Unisba

International Office | Karir | Login Sisfo

Prof. Dr. H. Atie Rachmiatie, Dra., M.Si (Dosen Pascasarjana Prodi Ilmu Komunikasi Unisba) – Menulis dan pendokumentasian saat ini merupakan budaya yang harus digalakkan untuk mengantisipasi tuntutan dan kebutuhan peningkatan daya saing bangsa. Khususnya ketika sekat regulasi perlindungan profesi atas nama  WTO dan MEA harus dibuka. Dalam dunia pendidikan tinggi tuntutan “menulis” merupakan suatu keharusan yang dituangkan dalam peraturan menteri nomor 49 tahun 2014, tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Khusus untuk tingkat pascasarjana, ketentuan kurikulum sudah mengarah pada kompetensi menulis, karena hampir dua pertiga dari seluruh SKS yang harus ditempuh, berisi kegiatan riset dan menulis.  Walaupun permen tersebut masih waktu untuk pemberlakuannya.

Akitivitas “menulis” apalagi dalam bentuk karya ilmiah, sesungguhnya merupakan hal yang mutlak dilaksanakan oleh insan akademis karena menulis merupakan satu tahap “knowledge Cycle” dalam pengembangan Iptek. Filosofi pendidikan tinggi saat ini dalam menumbuhkembangkan ilmu melalui tahapan berikut (Hakim Halim, 2015):

Pertama, melakukan riset (creation) yang menghasilkan laporan tertulis. Kedua, hasil riset tersebut harus dibagi (Sharing) dalam diskusi, presentasi, publikasi melalui jurnal, buku dll.  kemudian tahap berikutnya adalah Paten, yaitu penemuan sebagai hasil karya atau jerih payah seseorang yang di-paten-kan dilindungi oleh HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual). Tahap keempat adalah Prototyping (Puwarupa) yaitu hasil karya penelitian yang sudah dipatenkan, dibuat sebagai produk dalam skala laboratorium dan siap untuk diterapkan/digunakan. Tahap akhir adalah komersialisasi, dalam arti hasil karya atau suatu inovasi dari kampus, siap untuk diproduksi besar-besaran dan untuk dikomersialkan oleh industri.

Tahapan ini juga menggambarkan tidak akan terputus antara kepentingan dan kebutuhan dunia perguruan tinggi dengan industri/masyarakat pengguna, oleh karena ada sinergitas antara pihak akademisi – pengusaha – pemerintah (link & match). Untuk itu berlandaskan siklus keilmuan  tersebut, ada tuntutan bahwa para dosen dan mahasiswa saat ini mau tidak mau, harus memiliki kemampuan untuk menulis, khususnya karya ilmiah sebagai ukuran dari tingkat kompetensinya sebagai sarjana, master atau doktor. Menulis karya ilmiah berarti juga mengelola pengetahuan, dalam arti seseorang menjalani suatu proses untuk menghimpun, mengklasifikasi/mengkategorisasi, mengorganisasikan, menyajikan dan mendistribusikan pemikiran, ide, fakta, dan data sehingga menjadi informasi yang bermanfaat bagi siapapun yang memerlukannya.

Di sisi lain dalam menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan membangun sebuah peradaban, dapat disalurkan melalui budaya menulis. Suatu riset yang membuahkan karya tulis ilmiah dapat menumbuhkan kesadaran individu/masyarakat akan dirinya; dalam arti dorongan untuk mereka dapat menghayati bahwa dirinya sebagai subyek dan obyek dalam kehidupan bermasyarakat. Produk tulisan dalam bentuk artikel, buku atau apapun sebagai dokumen, dapat disimpan, untuk memenuhi rasa keingintahuan pembaca tentang diri, alam, bahkan dunia spiritual. Sebagai penulis/peneliti dapat menilai baik-buruknya sesuatu atau pertimbangan moral (Value judgment) dari hasil risetnya. Termasuk ketika menulis, seseorang dapat mengambil keputusan, menentukan pilihan atas penilaian, memiliki pertimbangan tertentu dengan penuh kesadaran, serta Inspirasi dalam menghadapi problematika hidup dengan cerdas. Pada akhirnya dengan menulis,  seseorang dapat mengembangkan interaksi sosial dalam masyarakat, dengan segala aturan yang ada  dalam bentuk peradaban    (Nurrahman, 1992)

Kelebihan menyebarluaskan informasi tertulis adalah, lebih mudah diverifikasi, memiliki dokumentasi dalam arti, tersedia secara fisik. Untuk komunikasi yang kompleks dan panjang, seseorang dapat menyusun strategi dan perencanaan yang tepat “di atas kertas” sebelum ia melaksanakan dan memetik hasilnya. Bagi sebagian besar orang, memang tidak mudah untuk membiasakan menulis atau menghasilkan karya ilmiah. Namun sekali lagi sebagai insan akademis pemerintah, telah “memaksa” para dosen yang akan naik pangkat, untuk memiliki 45% karya ilmiah dari seluruh tugas tridharma perguruan tingginya, di samping pendidikan & pengajaran serta Pengabdian Kepada Masyarakat. Demikian pula, bagi mahasiswa yang akan lulus, diwajibkan menulis artikel di jurnal ilmiah, sebagai bagian dari publikasi hasil risetnya.

Kegiatan menulis memang menuntut kehati-hatian dalam menuangkan pokok pikirannya, karena ia harus mengikuti prosedur ilmiah dengan kaidah bahasa yang telah ditentukan. Selain memiliki manfaat dari prosesnya itu sendiri, juga menulis memerlukan waktu yang khusus dan perlu memadukan seni dan keterampilan untuk menghasilkan naskah yang matang, logis dan jelas.

Selain menulis dalam bentuk laporan ilmiah, insan akademis dituntut pula dapat menulis  artikel di media populer atau di media  ruang publik, sebagai bentuk tanggungjawab intelektualitasnya. Adapun kiat-kiat  menulis efektif di antaranya adalah : Pertama menetapkan tujuan prioritas menulis, kemudian membuat desain/sistematika yg estetis, termasuk pemilihan kata. Kedua, perlu disusun struktur dan tahapan yang jelas, dengan fokus yang jelas  dan koheren (menyatu). Ketiga, Informasi harus pantas, relevan, spesifik, akurat, komprehensif, jujur dan memiliki otorisasi. Keempat, gaya  harus menarik dengan nada yang sesuai dengan pembaca dan konteksnya. Terakhir, tidak ada kesalahan huruf, kata dan tata bahasa.

Bangsa Indonesia memang lebih melekat budaya lisannya dibanding budaya membaca atau menulis. Kondisi tersebut menjadi faktor penghambat kemajuan bangsa. Untuk itu para akademisi sebagai inisiator harus memulai untuk mengubah budaya menulis menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat kita.



Tinggalkan Balasan

Translate »