Dec 10, 2018 Last Updated 11:58 AM, Dec 10, 2018
 
 
 

Pilihlah Produk yang Ramah Lingkungan dan Halal

Published in Berita
Read 115 times
Rate this item
(0 votes)

KOMINPRO - Di era sekarang membuat sebuah kebijakan pro lingkungan sudah menjadi sebuah tuntutan. Tidak dapat dipungkiri, dampak pemanasan global terhadap kehidupan manusia semakin nyata dirasakan seperti perubahan iklim, kekeringan, kebakaran hutan, dan meningkatnya resiko penyakit. Di sisi lain, disadari atau tidak, banyak hal yang kita lakukan justru menjadi pencetus munculnya pemanasan global dan awal kerusakan lingkungan. Mulai dari mengolah makanan, menggunakan kendaraan dan alat transportasi, memakai peralatan listrik, hingga aktivitas pertanian, dan aktivitas lain yang menjadi penyumbang jejak karbon.

Melihat kurangnya kesadaran masyarakat terhadap fenomena tersebut, Pusat Penembangan Teknologi dan Lingkungan Hidup (P2TLH) menggelar Studium Generale bertema “Green and Halal Product” di Aula Fakultas Kedokteran, Sabtu (1/11). Dalam kegiatan tersebut dihadirkan tiga pembicara yakni Wakil Direktur LPPOM MUI Jawa Barat, Ir. Hj Ferika Aryanti MT., Kepala Sub Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup Kementerian Perindustrian RI, Dr. Andriati Cahyaningsih S.Si., M.Si, dan Owner “Semesta Batik” Ciwaringin Cirebon, Farhan Jazuli.

Wakil Direktur LPPOM MUI Jawa Barat mengatakan, banyak aktivitas manusia yang ditengarai menghasilkan jejak karbon dan memicu pemanasan global. Namun, dia berpendapat bahwa perubahan perilaku yang berkiblat pada gaya hidup hijau (green lifestyle) dipercaya mampu meminimalisir dampak buruknya terhadap lingkungan. 

“Mengingat lingkungan dalam kondisi yang semakin memprihatinkan, pilihlah produk yang mencantumkan label ecofriendly atau recycling symbol pada kemasannya. Karena produk dengan bahan non toxic tidak mengandung bahan yang dapat merusak lingkungan,” katanya.

Dalam kesempatan itu dia juga mengatakan, selain membuat olahan produk ramah lingkungan masyarakat tetap harus mengutamakan kehalalannya. Menurutnya, hampir semua produk halal diproses secara ramah lingkungan tapi tidak semua produk yang dikategorikan green itu halal.

“Bahan dasar kertas sangat mudah terurai dan ramah lingkungan. Tapi hati hati dalam papper Industry bisa saja sebuah perusahaan menggunakan bioteknologi enzimatis, ini berkaitan dengan titik kritis kehalalan,” jelasnya.

Sementara itu, Dr. Andriati Cahyaningsih S.Si., M.Si, mengatakan saat ini dunia industri dikelilingi oleh banyak pihak yang tidak bertanggung jawab terhadap kondisi lingkungan. Faktor pesaingan bisnis membuat para pengusaha tidak merasa takut dan berdosa jika hasil produksinya menghasilkan limbah yang bisa menjadi racun bagi lingkungan sekitar.

Dalam menyelesaikan persoalan tersebut, saat ini Kementerian Perindustrian gencar melakukan pembinaan untuk mengembangkan industri yang sudah ada menuju industri hijau. Dia mengatakan, diperlukan industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan. Menurutnya hal tersebut akan mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup sehingga dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

 “Terus terang indutri kita sedang terpuruk. Maka dengan ini kami berupaya memberikan penghargaan kepada perushaan-perusahaan yang sudah menerapkan konsep industri hijau,” ungkap Bu Andriati. Penghargaan ini, kata dia, dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran dan sosialisasi juga akan pentingnya industri hijau.

Lebih lanjut dia menambahkan, ada tujuh karakteristik yang menjadi standar indusri hijau yakni (1) Meminimalisir Limbah, (2) Menggunakan bahan baku alternative, (3) Konsumsi Material yang Efesien, (4) Intensitas Energi Rendah, (5) Intensitas Air Rendah, (6) Sumber Daya Manusia yang Kompeten, dan (7) Teknologi Karbon yang Rendah.

Dalam kesempatan tersebut, peserta yang hadir juga mendapatkan pengetahuan baru mengenai tata cara pembuatan batik menggunakan pewarna alami. Owner “Semesta Batik” Ciwaringin Cirebon, Farhan Jazuli tak segan membagikan rahasianya dalam menghasilkan produk batik yang berkonsep green dan halal dengan menggunakan pewarna yang berasal dari akar, kulit kayu, bunga, dan kulit buah. (Feari/Sari)

 

 

More in this category: Berita Duka »