Phone (022) 420 3368 ext. 109 ||

Follow Us

  /  Berita   /  Guna Meningkatkan Nilai Tambah Sampah, Teknik Industri Unisba Beri Pendampingan Budidaya Maggot

Guna Meningkatkan Nilai Tambah Sampah, Teknik Industri Unisba Beri Pendampingan Budidaya Maggot

KOMINPRO-Guna melaksanakan peran serta tanggung jawab Unisba kepada masyarakat dan merealisasikan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Unisba melaksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dengan judul “Meningkatkan Nilai Tambah Pengelolaan Sampah Kawasan Melalui Pembudidayaan Belatung Maggot” di Masjid Riyyadhul Zannah RW 12 Kampung Cicangkudu Desa Rancamulya Kecamatan Pamengpeuk. Kabupaten Bandung, Minggu (14/6).

Ketua Tim PKM, Puti Renosori, mengatakan, latar belakang terselenggaranya PKM ini karena pengelolaan sampah di RW 12 Kampung Cicangkudu masih menimbulkan dampak pencemaran lingkungan dan belum mempunyai nilai tambah yang optimal. “Saya dan tim terdorong untuk melaksanakan PKM ini dengan tujuan untuk mengubah pola pikir warga tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup, meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah, serta meningkatkan nilai tambah dari sampah tersebut,” ungkapnya.

Bu Puti menuturkan,  kegiatan ini diikuti sebanyak 40  peserta yang terdiri dari Ibu-Ibu Majelis Ta’lim RW 12. Menurutnya, pada pelatihan ini peserta diberikan kesempatan untuk memilah sampah menggunakan 2 jenis keranjang.

Dijelaskannya, hasil yang diperoleh dari PKM ini mampu meningkatkan partisipasi warga untuk mengelola sampah dengan lebih baik yaitu dengan cara memilah sampah menjadi sampah organik dan unorganik. Selain itu, lanjutnya, peningkatan nilai tambah sampah organik dengan memanfaatkan sampah organik tersebut sebagai pakan pada budidaya belatung Maggot dapat terealisasikan.

“Maggot dapat dijadikan sebagai pakan alternatif untuk peternakan lele, bebek, ayam, burung dan lainnya. Manfaat lainnya, sampah organik sisa budidaya maggot dapat dijadikan kompos untuk menyuburkan tanaman,” jelasnya. Lebih jauh Bu Puti mengatakan, Maggot dari sampah organik hasil budidaya sebagian besar dijual ke peternak lele untuk dikembangkan di peternakannya sendiri yang dijadikan pakan. “Uji coba pakan lele menggunakan 100% maggot, sudah dilaksankan oleh Bapak Hasan selaku ketua paguyuban peternak lele Baraya. Uji coba tersebut dilakukan pada 2000 ekor lele. Hasilnya menunjukkan bahwa pertumbuhan lele normal dan sehat. Menurut Pak Hasan, penggantian pakan lele dengan maggot dapat mengurangi biaya pakan 30 %,” pungkasnya.(Eki)

Translate »