Phone (022) 420 3368 ext. 109 ||

Follow Us

  /  Karya   /  EFFECTIVE COMMUNICATION

EFFECTIVE COMMUNICATION

Dr. O. Hasbiansyah (Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Unisba) – 

Menurut riset yang dilakukan selama lima belas tahun kepada para lulusan MIT (Massachusetts Institute of Technology), komunikasi efektif (effective communication) merupakan salah satu keahlian yang amat penting untuk mencapai keberhasilan dan kebahagiaan hidup (Schein dalam Tubbs dan Moss, 1996:22). Kemampuan berkomunikasi secara efektif merupakan kemampuan istimewa bagi pengembangan kepribadian manusia dan juga karirnya di dunia kerja. Oleh karena itu, memahami bagaimana komunikasi beroperasi secara efektif sangat penting.

Secara sederhana, komunikasi itu disebut efektif apabila pemahaman penerima sama dengan pemahaman pengirim atas pesan yang disampaikan. Sesungguhnya, bagi Stuart L. Tubbs dan Sylvia Moss, ini baru salah satu unsur dari kriteria efektivitas komunikasi. Menurut mereka, komunikasi yang efektif — paling tidak — dicirikan oleh lima hal: membangun pengertian yang sama, mengembangkan rasa senang, mengubah sikap ke arah yang dikehendaki, membangun hubungan sosial yang baik, dan menimbulkan tindakan sesuai yang diharapkan (Tubbs dan Moss, 1996:23-28).

Pertama, komunikasi itu efektif apabila terjadi penerimaan yang cermat oleh komunikan pada pesan sebagaimana yang dimaksudkan komunikator. Untuk mencapai komunikasi efektif, komunikator perlu menguraikan isi pesan secara jernih, menjelaskan konsep penting yang mungkin belum dipahami orang, dan menghindari istilah-istilah tertentu yang bisa dipahami secara berbeda oleh para komunikan. Ada kabar bahwa beberapa tahun silam iklan “Extra Joss” yang menggunakan ungkapan “Inilah biangnya!” membuat produk itu kurang laku di Medan. Mengapa? Karena, kata ‘biang’ dalam bahasa lokal di Medan artinya ‘anjing’. Padahal, yang dimaksudkan pengiklan, biang itu artinya jagonya, bibitnya, sumbernya. Inilah salah satu contoh komunikasi tidak efektif. (Setelah itu, bunyi iklan tersebut pun berubah).

Kedua, komunikasi itu dikatakan efektif apabila ia membangun rasa senang di antara para komunikan. Melakukan say hello, seperti bertanya “apa kabar”, menyapa “selamat pagi”, mengucapkan “selamat ulang tahun”, menyatakan “ikut belasungkawa” menganggukkan kepala sambil tersenyum saat bertemu seseorang tidak bertujuan untuk mendapatkan informasi penting, tetapi merupakan sebuah ungkapan untuk menimbulkan rasa senang, menyambungkan pertautan batin, menghargai kehadiran orang; bukan sekadar basa-basi. Jenis komunikasi ini disebut pula phatic communication (komunikasi fatis). Berkumpul, obrol-obrol ringan, bercanda, ramah tamah, makan bersama, acara family gathering merupakan perjumpaan komunikasi yang membangun perasaan senang. Komunikasi fatis ini menjadikan hubungan seseorang dengan orang lain hangat, akrab, dan menyenangkan.

Ketiga, komunikasi efektif dicirikan oleh terbangunnya hubungan sosial (relationship) yang baik. Ini merupakan kelanjutan lebih jauh dari komunikasi fatis. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak tahan hidup sendiri. Setiap manusia ingin bergabung dan berhubungan dengan orang lain; orang ingin mencintai dan dicintai. Kebutu­han sosial ini hanya dapat dipenuhi dengan komunikasi inter­personal yang efektif (Rakhmat, 1989:16). Kegagalan komunikasi mungkin saja terjadi karena orang tidak paham terhadap isi pesan. Namun, kegagalan ini bisa juga terjadi karena hubungan sosial yang rusak. Boleh jadi isi pesan itu sangat jelas, sitematis, gampang dipahami, tetapi karena hubungan orang-orangnya sudah hancur, di antara mereka terjadi saling curiga, sehingga si penerima pesan pun kemungkinan mengabaikan atau menolak isi pesan tersebut.

Keempat, komunikasi efektif mampu memengaruhi sikap. Ketika orang menyampikan pesan, ia bukan sekadar ingin agar orang paham terhadap yang disampaikannya, tapi juga menyetujuinya. Orang berusaha memengaruhi sikap orang lain agar sesuai dengan yang diharapkannya. Penjelasan dokter tentang bahaya merokok bisa jadi sangat dipahami seorang perokok. Apabila perokok itu tetap saja menyukai rokok, berarti komunikasi yang dilangsungkan tidak efektif.

Kelima, komuniasi efektif adalah komunikasi yang menimbulkan tindakan. Menurut Rakhmat (1989), tindakan adalah hasil kumulatif seluruh proses komunikasi. Untuk menimbulkan tindakan yang dikehendaki, komunikator harus berhasil lebih dahulu menanamkan pengertian, menimbulkan perasaan senang,  menumbuhkan realationship yang baik, serta membentuk dan mengubah sikap komunikan.

Untuk membangun komunikasi efektif memang tidak selalu mudah. Untuk itu, diperlukan ketekunan mempelajari ilmu komunikasi, kesediaan membuka diri, kesiapan untuk senantiasa rendah hati, ketegaran menghadapi perbedaan pendapat, dan kegigihan untuk terus melatih dan mempraktikkan prinsip-prinsip komunikasi. Ketika manusia mampu membangun komunikasi efektif secara berkelanjutan, maka peluang bagi tumbuhnya kepribadian yang positif akan terbuka; kesuksesan karir dan kebahagiaan hidup pun bakal mudah untuk dicapai.