan kurangnya kerja sama antar tenaga profesi yang mengakibatkan kepentingan masyarakat terabaikan.

“Kami mengadakan acara ini karena sebuah alasan. Berasal dari satu Firman Allah yang berbunyi, Engkau melihat seolah-oleh mereka berjamaah padahal mereka tercerai-berai. Ini yang terjadi saat ini, pekerja kesehatan terlihat bekerja bersama-sama padahal pada kenyataanya punya kepentingan masing-masing,” ujarnya.

Penyelenggaraan seminar tersebut juga mendapatkan apresiasi dari wakil Rektor 2 Unisba, Dr. Atih Roaheti Dariah, SE., M.Si. Menurutnya tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi saat ini, Dia menuturkan untuk membangun kondisi kesehatan di Indonesia dibutuhkan kerja sama yang baik antar tenaga kesehatan.

“Tema yang diambil mengandung spirit luar biasa karena untuk membangun kerja sama itu bukan hal yang sederhana. Dibutuhkan keramahan hati dan kesiapan untuk mau berbagi dalam diri seseorang hingga akhirnya kolaborasi dalam membangun komunikasi antar tenaga profesi bisa terjalin,” ucapnya. Dia berharap, kegiatan ini bisa memberikan bekal bagi para peserta yang kelak akan berkontribusi dalam pelayanan dunia kesehatan.(Feari/Sari)

Rektor Unisba, Prof Dr H Edi Setiadi SH MH menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan 21 perguruan tinggi swasta di bawah naungan lembaga layanan pendidikan tinggi (LL Dikti) wilayah I Sumatera Utara serta wilayah IV Jawa Barat dan Banten, di Aula Kampus Pasca Sarjana Unisba, Jalan Purnawarman, Bandung, Senin (6/8/2018)

KOMINPRO-Dinobatkan sebagai salah satu perguruan tinggi unggul di Jawa Barat dan Banten, Unversitas Islam Bandung (Unisba) mendapatkan sebuah kehormatan untuk  membina beberapa perguran tinggi swasta di Indonesia.  Unisba bersama 21 perguruan tinggi swasta di bawah naungan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti), wilayah I Sumatera Utara serta wilayah IV Jawa Barat dan Banten, menjalin kerjasama yang ditandai penandatanganan nota kesepahaman (MoU), di Aula Kampus Pasca Sarjana Unisba, Jalan Purnawarman, Bandung, Senin (6/8/2018).

Berdasarkan hasil penilaian Kemenristekdikti Jawa Barat-Banten, Unisba terpilih menjadi 3 dari 478 Universitas yang memiliki akreditasi unggul.  Demikian disampaikan Ketua LL Dikti Wilayah Jawa Barat dan Banten, Prof. Dr. Uman Suherman, AS., M.Pd. “Khusus untuk para tamu LL DIKTI Wilayah 1 Sumatera Utara, perlu diketahui jika Unisba merupakan salah satu kebanggan LL DIKTI Jawa Barat dan Banten. Jadi tidak salah, kalo Bapak-Ibu dari LLDIKTI 1 dan 4 memilki rujukan terhadap Unisba,” ujarnya.

Beliau berharap, penandatanganan MoU ini dapat mendorong Unisba untuk berkontribusi dan berkembang bersama dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan Perguruan Tinggi swasta lainnya. Namun, dia di samping itu dia juga berpesan agar perguruan tinggi lain dapat menularkan kelebihan dalam bidang lain yang tidak dimiliki Unisba.

“Mudah-mudahan dengan MoU ini, tidak ada yang ditinggikan dan direndahkan, Unisba punya kelebihan PTS lain punya kekurangan. Tapi walaupun akreditasi Unisba lebih tinggi, ada bidang lain yang kita lebih unggul dan bisa dibagikan,” jelasnya. Lebih lanjut dia berharap, kerja sama ini dapat mempererat hubungan kekeluargaan antar Universitas yang kedepannya akan memberikan berkah dan kemaslahatan bagi umat.

Hal senada diungkapkan Rektor Unisba, Prof. Dr. H. Edi Setiadi. SH., MH, menurutnya. tujuan kegiatan ini bukan hanya karena Unisba unggul tapi juga mendorong PTS untuk saling membantu, baik itu dalam bidang SDM, publikasi, kemahasiswaan, dan bidang lainnya.

“Tantangan ke depan semakin berat karena segala sesuatu diukur melalui prestasi internasional. Maka melalui kegiatan ini, kita bisa saling membatu satu sama lain dengan kelebihan potensi yang dimiliki perguruan tinggi masing-masing,” ujarnya.

Rektor mengatakan, Keungggulan yang dimiliki Unisba saat ini, baik secara akreditasi prodi maupun institusi dapat menjadi landasan kerja sama yang berfokus pada pengaplikasian tri dharma perguruan tinggi, yaiu pendidikan, pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satunya, lanjut Rektor dengan menggelar seminar internasional 1st Science and Technology Research Symposium (SiRes) dan 1st Social and Humaniora Research Symposium (SoRes) pada 22-23 Oktober 2018 mendatang. Kedua kegiatan itu berada di bawah payung 1st Bandung Annual International Conference (BAIC) yang terindeks Scopus.

"Dalam hal publikasi penelitian, Unisba memiliki keunggulan terutama jumlah proposal dan jumlah ruang. Maka dari itu, kami bisa berbagi pengalaman bagaimana menembus proposal untuk mendapatkan dana hibah Dikti. Disamping itu kami juga bisa belajar bagaimana menembus hibah-hibah dari pemerintah daerah, karena selama ini kami hanya menembus bantuan pemerintah pusat (Dikti), sedangkan pemerintah daerah belum pernah dapat," tuturnya.

Lebih lanjut, Rektor menambahkan, dalam upaya meningkatkan akreditasi nasional, Unisba telah berupaya untuk mengejar prestasi sebagai salah satu perguruan tinggi swasta yang unggul tingkat ASEAN pada tahun 2021 dan tingkat Asia pada tahun 2030. Salah satunya dengan melakukan penjajakan terkait pengurusan sertifikasi akreditasi institusi kelembagaan dan program studi secara internasional, yang akan diadakan di Riau, mulai tanggal 7-10 Agustus 2018.

"Saat ini kami masih melakukan konsolidasi dengan seluruh prodi di Unisba, untuk mulai mengembangkan potensi keunggulan yang dimiliki masing-masing. Kedepan kami berencana untuk membuka kelas internasional atau melakukan pertukaran dosen dan mahasiswa dengan beberapa perguruan tinggi di luar negeri," ungkapnya. Feari/Wiwit

 

 

Dekan Fakultas Psikologi Unisba, Dr. Dewi Sartika, Dra., M.Si (ketiga dari kiri) didampingi dosen Fakultas Psikologi,Stephani Raihana H., S.PSI, M. PSI (paling kanan) memberikan penghargaan kepada mahasiswa berprestasi dalam prosesi Milad Fikom Unisba ke-45, di Aula Unisba, Kamis (2/08).

KOMINPRO-Dalam rentang usianya yang ke-45 tahun, Fakultas Psikologi Unisba telah tumbuh menjadi fakultas yang matang dan menorehkan banyak pretasi. Namun, siapa sangka di balik itu semua terdapat perjuangan berat yang dilalui oleh para pendiri Fakultas Psikologi Unisba dan belum diketahui secara pasti kebenarannya oleh sebagian orang, khususnya masyarakat Unisba.

Hal tersebut disampaikan Rektor Unisba, Prof. Dr. H. Edi Setiadi. SH., MH saat memberikan sambutan dalam peringatan Milad Psikologi Unisba ke-45 di Aula Utama Unisba, Kamis (2/08). Selain diisi Orasi Ilmiah, acara ini juga menjadi ajang pemberian penghargaan kepada mahasiswa berprestasi baik dalam bidang akademik maupun olahraga.

“Berbicara mengenai visi dan misi Unisba, saya rasa semakin ke sini orang-orang semakin lupa. Maka untuk menjaga  agar sejarah tidak terputus, perlu adanya upaya yang dilakukan, misalnya dengan membuat buku khusus yang membahas tentang sejarah Fakultas,” ujarnya. Acara ini, lanjut Rektor, dapat menjadi momentum yang tepat bagi para dosen untuk membuat sebuah buku mengenai sejarah Fakultas Psikologi Unisba.

Dalam dokumen resmi Unisba,  Fakultas Psikologi resmi berdiri pada tahun 1972. Namun, mengingat sarana dan prasarana pada saat itu belum memadai, mahasiswa Psikologi Unisba di sebar ke berbagai Fakultas Unisba maupun Universitas lain. Pada tanggal 1 April 1973 Fakultas Psikologi Unsiba akhirnya resmi ditetapkan melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada saat untuk program sarjana muda. Dikisahkan Rektor, untuk izin mendirikan Fakultas kala itu harus setengah-setengah (D3) dan tidak bisa langsung (S1). Tahun 1973 Fakultas Psikologi menerima mahasiswa pertama dengan jumlah 15 orang. Kemudian, dari 15 ini mengikuti ujian sarjana muda negara dan yang lulus sebanyak 10 orang.

Salah satu upaya dalam memelihara, menjaga dan merawat Fakultas, kata Rektor, adalah dengan cara tidak melupakan sejarah. Moment ini juga bisa dimanfaatkan semua fakultas agar tidak kehilangan arah perjuangan Unisba secara keseluruhan dan arah perjuangan fakultas masing-masing.

“Harus kita akui, semakin ke sini pewarisan nilai-niali sejarah semakin kabur. Saya menerima informasi 90% karena waktu itu masih ada pendiri Unisba. Ke depan, mungkin informasi yang diterima generasi selanjutnya akan semakin berkurang jika tidak ada dokumen pasti,” katanya. Dia menambahkan, untuk membuat sejarah dosen bisa memulai dengan melacak dengan mewawancara senior, alumni, orang tua, atau sesepuh Unisba.

Sementara itu, Sekretaris Badan Yayasan, Dr. H. Irfan Safrudin, M. Ag. mengatakan salah satu tantangan yang harus dihadapi Fakultas Psikologi Unisba yakni bukan hanya memaparkan teori tetapi juga membangun teori berlandaskan Islam. Menurutnya, untuk menjawab tantangan tersebut Dosen Psikologi Unisba harus memiliki kualifikasi tinggi dan minimal bergelar doktor.

“Saya rasa dosen bergelar doktor itu hukumnya fardhu ain, terutama dosen Psikologi.  Hal ini sangat berpengaruh dengan bagaimana cara dosen bisa lebih memimpin, dan melakukan dialog,  karena dalam konteks penelitian atau kritik yang berkaitan terhadap ontologi, aksiologi dan epistimologi berada dalam nilai strata yang tinggi,” jelasnya.

Ketua Milad sekaligus dosen Psikologi Unisba, Muhammad Ilmi H.,  Drs. M.Psi, mengatakan, rangkaian kegiatan Milad tahun ini mengusung tema  “Save Our Family For Better Indonesia”. Pada peringatan Milad tahun ini, diselenggarakan beberapa rangkaian kegiatan, yaitu We care (Konseling Gratis bersama Dosen dan alumni Psikologi Unisba), pembagian sembako kepada Tata Laksana dan Panti Jompo, Talkshow Ayah Hebat yang diikuti para ayah yang ada di lingkungan Unisba, Seminar bertajuk Menjadi Orang Tua Hebat Bagi Generasi Alfa, Kompetisi Ilmiah antar mahasiswa, Temu Kangen bersama 600 Alumni Psikologi Unisba, dan Orasi Ilmiah “Psikologi Islam Sebagai Suatu Pendekatan untuk Memahami Tingkah Laku Manusia”.

Dia juga bersyukur karena rangkaian kegiatan milad ini dapat berjalan dengan lancar dan mengundang antusias peserta dari berbagai kalangan. ”Alhamdulillah untuk kegiatan We Care sendiri, kita berhasil menangani 100 orang dalam sebulan yang ditangani oleh 80 konselor. Mungkin ini juga bisa menjadi pertimbangan bagi Universitas untuk membangun lembaga konseling bagi mahasiswa,” tuturnya. Feari/Sari

 

 

 

KOMINPRO – Kebijakan Kemenristekdikti untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam jurnal atau prosiding internasional yang terindeks scopus, thomson, web of science, dll, direspon oleh Unisba dengan  menggelar simposium internasional 1st Science and Technology Research Symposium (SiRes) dan 1st Social and Humaniora Research Symposium (SoRes) pada 22-23 Oktober 2018 mendatang. Kedua kegiatan itu berada di bawah payung 1st Bandung Annual International Conference (BAIC) yang terindeks Scopus.

Tujuan dari penyelenggaraan kegiatan ilmiah BAIC ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada akademisi dan praktisi di Indonesia, negara-negara ASEAN dan di dunia untuk mendiskusikan dan berbagai isu-isu kontemporer terkait manajemen pengelolaan alam dan ilmu sosial. Menurut Ketua LPPM Unisba, Prof. Dr. Atie Rachmiatie, M.Si, konferensi ini bermaksud untuk memberikan ruang bagi publikasi hasil riset berkualitas tinggi dari semua bidang.  Area riset yang masuk dalam SiRes adalah Teknik Industri, Teknik Pertambangan, Perencanaan Wilayah dan Kota, Kesehatan, Statistik, Matematika dan Farmasi sedangkan bidang riset yang masuk dalam area SoRes adalah Komunikasi, Psikologi, Manajemen, Akuntansi, Ekonomi, Hukum, Pendidikan Islam, Pendidikan Anak Usia Dini, Komunikasi dan Penyiaran Islam, ekonomi syariah dan bidang lain yang terkait.

Pembicara kunci (keynote speakers) dalam kegiatan ini adalah apl. Prof. Dr.-Ing Thomas Weith dari University of Potsdam, Jerman, Dr. Eng Muhammad Aziz dari Tokyo Institute of Technology, Jepang dan Prof. Dr. Sutawanir Darwis dari Universitas Islam Bandung. Kegiatan ini akan dibagi menjadi dua kegiatan besar, yaitu  plenary session yang menghadirkan ketiga pembicara dalam satu sesi serta parallel session yang membagi para pemakalah ke dalam ruang-ruang presentasi dan diskusi, sesuai dengan tema tulisan dari para peserta.

Waktu penyelenggaraan konferensi Senin dan Selasa, 22-23 Oktober 2018, dimana hari pertama kegiatan diisi dengan coaching clinic bagi para pemakalah sehingga mereka bisa memperbaiki tulisan dan materi presentasi sebelum ditampilkan/didiskusikan dengan akademisi/praktisi lain yang hadir dalam acara tersebut. Pada hari kedua, setelah mendengarkan paparan dari para keynote speakers, para peserta akan mempresentasikan hasil riset mereka dan mendiskusikannya. 

Tempat SiRes & SoRes diselenggarakan di Grand Tjokro Hotel yang berlokasi di Jalan Cihampelas, Bandung. Bagi para akademisi dan praktisi yang berkeinginan untuk bergabung dalam kegiatan ini, agar memperhatikan tanggal-tanggal penting berikut. Penyerahan abstrak paling akhir adalah 17 Agustus 2018 secara online melalui website yang disediakan khusus. Untuk mendaftar Science and Technology Research Symposium (SiRes), alamatnya http://sires.unisba.ac.id/?page_id=7 sedangkan untuk bidang sosial dan humaniora (SoRes) bisa mendaftar ke: http://sores.unisba.ac.id/?page_id=7

Untuk pengumuman penerimaan abstrak oleh panitia akan dilakukan pada 31 Agustus 2018. Selain itu, pembayaran untuk keikutsertaan dalam konferensi ini selambatnya 14 September 2018. dan penyerahan full paper (makalah lengkap) adalah 14 November 2018. “Sekitar dua atau tiga bulan setelah kegiatan, makalah yang dinyatakan memenuhi syarat akan dipublikasikan di prosiding internasional terindeks Scopus,” kata Prof Atie. 

Target dari hasil konferensi internasional ini lebih dari 100 artikel bisa terindeks scopus, sehingga ranking Indonesia dalam publikasi ilmiah terus meningkat. (Sumber : www.bandungnewsphoto.com/)