Unisba

International Office | Karir | Login Sisfo

Diar Herawati, M.Si.,Apt (Dosen Kimia Analisis Farmasi Unisba) – Seorang wanita paruh baya calon jemaah haji asal Indonesia berdebat dengan petugas kesehatan di pusat pelayanan haji. Pasalnya dia menolak vaksin meningitis yang akan diberikan oleh sang petugas kesehatan, padahal vaksin meningitis masuk dalam daftar wajib persyaratan jemaah haji. Rupanya informasi kehalalan vaksin meningitis yang sempat dipermasalahkan, menjadi alasan wanita ini untuk menolak pemberian vaksin. Lalu petugas haji tersebut menjelaskan tentang urgensi vaksin menigitis dan status halalnya yang saat ini telah tersertifikasi LPPOM MUI.

Kasus di atas adalah salah satu potret realitas kebutuhan masyarakat Indonesia, khususnya muslim, dalam mendapatkan informasi mengenai obat halal yang salah satunya adalah vaksin. Ternyata meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap produk kesehatan yaitu obat-obatan, diiringi juga peningkatan terhadap informasi sertifikasi halal obat-obatan.

Dalam proses sertifikasi halal obat ini, dibutuhkan kombinasi dua metode analisis; analisis retrospektif yang dilakukan pada proses produksi, dan analisis laboratorium yang dilakukan pada produk obat. Kedua jenis analisis ini harus dapat memastikan bahwa obat yang akan diedarkan terbebas dari kandungan bahan-bahan yang diharamkan seperti; bahan dari babi dan turunan senyawanya, bahan dari minuman beralkohol (khamr), dan bahan dari bangkai.

Salah satu permasalahan utama dalam analisis obat halal adalah minimnya metode yang spesifik, sehingga sulit untuk memastikan kekhasan dari satu bahan. Misalnya analisis asam amino babi dalam produk vaksin. Dalam analisis ini diperlukan metode yang dapat memastikan kekhasan asam amino babi tersebut terhadap asam amino lainnya; seperti asam amino dari sapi atau ayam. Berdasarkan struktur kimianya, asam amino dari babi, sapi, dan ayam identik (tidak berbeda) sehingga sulit ditetapkan. Apalagi dalam produk vaksin biasanya kandungannya sangat sedikit. Sehingga perlu dipikirkan suatu metode yang lebih handal di tingkat molekuler, seperti analisis DNA (Deoxyribo Nucleid Acid). Karena kandungan DNA babi, sapi dan ayam jelas berbeda. Oleh karena itu, identifikasi kandungan DNA babi pada produk obat sangat penting untuk dilakukan.

Metode analisis DNA yang handal saat ini adalah metode Poly Chain Reaction Real Time (PCR RT). Keunggulan dari teknik PCR lainnya adalah PCR RT membutuhkan waktu yang lebih singkat. Adapun secara prinsip, metode PCR RT sama dengan metode PCR lainnya.

Metode PCR merupakan metode analisis yang didasarkan pada teknik perbanyakan (replikasi) DNA secara enzimatik tanpa menggunakan organisme. Produk replikasi DNA ini dihasilkan dalam waktu yang relatif cepat dan hanya membutuhkan sedikit sampel, sehingga cocok untuk sampel obat. Biasanya untuk menghasilkan replikasi DNA dengan jumlah yang sesuai dilakukan pengulangan siklus replikasi berkali-kali. Adapun tahapan siklus replikasi terdiri dari tiga tahap; tahap denaturasi (peleburan), tahap annealing (penempelan) dan tahap elongasi (pemanjangan). Pada tahap denaturasi ikatan hidrogen DNA terputus menjadi rantai tunggal yang selanjutnya dipisahkan. DNA rantai tunggal ini selanjutnya telah siap menjadi template atau tempat menempelnya basa primer. Tahapan penempelan basa primer pada template ini terjadi dengan sangat spesifik dan komplementer pada tahap annealing. Selanjutnya setelah tahap annealing terjadi dilanjutkan tahap perpanjangan basa-basa. Reaksi perpanjangan basa ini terjadi secara enzimatik pada suhu sekitar 76 0C. Begitu seterusnya ketiga tahapan ini berulang membentuk siklus sesuai kebutuhan.

Tahapan PCR RT secara umum sama dengan PCR umumnya yang telah diulas di atas. Tetapi terdapat keunggulan metode PCR RT ini selain waktunya yang singkat (efektivitas tinggi) adalah spesifisitas  dan sensitivitas yang sangat tinggi dibandingkan metode PCR lainnya. Hal ini terjadi karena penggunaan primer dengan spesifitas tinggi dan nukleotida bebas (dNTP) pada temperatur maksimal 42-50 0C selama minimal 60 menit. Selain itu metode RT PCR dapat digunakan untuk produk mentah maupun sudah diolah seperti obat karena adanya tahapan southern hybridization. Southern hybridization adalah proses perpasangan antara DNA primer dan DNA pelacak. DNA pelacak dalam analisis obat halal menggunakan DNA babi. Metode ini biasanya digunakan untuk produk yang telah mengalami proses pengolahan yang menyebabkan DNA rusak sehingga tidak jelas jika dilihat pada gel elektroforesis. Pada PCR RT hasil analisis pada gel elektroforesis, menjadi lebih nyata positif atau negatifnya karena bercak DNA sampel telah diperkuat dengan DNA pelacak dalam tahapan southern hybridization tersebut.

Hasil analisis menggunakan PCR RT ini dapat diaplikasikan pada berbagai produk obat, vaksin, cangkang kapsul, produk vitamin dan hormon. Meskipun telah diolah sedemikian rupa, DNA babi dapat terdeteksi dengan cukup baik menggunakan metode ini.

Metode analisis obat halal seperti RT PCR di atas, adalah salah satu tema yang menjadi concern Program Studi Farmasi Unisba. Selain itu berbagai kajian meliputi alternatif bahan baku dan teknologi obat halal turut dikembangkan juga. Dalam usianya yang relatif masih muda (menjelang 8 tahun), Farmasi Unisba terus mencoba memberikan kontribusi positif pada kebutuhan masyarakat indonesia saat ini. Salah satunya kebutuhan akan informasi obat halal dan alternatif bahan baku obat halal. Dalam kajian obat halal ini Farmasi Unisba menggandeng beberapa pihak seperti Sekolah Farmasi ITB yang sangat berpengalaman di dunia analisis obat dan pihak LPPOM MUI Jawa Barat.

 



Tinggalkan Balasan

Translate »