Oct 24, 2017 Last Updated 6:43 AM, Oct 24, 2017

UMAM, Simulasi Sidang Mahasiswa ASEAN, Rektor: “Kualitas Kerjasama Internasional ditentukan Profesionalitas Stakeholder

Published in Berita
Read 256 times
Rate this item
(0 votes)

             Para delegasi negara ASEAN yang mengikuti UMAM 2017

HUMAS-Dalam rangka memperingati Milad ke-59 Unisba, Fakultas Hukum sebagai panitia Milad, menggelar Unisba Model ASEAN Meeting (UMAM) pada 4-8 Oktober 2017 bertempat di kampus Unisba dan di salah satu hotel ternama di Bandung. Kegiatan UMAM bertema, “Build Unity In Harmony For ASEAN Community” ini dihadiri 70 peserta dari 190 pendaftar 10 negara ASEAN dan sejumlah negara tetangga lainnya seperti Timor Leste, Bangladesh, Afganistan, Angola, Kazakhstan, dll. Para peserta diwajibkan mengirimkan makalah sebagai dasar dalam pengelompokan negara dan pilar.  Dari seleksi tersebut, ditentukan 70 delegasi yang dapat ikut serta. Kegiatan UMAM dibuka Rektor Unisba, Prof.Dr.H. Edi Setiadi,SH.,MH. yang sekaligus bertindak sebagai keynote speaker.

Dalam paparannya, Rektor mengungkapkan, ASEAN Economic Community (AEC) merupakan suatu program yang menitikberatkan pada bidang ekonomi dari para Negara anggota ASEAN dan akan mulai terlaksana. Ke depan akan banyak free trade antar Negara anggota ASEAN dengan membebaskan bea masuk dari transaksi perdagangan barang, jasa, modal, maupun investasi. Konsep free trade tersebut dapat menjadikan komunitas ini menjadi sebuah pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara.

“Kualitas sebuah kerjasama internasional sangat ditentukan oleh profesionalitas dari setiap stakeholder yang ada. Hal itu merupakan jaminan bagi kelanggengan hubungan kerjasama tersebut,” kata Rektor yang membawakan makalah bertema, “Academic and Ruhuddin Quality Improvement as Unisba Characteristic to Accelerate the Development of ASEAN Economic Community”

Indonesia, lanjutnya, dengan tingkat profesionalitas tenaga kerja yang sangat bervariasi membutuhkan adanya standar agar menjadi pedoman bagi tenaga profesional Indonesia sehingga mampu bertahan di dalam persaingan sebab bisa dikatakan merekalah perpanjangan tangan Indonesia dalam menciptakan panjangnya umur kerjasama antar negara di AEC nanti.

Salah satu ruang lingkup perdagangan pada program AEC adalah perdagangan jasa terutama jasa dari para tenaga ahli. Penyebaran tenaga ahli baik tenaga ahli lokal maupun asing di dalam suatu Negara akan semakin luas. Jika Penyebaran tenaga kerja yang semakin luas terjadi, maka persaingan antar tenaga kerjapun akan terjadi. Hal ini terjadi terutama ketika lapangan pekerjaan yang tersedia tidak lagi mampu mengimbangi jumlah tenaga ahli yang semakin meningkat.

Unisba sebagai perguruan tinggi Islam swasta memiliki peran dalam menghasilkan lulusannya. Dalam perguruan tinggi, mahasiswa merupakan salah satu unsur yang melekat, mahasiswa sebagai agent of change, social control dan iron stock dan merupakan pilar utama atau garda terdepan di bidang Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menghadapi persaingan global dengan diberlakukan AEC. 

Sudah menjadi keharusan bagi Unisba, kata Rektor, untuk melahirkan manusia-manusia yang intelek, kritis, peduli dan berakhlak mulia. Undang-Undang dengan tegas menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Dikatakan Rektor, upaya untuk melahirkan SDM yang intelek, kritis, peduli dan berakhlak mulia telah dirancang melalui berbagai program kerja dan aktivitas dalam kehidupan akademika Unisba yang dilandasi semangat mujahid, mujtahid, dan mujaddid yang disebut dengan 3M, yaitu mujahid, mujtahid dan mujaddid. Semangat inilah yang harus dipunyai oleh setiap insan yang menjadi bagian dari Unisba sebagai wujud dari tafaquh fiddin. “Semangat 3M ini perlu dimiliki oleh setiap insan yang menjadi bagian dari UNISBA sebagai interpretasi dari wujud tafaquh fiddin,” kata Rektor.

Secara nasional Unisba telah memiliki keunggulan dalam menjaga kualitas akademik, hal ini dapat dilihat dari lamanya masa tunggu lulusan untuk memperoleh pekerjaan kurang dari 6 (enam) bulan, untuk bekerja di tingkat Regional, Nasional maupun Internasional. Unisba juga mendapatkan peringkat terbaik dalam menjalankan sistem penjaminan mutu secara konsisten dan berkelanjutan, memperoleh akreditas A BAN-PT, masuk 100 terbaik PT versi Kemenristek-Dikti walaupun berada diurutan ke-68.

Karakteristik (ciri unggulan) Unisba dalam menuju universitas kelas dunia adalah melekatnya Ruhuddin pada semua aspek dalam perencanaan manajemen. Harmonisasi finansial terhadap sumberdaya untuk belajar ditopang oleh integrasi ruhuddin dalam semua aspek perencanaan manajemen Unisba, menyeimbangkan antara faktor internal (karyawan dan organisasi) dengan eksternal (pemilik dan pelanggan), antara indikator kinerja keuangan (perspektif pemilik) dengan kinerja non-keuangan, yaitu: pelanggan (perspektif pelanggan) serta proses bisnis internal dan pembelajaran dan pertumbuhan

Sementara itu Koordinator Panitia, Prof. Dr. Neni Sri Imaniyati, S.H.,M.H.,  mengungkapkan, Fakultas Hukum sebagai Panitia Milad Unisba kali ini sengaja memilih tema ASEAN karena hal ini sejalan dengan visi dan misi Unisba menjadi universitas yang mandiri, maju, dan terkemuka di tingkat ASEAN. Penyelenggaraan UMAM ini bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan siswa mengenai komunitas ASEAN, memperoleh pengalaman otentik dalam memahami ASEAN, dan membangun kerja sama antar universitas di negara-negara ASEAN. Sesuai dengan temanya, UMAM akan diikuti peserta dari berbagai negara ASEAN diantaranya Indonesia, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam.

Senada dengan itu, Wakil Dekan I Fakultas Hukum Dr. Neni Ruhaeni,SH.,LLM. mengungkapkan, Penyelenggaraan kegiatan ini, adalah untuk meningkatkan jumlah kegiatan yang lebih banyak melibatkan mahasiswa dalam kegiatan seminar berskala internasional di samping melatih generasi muda yang akan menjadi diplomat di tingkat ASEAN.

Menurut Wadek I Fakultas Hukum, model yang diterapkan dalam kegiatan UMAM ini sama persis dengan ASEAN meeting yang sebenarnya. Ada guidance book yang memberikan penjelasan secara detail terkait dengan aturan dari pelaksanaan ASEAN meeting, salah satunya berhubungan dengan jumlah delegasi.

Adapun tema utama yang diusung berkaitan dengan kesepahaman hak asasi manusia (HAM) di ASEAN. Tema turunannya berdasarkan tiga pilar yaitu politik, ekonomi, dan sosial budaya. Bahkan isu Rohingya pun menjadi topik yang hangat dibahas. Selain itu, ada isu-isu di bidang migrant worker, human trafficking, pariwisata, dan disaster management.

Topik-topik tersebut dibicarakan dalam tiga tahapan persidangan layaknya model sidang ASEAN. Tahapan sidang pertama di tingkat senior official meeting yakni yang diikuti oleh pejabat tinggi negara. Biasanya diwakili dirjen. Berikutnya, di tingkat coordinating meeting yang diikuti oleh menteri-menteri luar negeri. Terakhir, di ASEAN Summit, akan disampaikan summary oleh tiap kepala negara.(sari)