Dec 10, 2018 Last Updated 11:58 AM, Dec 10, 2018
 
 
 

Keterampilan Public Speaking, Penting Bagi Semua Profesi

Published in Berita
Read 117 times
Rate this item
(0 votes)

KOMINPRO - Memiliki keahlian public speaking yang baik, merupakan sebuah keharusan bagi para pekerja di era ini. Karena apapun cita-cita dan profesi seseorang tidak akan terlepas dari kegiatan public speaking baik itu memberikan informasi, mempengaruhi atau menghibur.

Demikian diungkapkan Reporter Fokus Indosiar Wanda Utari, saat berbagi pengalaman dalam acara “Sharing Session SCTV Goes To Campus 2018 (SGTC)”, di Student Center Unisba, Senin (3/12). Wanita yang pernah mengikuti ajang Abang None Jakarta tahun 2012 ini membagikan beberapa tips kepada peserta yang hadir tentang hal apa saja yang harus dilakukan oleh public speakers.

“Penampilan bukan hal pertama tetapi tidak bisa di nomor duakan  oleh seorang public speakers saat berbicara di depan umum,” kata Wanda. Jadi, kata dia, mau tidak mau harus diperhatikan karena penampilan adalah first Impression. Ketika orang lain merasa nyaman melihat kita maka proses komunkasi akan lebih mudah dilakukan.

Dalam membangun presentasi yang efektif, public speakres harus percaya diri dalam menyampaikan materi. Untuk mengatasi rasa nervous yang biasa mucul saat menyampaikan materi, kata Wanda, seseorang bisa mensiasatinya dengan menggunakan pointer.

Wanda menilai, Nervous adalah sesuatu yang wajar. “Bahkan ada orang bilang kalo kita sudah tidak merasakan perasaan gugup berarti sombong. Membuat pointer dalam bentuk notes bisa jadi solusi, tu bukan sesuatu hal yang memalukan,” jelasnya. Jika langkah-langkah tersebut belum membantu, kata dia,  kita harus banyak berlatih agar terbiasa dan menjadi ahli dalam bidang public speaking.

Sementara itu, presenter Liputan 6 SCTV, David Rizal menyampaikan suka dukanya saat dia menjadi seorang reporter. Dia becerita kepada peserta yang hadir bahwa perjuangannya untuk dapat menduduki posisi news anchor tidak dilaluinya dengan mudah. Bahkan, tak jarang dia diutus untuk melakukan peliputan seorang diri baik untuk membuat berita maupun mengambil gambar.

“Zaman sekarang kalo kalian mau jadi reporter tidak bisa mengambil gambar susah. Saya penah seorang diri meliput bencana Topan Haiyan di Filipina dan Gempa di Nepal seorang diri sebagai video journalist dan reporter sekaligus. Belum lagi kita harus pandai berbahasa Inggris untuk melakukan interview dengan orang asing” ujarnya.

Namun, diakuinya, pengalamannya selama bertugas sebagai reporter liputan 6 SCTV memberikan banyak kesan mendalam yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kesetiannya terhadap bidang jurnalistik selama kurang lebih tujuh tahun, berhasil mengantarkannya keliling Indonesia bahkan mancanegara. “Sebutkan kota besar di Indonesia, kayanya hampir semua sudah saya jelajahi. Kalo luar negeri mungkin gak banyak seperti di Indonesia, tapi itu saja sudah Alhamdulillah hitung-hitung jalan-jalan gratis,” ucapnya. (Feari/Sari)