Phone (022) 420 3368 ext. 109 ||

Follow Us

  /  Karya   /  PENGELOLAAN LINGKUNGAN DAN INDUSTRI SECARA TERINTEGRASI

PENGELOLAAN LINGKUNGAN DAN INDUSTRI SECARA TERINTEGRASI

Mohamad Satori, Ir., MT (Dosen Fakultas Teknik Prodi Teknik industri) – Permasalahan seputar lingkungan hidup memang mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir ini. Bebagai kasus lingkungan mulai dari pencemaran hingga kejadian bencana alam dirasakan makin meningkat. Hal ini bisa jadi disebabkan karena di satu sisi potensi penyebab terjadinya kerusakan lingkungan makin meningkat sementara di sisi lain pengelolaan lingkungan hidup belum dilakukan secara sistemik, terstruktur dan massif.

Pembahasan mengenai lingkungan hidup tidak bisa lepas dari masalah limbah, dan berbicara limbah biasanya juga tidak lepas dari masalah industri. Untuk itu maka berbicara pengelolaan lingkungan hidup juga tidak lepas dari permasalahan industri. Selama ini pembahasan tentang linkungan dan industri (ekonomi) sering dilakukan secara terpisah (dikotomis).

Dalam setiap kegiatan produksi terutama yang menghasilkan barang, maka selain menghasilkan produk yang diinginkan yang kemudian dijual ke konsumen, juga menghasilkan produk yang tidak diinginkan yang disebut limbah (waste). Dalam persepektif lingkungan, limbah sering hanya dipersepsikan  sebagai output yang terbuang atau sebagai side effect dari industri yang memiliki karakteristik fisik, kimia dan biologi berpotensi mencemari lingkungan bila tidak dikelola dengan baik atau langsung dibuang ke lingkungan tanpa adanya pengolahan. Oleh karena itu setiap perusahaan wajib untuk mengolah limbahnya sesuai standar baku mutu yang telah ditetapkan pemerintah. Namun kini limbah ternyata limbah dapat diolah menjadi produk oleh pihak industri lainnya. Dengan demikian maka limbah tidak lagi hanya dilihat sebagai sisa produksi yang terbuang akan tetapi telah menjadi sumber daya yang menjadi input bagi industri atau usaha lain.

Ekologi Industri

Ekologi industri dipopulerkan tahun 1989 dalam suatu artikel ilmiah Amerika oleh Robert Frosch dan Nicholas E. Gallapous yang memberikan ungkapan, “mengapa system industri kita tidak bertindak seperti suatu ekosistem, dimana jenis limbah dimungkinkan sebagai sumber daya untuk jenis industri lain, yang dengan demikian mengurangi penggunaan bahan baku, polusi, dan menghemat biaya pengolahan limbah (Kristanto, 2013). Pemikiran tersebut kemudian melahirkan sebuah konsep dimana suatu industri dapat melakukan kerja sama untuk memanfaatkan limbah yang dihasilkan untuk kemudian dijadikan input pada industri lainnya. Dengan demikian maka akan terjadi sistem yang saling tergantung satu sama lain yang kemudian dikenal dengan simbiosis industri.

Gagasan mengeni ekologi industri diyakini sebagai alternatif untuk mewujudkan sistem industri dengan efisiensi lingkungan (eco efficiency) yang lebih baik. Untuk itu maka penerapan ekologi industri seharusnya setiap industri yang terlibat berada dalam suatu kawasan yang kemudian dikenal dengan eco industrial park. Konsep kawasan industri tersebut telah dilakukan di berbagai negara seperti Amerika, Denmark, dan lain-lain.

Konsep ekologi industri dalam pengelolaan sampah rumah tangga

Sampah yang dihasilkan di setiap rumah tangga pada dasarnya adalah sampah industri yang melekat pada produk baik dari kemasan produk maupun produk itu sendiri yang telah habis masa pakai dan jadi sampah. Produk dan kemasan produk sesuai UU no 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah adalah tanggung jawab produsen. Hal inilah kemudian muncul istilah Extended Producer Responsibility (EPR). Permasalahannya adalah bagaimana mengambil kembali produk dan kemasan yang telah menjadi sampah dan tersebar di masyarakat.

Ada banyak cara yang dapat dikembangkan untuk melakukan pengambilan kembali sampah berupa produk dan kemasan dari setiap rumah tangga. Di beberapa negara telah  menerapkan metode deposit refund system yaitu pengambilan kembali sampah kemasan melalui jaringan penjual produk tersebut dengan imbalan tertentu. Di Indonesia juga ada beberapa perusahaan yang telah melakukan pengambilan kembali produk maupun kemasan produk. Misalnya aki bekas yang dapat dikembalikan ke agen penjualan dan dihargai sekitar 10% dari harga aki baru. Fenomena lahirnya bank sampah di tingkat RW di berbagai kota di Indonesia adalah potensi yang dapat dikembangkan untuk melakukan penarikan kembali produk dan kemasan di masyarat. Akan tetapi keberadaan bank sampah tersebut belum diintegrasikan dalam upaya penerapan EPR di Indonesia.

Eco Town Project di Kitakyushu City

Konsep pengelolaan sampah rumah tangga dengan pendekatan ekologi industri yang telah penulis kembangkan di Indonesia  menjadi perhatian serius bagi University of Kitakyushu (UOK). Untuk itulah  penulis diundang sebagai dosen tamu di program pascasarjana Faculty of Environmental Engineering untuk berbagi pengalaman dan konsep yang telah dikembangkan tersebut. Dalam kunjungan ke Kota Kitakyushu Penulis juga sempat berkunjung ke Eco Town Project, yang merupakan pilot project pengelolaan lingkungan terintegrasi dan telah menjadi rujukan dalam pengelolaan lingkungan di berbagai kota di dunia.

Berdasarkan pengamatan Penulis ada kemiripan antara konsep Ekologi Industri yang diterapkan di Indonesia dengan konsep Eco Town Project di Kitakyushu City, yaitu sama-sama menggunakan konsep terintegrasi dalam melakukan pendaurulangan sampah. Perbedaannya bila Eco Town Project menggunakan teknologi tinggi serta dikelola dalam sebuah kawasan, sedangkan di Indonesia dilakukan secara tersebar di berbagai tempat. Dengan demikian maka Eco Town Project lebih dapat dikontrol dengan baik sedangan yang di Indonesia kurang dapat terkontrol dengan baik.

Penutup

Allah telah menciptakan alam dan sisinya termasuk lingkungan hidup dalam keadaan yang harmonis dan keseimbangan. Ketika manusia melakukan aktivitas yang tidak ramah lingkungan maka mulai muncul ketidakseimbangan ekosistem. Keseimbangan dan keharmonisan ekosistem penting diadopsi untuk memadukan kegiatan ekonomi dan lingkungan. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar konsep Ekologi Industri. Konsep ini mengintegrasikan antara kegiatan industri dan lingkungan untuk mewujudkan efesiensi lingkungan (eco efficiency).