Phone (022) 420 3368 ext. 109 ||

Follow Us

  /  Karya   /  Arti Penting Dukungan Bagi Kepegasan Individu
images/11001685_580942908671871_3593937112574089555_o.jpg

Arti Penting Dukungan Bagi Kepegasan Individu

Dr. Ihsana Sabriani Borualogo, M.Si, Psikolog
Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung

Dalam kehidupannya, individu senantiasa berhadapan dengan berbagai masalah. Sebagian masalah, mungkin dapat diatasi dengan mudah, sehingga tidak menimbulkan kesulitan bagi individu. Namun, sebagian masalah lain, tidak jarang dihayati sebagai masalah-masalah yang sulit dan tidak terelakkan. Masalah-masalah tersebut, bisa jadi dipersepsi sebagai tekanan oleh individu dan menghambat individu dalam menjalani kehidupannya. Tidak jarang, individu juga berhadapan dengan masalah-masalah sulit yang bersifat mendesak untuk segera diatasi atau bahkan berhadapan dengan kejadian yang bersifat tiba-tiba dan memiliki efek traumatis. Beberapa masalah yang dilaporkan sebagai masalah sulit yang dapat menghambat individu dalam menjalani kehidupannya, antara lain adalah perceraian, pengalaman traumatis sebagai korban kekerasan, pengalaman traumatis sebagai korban bencana alam maupun peperangan, tekanan di dalam dunia pekerjaan, kemiskinan dan tekanan ekonomi, maupun menjadi korban bullying di sekolah. Tidak jarang, masalah-masalah yang dihadapi individu dalam kehidupan sehari-hari pun dapat menjadi tekanan yang menghambat kehidupan individu dan berpotensi menimbulkan masalah lain yang lebih kompleks.
Ketika berhadapan dengan masalah-masalah sulit yang tidak terelakkan tersebut, tentunya individu dituntut untuk dapat menyelesaikannya dengan baik agar ia tetap dapat melanjutkan kehidupannya tanpa gangguan yang berarti. Kemampuan individu untuk mengatasi masalah-masalah dan kesulitan-kesulitan, belajar dari masalah-masalah dan kesulitan-kesulitan yang tidak terelakkan dalam hidup, berhasil melakukan penyesuaian untuk kembali ke kondisi awal dan pulih secara penuh dari kesulitan, serta menunjukkan kapasitas untuk melanjutkan hidupnya dalam mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut, dinyatakan sebagai konsep resilience (Zautra, Hall, Murray, 2010).
Resilience menjelaskan mengenai daya lenting yang dimiliki individu ketika ia berhadapan dengan berbagai masalah dan kesulitan. Dengan memiliki daya lenting ini, individu dapat menunjukkan kemampuan untuk kembali ke kondisi semula laksana sebuah pegas setelah mendapatkan tekanan, sehingga dapat dikatakan bahwa individu memiliki kepegasan.  
Pada awalnya, konseptualisasi kepegasan oleh Anthony (1987) dan Kaplan (1999) diidentifikasi lebih bersifat individual yang terkait dengan kemampuan individu melakukan penyesuaian yang positif. Garmezy (1983), Quinton, Rutter dan Gulliver (1990) serta Werner dan Smith (1982) menjelaskan bahwa temperamen yang sehat, kesejahteraan psikologis serta lingkungan keluarga yang aman dan penuh perhatian, diprediksi dapat membantu kesuksesan individu untuk menyesuaikan diri dengan baik ketika berhadapan dengan masalah yang akut dan kronik.
Namun, penelitian-penelitian mengenai kepegasan mengalami perkembangan dan tidak hanya difokuskan pada kemampuan individu secara personal untuk melakukan penyesuaian yang positif. Fokus penelitian-penelitian terbaru mengenai kepegasan juga diarahkan pada pentingnya peran lingkungan sosiokultural bagi kepegasan individu. Salah satunya adalah penelitian dari Michael Ungar (2006) yang menjelaskan bahwa kepegasan adalah kapasitas individu untuk menavigasi dan menegosiasikan cara mendapatkan sumber yang dapat mempertahankan kesehatan psikologis, termasuk kesempatan untuk mengalami kesejahteraan psikologis, serta kondisi dari keluarga individu tersebut, komunitas dan budaya yang menyediakan sumber-sumber kesehatan psikologis dan memberikan kesempatan pada individu untuk mengalaminya melalui cara yang bermakna secara budaya. Melalui definisinya ini, Ungar menjelaskan pentingnya dua prinsip dari kepegasan, yaitu navigasi dan negosiasi.
Navigasi mengacu pada kekuatan pribadi individu yang diarahkan pada upaya memperoleh sumber daya untuk mengatasi kesulitan, sehingga dapat dimaknakan bahwa navigasi bukanlah semata kapasitas pribadi individu untuk mengatasi kesulitan, tetapi juga diukur dari kapasitas yang disediakan oleh lingkungan terdekat, keluarga, pemerintah, dan komunitas untuk membantu individu mengatasi kesulitan dan terkait pada budaya hidup sehari-hari individu. Individu harus menunjukkan kemampuan personal untuk menavigasi cara-caranya dalam mencapai penyesuaian diri yang positif, pengalaman-pengalaman yang menghasilkan harga diri, pendidikan dan partisipasinya pada suatu komunitas atau keluarga. Di sisi lain, tentu saja keluarga dan komunitasnya harus menyediakan diri dan dapat diakses ketika dibutuhkan.
Sedangkan negosiasi dimaknakan sebagai keberhasilan mengamankan sumber daya fisik (perumahan, makanan, pendidikan, keamanan dalam kuantitas dan kualitas yang dibutuhkan) dan juga kekuatan untuk mendefinisikan diri individu dan strategi-strategi pemecahan masalah yang berhasil dilakukan. Proses negosiasi dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa sumber-sumber tersebut tersedia secara bermakna di saat dukungan tersebut dibutuhkan (Ungar, 2008)
Dukungan yang dibutuhkan oleh individu, bukan merupakan dukungan yang mengindikasikan ketergantungan terhadap orang-orang di sekitarnya. Dukungan ini menjelaskan mengenai pentingnya penghargaan dan pengakuan dari lingkungan bahwa individu memiliki kompetensi untuk mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya. Dukungan ini juga bermakna bahwa individu dihargai oleh lingkungan sosialnya, sehingga lingkungan memberikan tanggapan positif ketika individu perlu dibantu untuk mengatasi kesulitan-kesulitannya.  
Ketersediaan dukungan ini, akan menumbuhkan keyakinan dalam diri individu bahwa mereka tetap mendapatkan perhatian, penghargaan, pengakuan, dan bantuan ketika berada dalam kesulitan. Hal ini akan menguatkan rasa keberhargaan diri individu, sehingga memberikan peluang bagi individu untuk menavigasi sumber-sumber dukungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Individu dapat secara aktif menavigasi ketersediaan sumber-sumber dukungan, serta menegosiasi bentuk-bentuk dukungan yang dibutuhkan ketika mereka berhadapan dengan kesulitan-kesulitan hidup.

Translate »