Phone (022) 420 3368 ext. 109 ||

Follow Us

  /  Karya   /  The Power of Communication

The Power of Communication

Dr. O. Hasbiansyah-Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung – Banyak tokoh dibesarkan dan populer karena kemampuannya berkomunikasi. Adolf Hitler, tokoh kontroversial pada masa Perang Dunia II, dengan tegas mengakui bahwa keberhasilannya mencapai puncak pimpinan di Jerman di sebabkan oleh kemampuannya berbicara. Contoh yang dekat dengan kita adalah Soekarno, presiden pertama Indonesia. Beliau banyak dikenal di kalangan luas, antara lain, lantaran kelincahannya berpidato. Begitu memukaunya pidato-pidato Bung Karno, sehingga tak heran bila sampai sekarang rekaman pidatonya masih dicari dan digemari orang.

Dengan berkomunikasi, manusia punya bermcam-macam tujuan. Lewat komunikasi, kita bisa menyampaikan gagasan, memengaruhi masyarakat, mempertahankan pendirian, menjinakkan bahkan menjatuhkan lawan, mengajarkan ilmu, atau menghibur orang. Fredrich Moreno, seorang aktor dalam drama-drama Shake­speare, pada usia tiga puluhan menderita kelumpuhan dari pinggang sampai ujung kaki. Ia tak punya banyak kemungkinan lagi kecuali memelihara kebun dengan menyeret badannya. Suatu ketika ia disarankan seseorang untuk membentuk orga­nisasi yang bertujuan untuk memperbaiki kehidupan para penderita polio. Ia menghadap ke Kementrian Perburuhan. Dengan tujuan yang mantap, ia berbicara untuk menyakinkan bahwa orang-orang cacat bisa mengerjakan banyak hal dan menikmati kehidupan ini secara normal. Di sini, Moreno meng­gunakan komunikasi untuk tujuan positif.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila Nabi Muhammad saw pernah menyatakan, “Sesungguhnya dalam kefasihan bicara (bayan) terdapat pesona yang kuat.” Dengan komunikasi yang baik, kata-kata bisa berubah menjadi “dinamit” yang mampu meluluh­lantakkan jiwa orang berkepala batu, merontokkan pendirian orang bertangan besi.

Komunikasi, bagi manusia, memang sangat penting. Komunikasi ibarat oksigen. Di mana pun, kapan pun, oleh siapa pun, komunikasi dibutuhkan untuk kelangsungan hidup. Pada abad ke-13, Frederick II, Kaisar Kerajaan Romawi, melakukan eksperimen. Ia memi­lih beberapa orang bayi dan merawatnya di tempat khu­sus. Segala kebutuhan makan dan minum bayi disediakan dengan baik oleh para perawat. Tetapi, para perawat itu tak diperbolehkan berbicara dengan  bayi-bayi itu. Apa yang terjadi? Beberapa waktu kemudian, bayi-bayi itu mati secara misterius. Diduga, kematian para bayi yang secara fisik sehat itu disebabkan tak terpenuhinya kebutuhan komunikasi yang baik.

Dari keseluruhan aktivitas manusia, kegiatan berkomunikasi mencapai 75%. Dan, kesalahan yang terjadi di tempat kerja seringkali diakibatkan kesalahan komunikasi (70%). Berdasarkan Survey di USA (Curtis,1989), terdapat lima faktor paling penting dalam membantu lulusan perguruan tinggi memeroleh dan mengembangkan pekerjaan, secara berurutan, adalah sebagai berikut: kemampuan berkomunikasi secara lisan, kemampuan mendengarkan, antusiasme, keterampilan komunikasi secara tertulis, dan kompetensi teknis.

Namun, di sisi lain, berdasarkan survey, berbicara di depan publik menempati ranking pertama sebagai hal paling ditakutkan kebanyakan manusia. Sebuah survey menyatakan, terdapat tiga jenis yang paling mencemaskan bagi kebanyakan orang: public speaking, ular, dan kematian. Survey lain menyebutkan, ada lima belas hal yang paling ditakutkan, dengan urutan sebagai berikut: berbicara di depan umum, problem finansial, hari tua, sakit, teman hidup, kematian, serangga, kesendirian, kerusuhan, ketinggian, air yang dalam, anjing, gelap, elevator, dan eskalator.

Komunikasi, saking melekatnya dalam kehidupan manusia, sering dianggap sebagai kegiatan alamiah yang tidak perlu dipelajari. Tentu saja, anggapan tersebut banyak kelirunya. Benjamin Disraeli dan Winston Churchill, keduanya pernah menjabat sebagai perdana menteri Inggris, adalah dua contoh yang kehebatan keterampilan komunikasinya diraih setelah belajar dan berlatih. Waktu pertama kali Disraeli berpidato, hampir setiap kalimat yang diucapkannya disambut teriakan, ejekan, dan tertawaan. Beberapa waktu kemudian, setelah belajar cara berpidato yang baik, ia berhasil memukau hadirin. Churchill pernah bertahun-tahun malang melintang dalam dunia politik Inggris yang “gersang”. Kata-katanya diabaikan dan tidak dipahami. Tapi, akhirnya ia mampu menyampaikan pidato yang begitu meyakinkan setelah ia belajar cara bicara dengan tekun (Rakhmat, ).

Dunia komunikasi, saat ini, bukan sekadar berbicara dengan orang atau ngomong di depan publik. Atas dukungan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat, ditambah kontribusi berbagai disiplin ilmu lain, kini cakupan komunikasi menjadi sangat luas. Komunikasi merupakan perpaduan antara skills, art, dan science. Sebagai skills, komunikasi adalah kemampuan public speaking, kemampuan mengoperasikan kamera untuk menghasilkan foto dan film, kemampuan menulis artikel/berita, kemampuan dalam broadcasting, kemampuan mengorganisasikan berbagai event komunikasi. Sebagai art, komunikasi adalah pengolahan berbagai unsur komunikasi sehingga menghasilkan aspek estetika yang indah, memikat, dan memesona, baik langsung maupun melalui media (cetak, radio, TV, online). Sebagai science, komunikasi merupakan kajian tentang teori, kajian media, riset tentang berbagai peristiwa komunikasi.

Dalam keragaman kehidupan manusia modern sekarang ini, komunikasi menjadi aktivitas sangat penting dan sekaligus amat kompleks. Komunikasi, pada akhirnya, membangun pola interaksi, tatanan nilai, kebudayaan, dan peradaban. Komunikasi memiliki kekuatan luar biasa – the power of communication. Dan, oleh karena itu, kita perlu mempelajari, memahami, dan menguasainya.