Unisba

International Office | Karir | Login Sisfo

Hj. Tatty Aryani Ramli, SH., MH. (Dosen Fakultas Hukum Unisba) – Keindahan  pemandangan kawasan pertanian  yang menghasilkan produk berkualitas unggul  bereputasi, dengan budaya masyarakat petani yang khas  dalam mengelola lahan dan metode bertani berbasis kearifan lokal merupakan paket lengkap untuk mengembangkan agro wisata.

 Agro wisata  merupakan  rangkaian kegiatan penawaran  paket tour bagi wisatawan yang ingin merasakan sensasi  menjadi bagian dari proses bertani di kawasan alami.  Bagi  masyarakat perkotaan, berinteraksi dengan masyarakat pedesaan dalam kegiatan  keseharian mereka merupakan kegiatan  yang unik dan menyenangkan. Setelah  wisata fashion dan wisata kuliner, Jawa Barat memiliki peluang besar untuk mengembangkan agro wisata karena kondisi alamnya yang indah dan subur.   

Agro wisata berbasis Indikasi geografis adalah  kegiatan  wisata khusus  ke daerah atau lokasi pertanian yang produknya sudah terkenal  memiliki kualitas dan karakteristik  unggul. Reputasi keunggulan produk sangat dipengaruhi oleh  kondisi alam,  kualitas lahan,dan budaya manusia.

Potensi

Setidaknya ada dua kawasan pertanian di Jawa Barat yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi  kawasan agro wisata berbasis Indikasi Geografis, Desa Cilembu,Kecamatan Pamulihan Kabupaten  Sumedang  Barat; Kampung Cimanggu Desa Tegallega dan Kampung Bunikasih, Desa Bunisari, Kecamatan Warung Kondang, Kabupaten Cianjur .

Melalui rangkaian kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dan Penelitian  bidang  Hak Kekayaan Intelektual (HKI), Fakultas Hukum Universitas Islam Bandung (FH Unisba) sebagai bagian dari sumbangsih Perguruan Tinggi di dua kawasan tersebut, Ubi Cilembu dan Beras Pandan Wangi Cianjur  sudah dilindungi dengan Hak Indikasi Geografis (IG).

Sertifikasi yang dilindungi undang-undang digunakan pada produk tertentu  yang telah mendapatkan reputasi di pasar karena kualitas  rasa spesial yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan geografis.  

Tanda (logo) Indikasi Geografis terdaftar  secara eksklusif  dapat dimonopoli penggunaannya oleh masyarakat IG.    Pihak tanpa alas hak yang sah  dilarang menggunakan tanda IG  untuk  produk  sejenis yang bukan asli  dihasilkan dari daerah asal,  karena  menyesatkan  dan  menipu konsumen tentang   kualitas dan daerah asal barang.  Tanda IG juga merupakan strategi dalam meningkatkan nilai komersial produk karena orisinalitas dan limitasi produk sangat terpengaruh faktor wilayah.

Berbeda dengan  paten, merek,hak cipta dan desain industri yang   masa perlindungannya berdasarkan kurun waktu yang ditetapkan  undang-undang,   Perlindungan Indikasi Geografis  berakhir kalau    karakteristik khas dan kualitas IG oleh masyarakatnya tidak dipertahankan.

Pada titik inilah mengapa pengembangan agro wisata berbasis indikasi geografis menjadi sangat relevan dalam upaya  peningkatan  sumber pendapatan   ekonomi petani sekaligus   perlindungan lahan berpotensi IG sebagai asset ekonomi nasional.

Karena  titik sentral daerah kunjungan   agrowisata   adalah lokasi asli asal produk, ini berarti  tidak akan ada tindakan  pengalihan fungsi lahan. Metode  usahatani  yang akan diperagakan menggunakan  konsep  tradisional   yang berdimensi  sosial budaya – religius leluhur yang diturunkan dari generasi ke generasi  yang kemudian  mengkristal menjadi keariifan lokal menjamin berlangsungnya    ketelusuran produk. 

Pemilihan benih unggul  mengacu kepada keputusan  lembaga tani lokal, metode penanaman, tekhnik pra dan pasca  panen   merupakan perilaku keseharian unik  yang  hanya ditemui pada kehidupan masyarakat dalam wilayah IG tertentu.

Jadi,  ibarat pepatah “sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui”, rangkaian paket  tour  dengan kemasan agro wisata secara tidak langsung merupakan pelaksanaan  kewajiban pemilik hak IG  menjaga eksistensi faktor IG.  Hak IG yang  sifatnya komunal mewajibkan   petani, produsen, konsumen, dan pemerintah   bersinergi  membuat  code of practise pertanian sesuai dengan  kesepakatan  kelembagaan petani lokal  sehingga  keberlanjutan pertanian dan kualitas  produk  terjaga.  

Konsep agro wisata berbasis indikasi geografis menjadi  pengetahuan bagi konsumen  tentang  proses  dan jaminan reputasi, serta kualitas  produk  yang akan melahirkan  loyalitas konsumen. Peningkatan  skala produksi akan  ber dampak   kepada kesejahteraan ekonomi petani.

Hukum  Kekayaan Intelektual merupakan mata kuliah wajib Fakultas Hukum UNISBA, melalui proses belajar interaktif mengkaji peraturan, menguji kasus dan menganalisis  putusan pengadilan,  akan melahirkan tenaga  ahli   akademisi  maupun  praktisi, yang akan  meningkatkan  daya saing   dalam era ekonomi berbasis  pengetahuan. (Sumber : Kompas hal. 36, 10 Maret 2017)

 

 



Tinggalkan Balasan

Translate »