Phone (022) 420 3368 ext. 109 ||

Follow Us

  /  Pojok Mahasiswa   /  Nilai Budaya Merantau Berbeda Setiap Etnik

Nilai Budaya Merantau Berbeda Setiap Etnik

BANDUNG, (PR). – Bagi mahasiswa perantau masa sekarang, nilai keutamaan untuk pergi merantau tidak lagi sebesar keutamaan merantau pada masa generasi orangtua mereka. Aktivitas merantau tidak lagi didasari nilai untuk meraih prestasi tinggi, walaupun maha­siswa merantau untuk melanjutkan pendidikan. Dibanding mengejar orientasi prestasi, ada nilai lain yang lebih diutamakan mahasiswa perantau. “Yang mereka cari adalah nilai yang mengajarkan pentingnya memiliki kegigihan dan ketekunan, serta pentingnya memiliki kemauan keras agar dapat mencapai kepegasan dalam berhada­pan dengan kesulitan di tanah rantau,” tutur Psikolog Universitas Islam Bandung Ihsana Sabriani Borualogo, belum lama ini.

 

Kepegasan itu merujuk pada konsep resilience yang menjadi fokus studi disertasi Ihsana saat meraih gelar doktor, belum lama ini. Ia mengambil judul “Pengaruh Budaya Merantau, Sistem Nilai, dan Dukungan Sosial yang Dimediasi Harga Diri terhadap Kepegasan Sebagai Penentu Kepuasan Hidup.” Kepegasan itu bermakna sebagai kemampuan individu untuk mengatasi masalah dan kesulitan, belajar dari masalah dan kesulitan yang tidak terelakkan. Kepegasan itu pada akhirnya merupakan hasil penyesuaian, sehingga kembali ke kondisi awal dan pulih secara penuh dari kesulitan. Pada etnik Batak, nilai budaya merantau lebih berorientasi pada pendidikan untuk mencapai kemajuan, sedangkan etnik Minang memiliki nilai merantau yang berorientasi pada peker­jaan untuk mencapai kesejahteraan.

 

Dengan menggunakan metode cluster random sampling, ia mengambil sampel dari 700 responden mahasiswa perantau di Bandung yang terdiri atas etnik Batak, Minang, dan Sunda, dalam studi yang dilakukan pada 2013 lalu. Studi itu menemukan budaya dan perbedaan etnik tidak secara langsung memberikan. efek bagi kepegasan mahasiswa, tetapi melalui faktor psikologis seperti sistem nilai, nilai budaya, harga diri, dan kepuasan hidup.

 

Persepsi merantau

 

Pada mahasiswa Sunda mempersepsikan merantau berorien­tasi pada nilai kehidupan sosial untuk menjalin relasi harmonis dengan lingkungan sosialnya. Meski begitu, ketiga etnik perantau itu juga dihadapkan pada varian hambatan dan kesulitan di tanah rantauan, khususnya di Kota Bandung. Jenis kelamin mahasiswa perantau juga menentukan sejauh mana daya juang melalui kepegasan agar dapat menangani sejumlah permasalahan yang dihadapi di luar kampung mereka. Ihsana menyimpulkan, maha­siswa perantau perlu memiliki kepegasan dalam berhadapan dengan sejumlah kesulitan yang dihadapi di tanah rantau, demi mencapai kesuksesan dalam pendidikannya.(Muhammad Fikry Mauludy)***