Jan 20, 2019 Last Updated 6:11 AM, Jan 18, 2019
 
 
 

Laporan Harus Akurat dan Relevan

Published in Berita
Read 225 times
Rate this item
(0 votes)

KOMINPRO Laporan-laporan yang tercipta dari kekuatan data, disampaikan secara baik, namun tak abai pada kecepatan adalah sumber informasi yang layak diperoleh masyarakat Indonesia. Tidak hanya karya jurnalistik, laporan penelitian sekalipun harus ditulis dengan akurat dan relevan. Persoalannya, tidak semua yang relevan dikemas secara menarik. Inilah yang menjadi tantangan bagi para jurnalis.

Demikiam disampaikan Redaktur Investigasi Tirto.id, Fahri Salam dalam Studium Generle (SG) bertema, “Romanum De Vectigium” yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Jurnalistik (KMJ) Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unisba,  di Aula, Kamis (6/12). Kegiatan ini merupakan acara tahunan yang bertujuan untuk memperkenalkan tiga bidang kajian yang ada di Fikom Unisba kepada mahasiswa baru.

Acara ini menghadirkan dua narasumber dari bidang jurnalistik yaitu Redaktur Investigasi Tirto.id Fahri Salam dan jurnalis Vice Indonesia, Arzia Tivany Wargadiredja. Kedua narasumber tersebut dipilih karena dianggap mampu menyajikan berbagai informasi terkini dengan kemasan menarik dan disukai generasi masa kini.

Lebih jauh Fahri menjelaskan, inti dari deep reporting adalah liputan secara mendalam yang menggunakan pendekatan feature.  “Feature merupakan teori yang banyak digunakan tokoh untuk menghasilkan karya dalam medium apapun,” terang Fahri seraya menambahkan, sejak tahun 1920, teori ini tetap bertahan dan dimanfaatkan dengan berbagai penyajian baik itu dekskriptif atau naratif reporting.

Fahri berpendapat, hampir semua buku bagus, bahkan dari dunia akademis sekalipun seperti Steve Jobs yang menggunakan pendekatan feature. “Di Indonesia sendiri ada Metta Darmasaputra yang menceritakan liputan investigasi tentang kasus manipulasi pajak Asian Agri Group melalui Buku Saksi Kunci dengan sudut pandang detektif dan menarik sekali,” terangnya.

Tirto.id yang lahir pada 12 Mei 2016,  dikatakan Fahri,  menjadi salah satu media yang konsisten menghasilkan berita dengan kekuatan data. Melalui laporannya, Tirto.id berupaya untuk menepis anggapan masyarakat bahwa jurnalisme media online adalah jurnalisme yang asal mengundang klik, banyaknya halaman dibuka (page views), lepas dari konteks, dangkal, dan tidak enak dibaca.

Berbeda dengan Tirto.id, Vice Indonesia concern memanfaatkan media youtube untuk membuat indepth reporting. Jurnalis Vice Indonesia, Arzia Tivany Wargadiredja percaya bahwa masyarakat Indonesia pada masa ini, cenderung lebih menikmati suguhan berbentuk audio visual dibandingkan tulisan.

“Saya merasa, di Indonesia lebih mudah menyerap penonton dibandingkan  pembaca. Saya menemukan ini dari jaman kuliah dan mengamati orang-orang di sekitar,” katanya.

Namun, lanjutnya, adanya anggapan bahwa orang Indonesia tidak menyukai video berdurasi panjang kini menjadi sebuah tantangan tersendiri. Untuk mensiasati hal tersebut, Arzia bersama Vice Indonesia mencoba untuk mengambil isu yang dekat dengan masyarakat dan menyajikan dengan cara menarik.

“Kita sekarang punya media online platform-nya banyak. Kita bisa membuat indepth reporting yang isunya dekat dengan masyarakat dan tidak selalu politik. Kalo kita bisa mengemasnya dengan tepat  pasti banyak peminatnya, seperti video kita dengan durasi 30 menit tapi berhasil mengundang banyak penonton,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Penyelenggara Nabilla Anasty Fahzaria mengatakan, pengambilan tema pada kegiatan ini diambil dari bahasa latin yaitu romanum yang artinya  balai penyebaran acta diurna, sementara de vectigium mengandung arti jejak kaki. ”Acta diurna itu merupakan media informasi pertama pada zaman dulu. Kalo ditafsirkan maksud dari tema ini tentang bagaimana media mampu merangkai informasi dari jejak-jejak yang ada menuju sebuah kebenaran,” katanya.

Nabilla menjelaskan alasan dipilihnya kedua narasumber dalam SG tersebut. Menurutnya, Vice selalu memilih tema unik dan nyentrik, serta audio visual yang bagus. Sedangkan Tirto, kata dia,  infographicnya menarik. “Menurut kami kedua media tersebut masuk untuk segmentasi remaja dan bisa memperkankan dunia jurnalistik itu tempat bermain yang seru dan luas cakupannya,” jelasnya.

Tirto.id, kata dia, merupakan portal media online yang menyajikan tulisan dan infografik berita serta analisis berdasarkan fakta dan data. Media tersebut memiliki visi bahwa dalam proses jurnalisme menyajikan tulisan-tulisan yang jernih (clear), mencerahkan (enlighten), berwawasan (insightful), memiliki konteks (contextual), mendalam (indepth), investigatif, faktual serta dapat dipertanggungjawabkan.(Feari/Sari)

 

 

 

Last modified on Senin, 10 Desember 2018 11:58